Dikutip dari www.suaramerdeka.com (Semarang)

AS (Alaihis-Salam)
Oleh: Emha Ainun Nadjib

BEGITU empat pesawat itu menghancurkan gedung kembar World Trade Centre (WTC)
dan bangunan Pentagon, meskipun yang di Pensylvania meleset - yang pertama di-
recover oleh Presiden AS George Walker Bush bukan kerugian fisik dan banyaknya
korban jiwa, melainkan citra Amerika Serikat yang identik dengan demokrasi.
Bush langsung berpidato dan sibuk berfilsafat, kamikaze sedahsyat apa pun bisa
menghancurkan gedung-gedung. Namun, tidak akan bisa menyentuh fundamen negara
Amerika Serikat, yakni makna demokrasi.

Alhasil, AS adalah demokrasi, maka serangan kepada AS adalah serangan kepada
demokrasi. Demokrasi adalah "agama" satu-satunya yang sah di abad 20-21 ini.
Maka siapa menyerang "agama" itu pasti iblis, evil, demikian Bush menyebutnya.
Pokoknya siapa saja yang memusuhi AS, pasti salah, pasti orang jahat, pasti
anak turun setan.

Bahkan, seandainya di abad 20-21 ini Tuhan masih memperkenankan ada nabi, tak
pelak lagi pasti orang Amerika Serikat. Bisa jadi setiap presiden AS adalah
nabi yang bergantian, karena setiap sabdanya pasti menjadi kiblat "ibadah" dan
perilaku semua orang di muka bumi. Coba kalau orang Islam menyebut nabi,
misalnya Sulaiman atau Musa, pasti pakai alaihissalam disingkat AS.

Seandainya Bush mengerti cara berpikir sufisme, dia bisa lebih nggaya lagi
dengan menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan kepada

AS untuk lebih meningkat kemuliaannya di muka bumi; juga berterima kasih kepada

setan-setan pembajak, bahwa gara-gara pengorbanan setan-setan itu makin tampak
bahwa Amerika Serikat adalah "Nabi" dunia ultramodern.

Kalau tidak ada kegelapan, cahaya tidak menonjol perannya. Kalau tidak ada
iblis setan, malaikat dan manusia tidak tampak kemuliaannya. Kalau tidak
pembajak penghancur WTC, tidak terasa kesucian Amerika Serikat.

Cara Berpikir

Seluruh pers di muka bumi sekarang harus memuat sebuah cara berpikir yang
meskipun berputar-putar entah sampai mana tapi simpulannya begini:


"Tuhan telah menakdirkan diciptakannya manusia-manusia baik dan mulia,
contohnya pemerintah Amerika Serikat dengan segala jaringannya. Dan agar
kehidupan di bumi ini bisa hangat oleh dialektika antara yang baik dan yang
buruk, Tuhan juga telah menakdirkan diciptakannya makhluk-makhluk yang jahat,
buruk, dan dungu alias goblok yang suka iseng dan tanpa sebab apa-apa
menghabiskan waktunya untuk mempelajari segala yang diketahui oleh pilot-pilot,

kemudian membunuh diri dengan mengambil alih kendali pesawat dan menabrakkannya

ke gedung-gedung".

Satu-satunya kepandaian para setan teroris itu adalah ketepatannya menghitung
segala yang bersangkutan dengan lalu lintas udara di Amerika Serikat. Serta
keberaniannya melakukan serangan pada tiga sasaran pokok. Gedung Putih sebagai
sasaran politik. Pentagon sasaran militer. Dan WTC sasaran ekonomi. Tentu
karena iblis juga punya wawasan intelektualisme, bahwa ada suprakekuasaan yang
telah dan sedang memperbudak seluruh penduduk bumi, yang mencuci otak umat
manusia dengan konsep yang mereka sebut globalisasi, yang membohongi mereka
secara ideologis, yang memperbudak secara ekonomi, dan yang menekan dengan
sangat halus secara politik.

Kalau Anda menjadi Presiden Indonesia, Anda pasti tahu itu. Tapi daripada
melakukan perlawanan jangka panjang yang memerlukan partisipasi komprehensif
dari semua pihak tak hanya secara nasional tapi juga internasional, mending
waktu lima tahun kepresidenan Anda pakai untuk berdagang dan menjaga nama baik
dalam atmosfer globalisasi itu.


Citra Islam

Masalahnya sekarang, siapa gerangan yang berani menyerang Amerika Serikat?
Jawabannya: seharusnya orang Islam. Gampang nanti dicarikan dari sisi jaring
negara-negara teroris yang sebelah mana: bisa ekstremis Palestina, bisa anak
buah Saddam Husein, atau siapa tahu Gaddafi dan Iran diam-diam masih punya
dendam. Yang paling masuk akal tentulah Osamah bin Laden. Masuk akal dari sudut

finansial, jaringan, militansi, dan kecanggihan modernnya.

Pearl Harbour seri-II ini merupakan peluang besar bagi AS untuk semakin
meluluh-
lantakkan citra Islam di dalam sejarah. Sekarang perusakan citra Islam tidak
hanya bisa dilakukan melalui wacana keilmuan dan produk budaya, tapi ada bahan
yang lebih cespleng. Seandainyapun peristiwa 11 September 2001 itu soal intern
AS, tetap perlu dicarikan keterkaitan dengan ketidakbenaran Islam dalam
kehidupan.

Semua korban peristiwa dahsyat beberapa hari lalu itu tentulah "tidak punya
kewajiban" untuk ditimpa bencana seperti itu. Kita doakan mereka masuk sorga
tanpa dihisab oleh Allah. Mudah-mudahan pengorbanan mereka itu berbuah bagi
perbaikan kesadaran dunia baru pada masa yang akan datang.

Tentu saja, jangankan menabrakkan pesawat ke gedung yang dihuni puluhan ribu
manusia. Tidak mau tersenyum kepada tetangga saja suatu dosa. Orang memukul
orang pasti dosa, tapi ndilalah di dunia ini hampir tidak ada orang yang tiba-
tiba saja memukul orang tanpa sebab apa-apa. Para pembajak yang menabrakkan
pesawat ke gedung tinggi itu terlalu hebat untuk disebut orang iseng, terlalu
perfect langkahnya untuk disebut orang jahat bawaan lahir, dan terlalu canggih
technological fight-nya untuk disebut orang gila.

Tentu ada sebab panjang yang mendalam dan melatarbelakanginya. Betapa arif
perkataan pimpinan Hamas Syekh Ahmad Yasin, "Sekarang saat Amerika Serikat
menilai kembali posisinya di hadapan makhluk seluruh dunia". (Emha Ainun
Nadjib, budayawan-23j)

----- End forwarded message -----

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke