Sabtu, 10/11/2001 07.49 WIB
Soal Dana Rp350 Juta Cemex Tiba-tiba Membantah

Padang, mimbarminang.com � Tiba-tiba saja PT Cemex Indonesia mengi-
rim faksimili ke berbagai media di Padang, Jumat petang kemarin.
Padahal, sebelumnya, perusahaan asing yang menguasai sekitar 25,5
persen saham PT Semen Gresik (holding yang membawahi PT Semen Padang
dan PT Semen Tonasa) itu sangat tertutup dengan media di Sumatra
Barat. Bahkan, ketika mengundang belasan warta-wan dari Padang ke
Jakarta awal Oktober lalu, itu mereka lakukan secara sembunyi-
sembunyi mela-lui perantaraan seorang anggota DPRD Padang.

Apa pasal Cemex tiba-tiba seperti kebakaran jenggot? Ter-nyata, sejak
Kamis (8/11) lalu di Padang banyak beredar �bocoran� surat dari PT
Cemex Indonesia yang ditujukan kepada Ir. Basril Basyar, salah
seorang tokoh masyarakat Lubuk Kilangan Pa-dang yang selama ini
memang dikenal dekat dengan pihak Ce-mex.

Redaksi Mimbar Minang sendi-ri menerima kiriman faks dari Indo
Pacific �konsultan PT Cemex Indonesia di Jakarta� sekitar pukul 15.10
WIB, kemarin. Dalam surat bantahan yang ditandata-ngani Cynthia
Setianto, Account Executive Indo Pacific itu, ditulis: �Kami baru
saja mendapat kabar bahwa hari ini beredar sebuah surat di Padang
yang ditujukan kepada Bpk.Ir.Basril Basyar pada tanggal 23 Oktober
2001. Kami ingin menjelaskan bahwa isi, tandatangan dan kop surat
tersebut sama sekali tidak benar�.

Selanjutnya ditulis, �Kami sangat menyesalkan tindakan tidak etis
tersebut yang bertujuan mencemarkan nama baik PT Cemex Indonesia.
Sebagai suatu perusahaan, PT Cemex Indonesia memiliki kebijakan untuk
selalu beroperasi secara profesional dan transparan.�

Ketika menerima surat bantahan itu, Redaksi Mimbar Minang belum
meperoleh copy surat yang dimaksud. Foto copy surat yang dimaksud
Indo Pasific itu baru berhasil kami peroleh lewat wartawan kami yang
bertugas di DPRD Sumbar. Katanya, surat dimaksud memang beredar di
kalangan anggota Dewan dan wartawan unit DPRD sejak Jumat pagi
kemarin. Sekitar pukul 19.20 WIB tadi malam kami memper-oleh lagi
kopian surat tersebut melalui faksimili yang dikirim rekan dari
redaksi media lain di Padang.

Ternyata surat yang dimaksud adalah sebuah surat bertanggal 23
Oktober 2001, ditujukan kepada Ir. Basril Basyar, salah satu tokoh
masyarakat Lubuk Ki-langan, berupa kesediaan Cemex menyediakan dana
senilai Rp850 juta untuk mendukung �Gerakan Antisi-pasi� yang disebut-
sebut dita-warkan Basril Basyar.

Surat berkop PT Cemex Indonesia dan lengkap dengan alamatnya itu
diterima Mimbar Minang via faks, Jumat (9/11) pagi. Surat yang sama
konon juga beredar di bebe-rapa lokasi strategis di Padang, misalnya
DPRD Padang.

Surat bertanggal 23 Oktober 2001 ini merupakan jawaban atas pengajuan
proposal dari Basril Basyar kepada manaje-men PT Cemex Indonesia dan
hasil pembicaraannya dengan Mr. Noriega (Fransiscus Norie-ga, Presdir
PT Cemex Indonesia�Red), yang disebut surat itu sebagai �Gerakan
Antisi-pasi� yang akan terjadi pada tanggal 25 Oktober 2001 atau
sesudahnya di Sumatra Barat.

Dalam surat dimaksud juga disebut-sebut bahwa pengi-riman (transfer)
dana ke �re-kening Bapak� sebesar Rp350.000.000 (tiga ratus lima
puluh juta). Juga disebutkan, �gerakan mempengaruhi ma-syarakat
diusahakan sudah terlaksana sebelum sidang CGI (awal Nopember). �Dana
sebe-sar Rp500 juta untuk keper-luan tersebut akan dikirim secara
bertahap�.

Namun pada bagian kedua dari poin surat itu diungkapkan bahwa Cemex
mendukung ide mendatangkan Pimpinan KAN Lubuk Kilangan dan rom-bongan
ke Jakarta untuk ber temu Menko Perekonomian dan Menneg BUMN.

�Ide itu sangat tepat, namun kita carikan momentumnya yang tepat
menjelang akhir bulan ini. Sementara dukungan pendanaannya diatur
tersen-diri, dan dilaksanakan atas kerjasama dengan Bahana (tidak
langsung oleh kita),� tulis surat yang ditandatangani Winda Darnelia,
PT Cemex Indonesia itu.

Apakah �Gerakan antisipasi� yang dimaksudkan oleh surat itu sebagai
�gerakan� terhadap kemungkinan yang terjadi pada batas akhir
pengumuman put option sekaligus batas waktu pemisahan (spin off) PT
Semen Padang yang jatuh pada tanggal 25 Oktober 2001 tidaklah begitu
jelas.

Namun diketahui, bahwa pada tanggal 25 Oktober 2001 itu memang ada
delegasi yang dipimpin Ketua KAN Lubuk Kilangan Syamsair Dt. Pamun
cak bersama Ir. Basril Basyar yang datang ke Jakarta mene-mui Menko
Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro Jakti dan Menneg BUMN Laksamana
Sukardi. Setelah pertemuan di Gedung Departemen Keuangan di Jalan
Lapangan Banteng itu, delegasi masyarakat Lubuk Kilangan tersebut
mengadakan jumpa pers yang diatur oleh petugas dari PT Bahana
Securities yang disebut-sebut seba-gai konsultan yang ditunjuk dan
(rencana) transaksi put option 51% saham PT Semen Gresik kepada
Cemex.

Sejauh ini memang sulit dilacak kebenaran surat terse-but, karena
yang banyak ber-edar di Sumatra Barat kemarin hanya berupa foto copy
dari kiriman faksimili.

Cemex sendiri membantah surat itu. Sebagaimana dikata-kan dalam
bantahan yang dikirim ke redaksi harian ini kemarin, bahwa isi, tanda-
tangan dan kop surat tersebut sama sekali tidak benar�.

Namun ketika coba diban-dingkan dengan surat Cemex Indonesia kepada
salah se-orang anggota DPRD Padang, awal Oktober lalu, berupa
permintaan untuk menghadir-kan para wartawan media lokal guna
mendapat penjelasan dari Cemex, kop surat, alamat, dan nama petugas
Cemex yang menandatanganinya ternyata sama, yakni atas nama Winda
Damelia.

Mengenai pernyataan bah-wa, �Sebagai suatu perusa-haan, PT Cemex
Indonesia memiliki kebijakan untuk selalu beroperasi secara profe-
sional dan transparan,� ternya-ta tidak sepenuhnya benar. Buktinya,
ketika Cemex meng-undang belasan wartawan media Padang ke Jakarta
awal Oktober lalu, ternyata dila-kukan secara sembunyi-sem-bunyi.
Tidak sebagaimana lazimnya sebuah perusahaan profesional yang selalu
meng-undang wartawan melalui redaksi media bersangkutan, Cemex justru
meminta bantuan seorang anggota DPRD Pa-dang tanpa secarik surat pun
kepada media tempat warta-wan itu bekerja.

Namun bagaimana kebe-naran surat dimaksud tertang-gal 23 Oktober yang
dibantah Cemex itu, memang sulit dibuktikan. Apalagi kalau itu memang
hanya sebuah �bo-coran� yang akan selalu diban-tah oleh pihak yang
merasa kecolongan.

Menyangkut nama Ir. Basril Basyar yang disebut-sebut dalam surat
tersebut, hingga tadi malam tak bisa dihubungi. Ketika dikontak
melalui tele-pon genggamnya, sekitar pukul 20.00 tadi malam, hanya
dija-wab oleh penjawab otomatis bahwa �mail box koresponden Anda
sudah penuh�, sehingga tak bisa meninggalkan pesan.(tim)
=====================================================================

Sabtu, 10/11/2001 07.45 WIB
Bukittinggi Diperluas, Agam Hancur

Padang, mimbarminang.com � Tokoh masyarakat Agam di Padang Drs. H.
Usman Husein menilai keinginan sebagian masyarakat Agam di Kena-
garian Kapau dan Gadut untuk bergabung dengan wilayah administratif
Kota Bukittinggi dinilai prema-tur. Keinginan itu tidak didasarkan
pada pertimbangan rasional, melain-kan emosional belaka.

�Saya kira keinginan itu (berga-bung ke Bukittinggi) lebih bersifat
emosional saja. Itu keinginan sege-lintir orang. Kalau daerah-daerah
strategis di Agam itu bergabung dengan Bukittinggi, maka Agam akan
melorot. Tak ada lagi Agam itu,� kata Usman Husein kepada Mimbar
Minang di ruang kerjanya di DPRD Sumbar Jumat (9/11) kemarin.

Usman Husein berkomentar sete-lah Kamis (8/11) lalu Ketua DPRD Sumbar
Arwan Kasri dan Wakil Ketua Masfar Rasyid menerima beberapa tokoh
yang mengaku ber-asal dari Kapau dan Gadut Keca-matan Tilatang Kamang
menyam-paikan aspirasinya untuk bergabung dengan kota Bukittinggi.

Usman mengatakan, pngembangan kota Bukittinggi dijadikan beberapa
kelompok orang untuk mengga-bungkan beberapa wilayah Agam ke koata
wisata juga dinilai tidak kuat. Untuk mengembangkan sebuah kota yang
maju dan modern, kata Usman, Bukittinggi tidak mesti dengan cara
memperluas wilayah.

�Perhatikanlah daerah Botabek (Bogor, Tangerang dan Bekasi) tetap
maju dan berkembang tanpa mesti masuk ke wilayah DKI Jakarta. Jakarta
pun tak ngotot memperluas wilayah. Padahal DKI itu sudah sempit
sekali secara geografis,� jelas Usman membandingkan.

Diinformasikan, berdasarkan PP no 84 tahun 1999, tentang perluasa
kota Bukittinggi, beberapa daerah strategis di Agam dimasukkan ke
kota Wiasata. Daerah itu antara lain Nagari Kapau, Gadut, Ampek Ang-
kek, Kotogadang, Sungaipuar, Pa-dang Luar, Guguk Tinggi, Guguak
Randah, dan beberapa daerah penting lain. Padahal PP tersebut lahir
di masa lalu yang tidak membayangkan rumitnya pelaksanaan otonomi
daerah di kemudian hari.

�Kalau daerah-daerah strate-gis Agam itu masuk pula ke Bukittinggi,
maka PAD (Pen-dapatan Asli Daerah) Agam dipastikan akan ambrol, dan
pembangunan daerah yang tersisa tentu akan amburadul pula,� kata
Usman mempre-diksikan.

Meskipun demikian Usman menawarkan solusi agar semua pihak dilibatkan
dalam masa-lah pro-kontra rencana masuk-nya beberapa wilayah Agam ke
Bukittinggi. Orang kam-pung perlu mengajak perantau untuk
membincangkan masa-lah Agam ke depan. �Mari kita duduk
semenja,libatkan semua tokoh Agam di kam-pung dan rantau. Carikan
solusi,� kata Usman, yang juga Ketua DPD II Golkar Agam.(isr)
===================================================================





Get your Free E-mail at http://minangkabau.zzn.com
____________________________________________________________
Get your own FREE Web and POP E-mail Service in 14 languages at http://www.zzn.com.

RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 ==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ==============================================

Kirim email ke