Bung Urpas yang baik,
 
Assallamualaikum Wr. Wb.
 
Terus terang saya salut atas tanggapan Bung yang sangat terbuka dan tanpa tedeng aling-aling terhadap pendapat-pendapat saya. Lebih dari itu, saya juga salut bahwa Bung secara berani buka kartu bahwa Bung bekerja di perusahaan asing yang sedikit banyak ada sangkut pautnya dengan perdagangan saham dan valas di pasar modal. Di sini saya tidak ingin menanggapi keluh kesah Bung mengenai pembubaran Indonesia. Komentar saya akan saya batasi sejauh berkaitan dengan tuduhan Bung bahwa saya sedang melakukan kampanye anti asing yang cenderung tidak proporsional.
 
Begini Bung Urpas, sebelum Bung memberi tanggapan sesungguhnya saya sudah merasa akan banyak yang salah tangkap terhadap posisi saya terhadap segala sesuatu yang berbau asing. Karena memang, jika dibaca tanpa kelapangan dada, lebih-lebih bagi mereka yang sedang bekerja pada perusahaan asing, pendapat-pendapat saya akan tampak sebagai penghujatan tanpa ampun terhadap sepak terjang mereka.
 
Tapi Bung Urpas, justru disitulah letak masalahnya. Sebagai Muslim saya diajarkan untuk tidak boleh bersikap rasialis, anti asing, anti Jawa, anti Amerika, atau anti entitas komunal jenis apa pun. Menurut Islam yang saya pelajari, sesungguhnya Al Qur'an itu adalah pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Sebab itu, kategorisasi haq dan bathil itulah yang saya pakai dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran saya. Dalam bahasa agama, saya mencoba secara maksimal untuk beramar ma'ruf nahi mungkar.
 
Bung Urpas mungkin benar bahwa bangsa Indonesia, para pemimpinnya, perusahaan-perusahaannya, BUMN-nya, serta sebagian warganya bejat dan bobrok. Sebaliknya, Bung mungkin juga benar bahwa negara-negara asing tertentu seperti AS, Jepang, Inggris dan anggota G7 lainnya, para pemimpin mereka, perusahaan-perusahaannya, BUMN-nya (jika ada), serta sebagian warganya jauh lebih baik daripada kebanyakan umat manusia lainnya. Tapi saya khawatir, sebab itu saya menggunakan kata mungkin, persepsi itu Bung bangun tanpa secara sungguh-sungguh memperhatikan sejarah dan fakta.
 
Pertama, dari segi sejarah, bukankah Bung Urpas tahu, bahwa negara-negara yang sekarang tercatat sebagai negara maju itulah dulu yang menjajah hampir seluruh dunia. Dan Bung juga tahu, bahwa perang dunia kedua baru berakhir sekitar setengah abad yang lalu. Maksud saya Bung, apakah dalam tempo setengah abad nilai-nilai yang mendorong mereka untuk menjajah dunia itu sudah sirna sama sekali?
 
Saya garis bawahi Bung, yang saya persoalkan bukanlah soal ke asingannya, ke Belandaannya, atau ke Inggrisannya, tetapi nilai-nilai yang menyebabkan mereka sampai hati memperbudak bangsa Afrika, memaksa rakyat kita melakukan kerja rodi, dan menguras harta dunia untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kebetulan, contoh yang sangat mengenaskan ada di depan mata. Menurut Bung, atas dasar piagam hak azasi manusia manakah AS merasa berhak membombardir sebuah negara berdaulat seperti Afghanistan? Menurut Bung dimanakah prinsip 'presume of innosence' disembunyikan oleh AS ketika melakukan tindakan yang mengakibatkan pengungsian sekitar 1,5 juta penduduk sipil tersebut?
 
Ah, jangan-jangan Bung menuduh saya sedang melakukan kampanye anti AS. Sama sekali tidak Bung. Teman-teman saya, orang-orang yang kritis terhadap TNC, orang-orang yang kritis terhadap casino capitalism, dan bahkan kaum Muslim, juga banyak terdapat di AS. Jadi atas dasar alasan apa saya melakukan kampanye anti AS. Yang saya persoalkan, sekali lagi, adalah nilai-nilai yang diamalkan oleh pemerintahannya, TNC-nya.
 
Kedua, dari segi fakta, saya terpaksa membeberkan fakta kesenjangan ekonomi AS agar Bung Urpas tidak terlalu mengidolakan perekonomian negeri tersebut.
 
Who Own What in the USA?
__________________________________________________________________
                                            Bottom 90%               Top 10%            Top 1% 
__________________________________________________________________
 
Stocks                                  15%                            84%                42% 
 
Bonds                                     9%                            90%                55%
 
Bussines Assets                      7%                            92%                71%
__________________________________________________________________
Sources: Federal Reserve Board, 1995
 
Nah Bung, bagaimana pendapat Bung mengenai struktur kepemilikan aset di negeri yang menjadi promotor ekonomi neoliberal tersebut? Saya terus terang kehilangan selera untuk mengagumi perekonomian yang sangat timpang seperti itu. Islam mengajarkan, "janganlah hendak harta itu beredar di kalangan tertentu saja di antara kamu."
 
Kondisi Indonesia mungkin lebih buruk dari itu. Tapi, sekali lagi, yang saya persoalkan bukanlah masalah ke Amerikaan atau ke Indonesiaannya. Yang saya persoalkan adalah masalah ketidakadilannya. Bagi saya tidak terlalu penting apakah ia orang Amerika, orang Indonesia, orang Jawa, atau orang Minang sekali pun, jika ia memiliki komitmen untuk memperjuangkan keadilan maka ia adalah kawan saya. Sebaliknya, jika ia sekedar memikirkan keuntungan pribadinya, maka dengan sangat terpaksa saya akan memilih untuk berseberangan dengannya.
 
Ketiga, mungkin ada baiknya juga saya komentari mengapa saya sama sekali tidak mengemukakan sisi-sisi baik dari segala yang berbau asing tersebut. Jawabannya jelas, karena yang saya persoalkan bukanlah soal keasingannya, maka bagi saya tidak ada persoalan sama sekali dengan sisi-sisi baik tersebut. Lagi pula, jangankan terhadap sisi-sisi baik, fenomena yang ada dihadapan kita adalah adanya kecenderungan yang sangat kuat untuk mengagumi segala sesuatu yang berbau asing secara membabi buta. Nah, sikap mental sebagai bangsa terjajah itulah saya tentang secara habis-habisan.
 
Selain itu Bung, bukankah saya juga pernah mengusulkan agar kita membaca tulisan Prof Jo Stiglitz? Bukankah ini secara tidak langsung merupakan pengakuan saya bahwa ada juga yang baik, bahkan dari kalangan penganut neoliberal itu sendiri? Saya tidak usah menyebut nama Amartya Sen, Susan Goerge, Noam Chomsky, peristiwa Seattle, kelahiran Koperasi di Rochdale atau yang lainnya. 
 
Sebaliknya Bung, bukankah saya juga sudah mengemukakan bahwa Gebu Minang sudah terlanjur menerima kredit dari Citibank yang dijamin oleh deposito PT SMGR? Mengenai conflict of interest para direksi PT SP tentu sangat jelas bagi saya. Tapi Bung kan tahu, para direksi itu adalah sekedar bawahan dari pemerintah pusat? Dengan menyatakan dukungan terbuka terhadap spin-off, bukankah mereka sesungguhnya sedang mempertaruhkan jabatan mereka kepada atasannya. Ah Bung, apalah susahnya bagi Laksamana Sukardi atau Megawati, untuk sewaktu-waktu mengganti para direksi tersebut?
 
Jadi saya sama sekali tidak ada urusan dengan soal mempertahankan jabatan para anggota Dewan Komisaris atau para Direksi PT SP. Yang prinsip bagi saya adalah, kekayaan PT SP adalah kekayaan saya juga sebagai warga negara Indonesia, kekayaan seluruh rakyat Sumbar, dan kekayaan seluruh rakyat Lubuk Kilangan. Selama ini ia mungkin dijadikan sapi perah oleh para pejabat Indonesia. Walau pun begitu, menjualnya secara obral sekedar untuk membayar utang haram, bagi saya bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini.
 
Kalau mau berhitung soal kesulitan keuangan pemerintah pusat, bukankah Bung juga tahu bahwa pada hampir semua departemen terdapat dana-dana haram yang dikenal sebagai dana non-budgeter. Bahkan, biaya operasional TNI, 70 persen diantaranya berasal dari hasil pengelolaan dana-dana non budgeter ini. Mengapa tidak persoalan dana non-budgeter ini yang segera diselesaikan oleh pemerintah?
 
Keempat, saya sangat berterima kasih atas keterusterangan Bung bahwa masalah put option pada dasarnya bukanlah masalah 'sekedar' mendapatkan duit. Seperti Bung katakan, tindakan itu perlu dilakukan sebagai signal kepada para investor asing bahwa bangsa ini bersungguh-sungguh dalam memprivatisasi aset-asetnya. Seperti kata Bung, signal kesungguhan ini sangat penting artinya untuk mengundang minat para fund manager itu guna menghidupkan pasar modal tempat perusahaan Bung berkiprah (?).
 
Menurut saya, dalam hal ini Bung cenderung mengada-ada. Bagaimana mungkin sekedar melakukan put option PT SMGR, Telkom, dan mendivestasi Guthrie atau BCA, dapat dijadikan sebagai tolok ukur bahwa bangsa ini bersungguh-sungguh ingin mengundang masuknya investor asing? Bagi saya, yang sama sekali tidak anti investor asing, kesungguhan itu harus diperlihatkan dengan cara menjauhkan konflik dalam proses pelaksanaan privatisasi dan divestasi tersebut. Sebab itu, sebagaimana sudah saya kemukakan, proses privatisasi di Indonesia perlu dipayungi dengan Undang Undang. Sebab itu, proses privatisasi di Indonesia harus dilakukan dengan memperhatikan aspirasi warga masyarakat, termasuk masyarakat daerah. Semua ini penting Bung, sebab pada akhirnya soal kepastian hukum dan jaminan stabilitas inilah yang akan menentukan masuk atau larinya investor darimana pun (asing atau domestik).
 
Tapi Bung, serta merta saya mengemukan hal ini (mudah-mudahan saya keliru), Bung akan segera beralih pada argumen bahwa bukankah pemerintah saat ini sedang terdesak untuk mendapatkan sejumlah dana guna menutupi defisit APBN? Padahal, membuat Undang-Undang, mendengarkan aspirasi masyarakat (belum lagi kalau ditambah dengan saran saya agar pemerintah meminta hair cut, menyelesaikan persoalan dana non-budgeter dan lain sebagainya), membutuhkan waktu yang lama. Kalau sudah begitu, kesimpulan saya sederhana Bung, golongan yang pro put-option dan anti spin-off pada dasarnya hanya ingin mengikuti kehendak mereka sendiri. Pokoknya, put option. Titik.
 
Wah, wah, kalau sudah begitu, saya akan mengatakan secara tegas, negara ini bukan hanya milik pemerintah yang sedang berkuasa. Bukan hanya milik para ekonom neoliberal. Bukan hanya milik golongan yang pro put option. Apalagi sekedar milik para 'spekulan' yang mencari hidup dengan cara menukar uang dengan uang. Intinya Bung Urpas, untuk keluar dari krisis, bangsa ini memerlukan konsesus baru. Ishlah nasional dalam bahasa agamanya. Model menang-menangan, termasuk dengan menggunakan pendekatan militeristik ala AS, sama sekali bukan merupakan jalan yang memberi harapan. Sekali Bung berpikir untuk menggunakan cara kekerasan, maka pada saat yang sama Bung sesungguhnya sedang mewariskan cara tersebut untuk ditiru oleh generasi-generasi berikutnya. Wallahualambishawab.
 
Wassallamualaikum Wr. Wb.
 
Revrisond Baswir
(Potong Utang Haram, Tolak Utang Baru, Hapuskan Dana Non-Budgeter, Gantung Para Koruptor, dan Hentikan Privatisasi!)         

Kirim email ke