Assalamu’alaikum Wr.Wb,

Uda Indra J Piliang
Saya mencoba menjawab kritikan uda thd tulisan saya. Tapi sebelumnya, salam
kenal dari saya. fendi KOTO (30th), sekampung dengan Syahril Sabirin, tapi
beda kampung/nagari. Dia di Gadut, Tilkam, saya di Kamang, Tilkam.

IJP: Dalam beberapa hal, FHB berbeda pandangan dengan Mafia Berkeley ini.
Harap
dibedakan antara ekonom pemerintah dengan ekonom non pemerintah. Emil Salim,
Frans Seda, Wijoyo, etc, sampai sekarang masih berkantor di Depkeu sebagai
Penasehat Ekonomi Presiden. Sedangkan Mas Soni, FHB, dll, ekonom non
pemerintan. FHB saya kenal sejak Orba, bersuaran lantang terhadap Mobil
nasional, BPPC, etc. Anak-anak UI mengenalnya sebagai simbol gerakan 98 di
kalangan cendekiawan/dosen. Kalau dia "ngomong di koran" seperti yang anda
bayangkan, saya kira memang begitulah koran kita. Saya kira Mas Soni bisa
ikut nimbrung, sebetulnya tak ada perbedaan prinsipil di kalangan ekonom non
pemerintah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
fendi.K: Saya setuju memang dalam beberapa hal FHB beda pendapat dengan yang
namanya mafia Barkley-UI, tapi pada umumnya analisis dalam tulisan lebih
condong ke sana. Dan saya kira uda bisa analisis sendiri. Saya tahu beda antara
ekonom pemerintah ataupun non pemerintah. Bedanya tentu dari posisinya saja.
Mengenai misi atau visi apa yang diembannya dalam setiap analisis ekonomi,
tentu tergantung dari pribadi individunya sendiri. Trus, FHB bersuara lantang,
bahkan sampai dikenal sebagai simbol ’98, emang gitulah media massa di
Indonesia, dimana lebih meng-update tulisan-tulisan ekonom yang pro-liberal.
Perlu diketahui, bahwa baik proyek Mobnas ataupun BPPC yang sekarang tidak
ada lagi, bukanlah karena suaranya lantang FHB. Proyek Mobnas gagal adalah
karena desakan oleh negara industri automotive seperti Jepang dan Jerman
memenangkan perkaranya di WTO. Lalu, BPPC yang pernah terdaftar sebagai state trading
enterprise (STE) di WTO, juga bukan karena suara lantang FHB. Tapi juga atas
desakan negara seperti AS dan Inggris yang terhambat oleh monopoli BPPC
terhadap cengkeh dan menuntutnya di WTO, terlepas dari menajemen BPPC yang sarat
KKN.  Patut uda analisis juga relasi bisnis-pemerintah. Thomas Hobbes
(1588-1679), filsuf Inggris, menggambarkan kekuasaan negara sebagai Leviathan. Ia
sejenis buaya raksasa laut yang memangsa dan menakutkan. Cuma, sejak rentetan
demam deregulasi-liberalisasi modal yang memperanakkan globalisasi ekonomi,
kekuasaan dan kapasitas hampir semua lembaga negara semakin dilucuti (dan
tunduk pada) kekuasaan bisnis. Jadi, siapa yang sesungguhnya lebih berkuasa? 
Akan halnya sikap IMF atau Bank Dunia terhadap KKN di Indonesia,
mengandaikan KKN ini begitu berat sebelah. Secara lugas mesti dikatakan, locus KKN 
bukan
sekadar tindakan sewenang aparatur negara, melainkan juga praktik
predatory-parasitic, namun  banyak pelaku bisnis yang membuat aparatur negara nampak
semau gue. Dalam hal KKN, banyak pelaku bisnis juga merupakan free riders.
Gejala ini juga sekaligus menunjukkan jenis orientasi ideologis yang melekat pada
badan-badan keuangan seperti IMF dan Bank Dunia. Tentu, badan-badan keuangan
itu bukannya tidak melihat peran banyak pelaku bisnis dalam gejala KKN.
Namun dari berbagai publikasi dan program kebijakannya, nampak jelas bahwa mereka
tidak cukup mengintegrasikan malpraktik bisnis sebagai faktor penjelas
(explanans) gejala korupsi yang sama statusnya dengan penyalahgunaan kekuasaan
aparatur negara. Nah, dalam hal ini, berlaku pula apa yang ditunjuk oleh orang
yang sangat hafal dengan beragam malpraktik bisnis, George Soros (2000):
“Ritual demokrasi bisa saja ditaati, namun kapasitas negara untuk mengelola
urusan bersama kita sesungguhnya sudah dilucuti oleh kepentingan privat
kelompok-kelompok bisnis.” Memang, bahkan dalam gejala korupsi, sebuah
kekuatan pemangsa sedang bersembunyi secara rapi, yaitu neo-liberalisme ekonomi.
---------------------------------
IJP: Privatisasi ala FHB bukan berarti bertujuan memiskinkan rakyat,
menjual harga diri bangsa. Tetapi menyehatkan perusahaan. Toh
perusahaan-perusahaan sehat itu kan main juga di pasar global. Semen Padang,
misalnyua, apa tak diekspor keluar negeri? Jadi agak berlebihan, kalau
ekonomi sekarang mirip zaman barter seperti dahulu. Internet ini, misalnya,
atau MTV, sebagai barang ekonomi, ya, menembus batas-batas negara. 
------------------------------------------
fendi.K :  Privatisasi ala FHB bukan untuk memiskinkan rakyat, lalu ala
siapa yang benar memiskinkan rakyat?. Privatisasi atau menswastakan kepentingan
publik menjadi milik individu (tarohlah investor asing), apa akan dapat
memakmurkan rakyat?. Saya kira, it’s impossible. Lha, dari kata dasarnya saja
udah jelas beda. Mana ada orang berbisnis bila tidak mencari profit.Dan
pasti ada pihak yang dirugikan.Wah....wah.... Emang, Indonesia kaya akan
sumberdaya alam dan para pakar-pakar. Nah kenapa dari 250 juta penduduk ini tidak
satupun yang bisa mencari jalan keluar selain menjual ke orang asing (kasus
semen padang ke cemex). Pikirkan dan do it something yang bermamfaat buat orang
banyak. Pernah baca buku HMT Oppusunggu “Berhentilah berbicara, seruan
bagi ekonom Indonesia” yang pro-liberal. Bahkan Oppusunggu bersama
Jeffrey Winter mencium adana skandal BI yang dibekingi IMF, yang sebenarnya juga
skandal politik Golkar.
Trus, semen apakah tidak diekpor ke LN. Yah, bedakan juga  dong antara
produk dengan kepemilikan. Kok mudah aja memperjual-belikan kepemilikan. Bisa-bisa
istri sendiri juga diprivatisasi lalu ditenderkan ke investor
(ha...ha...ha). Dari dulu orang Indonesia cuma bisa menjual aja. Nah di era 
globalisasi ini
orang kaya gampang aja memperjual-belikan perusahaan, demi untung tentunya. 
-------------------
IJP: Lagian, saya koq tak melihat apa kritikan anda soal TULISAN FHB. Kalau
anda menilai FHB-nya, saya khawatir anda salah, karena tak mengenal seluruh
karya
ilmiahnya.
-------------
fendi: Yah, pecuma saya kritik secara menyeluruh, cukup menyimpulkan saja
bahwa FHB pro-liberal, meskipun sekali-kali memang ada juga tulisannya yang pro
rakyat, mungkin sewaktu atau sebelum jadi fungsionaris PAN (tujuan politik
kali ya). 
-------------------------------------
IJP: Saya kira tak begini. Bandingkan gaji buruh di perusahaan multi
nasional
yang menjalankan prinsip good corporate governance dengan yang bukan.
Petronas saja sudah menembus pasar Global. Justru yangsaya lihat buruh-buruh
korban PHK berasal dari perusahaan-perusahaan yang merupakan hasil rent
seeking economy Orba, kebanyakan berasal dari pengusaha Korea, Jepang, atau
China. Yang penting bagi mereka adalah menaruh seorang jenderal di jajaran
komisaris.
-----------------------------------
fendi: Soal itu saya juga tahu mah. Uda tahu gimana nasib buruh di perusahan
sepatu Nike, trus di Sangrilla Hotel, dan masih banyak lagi contohnya.
Catatan, untuk Sangrilla Hotel, kepemilikan saham terbesar masih dimiliki oleh
BNI, berupa dana pensiunan dan tercatat dibursa saham BEJ.  Berarti ini
perusahaan publik. Tapi kenapa dengan menajemen asing sebagai pemilik saham ke dua
malah mem-PHK, bahkan menuntut ganti rugi karyawan atau buruh? Mungkin ini
contoh hasil rent seeking economi Orba juga ya.
-----------------------------------------
IJP: Justru nasib buruh baik sekali di negara-negara yang anda sebut neo
liberal
itu. Buruh malah punya saham di perusahaan. Kepemilikan pribadi diatur
sedemikian rupa dengan UU Anti Monopoli. Indofood, Indomobil, Indononi, atau
perusahaan monopoli lainnya akan dikemplang. Lihat saja kiprah Komisi
Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) yang salah satu anggotanya FHB.
-----------------------------
fendi: Bedakan dong capasity building antara buruh Indonesia dengan luar.
Tentu lebih unggul mereka. Lagi pula misi serikat-serikat buruh mereka juga
semata untuk kesejahteraan buruh, bukan untuk tujuan politis individu, seperti
yang sering terjadi di Indonesia. Ketua serkat ini, kemudian bikin partai,
misalnya, atau anggota PDIP.
Sama aja, UU Anti Monopoli keluar karena desakan IMF juga. Selanjutnya
melalui mekanisme pasar bebas akan tumbuh lagi monopoli-monopoli corporate baru
(TNCs) yang mempunyai kekuatan modal besar. Malah akan menggilas semua
unit-unit usaha rakyat kecil. Lihat saja nanti. Coca-cola menggilas perusahaan limun.
------------------------------------
IJP: dan lihat perusahaan-perusahaan strategis yang dikuasai pemerintah,
taruhlah
dikuasai Habibie dulu. Semuanya tak punya daya saing. IPTN, BPPT, Batan,
macam-macam. Juga BUMN. Kan sumber korupsi, sumber kebangkrutan.
-----------------------------------
fendi: Udah jelas tidak mampu bersaing, kok malah membuka persaingan yang
lebih lebar lagi? (kompetisi global).Emang benar, seperti yang saya utarakan
diatas bahwa telah terjadi malpraktek kekuasaan akibat relasi
bisnis-pemerintah. Semua orang tau, sebab krisis multidimensi di Indonesia adalah 
akibat ulah
rejim Orba ini, bahkan sampai sekarang rejim Orba ini masih kuat. Menurut
saya, pernah diusulkan oleh Emil Salim (meskipun dicap sebagai anggota mafia
Barkley-UI),  tapi dia juga pernah menawarkan konsep ekonomi kerakyatan. Nah,
gimana para ekonom dan pakar-pakar seperti uda bisa menasionalisasikan konsep
ini di tingkat pemerintahan dan publik. Saya kira konsep ini lebih bisa
diterapkan. Jadi, jangan dibanding-bandingkan juga dengan hal-hal yang telah usang.
--------------------------
IJP: Justru terbalik. Sekalipun saya tak begitu sependapat dengan
prinsip-prinsip
neo liberal, tetapi penjelasan anda ini saya kira bukan dari orang sana.
Kaum liberal telah belajar banyak dari kaum Marxis. Yang anda tuliskan kan
mirip dengan kritikan Karl Marx terhadap kapitalisme. Upah buruh di Inggris
bisa 10 kali atau 20 kali dari di Indonesia.
-----------------------------------------------
fendi: Apa maksud anda bukan dari orang yang sana? Gimana sehat atau cukup
pangan masyarakat, kalau pelayanan bagi mereka dikurangi oleh IMF melalui
LoI?. Contoh, dicabut subsidi pupuk, apa dampaknya bagi sektor pertanian. Tentu
produktivitas di tingkat petani akan berkurang. Lalu, masuk beras impor murah,
dan untuk rakyat miskin disalurkan melalui program JPS, tapi banyak yang di
sunat juga. Bagi petani (mayoritas penduduk Indonesia : 60 %), jelas akan
menghantam produksinya. Dan seperti yang pernah dianalisis DJ. Rachbini, nilai
tukar petni turun, alias rugi. Misalnya satu keluarga tani beranggota 3-4
orang. Berapa jumlah penduduk yang miskin jadinya akibat liberalisasi perdagangan
pertanian ini? Ingat lho, kemiskinan identik dengan ketahanan pangan.
------------------------
IJP: Ini lain lagi, menyangkut ekonomi makro. Kalau dilihat, sebetulnya
berapa
banyak sih komponen utang luar negeri dalam pembiayaan pembangunan? Tulisan
mas Soni di Sinar harapan kemarencukup memberikan data-datanya. saya memang
tak setuju dengan rendahnya tingkat pengawasan IMF/WB atas utang yang
diberikan ke negara-negara berkembang. Tapi jangan lupakan juga utang itu
masuk ke pemerintahan yang korup, dipakai untuk main di pasar uang,
membangun simbol-simbol atau patung-patung yang tak produktif bagi uang itu
untuk berputar. digunakan untuk bikin pesawat terbang yang gampang jatuh,
atau untuk membeli kapal rongsokan hingga mudah tenggelam -- seperti
Tampomas II --.
-------------------------
fendi: Bukankah ekonomi makro juga akan berpengaruh terhadap mikro ekonomi?
Buat pembangunan, saya tidak pernah katakan lebih banyak didanai oleh utang.
Malah, uda sendiri tahu, ratusan triliun utang cuma untuk restrukturisasi
perbankan. Perlu data?
BLBI, sekarang KLBI berupa kredit BI terhadap bank-bank mengalami kesulitan
likuiditas. Akan tetapi melalui program penjaminan oleh pemerintah (syarat
IMF), hak tagih BI dialihkan ke pemerintah. Maka untuk membayar hak tagih
tersebut pemerintah menerbitkan obligasi (surat utang) senilai Rp 164,53 triliun
dan juga menerbitkan surat utang untuk program penjaminan sebesar Rp 53,77
triliun. Meskipun hakekatnya pinjaman dengan persyaratan suku bunga dan jangka
waktu tertentu, pada akhirnya akan menjadi pengurrasan uang negara yang
dilakukan oleh bank-bank penerima ataupun oleh pejabat-pejabat BI sendiri. Laporan
audit BPK 31 Juli 2000, mengungkapkan dugaan penyimpangan sebesar Rp 144,53
triliun (per 29 Januari 2000). Potensi kerugian negara adalah 138,44 triliun
(95,78%) dari danan penyaluran BLBI. Sementara penyimpangan dari bank penerima
BLBI sebesar Rp 84,84 triliun yang dilakukan oleh 48 bank penerima.
Dampaknya terhadap APBN, jelas luar biasa. SehinggaTahun 2001 ini angsuran dan bunga
obligasi mencapai Rp 55,7 triliun, atau 18,9% dari APBN hanya buat bayar
beban utang BLBI. Tengok APBN buat subsidi masyarakat, cuma 16,4% (Rp 48,2
triliun), dan buat pembangunan cuma 11,3% (Rp 33,3 triliun). Yang jelas, sejak
Oktober 1997, (terbit LOI) hingga April 2001, dana dan kebijakan IMF tidak pernah
menyembuhkan perekonomian Indonesia. Utang yang US$ 43 milyar jelas tidak
akan jatuh ke tangan rakyat (mamfaatnya). Tapi untuk membayar kreditor asing
dan utang-utang kroni rejim Orba. Sayangnya orang kita sering dikibuli oleh
ekonom-ekonom pro IMF yang menyatakan supaya patuh sama IMF.
--------------------------------------------------------------
IJP: Ini berbeda antara teori dengan prakteknya. Di Kalimantan, buah-buah
luar
negeri jauh lebih murah dari buah lokal. begitu juga dengan beras, gula,
etc. kalau beras impor lebih murah, emang kenapa? kan rakyat yang untung?
beras dari Vietnam jauh lebih murah, dari beras lokal. kenapa? karena memang
produksi beras lokal yang kecil, adanya tengkulak-tengkulak yang
mempermainkan harga, juga orang-orang di Bulog. sebetulnya, kalau melihat
ongkos produksi, trasportasi, dllnya, beras lokal mestinya lebih murah dong.
kenapa mahal? ya, karena ekonomi biaya tinggi ini. yang untung bukan petani,
tetapi tengkulak, atau oknum di Bulog. dengan membebaskan bea masuk, beras
lokal sebetulnya bisa bersaing, asal jangan lewat tengkulak.
------------------------------
fendi: Memang faktor tengkulak amat besar juga bagi tingkat kesejahteraan
petani (artinya, menjadi tidak sejahtera). Kalau di Kalimantan atau taroh di
Indonesia secara keseluruhan produk pertanian murah dan dapat dijangkau oleh
konsumen, pada jangka pendek tidak kelihatan biasnya, artinya posistif. Tapi
coba uda telusuri juga, kehidupan petani di sentra-sentra produksi. Pahit!
Adalah gejala umum bila Bulog yangs sekarang dicabut peranannya, dan sudah bisa
dikatakan perum, bukan STE lagi, pas akan panen raya, selalu mengimpor
komoditas luar. Jelas mempermainkan harga pasar. Saya setuju, bila beras lokal akan
mampu bersaing dengan beras luar. Itu tergantung dari pemerintah juga. Perlu
diingat bahwa dalam rangka liberalisasi perdagngan pertanian melalui WTO
(AoA, Agreement on Agriculture), ada tiga komponen yang diatur. Yaitu, perluasan
akses pasar dengan mengurangi sampai menghapus hambatan dalam perdagangan.
Kedua, pengurangan sampai penghapusan subsidi pemerintah bagi pembangunan
pertanian. Dan ketiga, penguangan sampai penghapusan subsidi ekspor. Negara
berkembang seperti Indonesia sering posisinya kalah. Untuak bea tarif, melalui LoI
1998, dari BM Beras :160% yang terdaftar di WTO, turun menjadi 30%, bahkan
pernah nol persen. Subsidi pupuk dicabut. Gimana petani bisa bersaing bila
kemampuan untuk berproduksi sudah dibatasi oleh pasar bebas. Trus, negara maju,
seperti Jepang, untuk bea tariffnya masih tinggi (untuk beras), yaitu 300%.
Inilah distorsi dalam era perdagangan bebas. Artinya, liberalisme yang berat
sebelah.
-------------------------------
IJP: Apa hubungan antara BUMN dengan rakyat banyak? nyaris tak ada. BUMN
kita hampir semuanya merugi sepanjang tahun. periksa saja laporan tahunannya.
kenapa rugi? karena inefisiensi, KKN, tak menerapkan prinsip manajemen
dengan baik. saya pernah bicara dengan orang-orang KADIN Pusat, mereka nggak
ngerti good corporate governance. mereka hanya bermodal lobby, atau
mengikuti tender fiktif dalam proyek-proyek pemerintah. begitu juga BUMN,
kebanyakan menjadi sapi perah politisi, juga jenderal-jenderal. dan tak ada
tuh yang demi kepentingan rakyat. 
------------------------------------
fendi: Saya setuju dengan maksud uda bahwa BUMN tidak lebih sebagai sapi
perah penguasa. Saya berbicara dalam konteks sekarang, meskipun persoalan
sekarang umumnya datang dari masa lalu. Apa salahnya kalau BUMN tersebut dijadikan
semacam perusahaan publik (bukan investor asing) dan yang kontrolnya juga
oleh publik juga. Lha, rakyat aja tidak pernah diberikan kesempatan. Nah, disana
barangkali peran  pakar untuk memajukan pemahaman demokrasi di tingkat basis
serta daya keintelektualan mereka. Artinya jangan perbodoh  bangsa sendiri,
dan jangan diplintirkan pemahaman yang benar. Sekaligus, perbaikan mutu
pendidikan. Secara umum, orang kita budaya adalah pemalas, mungkin karena kaya
akan SDA.Nah, dari sini tidak ada kreatifitas berfikir secara bijak. Gitu aja
barangkali. Bukankah SDM juga merupakan capital dalam pembangunan? Orde baru
sampai sekarang memnggap kapital hanya dalam bentuk fisik. 
---------
IJP : Pertanyaan saya pada anda: ulasan FHB yang mana? 
fendi:Yaitu ulasan tentang privatisasi serta usulan buka kran impor
komoditas penting di Kompas, (karena saya berlangganan itu).
-------------------------
IJP: Saya kira nggak begitu. kalau anda tak mau ada perusahaan asing di
tempat
anda, silakan saja. kalau anda tak mau ada McD atau KFC, silakan saja. kalau
anda tak mau pakai sepatu, jeans, TV, komputer, etc, yang milik individu
tertentu, silakan saja. Untuk perusahaan macam McD, cuma 5% yang pergi ke
USA, sebagai lisensi (hak milik nama perusahaan), sedangkan sisanya masuk
ke peternak-peternak ayam di Sukabumi, atau anak Sudharmono.
-----------------
fendi: Wah...wah, anda rupanya semangat benar terhadap liberalism ini. McD
atau KFC, secara tidak langsung merupakan imbas dari globalisasi sosial, yakni
merubah pola kehidupan orang zaman sekarang, tentu dengan serangkaian
iklan-iklan di TV. Contoh ada Mc Kids di acara TV swasta, berhasil mempengaruhi
anak-anak untuk mencintai makanan tersebut. Kalau tidak, dibilang tidak keren.
Dan jangan uda  hanya ambil contoh Mc D atau KFC atau CFC doang. Bagaimana
dengan Coca-cola, meskipun bisa menyerap tenaga kerja, tetapi imbasnya menggusur
peusahaan-perusahaan limun rakyat. Ujung-ujungnya orang kita cuma bisanya
kuli doang, tanpa punya keinginan lebih.
-------------------------
IJP: Dan, apa sih yang disebut hak komunitas itu?
------------
fendi: Hak Komunitas atau hak komunal, tentunya juga  merupakan salah satu
hak dasar setiap masyarakat. Ini tercermin dalam agenda 21 versi PBB. Salah
satunya menyangkut hak atas tanah (land reform). Contohnya, tanah adat milik
masyarakat Lubuk Kilangan. Karena bersifat komunal, maka sulit untuk
diperjual-belikan.
---------------------------------
IJP: Itulah keungggulan kaum liberal. mereka bisa memperbaiki diri dari
dalam.
saya sudah membaca sejumlah buku, termasuk Amartya Sen. Tetapi konteksnya
beda dengan Indonesia. Sen mensyaraktkan demokrasi, kebebasan, juga hukum,
untuk mencapai keadilan ekonomi. Indonesia kan masih belum bisa dibanggakan.
Kalau menyebut pemerintah, pemerintah yang mana? benarkah mereka dipilih
rakyat, atau hanya di;ilih oleh segelintir oknum di MPR? 238 anggota MPR itu
kan tidak dipilih. Hanya 462 yang dipilih. dan "dipilih" itupun dalam arti
bukan one man one vote, tapi memilih tanda gambar. Dan sampai sekarang belum
da tuh mekanisme laporan pertanggung-jawaban anggota DPR-MPR asa Sumbar
kepada rakyat Sumbar sebagai pemilihnya. Sistem politik kita masih jauh dari
demokrasi.
-------------------------------------
fendi: Jelas unggul. Lha, sejak dahulu sejarah mencatat bahwa bangsa ini
lebih maju. Dan mereka lah yang memulai abad kolonialism. Ngak ada bangsa Asia
selain hanya Jepang yang menjajah bangsa Asia sendiri, meskipun Jengis Khan
pernah memasuki sebagian kawasan tersebut. Tambah pula UU atau produk hukum
sebagian introduksi peninggalan penjajah. Artinya dalam konteks sekarang,
meskipun ribuan pakar berteori, namun tidak satupun produknya yang bisa dijadikan
unggulan. Semuanya teori saduran, bukan perenungan atau penelitian mendalam.
Hal ini tidak terlepas dari sistim pendidikan kapitalism yang subur di
Indonesia. Contoh aja, BPPT bikin produk tempe, cuma dapat paten baru 2. Jepang atau
AS sudah memiliki 15 –20 paten. Apanya yang hebat. Malah dadiah
makanan tradisional dari Sumbar juga telah dipatenkan Jepang produk atau prosesnya.
Kalau mampu, buktikan aja sendiri. Bangun kesadaran publik, jangan mau jadi
corong kepentingan kelompok tertentu.
-------------------------------------------
IJP: Anda sepertinya tak membaca Perda-perda itu. Bukan menghambat
kepentingan
orang asing, tapi kepentingan dunia usaha. KADIN malah merekomendasikan
ribuan Perda untuk dibatalkan, bukan hanya 60-an seperti diusulkan IMF. Koq
gampang sekali anda mengambil kesimpulan?
-----------------------------------------
fendi: Perlu saya tekankan disini, bahwa saya tidak membatasi antara asing
dan lokal dalam hal menyangkut ekspansi kekuatan kaum neo-liberalist. Uda juga
tahu, meskipun Perda itu, KADIN yang merekomendasikan, bukankah KADIN
berisikan orang-orang yang mengnut paham neo-liberalism? Lalu, apa bedanya
kepentingan usaha orang asing dengan dunia usaha lokal. Bukankah, telah saya jelaskan
diatas bahwa sekarang ini yang muncul adalah koloborasi antara pengusaha
lokal, pemerintah, individu, dan perusahaan luar. Seburuk-buruknya citra usaha
lokal, bagi saya lebih baik ketimpang terjajah dari pada orang asing. Bukan
saya berfaham komunism atau sosialism. Jalan keluarnya, mungkin konsep ekonomi
kerakyatan.
---------------------------------------------
IJP: Sepertinya anda tak mengerti apa itu filsafat. Filsafat itu bukan
doktrin
baku. Asal muasal filsafat adalah bertanya. Mazhab Frankfurt mempopulerkan
filsafat kritis. Saya kira itu juga yang sebetulnya ada dalam filsafat
Minang. "Alam takambang jadi guru", misalnya, kan tergantung alam sekarang,
bukan alam masa lalu.
----------------
Fendi: Justru karena pendekatan diri ke Tuhan dan sekalian alam, juga diri
(lahir dan bathin), dengan sikap kritis tersebut, permasalahan akan mudah
diselesaikan.”Banang nan kusuik” mudah diperbaiki. Lagi pula, uda
jangan meninggal alam lampau, sekurangnya untuk referensi ke alam sekarang atau
mendatang. Apa yang harus diperbuat dengan gejala alam yang seperti ini
dengan berpatokan ke alam silam.
--------------------------------------
IJP: Makanya, dalam Islam filsafat itu dilarang, kecuali oleh penganut Islam
Liberal. Al Ghazali kan terkenal sebagai anti filsafat.
----------------------
fendi: Saya minta bukti, tentunya di Al-Qur’an (ayat) yang melarang
berfilsafat? Lagi pula saya tidak berhak mengatakan atau membedakan mana yang
murni dan mana yang liberal Islamnya, karena itu hak Tuhan. Patokan saya
sebagai pemeluk Islam hanya Al Qur’an dan Hadist nabi. Tapi yang lebih utama
kitab suci yang diyakini  dan dipercayai ajaran Islam. Bukankah dalam Al
Qur’an sendiri kita disuruh meminta ke jalan yang Benar (Surat Al
Fatihah). Apa itu jalan benar, yaitu jalan Tuhan. 
Apakah Al Ghazali anti filsafat, itukan tafsiran dari orang lain. Yang saya
tahu dia ulama sufi. Lagi pula saya melihat referensi uda masih berasal dari
referensi orang Barat yang sebenarnya lebih bar-bar dari orang Timur (alias
terkebelakang). Apakah kemajuan teknologi ciptaan barat uda katakan itu adalah
sesuatu kemajuan? Dalam dunia semu memang benar suatu kemajuan. Tapi bagi
saya itu kemunduran. Kenapa, akibat teknologi, merembes ke pengurasan
sumberdaya alam berimplikasi pada kemunduran (usia alam). Akibat teknologi, terjadi
perubahan iklim, sekarang kita kepanasan. Kemajuankah itu?
--------------------------------------
IJP: Urang Minang itu kan istilah sosial, konstruksi sosial. Memang, secara
biologis juga lebih bersifat genetika. artinya ada gen dari darah
pendahulunya yang orang Minang.
--------------------------------------------
fendi: Dari segi ilmiah emang benar, exactly. Tapi,maksud saya orang minang
disini tentunya daya pikir orang minang dulunya yang memahami hakekat”
Alam Takambang jadi Guru”, seperti uda utarakan.
-----------------
IJP: Selebihnya, saya tak mengerti maksud anda apa....
-----------------
fendi: Emang, kalau uda telah dulu antipati dengan kritikan saya, tentu
sulit mencerna secara sehat. Lagi pula, mungkin uda telah merasa menguasai alam
pikiran tersebut. Sehingga gitu jadinya.

Sakitu dulu dari ambo, maaf sabalunnyo ado kato-kato ambo nan indak pado
tampeknyo. Hanyo sabateh diskusi sajo. Cieklai, ambo pernah dulu (1998) ka CSIS
nan di Tanah Abang tu.

Wassalam

fendi KOTO

PS: Tolong Da Indra, kalau mangecek sasamo urang awak jan pakai kato-kato
‘anda’ juo lai, sabab tampak bajarak. Kesannyo juo agak
manyombongkan diri. Jawaban ambo saketeknyo mabaleh tanggapan Sdr. Dedi. Dan tarimo
kasih ka Uda Soni nan tatap anti neo-liberalisme dengan serangkaian tulisannyo,
semoga bisa menggugah hati pakar-pakar yang loyal.

-- 
Sent through GMX FreeMail - http://www.gmx.net


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke