|
Republika
Jumat, 02
Nopember 2001
Lev Tolstoi Sastrawan Besar Itu Akhirnya Memeluk Islam Siapa yang tidak mengenal Lev Tolstoi? Ia adalah sastrawan Rusia dan "pembimbing rohani" yang memiliki banyak pengikut. Dengan kelebihan dan kemampuan yang dimilikinya, ia menarik perhatian banyak orang. Tempat tinggalnya di Yosnaya Polyana, dikunjungi banyak orang dari berbagai negara yang ingin berguru kepadanya. Dalam disertasi PhD-nya, Mark Harry Bernstein menyatakan, Tolstoi adalah seorang sastrawan dunia yang sangat berpengaruh, relijius dan teguh dalam memegang keyakinannya. Sumbangannya sangat besar dalam kesusastraan dunia. Reputasi Tolstoi sangat mengagumkan bukan saja di negerinya sendiri melainkan juga di benua Amerika dan Eropa, bahkan di daratan Cina. Pengikut aliran Mao mengaguminya. Segala macam ensiklopedi mencantumkan namanya sebagai orang terkemuka. Di Indonesia, namanya sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Karya parabelnya diterjemahkan Balai Pustaka untuk pertama kalinya berjudul Iwan Pandir. Seusai Perang Dunia II, sejumlah karya lainnya diterjemahkan seperti kumpulan cerpennya yang berjudul Tertawan di Kaukasus. Dan, pada 1970, penerjemahan karya-karyanya berlangsung lagi antara lain berjudul Rumah Tangga yang Bahagia, dan Anna Karenina. Siapa Tolstoi di mata kritisi dan rivalnya? Para kritisi yang biasanya menyampaikan kritik pedas pun banyak memujinya karena analisis-analisis dalam novelnya beranjak dari realisme dan kejujuran. Rivalnya seperti Dostoyevsky menjulukinya sebagai 'superior dari seluruh novelis' dan Turgenev menyebutnya sebagai 'pengarang terbesar dari tanah Rusia'. Karya Tolstoi baik puisi, novel, esai, naskah drama, monografi, maupun dokumen lain sebagian besar kini tersimpan di Library of Congress. Tolstoi yang kemudian menjadi tokoh reformasi sosial itu pernah masuk dinas militer. Dari pengalaman di lapangan militer ini ia menulis berbagai novel, cerpen, dan catatan kenangan, antara lain Sketsa dari Sebastopol, dan Orang-orang Kozak. Di dalam karya-karyanya tersebut ia mempertentangkan keberanian dan sikap pantang mengeluh serdadu Rusia dengan kepentingan pribadi dan semangat kepahlawanan palsu para perwira. Ia juga pernah melawat ke sejumlah negara Barat. Dari hasil lawatannya ini, ia kemudian menentang mentah-mentah budaya modern Barat, dan tidak mempercayai materialisme Barat. Pernyataannya yang sangat terkenal waktu itu: "Pembaruan Rusia tidak harus meniru Barat". Tolstoi sangat mengutuk kerakusan dalam kepemilikan kekayaan. Dalam pandangannya, kepemilikan kekayaan merupakan sumber kekacauan sosial dan kerusuhan. Segala bentuk kerusuhan adalah kejahatan. Manusia harus berhenti hidup dengan merampas kerja orang lain dan menghindarkan diri dari keterlibatan dalam kerusuhan terorganisir yang dilakukan oleh negara. Ia memegang teguh keyakinannya bahwa ketertiban masyarakat akan berkembang hanya bila semua orang belajar menyayangi satu sama lainnya. Berasal dari lingkungan bangsawan, masa hidupnya diwarnai dengan masa 'pertobatan' panjang. Salah satu bentuk pertobatannya adalah kecamannya terhadap kemunafikan para bangsawan dan kaum terpelajar yang tidak mampu menyelesaikan persoalan dalam negerinya, bahkan mereka kian menekan rakyatnya. Kritiknya itu dituangkan dalam beberapa novel seperti Pembunuh Istri, Anna Karenina, serta Perang dan Damai. Pada usia 48 tahun, ia meninggalkan kesusastraan dan mulai memusatkan perhatian pada pengajaran tentang hidup keagamaan, keadilan sosial, seni dan perdamaian. Lev Tolstoi yang terlahir sebagai novelis terbesar dunia, tidak pernah puas. Dalam sebuah karyanya yang berjudul Kesaksianku, Tolstoi memberikan tanggapan terhadap krisis spiritual. Ia dengan gigih mengembarakan pikirannya guna mencari jawaban tentang arti kehidupan. Suatu ketika ia kembali merujuk pada sebuah bentuk anarkisme Kristen yang tak dapat diterima dan pada saat lain ia mengabdikan dirinya pada sebuah bentuk reformasi sosial. Ia menjelaskan keyakinannya bahwa tanpa pikiran tentang keberadaan yang memaksa ia tak dapat terus hidup. Ia menggali agama. Titik kembalinya yang terpenting datang ketika ia percaya bahwa ia telah menemukan arti yang benar tentang ajaran Kristen untuk mempertahankan yang tidak jahat. Ia menegaskan temuannya bahwa di dalam Al-Kitab (Injil) terdapat ajaran yang berisi kesalahan dan distorsi. Ia mengoreksi ajaran tersebut karena harus dikoreksi jika ajaran-ajaran itu harus mendapatkan kembali substansi aslinya, penjelasan tentang tujuan hidup. "Tujuan itu adalah bukan untuk melayani nafsu hewaniah kita melainkan melayani kekuatan dalam diri kita," katanya. "Kesadaran tertinggi kita mengakui hubungannya sendiri dengan kekuatan tersebut, dan adalah kekuatan itu yang memungkinkan kita untuk mengenal apa yang baik. Pikiran dan kesadaran kita mengalir darinya, dan tujuan hidup yang sadar adalah untuk melaksanakan kehendakNya", papar filosof moralis ini. Keyakinan agamanya ini telah membawanya kepada konflik dengan negara yang menganut ajaran Kristen Ortodok. Keyakinan barunya itu juga mengundang serangan dari gereja, karena bertentangan dengan apa yang dikhutbahkan di dalam gereja. Ia demikian dibenci karena pikirannya yang sangat luar biasa dalam banyak hal, itu tidak dapat dimengerti oleh masyarakat Rusia. Negara dan gereja memutuskan untuk mengusirnya beserta istri dan keluarganya. Tentang gereja ia menulis, negara berbuat apa saja yang diinginkan, memungkinkan gereja dapat berkembang di baliknya dalam menjelaskan arti hidup. Negara dan gereja memikirkan alegori bahwa masyarakat yang hidup bertentangan dengan hukum gereja, hidup menurut keinginan mereka sendiri. Juga sudah diputuskan bahwa negara menjalankan kehidupan yang lebih buruk daripada kehidupan kaum pagan, dan gereja tidak hanya menjastifikasi kehidupan ini melainkan juga menyetujui bahwa di dalamnya terdapat doktrin gereja. Kesaksian Dalam karya berjudul Apa Itu Seni?, Tolstoi mengembangkan pemahaman tentang sistem estetik yang memberikan fungsi moral dan agamis pada seni. Novelnya yang berjudul Hari Kebangkitan dan Kekuatan Kegelapan, membeberkan masalah-masalah sosial yang penyelesaiannya harus dikaitkan dengan tujuan keberadaan dan tujuan hidup manusia. Dari pemilihan tema-tema dan konsep yang penuh dengan nuansa serta konotasi relijius itu, tampaknya Tolstoi sedang mencari hakikat kebenaran, hakikat agama. Walau ia hanya mengenal agama Kristen Ortodok, Tolstoi tampak berupaya keras dengan dorongan keresahan dalam dirinya mencari kebenaran lain yang diharapkan dapat memuaskan hati dan pikirannya. Tolstoi terbelah antara dorongannya untuk hidup sebagai asetik pengembara dan tanggung jawabnya sebagai seniman dan pemilik kebenaran sejati yang membumi. Suatu malam Tolstoi meninggalkan rumahnya secara diam-diam. Sejak lama memang ia ingin pergi sendirian untuk mencari kebebasan dari kesenangan duniawi. Ia yakin dengan cara seperti ini ia bisa mendekat kepada Tuhan. Beberapa hari kemudian ia ditemukan telah meninggal di sebuah tempat sambungan rel kereta api di dekat Stasiun Astapovo. Satu hal yang mengejutkan, menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Kavkaz Center, bahwa sebelum ajalnya tiba, Tolstoi telah menulis pesan bahwa ia menerima Islam. Hal ini diketahui dari isi pesan tersebut. Tolstoi menulis bahwa hanya ada satu yang serba maha dalam segalanya, semua sistem tunduk kepadanya. Dialah Tuhan yang telah menurunkan ajaran yang lurus, penuh kebenaran, sebagaimana yang telah disebarkan oleh Muhammad. Dengan kesaksian ini, Tolstoi meminta agar setiap orang menganggapnya sebagai pengikut Muhammad (I ask anyone to consider me Mohammedian). Pada awalnya, pesan ini terasa meragukan sehingga mengundang beberapa pihak untuk menguji kebenarannya. Maklum, karena selama itu belum pernah terdengar Tolstoi menyatakan kesaksian setegas itu. Maka, Kavkaz Center menghubungi sejumlah orang yang dekat dengan sumber-sumber Tolstoi, termasuk Engelia Vekilova yang kenal dengan keluarga Tolstoi. Ketika Vekilova menulis surat kepada Tolstoi bahwa anaknya ingin masuk Islam, Tolstoi menjawab bahwa ia lebih menyukai Islam daripada Kristen Ortodok. "Saya dapat bersimpati dengan seluruh jiwa dengan keinginannya untuk masuk Islam," katanya. "Bagi saya, tidak aneh untuk mengatakan bahwa saya telah menempatkan ide dan doktrin Kristen pada pengertian yang benar. Tidak ada keraguan dalam diri saya bahwa ajaran Muhammad sesuai dengan bentuk-bentuk eksternalnya secara mencolok kebenarannya berada di atas ajaran Kristen Ortodok. Karena itu, jika seseorang dihadapkan pada dua pilihan: menganut ajaran Kristen Ortodok atau ajaran Islam, bagi orang yang berpikiran waras, pasti akan memilih salah satunya dan setiap orang akan lebih menyukai ajaran Muhammad dengan pengakuan satu doktrin Tauhid, yaitu satu Tuhan, bukan ajaran yang tidak jelas dan rumit seperti Trinitas, penebusan dosa, sakramen, hal-hal yang disakralkan, citra pastur dan pelayanan khutbah mereka yang rumit," Tolstoi menjelaskan. Satu lagi pesan penting Tolstoi ditulis sebagai berikut: "Saya sangat senang jika Anda bersedia bersama saya menganut satu keyakinan. Anda bayangkan sedikit tentang kehidupan saya. Sukses hidup, kekayaan, kehormatan dan kemegahan, semua itu tidak diberikan kepada saya. Teman-teman saya, bahkan keluarga saya, menjauh dari saya. Sejumlah orang yang berfaham liberal dan astetis menganggap saya gila dan berfikiran lemah seperti Gogolia. Orang lain yang revolusioner dan radikal memandang saya mistik yang banyak bicara. Orang-orang pemerintahan memandang saya sebagai revolusioner yang berbahaya. Kaum Ortodok memandang saya sebagai seekor Setan. Saya mengakui bahwa semua ini berat bagi saya. Dan akibatnya, lihatlah saya kini menjadi seperti para pengikut Muhammad, dan bagi saya semua itu kemudian menjadi bukan masalah". Observasi, kontemplasi, dan pengalaman batin dalam menyelami segenap fenomena sosial telah mengantarkan Tolstoi pada penemuan kebenaran sejati, Islam. m shoelhi/berbagai sumber |

