---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 12 November 2001 14:50 UTC

* MASALAH SEMEN PADANG: APA YANG BISA DIKERJAKAN LAKSAMANA SUKARDI?

Laksamana Sukardi Menteri Negara Pembinaan BUMN akhir-kahir ini
diterpa persoalan BUMN. Dalam hal ini pemisahan antara PT Semen
Padang dan semen Gresik. Laksamana dinilai gagal karena tidak mampu
menghasilkan dana-dana yang sangat dibutuhkan pemerintah untuk
menutupi defisit anggaran pada APBN 2001.  Laksamana dinilai tidak
mampu menangani suatu masalah yang krusial. Akibatnya persoalan PT
Semen Padang menjadi sebuah preseden yang bisa memicu preseden yang
sama di daerah-daerah lain.

Rencana pemerintah menjual saham PT Semen Gresik kepada Cemex SA,
perusahaan semen asal Mexiko ini dimaksudkan untuk memperoleh dana
520 juta dolar atau Rp5 triliun untuk menutup defisit anggaran yang
mencapai Rp54,1 triliun pada APBN 2001 melalui pelaksanaan put option
(hak menjual saham pada harga tertentu) tersebut.  Namun belum lagi
batas waktu 'put option'  berakhir, DPRD dan Pemerintah Daerah
Sumatra Barat nekat mengeluarkan maklumat pengambilalihan Semen
Padang.

Maklumat yang ditetapkan dalam rapat paripurna istimewa DPRD beberapa
waktu lalu didukung oleh sejumlah fraksi dan organisasi Islam dan
adat. Keputusan tersebut menyebutkan terhitung sejak 1 November 2001
untuk sementara waktu Semen Padang berada di bawah penguasaan
masyarakat dan diserahkan ke Pemda Sumatra Barat. Dan itu diawasi
oleh DPRD sampai dilaksanakan spin-off atau dilepasnya Semen Padang
dari Semen Gresik. Masyarakat Sumatra Barat berharap Semen Padang
dikembalikan sebagai BUMN yang berdiri sendiri.

Maklumat Masyarakat Sumatera Barat ini membuat dunia bisnis dan
investasi langsung terguncang. Tindakan yang dilakukan oleh
sekelompok masyarkat Sumatera Barat ini menjadi batu sandungan bagi
pihak pemerintah yang sedang mengupayakan agar para investor mau
membeli aset-aset di Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan juga
privatisasi terhadap sejumlah BUMN.

Negara-negara yang tergabung dalam CGI yakni lembaga pemberi bantuan
bagi Indonesia, mengecam kejadian tersebut. Secara hukum, Semen
Gresik, termasuk Semen Padang, dimiliki pemerintah pusat, Cemex, yang
merupakan penghasil semen terbesar nomor tiga di dunia. Di samping
itu publik pun memiliki andil di dalamnya. Pemerintah daerah sama
sekali tidak memiliki saham di sana.

Laksamana yang masih muda dan kurang berpengalaman itu kendati sempat
geram kini terpaksa harus bersikap akomodatif terhadap maklumat
tersebut. Sebenarnya preseden PT Semen Padang bukan semata kegagalan
Laksamana, tapi juga para ekonom mafia Orde Baru. Tim yang dipimpin
oleh Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan didukung oleh
Emil Salim, yang dibentuk sebelum maklumat tersebut muncul, telah
gagal mengantisipasi dan mengeluarkan rumusan yang tepat dari
tuntutan rakyat daerah.  Mereka sadar bila rakyat Sumatera Barat
mendesak Semen Padang menjadi BUMN murni, pemerintah harus
menyuntikkan dana US$ 300 juta atau Rp 3 triliun.

Bagi masyarakat Sumatera Barat tuntutan itu sendiri, bila dipenuhi,
sebenarnya menguntungkan Semen Padang yang merupakan kebanggan
masyarakat. Sebab, dengan menjadi BUMN murni, Semen Padang tidak
perlu membayar utang-utang. Selama ini Semen Gresik yang memberikan
jaminan atas pinjaman Semen Padang. Jumlahnya sekitar US$ 50 juta
kepada bank-bank asing.

Perlu diingat pula bahwa penolakan masyarakat Minang atas penjualan
Semen Padang kepada pihak asing bukanlah yang pertama.
Pengambilalihan Semen Padang dikhawatirkan Bank Dunia dan CGI akan
menjadi preseden buruk yang menjauhkan Indonesia dari investor asing.


Tetapi pemerintahan Megawati, khususnya Menteri Laksmana Sukardi
tentu perlu memperhitungkan faktor pemilihan umum 2004. Cara
penanganan kasus Semen Padang ini jelas akan mempengaruhi pula PT
Semen Tonasa di Sulawesi Selatan yang juga akan dipertahankan oleh
masyarakat Sulawesi Selatan. Sedangkan Sumatera Barat dan Sulawesi
Selatan merupakan target PDI Perjuangan untuk mendulang suara pada
pemilu 2004 mendatang. Kedua propinsi ini sulit dimenangkan oleh PDI
Perjuangan, partai Megawati dan Laksamana Sukardi. PRRI dicetuskan
oleh divisi Banteng ditahun-tahun 1956. Sedangkan Permesta dicetuskan
di Makassar, Sulawesi Selatan 1957.

Masalah otonomi daerah dengan sentimen daerahnya sangat kental di dua
propinsi ini. Maka mungkin untuk bisa menang dalam pemilu 2004
mendatang, pemerintah Megawati harus rela mengeluarkan dana sebanyak
3 triliun rupiah untuk menjadikan PT Semen Padang menjadi sebuah
BUMN. Bukanlah konglomerat sekelas Sinivasan yang dekat dengan Istana
pun bisa memperoleh 3 triliun rupiah dengan mudah.

k


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke