Salam untuk semua.
TRADISI DIVIDE ET IMPERA
Saya telah membaca sejumlah imel di milis RantauNet dan Surau tentang banyaknya aliran
agama, pertikaian pendapat antara kelompok yang satu dan yang lain dalam hal Islam,
wacana Syiah dan Sunni, perbandingan referensi antara Al Quran dengan hadits
Rasulullah, dll, dsb, dst.
Karena itu, izinkan saya menyampaikan apa yang menurut pemahaman saya. Namun terlebih
dulu saya minta semua dunsanak untuk tidak berprasangka apa-apa. Karena dalam Islam,
tak dikenal istilah "absolutisme" melainkan "prakondisional" sembari memurnikan
(purificating)
Hal itu a.l karena "absolutisme" dikhawatirkan bisa merusak kreatifitas (daya cipta)
akal serta juga bisa menjebak umat kepada kultus individu maupun kelompok tertentu,
tidak membangun sikap mental yang mandiri serta condong terkungkung. Ibaratnya, Islam
mengajarkan, "Kamu adalah bagaimana sikap mental kamu."
Contoh prakondisional:
1. Babi haram dimakan. Tak ada kompromi soal itu. Tapi, menurut Quran, jika memang
sangat terpaksa dibolehkan saja asal tak melampaui batas dan tidak "asal-asalan
terpaksa" dan diiringi dengan banyak-banyak istighfar.
Satu survei di AS belum lama ini menunjukan mereka yang mengkonsumsi daging babi,
condong permisif dalam hubungan seksual (bebas), perzinaan dll. Jadi bukan hanya efek
kesehatan, tapi juga efek perusakan mental ikut menjadi alasan kenapa babi haram
dimakan.
2. Monogami sangat dianjurkan, tapi poligami sama sekali tidak dilarang asal adil
(kendati kamu tak akan pernah bisa adil) dan lebih mulia lagi jika memang sesuai
tuntutan sosial di sekitarnya.
Poligami lebih mulia ketimbang mengubur janda-janda hidup-hidup seperti di Afghanistan
(artikel Tamim Ansary, warga AS keturunan Afghanistan, seperti ditulis di Suara
Pembaruan Selasa/18 Sept 2001).
Poligami lebih mulia ketimbang membiarkan jutaan perempuan di Pulau Jawa terancam
nafkah hidupnya, digiring untuk memakmurkan prostitusi dan diskotik. Bukankah Wapres
Hamzah Haz mempraktekan poligami?
3. Khamar haram dikonsumsi. Tapi bukan berarti khamar identik dengan minuman alkoholik
saja. Jika kita melarang sanak minum sesuatu hanya atas dasar kadar alkohol saja, maka
saya khawatir kita semakin "bias" dalam ritual dan pemahaman Islam.
Bagi saya, segala sesuatu yang bila dikonsumsi (diminum, dimakan, disuntikan, dihisap,
dll) bisa menghilangkan kesadaran diri dan merendahkan posisi mental sendiri, maka itu
adalah khamar alias haram dikonsumsi. Jadi khamar tidak hanya terbatas kepada alkohol
saja.
"It is not merely alcoholic but firmly intoxicating."
Namun di saat lain, alkohol itu sendiri belum tentu haram dan ada kalanya bagus untuk
kesehatan dan sering dibutuhkan oleh dunia medis. Ini menjawab sanak di AS yang
mempersoalkan tape, ilustrasinya sbb:
Buah anggur "sangat" halal dimakan dan bagus untuk kesehatan, sering disebut-sebut
dalam Al Quran bahkan di surgapun termasuk salah satu jenis penganan yang dihidangkan
Malaikat untuk penghuni surga.
Tapi anggur haram ketika dia telah diolah menjadi minuman, difermentasi hingga
memabukan/menghilangkan kesadaran (intoxicating) si peminum.
Ibu-ibu di Aceh biasa memakai daun ganja untuk penyedap masakan, dan mereka
menganggapnya halal. Saya kira juga begitu karena belum ada kasus orang Aceh mabuk
karena makan "kelia jering" yang dibumbui daun ganja.
Tapi,... ketika daun ganja diolah sedemikian rupa sehingga bila dikonsumsi memabukan,
maka otomatis haram alias khamar, dan.. sebenar-benar khamar tanpa ampun!
Artinya:
1. Air putih mentahpun kalau diolah atau ditenggak sedemikian rupa hingga memabukkan
peminumnya, maka masuk kategori khamar (haram karena intoxicating).
2. Ubi atau singkong atau tape halal asal tidak menyebabkan orang yang mengkonsumsinya
kehilangan kesadaran. Sejauh ini belum terdengar kasus orang mabuk karena makan tape,
karena itu saya kira tape halal dimakan kendati mengandung alkohol!.
3. Kasus tape mirip dengan durian yang mengadung alkohol tapi halal dimakan. Tapi
kalau kebanyakan makan durian, apalagi bagi penderita tensi tinggi, bisa sakit kepala
atau "puyeng" juga. Maka dalam kondisi itu, durian otomatis haram dimakan oleh yang
bersangkutan, kendati halal bagi orang lain yang tak ditimpa persoalan yang sama.
4. Makanan yang dimakan berlebih-lebihan sehingga perut kekenyangan dan menyebabkan si
fulan malas menunaikan ritual ibadah, maka bukan makanannya yang khamar, tapi
perangainya yang khamar alias haram.
5. "Makanlah rezki yang baik-baik yang dianugerahkan Tuhanmu dan jangan
berlebih-lebihan," firman Tuhan seperti dikutip Quran.
6. "Dan janganlah kamu serampangan mengharamkan apa yang telah dihalalkan Tuhanmu
bagimu," lanjut Tuhan seperti dikutip Quran.
7. Dalam dataran akidah murni, sesungguhnya makanan yang haram itu hanya
dikategorikan/disederhanakan sbb:
a. Babi (merusak fisik dan mental)
b. Bangkai (merusak fisik dan mental)
c. Darah mengalir (merusak fisik dan mental)
d. Matinya tak disebut nama Allah (Bagian dari penghormatan kepada Yang Memberi Nyawa
kepada makhluk, sekaligus membedakan jenis makanan Mukmin dengan kafir)
Perlu ditegaskan disini tentang makanan Mukmin karena belum tentu orang Islam itu
Mukmin dan belum tentu orang non-Islam itu kafir.
"Dan dihalalkan makanan yang disembelih oleh ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)," lanjut
Tuhan dalam Quran.
Salah satu sebab, karena tak semua Yahudi dan Nasrani itu "jorok." Tapi yang pasti
mereka juga sangat takut kesehatan mereka terganggu.
Tapi Nasrani/Yahudi yang mana? Yakni Nasrani yang mengikuti ajaran Injil dimana juga
dimuat larangan makan babi. Tak semua orang Kristen mau makan babi. Demikian dengan
dengan Yahudi. Tak semua Yahudi mau makan babi.
Kalau masih ada jenis makanan atau minuman lain yang hari ini masih diharamkan selain
yang telah diurai diatas maka sesungguhnya semua itu tak lepas dari faktor hakiki
manusiawi a.l. yang dalam Quran tak ditemukan secara syariah, namun bisa ditelusuri
secara kajian Al Hikmah sbb:
a. Rasa jijik
b. Membedakan sifat dari sifat hewan bersangkutan
c. Takut terhina (terutama di depan Tuhan)
d. Ragu atau tak yakin
dll yang terlalu banyak kalau dirinci di sini.
KENAPA BANYAK ALIRAN/PAHAM/AJARAN AGAMA?
Dengan berbekal non-absolutisme, saya minta janganlah dunsanak menganggap apa yang
saya uraikan disini mutlak benar. ...BELUM TENTU BENAR.
Tentang istilah Ahlus Sunnah Wa'l Jamaah. Ini artinya adalah semacam imbauan kepada
umat Tuhan untuk tetap bersatu teguh dan tak bercerai berai.
"Janganlah kamu bercerai berai dalam agama," kata Tuhan dikutip Quran.
Sesungguhnya agama itu hanya SATU karena Tuhan juga SATU. Tak mungkin agama banyak
sementara Tuhannya SATU. Semua agama yang diajarkan nabi dan rasul Muslim, Nasrani dan
Yahudi adalah sama --Quran menyebutnya "Islam."
Kemudian dilanjutkan oleh Kitab Suci bahwa Allah suka barisan yang kuat dan teratur.
Ilustrasi: seperti kita memainkan buah catur, kita ingin setiap langkah mulai dari
bidak hingga mentri dengan cara smart, the winning team. Atau adab ketika kita shalat
berjamaah waktu shalat Jumat, rapi teratur dan manis disimak.
Ahlus menurut Quran berarti "mengikuti/follow" Contoh, ahlus zikri (mengikuti petunjuk
Az Zikri). Ini penting karena baik Az Zikri maupun As Sunnah adalah nama lain (alias)
dari Al Quran. Semua alias Al Quran juga diterangkan sendiri oleh Al Quran.
Nama lain Al Quran a.l.
1. As Sunnah (contoh, perumpamaan)
2. Az Zikri (peringatan)
3. Al Hadits (cerita/kisah terdahulu)
4. Al Kitab (suruhan dan larangan)
5. Al Furqan (membedakan hak dengan bathil)
6. Al Hikmah (memutuskan perkara yang rumit)
dll.
Alias juga membawa makna tentang kandungan atau isi Al Quran itu sendiri. Contoh Al
Hikmah. Tak semua ayat-ayat dalam Al Quran adalah syariah atau hukum mutlak atau mudah
diinterpretasikan.
Dalam Quran, trick itu disebut "mutassyabbihat" yang mana makna atau arti sesungguhnya
hanya bisa "ditemukan" oleh hamba-hamba shaleh tertentu dengan syarat amal shalihnya
telah terbukti.
"Sungguh akan Kami bukakan "pintu-pintu" Kami bagi hamba-hamba Kami yang telah
terbukti berjuang di jalan Kami," kata Tuhan dikutip Quran.
Karena itu, orang yang hatinya kafir meskipun otaknya encer, akan selalu kesulitan
memahami ilmu yang dibawa Al Quran, terutama kandungan Al Hikmahnya. Di sinilah
bermain kewenangan Allah.
"Aku hanya memberi petunjuk orang-orang yang Ku kehendaki dan membiarkan sesat
orang-orang yang Ku kehendaki," kata-Nya seperti dikutip Quran.
Kalau Tuhan membiarkan "mereka" sesat, apa yang bisa anda perbuat untuk mengembalikan
ajaran mereka? Apalagi, apa yang kita pahami belum tentu benar. Bagaimana kalau
ternyata ajaran mereka yang benar, kita yang sesat?
Contoh lain Az Zikri (peringatan) karena memang AL Quran itu membawa terlallu banyak
misi peringatan kepada manusia termasuk misi mengingat Allah
Namun, banyak ayat-ayat yang membawa akidah mudah untuk dipahami karena itu Tuhan
berfirman,
" Bacalah apa-apa yang mudah dari Quran itu yang kamu pahami."
"Kami-lah yang menurunkannya dan atas tanggungan Kami-lah penjelasannya."
Contoh:
Tentang bilangan 19. Hingga kini kaum Muslim di Amerika banyak yang mencoba-coba
mentafsirkan arti bilangan 19 itu, termasuk lewat karya tokoh Islam asal Tucson,
Abdullah Yusuf Ali berjudul "The Final Scripture" yang banyak dijadikan acuan tafsir
di AS, termasuk di Gedung Putih sendiri.
NOTE: Dalam Quran 19 disebut sebagai jumlah tentara Malaikat yang menjaga neraka
Saqar. Dan.. Saqar adalah neraka khusus untuk orang-orang yang tidak menunaikan
shalat.
Quran menggambarkan orang kafir akan selalu bertanya,
"Apakah yang dimaksud Allah dengan bilangan itu?"
Jika anda masih juga ingin bertanya tentang arti bilangan itu, maka bisa saja anda
juga termasuk kafir (menurut Quran), walaupun tidak mutlak begitu.
KESIMPULAN:
Tak perlu megkambinghitamkan ulama, mullah, hadist Rasul, para perawi dsb, dll, dst
karena memang kondisinya begitu atau dibiarkan seperti itu.
Hanya saja, kalau saya boleh memilih, saya tidak ingin diri saya dan kerabat saya
masuk golongan yang dibiarkan sesat oleh Tuhan.
Karena itu, tak ada jalan lain selain doa dan pengerahan akal dan tetap konsisten
dengan the guidance, Al Quran, atau apapunlah alias yang disandangnya.
Saya takut nanti disindir Quran dengan, "Kemana akalmu? atau "fa la yaqilun?"
Apakah saya akan menjawab "Saya qulu" (kurang akal?)
NOTE: "Saya" menurut Quran berarti "kurang."
***TAPI SAYA YAKIN DAN PERCAYA BAHWA AL QURAN YANG DISAMPAIKAN MUHAMMAD DITURUNKAN
DALAM DUA KANDUNGAN YAKNI:
1. AL HADITS (TERTULIS DAN BISA DIBACA DALAM TEKS ASLI BERBAHASA ARAB YANG JELAS
KARENA RASULNYA ORANG ARAB, SANGAT MUDAH DIPAHAMI DAN DIJAMIN KEASLIAN DAN
PENJAGAANNYA)
2. AL HIKMAH (TIDAK TERTULIS, TAKWIL YANG HANYA BISA DIPAHAMI ATAS BIMBINGAN ALLAH
YANG DENGAN ITU JUGA DIA MEMBIARKAN MEREKA YANG DIA KEHENDAKI SESAT).***
Kalau istilah awaknyo, Quran itu ado nan "TASUREK" ado pulo yang "TAKILEK."
Kalau sanak Om Bush bilang:
1. Read the lines (baco baris demi baris).
2. Read between the lines (baco nan indak tasurek).
Salah satu teknik yang diajarkan Quran untuk bisa memahami kandungan Al Hikmah adalah:
1. Mensucikan jiwa ("beruntung")
2. Mensucikan diri ("adab, hormat, nikmat")
3. Tartil
(seperlunya saja, tidak cepat, tidak terlalu lambat, tidak keras, tidak terlalu pelan
dll, dst, dsb.)
4. Sering ber-Tahajud ("derajat dinaikkan")
5. Tengah malam ("mengunci pendengaran satanic")
6. Khusyuk (asyik dan tinggalkan urusan lain)
Dll, dsb, dst....
TENTANG ADAB SALAM
Saya sekaligus juga ingin menjawab dunsanak yang menyoalkan penggunaan "salaamun
alaikum" dalam artikel saya terdahulu.
Justru menurut Al Quran, "Salaamun alaikum" (salam bagi kamu) adalah bahasa yang benar
--setidaknya menurut saya benar-- yang diucapkan oleh Malaikat kepada penghuni surga.
Sementara As Salaam, menurut Quran adalah Asma ul Husna (asma yang baik) milik Allah
SWT.
Saya hanya khawatir jika menggunakan "As Salaamu alaikum" (As Salaam bagimu) seolah
saya memberi dia Tuhan pemilik asma As Salaam.
AS, AL, AR dll adalah definite article atau dalam bahasa Inggris biasa digunakan
"the." Jika kata benda yang tidak definitif maka tidak digunakan the. Tapi jika noun
sudah dibatasi atau didefinisikan apa dan kemana dll, maka digunakan "the."
Contoh:
pentagon (semua grafik bersegi lima)
The Pentagon (pusat intelijen & pertahanan AS)
white house (semua rumah bercat putih)
The White House (di Washington, kantor Presiden AS)
Kaidah yang hampir mirip sama juga berlaku dalam bahasa Arab.
salaam (semua salam)
As Salaam (Allah SWT)
Jadi saya ingin memberi para dunsanak disiko "salam" seperti ucapan Malaikat memberi
salam kepada penghuni surga, bukan memberi orang "Tuhan."
Itupun kalau dunsanak tidak keberatan. Tapi kalau ado nan keberatan, ambopun mangalah,
cukuiklah "salam" sajo ambo lantunkan.
Wallahualam,
(Esteranc Labeh)
[EMAIL PROTECTED]
JKT
.
____________________________________________________
Dapatkan email gratis Anda di http://mail.astaga.com
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================