Assalamu'alaikum wr.wb.,

'Lah dua kali engku Ma'rifatullah mengirimkan topic
ini ke lapau dan ka surau. Entah apalah yang jadi
masalah agaknya dengan engku kita ini, indak jalas dek
hamba. Tapi yang nampak dek hamba, sudah bertambah
berani engku Ma'rifatullah menunjukkan ke kurang -
sreg annya dengan nabi Muhammad SAW, baik dari cara
dia menulis nama beliau, maupun dari isi ceritanya
yang sudah jalas-jalas meragukan ke autentikan dan
keuniversalan Al Quran. Nak hanyut kemana ini agaknya
engku? Tolonglah agak berjalas-jalas kalau boleh.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

Lembang Alam





        "Syaifuddin Ma'rifatullah" 

Dengan dan atas nama Allah, Maha Pengasih, Maha
Penyayang.

Allah menurunkan peraturan (agama) bagi manusia
ciptaan-Nya. Kita manusia 
diciptakan dalam keadaan sempurna dari zat-zat yang
dikandung tanah. Setiap 
ciptaan selalu diserta dengan peraturan yang khusus
untuk ciptaan itu. 
Manusia sebagai ciptaan juga disertai dengan peraturan
yang khusus untuk 
manusia.

Orang Arab yang bersuku bangsa Qurais bernama
Muhammad, telah dipilih Allah 
yang Maha Pencipta untuk menjadi salah seorang utusan
penyampai 
peraturan-peraturan-Nya. Itu terjadi sekitar 14 abad
lampau.

Melalai utusan Allah yang bernama Jibril dan juga yang
langsung kepada 
Muhammad (saat melakukan mi'raj), Allah secara
berangsur-angsur 
menyampaikan pesan peraturan-Nya selama +/-22 tahun,
hingga orang Arab itu 
meninggal dunia dipanggil kembali ke pangkuan Allah di
surga. Hampir setiap 
ayat yang diwahyukan kepada Muhammad selalu diawali
dengan adanya 
pertanyaan atau masalah tertentu yang dihadapkan
kepada Muhammad. Misalnya 
ketika dia tengah menerima tamu seorang bangsawan
terhormat kemudian datang 
bertamu pula seorang buta yang papa, yang tidak
diacuhkan oleh Muhammad, 
seperti untuk menegur sikap yang salah itu, maka
turunlah wahyu Allah 
kepada Muhammad berupa teguran untuk memperbaiki
sikapnya. Ada juga wahyu 
yang diturunkan ketika beliau sedang berkumpul dengan
para sahabat dan 
menemukan suatu permasalahan di dalam diskusi mereka.

Meski pada saat beliau Muhammad yang kemudian digelari
sebagai Nabi itu 
masih hidup, tidak menyuruh untuk membuat buku
Al-Qur'an, tak urung atas 
prakarsa Khalifah Ustman, tersusun juga Al-Qur'an
dalam bentuk buku yang 
sempurna, yang berisi wahyu (pesan peraturan) Allah
yang disampaikan kepada 
Nabi Muhammad, yang tadinya hanya ditulis/dicatat di
atas kulit-kulit domba 
dan lain sebagainya oleh para Sahabatnya. Dari tahun
ke tahun, buku 
Al-Qur'an itu disempurnakan penerbitannya tanpa
mengubah isinya. Begitulah 
kira-kira proses tercetaknya Al-Qur'an sampai dalam
bentuk yang sekarang 
selalu menjadi bahan acuan kehidupan kita saat ini.

Apakah Semua Ayat Al-Qur'an Untuk Kita ?

Itu adalah pertanyaan yang gampang-gampang susah
memahaminya. Jawaban yang 
mudah dan sudah ada di bibir setiap muslim Indonesia
zaman ini adalah 
"Al-Qur'an itu adalah untuk kita", tanpa ada
penjelasan tambahan. Benarkah 
Al-Qur'an yang berisi 6000-an ayat itu semuanya untuk
seorang yang misalnya 
bernama Syaifuddin Ma'rifatullah itu ?

Menyimak dari proses turunnya wahyu Allah kepada
Muhammad, adalah sesuai 
dengan tugasnya yang selalu berhubungan dengan
berbagai jenis manusia dan 
jin. Tidak semua orang yang dijumpai Muhammad
di'tawar'kan peraturan Allah 
yang sama. Ada seseorang yang cukup diberikan
peraturan dengan beberapa 
ayat Al-Qur'an saja. Orang lainnya lebih banyak lagi.
Orang lain lagi, 
berbeda lagi dan lebih banyak lagi. Pendeknya, setiap
orang mendapat 
perlakuan peraturan khusus dan juga peraturan yang
bersifat umum. Tentu 
saja, hal ini juga berlaku untuk kita manusia yang
hidup di zaman ini.

Masih Adakah Wahyu Allah Disampaikan Pada Hari Ini ?

Nabi Muhammad menyampaikan fatwa atau nasihat kepada
orang yang meminta 
nasihat kepadanya atau orang kepada orang yang
terlihat membutuhkan darinya 
selalu berdasarkan wahyu Allah yang diterimanya. Di
antara wahyu yang 
diterima Muhammad dari Allah, banyak juga yang telah
diwahyukan sebelumnya 
kepada orang-orang yang digelari nabi pada zaman
sebelumnya. Itu sebabnya, 
meskipun Nabi Muhammad tidak belajar agama Yahudi, ada
juga peraturan Allah 
yang diterimanya juga pernah diberlakukan untuk kaum
Yahudi. Begitu juga 
dengan peraturan yang pernah diberlakukan kepada kaum
yang mengaku "aku 
beragama Nasrani", terdapat juga pada peraturan yang
diterima Nabi Muhammad.

(Pada tema lain, hal ini dapat menjadi indikasi adanya
Tuhan yang sama 
antara Tuhannya orang Yahudi, Nasrani dan Islam yang
dibawa Muhammad. Akan 
tetapi, jika ada orang atau sekelompok orang yang
belum pernah belajar 
Islam secara lengkap, akan tetapi telah melaksanakan
peraturan yang pernah 
berlaku pada kaum Yahudi, atau Nasrani atau Islam,
boleh jadi ada seorang 
yang setingkat nabi berada di lingkungan mereka
sehingga dia menyampaikan 
hal itu).

Yang menjadi masalah adalah bahwa Nabi Muhammad saat
ini tidak hidup 
bersama kita, sehingga tidak bisa memilihkan ayat atau
peraturan Allah yang 
mana yang sesuai dengan masing-masing kita. Masih
beruntung bagi orang yang 
memiliki guru pembimbing yang merupakan pewaris
nabi-nabi. Akan tetapi 
adakah orang yang benar-benar dapat mewarisan
kemampuan nabi Muhammad itu 
pada zaman ini, sehingga kepadanyalah kita bisa
mengharapkan bimbingan 
seperti bimbingan nabi Muhammad pada saat beliau hidup
?

Hamba menyangka, pastilah ada orangnya. Kalau ada,
bagaimanakah prosesnya 
sehingga orang tersebut mampu mewarisi 'kemampuan'
nabi Muhammad itu ? Jika 
benar-benar orang ini mampu mewarisi 'kamampuan' nabi
Muhammad, bolehkan 
dia disebut sebagai nabi juga ? Meskipun misalnya
benar-benar ada, hamba 
menyangka, pastilah tidak semua ayat yang ada di dalam
Al-Qur'an itu 
berlaku untuk setiap manusia, sebab setiap manusia
memang berbeda dalam 
banyak hal: jasmani, kesempurnaan akalnya,
lingkungannya dan lain sebagainya.

Jika tidak ada satu orang pun yang mampu menjadi
pewaris nabi Muhammad 
dalam hal agama Allah, bagaimanakah seorang manusia
dapat memahami 
peraturan khusus yang mana yang sesuai dengan dirinya,
sehingga dengan 
mengetahui itu, dia pun mengetahui pula peraturan umum
yang berlaku bagi 
seluruh manusia ? Bagaimana pula setiap orang dapat
mengetahui keputusan 
apa yang akan diambil Allah terhadap suatu kaum atau
tempat : dibinasakan 
atau dikembangbiakkan dalam kasih sayang Allah ?

Adakah seorang manusia yang pantas digelari pewaris
nabi yang mempunyai 
kemampuan seperti yang dimiliki Nabi Muhammad ?

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita sesuai
dengan kebutuhan kita 
dengan cara Allah sendiri, sehingga kita pun beroleh
kesempatan untuk 
mengabdi kepada Allah, seperti yang pernah diberikan
kepada orang-orang 
yang hidup dekat bersama Nabi Muhammad (SAW) zaman
dahulu dan melaksanakan 
segala peraturan yang dinasihatkan Nabi Muhammad
dengan kesenanngan dan 
kepatuhan yang tiada penolakan sedikit pun.

As-Salaamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Syaifuddin Ma'rifatullah - Aceh.








__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Find the one for you at Yahoo! Personals
http://personals.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke