SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 9/3/01 Kultur Jawa dalam Kekuasaan Modern Oleh F Rahardi Selama ini kultur Jawa lebih banyak dibangga-banggakan sebagai warisan budaya bangsa yang adiluhung. Kenyataannya, kultur Jawa memang banyak menarik minat para peneliti serta pakar bangsa asing. Sebagai kesenian, baik sastra, musik, tari, teater maupun seni rupa, kultur Jawa memang luar biasa. Wayang kulit purwo adalah bentuk teater yang sangat kompleks dengan melibatkan hampir seluruh cabang kesenian yang ada. Dimensi keempat dalam lukisan-lukisan Picasso diakui berangkat dari bentuk tatahan wayang kulit, terutama pada figur raksasa. Sikap dasar kultur Jawa yang sangat ketat menjaga harmoni pikiran (jiwa), sangat menarik untuk kajian modern UNDP yang secara rutin mengeluarkan laporan indeks kesejahteraan hidup negara-negara anggota PBB, kadang-kadang heran karena standar baku yang sudah ada agak sulit untuk diterapkan guna mengukur tingkat kesejahteraan orang Jawa. Sikap nrimo (berserah diri pada nasib) inilah yang telah menyebabkan budaya Hindu, Buddha, Islam, Kristen, Tao dan peradaban Eropa dengan mudahnya masuk ke tanah Jawa. Tetapi, kultur asing itu begitu masuk ke Jawa dengan mudahnya pula segera dijawakan. Wayang kulit yang penulis sebutkan di atas, sebenarnya merupakan salah satu reaksi kultur Jawa terhadap Islam. Sebelum Islam masuk, orang Jawa lebih mengenal wayang beber. Yakni pembacaan naskah Mahabarata dan Ramayana yang diiringi musik (gamelan) dan disertai dengan ilustrasi gulungan gambar yang digelar (dibeber). Karena Islam melarang penggambaran bentuk manusia maka diciptakanlah figur pewayangan itu dalam bentuk yang sangat deformatif hingga tidak lagi menunjukkan bentuk manusia melainkan hanya mewakili watak-watak yang diceritakannya. Menontonnya pun dari balik layar hingga yang dilihat hanya bayang-bayangnya (wayang). Konsep harmoni dalam kultur Jawa menjadi negatif ketika dihadapkan pada masalah lingkungan hidup, HAM dan kekuasaan negara. Hutan di Pulau Jawa tinggal sekitar 22 persen dari total luas wilayahnya. Harimau jawa telah punah. Badak jawa tinggal 50 ekor di Ujungkulon. Hutan yang di Jawa Tengah, khususnya di lereng Sindoro/Sumbing, Merbabu/Merapi dan Lawu, paling rusak dibandingkan hutan serupa di Jawa Barat dan Timur. Kebiasaan mengurung burung (perkutut, jalak, prenjak/ anis), telah menyebabkan populasi satwa itu di alam mendekati kepunahan. Sikap represif pemerintah dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer adalah kelanjutan dari sikap represif dan brutal yang dilakukan oleh kebanyakan raja-raja Jawa, baik pada zaman Hindu maupun Islam. Rupanya kultur Jawa hanya menarik sebagai kesenian. Sebagai falsafah hidup hanya cocok untuk menipu rakyat agar tidak memberontak kepada raja. Dan kultur Jawa akan menampakkan kebengisannya apabila digunakan menjadi landasan sistem kekuasaan. Kultur Jawa sangat kaya dengan perlambang dan gejala eufemisme (penghalusan). Ini semua dengan mudah dapat disalahgunakan oleh kekuasaan untuk menyembunyikan kenyataan. Sesuatu yang busuk dapat dengan mudah dikemas dengan slogan, semboyan dan kalimat yang penuh dengan eufemisme. Pegawai keraton, tukang sapu atau tukang kebun, misalnya, bukan secara lugas disebut sebagai buruh atau kuli dan digaji cukup, tetapi diberi gelar hebat-hebat sekadar untuk menyembunyikan gajinya yang kecil. Kisah tragis Sekar Pembayun, bisa diartikan sebagai peran luar biasa seorang putri raja untuk menghindarkan perang besar dan mempersatukan negeri. Tetapi bisa juga dilihat sebagai kekejaman kekuasaan hingga dengan tega raja menempatkan cinta sekadar sebagai alat untuk membunuh Ki Ageng Mangir, musuh politik Panembahan Senopati sang pendiri dinasti Mataram. Seremonial Pernahkah Anda masuk ke ruang kerja seorang menteri Indonesia? Atau paling tidak seorang dirjen atau direktur BUMN? Pertama-tama kita akan sampai ke gerbang halaman kantor dan di sana ada satpam. Di lobi utama kembali ada satpam. Biasanya di bangunan bertingkat, kantor menteri ada di lantai atas. Dan di tiap lantai ada satpam. Lalu kita akan bertemu dengan staf sekretaris dan diminta menunggu. Setelah staf sekretariat lapor ke sekretaris atau ajudan menteri, kita akan diminta menunggu pula tetapi ruangannya berpindah. Baru kemudian kita akan diizinkan masuk ke ruang menteri yang bisa menempati seperempat bahkan separo lantai gedung saking luasnya. Dan kebanyakan tamu yang datang ke menteri, dirjen, gubernur bahkan juga presiden, hanya membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan. Misalnya minta untuk membuka acara, meresmikan pertemuan atau bangunan, merestui satu kegiatan dan lain-lain. Di negara-negara maju, bertemu menteri itu tidak rumit, ruang kantornya juga sederhana tetapi yang dibicarakan memang penting dan harus diputuskan oleh menteri bersangkutan. Dalam kultur Jawa, pernik-pernik berupa kegiatan seremonial menjadi sangat penting hingga esensinya lebih sering diabaikan. Misalnya, kegiatan-kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, baik diskusi panel, seminar maupun ceramah. Semua perlu dibuka oleh pejabat pemerintah, perlu keynote speaker yang juga seorang pejabat. Hasil dari kegiatan itu lalu disusun sebagai prosiding dan dicetak serta dijilid mewah dan disebarluaskan ke ''instansi terkait''. Tetapi setelah itu akan dibiarkan berdebu di rak buku atau terbengkalai di gudang. Sebab esensi dari kegiatan itu memang tidak pernah penting. Seminar-seminar di luar negeri, tidak usah jauh-jauh ke Eropa atau Amerika, di Thailand pun, acaranya sederhana. Kadang-kadang memang juga dihadiri dan dibuka oleh pejabat. Tetapi waktunya singkat dan padat. Dan lebih sering acara-acara demikian berjalan tanpa adanya campur tangan pejabat. Tetapi hasil dari seminar-seminar seperti itu akan menjadi rujukan penting untuk menentukan kebijakan maupun aplikasi di lapangan. Kegiatan kesenian dan olahraga di negara-negara maju, lebih banyak terkait dengan masalah bisnis daripada dengan struktur kekuasaan. Hingga kejuaraan tinju atau pergelaran musik hanya dilihat sebagai kegiatan olahraga/kesenian dan bisnis. Tidak pernah kedengaran ada embel-embel kejuaraan tinju atau pentas musik dikait-kaitkan dengan keharuman nama bangsa dan lain-lain. Tinggal dilihat apakah kegiatan itu amatir atau profesional. Selebihnya hanyalah urusan prestasi dan uang. Di Indonesia, kesenian dan olahraga adalah urusan kekuasaan. Karenanya pengurus organisasi olahraga harus pejabat pemerintah. Pengurus kegiatan kesenian (dewan kesenian) diangkat oleh pemerintah. Dan pentas kesenian atau kejuaraan olahraga Indonesia di luar negeri adalah demi nama bangsa. Penguasa berhak untuk campur tangan di hampir semua kegiatan masyarakat. Bahkan kalau bisa mimpi-mimpi rakyat pun harus dikontrol dan disensor. Pernahkah Anda menyusuri jalan raya dari Jakarta ke Semarang? Di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah di perbatasan kabupaten, perbatasan kota madya, akan Anda temui gerbang-gerbang yang sangat besar dan megah. Lengkap dengan slogan-slogannya. Misalnya saja, Selamat Datang di Tegal Kota Bahari. Orang asing akan bingung. Ini kota Tegal atau kota Bahari? Di Purwokerto lebih aneh lagi ''Selamat Datang di Kota Adipura''. Ternyata Wonosobo juga kota Adipura, Temanggung juga kota Adipura. Banyak sekali kota di Jawa yang bernama Adipura. Di gang-gang di desa, slogannya berbunyi, ''Wonorejo Desa Pelopor P4'', ''Seloporo Desa Pelopor P4''. Di mana-mana ada desa pelopor P4. Mungkinkah pelopor itu lebih dari satu? Di Malaysia, juga Thailand, batas negara bagian, provinsi atau Kota berstandar internasional. Hanya papan nama besar, biasnaya biru atau hijau spotlight dengan tulisan putih yang juga besar-besar dan jelas yang menunjukkan nama negara, provinsi atau kota. Siapa pun yang lewat akan segera tahu, ''O, saya sampai di Kedah, di Ipoh, di Lampun atau di Chang Mai''. Pola Pikir Kekonyolan utama kultur Jawa adalah dalam hal pola pikir, terutama ketika menyikapi kekuasaan. Baik rakyat menyikapi penguasa maupun penguasa menyikapi rakyat. Dalam kultur Jawa, rakyat harus berserah diri secara total kepada penguasa, baik penguasa jagat raya (Tuhan) maupun penguasa dunia (raja). Berserah diri secara total kepada Allah memang benar. Tetapi berserah diri secara total kepada penguasa dunia, entah itu raja, presiden, gubernur, bupati, atau direktur, sama saja dengan memper-Tuhan-kan manusia. Sebutan gusti dalam kultur Jawa memang diberlakukan untuk Tuhan (Gusti Allah), dan sekaligus juga untuk raja (Gusti Prabu), pejabat pemerintah (Gusti Patih, Gusti Pangeran), bahkan juga untuk majikan (Gusti Bendoro). Jadi tidak mengherankan kalau pemerintah Orde Baru dengan mudahnya memanfaatkan aparat birokrasi untuk memenangkan Golkar selama 30 tahun lebih dengan konsep monoloyalitas. Sebab jangankan pegawai negeri (abdi dalem), rakyat pun hukumnya wajib untuk berserah diri kepada penguasa. Meskipun dituntut untuk loyal kepada penguasa gaji pegawai negeri di Indonesia sangat rendah dan tidak rasional. Paling tidak jika dibandingkan dengan gaji pegawai swasta. Gaji menteri hanya Rp 7.000.000 sementara gaji seorang direktur perusahaan swasta (besar) sudah di atas Rp 10.000.000 per bulan. Pola ini memang disengaja oleh penguasa untuk menyeleksi individu-individu yang benar-benar loyal. Kalau dalam dunia raja Jawa, abdi dalem yang setia diberi hadiah dan kedudukan yang lebih tinggi. Bahkan kadang-kadang diminta untuk nglungsur (alih pakai) salah seorang selirnya. Dalam pemerintahan Orde Baru, pegawai negeri yang aktif di Golkar akan mendapatkan proyek yang menggunakan anggaran ''pembangunan'' bukan anggaran rutin yang memang kecil. Pola demikian berlaku sangat transparan secara nasional. Mereka yang loyal akan dapat proyek dan cepat naik pangkat sementara yang kritis dan vokal akan tersingkir atau terhenti kariernya. Untuk menopang pola hidup aparat pemerintah sipil dan militer yang gung binatoro model Jawa itu memang diperlukan dan yang sangat besar. Dana itu diambil dari BUMN dan perusahaan swasta yang mendapatkan ''fasilitas'' dari sang penguasa. Karenanya perusahaan-perusahaan pun ganti menekan buruhnya. Dan agar buruh mau dibayar murah tetapi tidak mogok atau demo, beras yang menjadi kebutuhan utama buruh juga harus berharga murah. Ganti petani ditekan untuk menanam padi dengan pola yang ditetapkan pemerintah dan harga yang juga sudah dibakukan. Petani yang hidupnya susah perlu lauk yang murah, yakni ikan asin. Tiba gilirannya nelayan ditekan dengan membiarkannya terisolasi secara fisik hingga sulit untuk memasarkan produk mereka dalam keadaan segar. Dan rakyat gembel yang terdiri atas buruh, petani dan nelayan hanya bisa berserah diri secara total kepada kehendak ''Gusti Prabu'' beserta seluruh aparat di bawahnya. Memang ada satu dua rakyat yang karena pengaruh kultur non-Jawa, termasuk kultur asing, berani untuk bersikap tidak nrimo. Untuk mereka itu, ''Gusti Prabu'' akan segera menerapkan dengan sangat canggih teori Michaeavelli. Bung Karno di masa Demokrasi Terpimpin memenjarakan Syahrir dan dengan cara sangat halus menyingkirkan Bung Hatta. Pak Harto di masa Demokrasi Pancasila menyingkirkan Sri Sultan, Jenderal Nasution, Ali Sadikin, dan GPK serta kelompok kritis lainnya dibasmi dengan sadis. Itu sama dengan yang pernah dilakukan oleh Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir, musuh bebuyutannya yang sangat sakti itu tidak dihadapinya secara kesatria. Dia suruh putrinya, Sekar Pembayun untuk menyamar sebagai pengamen tari dan memikat hati sang musuh. Sekar Pembayun berhasil memikat Ki Ageng Mangir. Tetapi dia keterusan lalu menikah dan hamil. Ketika sang menantu sungkem, Senopati dengan teganya membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke Selo Gilang (batu tempat kaki raja) hingga tewas. Kecenderungan kekuasaan terutama di negara-negara berkembang, memang korup dan sewenang-wenang. Untuk itu bukan hanya diperlukan konstitusi yang rinci dan jelas serta hukum yang lugas dan memenuhi rasa keadilan. Rakyat juga harus sadar bahwa kultur Jawa yang lemah lembut dan adiluhung itu hanya baik untuk berkesenian dan berserah diri pada Tuhan. Untuk sang penguasa duniawi, lebih-lebih yang korup dan sewenang-wenang, diperlukan sikap dengan kultur Aceh, Batak, Dayak, Menado atau Ambon. Lugas, terbuka dan apa adanya. Sayangnya selama pemerintahan Orde Baru, kultur Jawa itu telah dengan sangat efektif merasuk ke relung seluruh etnis di Indonesia. Kalau Bung Karno dinilai masyarakat telah berhasil membuat etnis Jawa menjadi bangsa Indonesia, maka Soeharto juga telah sangat berhasil menjadikan bangsa Indonesia berkultur Jawa. Penulis adalah penyair, tinggal di Jakarta. -- Sent through GMX FreeMail - http://www.gmx.net RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

