Assalamu'alaikum wr.wb Iko ambo dapek dari situs majalah sabili, semoga kegiatan2 misionaris di kampuang halaman kito dapek di cegah dan di hentikan.
salam, harman Pemurtadan di Kampung Bandan: Preman Berani Pasang Badan Karena sembako, preman Kampung Bandan di wilayah utara Jakarta, berani pasang badan membekingi misionaris. Kawasan ini menanti kepedulian kita. Memang miris juga, di tengah gemerlapnya kota metropolitan Jakarta, ada kawasan kumuh seperti Kampung Bandan. Lebih miris lagi, ternyata daerah ini menjadi ladang subur Kristenisasi. Padahal daerah Priok kita kenal masyarakatnya yang reaktif dan gigih dalam pembelaannya terhadap Islam. Menurut cerita Salim Abdullah (40), Kristenisasi itu bisa masuk ke daerahnya dimulai saat terjadi kebakaran pada tahun 1999 (lihat SABILI edisi 13 th. VI: Ramadhan di Kampung Bandan). Kala itu bantuan yang masuk tidak menyentuh blok A dan E. Karena, memang, kedua blok itu ada di bagian pinggir dari kawasan itu. Sedangkan tiga blok lainnya (B-C-D) yang berada di tengah kawasan itu ludes dilalap si jago merah. Karena tidak terbakar maka kedua blok itu tidak mendapat jatah bantuan."Karena mereka memang bukan korban kebakaran," kata Salim. Inilah yang dimanfaatkan kalangan misionaris. "Kita tidak menduga," kata Salim masygul, "mereka jeli melihat peluang." Menurut keterangan Kusen, adik ipar Salim, di Kampung Bandan, misionaris itu tidak mendirikan sekretariat atau spanduk yang mengidentitaskan jati dirinya. Tapi mereka terus bergerak, bergerilya mendatangi rumah satu persatu. "Kalau ada yang sakit segera dibawa ke dokter atau dikasih obat. Ada nenek-nenek tidur di lantai, segera dibelikan kasur. Ibarat Santa Klaus, kalau ada kebutuhan langsung simsalabim saat itu juga dipenuhi!" jelasnya. Kusen menambahkan bahwa mereka juga kedapatan mendatangi Sekolah Dasar di kawasan itu dan meminta data siswa yang tidak mampu untuk diberi beasiswa. Hebatnya, mereka datang ke Kampung Bandan cukup 4-5 orang dan tidak membawa kendaraan, cukup naik mikrolet. Penampilannya biasa sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Bahkan untuk menyamarkan aksinya, mereka berani memakai atribut Islam. Selain Yayasan Kasih Bangsa, ada Yayasan Amalia dan Yayasan Aulia. Dua nama terakhir jelas mengesankan yayasan Islam. Menurut investigasi dari Forum Pengendalian Pemurtadan Kampung Bandan, Yayasan Aulia ini memperkerjakan muslimah dan berjilbab. Mereka dipekerjakan di sini dengan mengenakan jilbab, sebagai syarat utama. "Sedangkan mengenai akhlak, shalat dan tidaknya, itu urusan pribadi," begitu kata Kusen menirukan laporan rekannya. Saking rapinya gerak misionaris itu, dai-dai di Kampung Bandan baru menyadari di daerahnya ada Kristenisasi setelah berjalan setahun lebih. Itu pun secara tak sengaja. Awalnya istri Ahmad (sebut saja begitu) diajak oleh pihak pengelola TK yang ada di wilayahnya untuk rekreasi. Tapi di tengah rekreasi itu dia menemui kejanggalan-kejanggalan, seperti doa yang hanya boleh dibaca di kelas atau mengunjungi sebuah gereja di daerah Mangga Besar. Di hari yang lain, dia menemukan tanda salib pada kertas pelajaran anaknya. Ini segera dia laporkan pada suaminya, seorang aktivis Majelis Taklim Uswatun Hasanah yang diketuai Salim Abdullah. Ahmad, segera melakukan pengecekan, dan ternyata benar! Mungkin, lantaran tahu sedang diamati, selanjutnya pengelola Yayasan Kasih Bangsa itu datang, mengajak ngobrol Ahmad. "Kalau ada umat Islam yang digaet jadi Kristen, saya babat leher kamu!" gertak Ahmad. Di hadapan Ahmad mereka secara penuh kehalusan mengatakan bahwa bantuan ini sifatnya sosial belaka. Tapi dari bantuan yang mereka berikan ternyata telah menjadi satu ikatan tersendiri. Selain memberi keringanan pendidikan, dalam bidang sosial, tiap sepekan dua kali misionaris itu memberi minyak, gula dan beras, masing-masing satu kilo. "Akibatnya timbullah mental ketergantungan," kata Kusen yang juga Ketua III Forum Pengendalian Pemurtadan, Kampung Bandan. Lantaran itulah, ketika warga yang telah memiliki keterikatan dan ketergantungan itu tahu bahwa induk semangnya diancam akan dibabat lehernya oleh Ahmad, maka mereka segera bereaksi. Mereka mempertanyakan kepada Ahmad kenapa melarang bantuan itu. "Apa kamu sanggup memberi makan saya," tantang preman di situ. Ancaman itu tak hanya gertak sambal. Ahmad sudah merasakan kenekatan mereka. "Yang namanya clurit di leher itu sudah pernah saya alami," kata Ahmad yang hingga sekarang masih merasa terancam. Memang hingga saat ini belum ada warga Kampung Bandan yang nyata-nyata berpindah agama ke Kristen. Tapi akibat mental ketergantungan tadi maka timbul sikap, bahwa siapa saja yang berani mencoba untuk menghentikan bantuan itu, maka akan berhadapan dengan golok. "Jadi kita dibenturkan dengan saudara kita sendiri," keluh Kusen. Mau dihadapi secara langsung tidak bisa, karena bukan Kristenisasi secara nyata. Mereka berdalih memberi bantuan sosial dan pendidikan. "Itu yang dibutuhkan masyarakat!" kata Ahmad. Bagaimana dengan umat Islam di luar Kampung Bandan? "Sampai saat ini, belum ada satu ormas atau parpol Islam pun yang berani terjun berdakwah di Kampung Bandan. Dalam arti berdakwah secara berkesinambungan di kawasan ini," ungkap Kusen. Ketika hal ini ditanyakan pada Salim dan Ahmad mereka langsung mengiyakan. "Mereka mestinya didorong untuk terjun ke lapangan, jangan seminar terus!" gugat Kusen. Jadi dakwah yang berkesinambungan itulah yang diharapkan umat Islam dikampung Bandan. Padahal di tengah kemiskinan, yang menjerat Kampung Bandan tak hanya ancaman pemurtadan. Perjudian, Premanisme dan Pornografi tengah deras-derasnya menghantam keimanan warganya. Mereka butuh perhatian saudara-saudaranya. Islam memang melarang putus asa. Tetapi, menanti bantuan dari saudaranya agar bersama menghadang pemurtadan di Kampung Bandan, kalau tidak dikatakan cukup mengecewakan, setidaknya membuat Salim, Kusen dan Ahmad lelah. Untuk itu, kepedulian kita semua sedang dinanti kaum muslimin Kampung Bandan, agar ketergantungan warga terhadap bantuan berkedok sosial dan pendidikan, yang sesungguhnya "ada udang di balik batu" itu, sirna dari rumah-rumah mereka. Eman Mulyatman (SABILI) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

