Assalamu'alaikum Wr.Wb,

Iko ado tulisan kawan ambo via mail dulu (wakatunyo sikola di UK), nan
mungkin bisa dijadikan bahan diskusi awak nan mungkin ado kaitannyo jo simin
padang atau era otonomi kiniko. Tantu indak sakadar manajdi bahan diskusi sajo
doh. Baa supayo diskusi awak iko ado mamfaatnyo untuak urang banyak (bak kecek
urang kini, implementasinyo tu nan paralu). Kalau era otonomi ko masyarakat
bawah masih cando itu juo kaadaanyo, bilo paralu ambo sangat setuju jo ide si
urpas,"bubarkan Indonesia". Bak kecek urang minang dulunyo, 'kalau lah sasek
langkah, baliak ka pangka". Aratinyo jan ditaruihkan juo langkah tu. 
Wassalam

fendi KOTO

Wakatu 

Paska Klarifikasi
Ketika menukik pada distingsi antara ‘klarifikasi konseptual’
dan ‘klarifikasi praktikal’, khususnya ketika membagikan wacana ini
pada sejawat aktivis, acapkali saya terbentur. Saya renungkan, benturan itu
muncul karena dua hal. Pertama, kesadaran bahwa diri saya lebih sebagai orang
‘lapangan’ daripada seorang ‘pemikir’. Dan kedua
tarikan kenyamanan, convenience untuk hanya melakukan tanpa mempertanyakan
daripada validity untuk mempertanyakan, dengan konsekuensi harus menggali sampai
ke “dasar”. Maka, atas dasar ini, demi mencapai logical validity,
saya menggunakan  psychological convenience sebagai pintu masuk, yaitu yang
disebut dengan kepedulian, concern. 

Goodness gracious, tentu yang sudah terjadi dalam hidup bersama seperti yang
sudah banyak dikisahkan bahwa ada sebuah aliansi (sebuah kolusi) antara
sektor bisnis dan pemerintah. Di masa lalu, aliansi macam ini disebut
‘Fascisme’ (Nazisme Hitler pada mulanya adalah aliansi sempurna antara
otoritarianisme negara dan kekuasaan terpusat sektor bisnis/kapital). Di sini,
korbannya komunitas (hidup bersama, shared life). Kini, ketika pemerintah
semakin kehilangan kapasitas untuk melakukan tawar menawar dengan sektor bisnis
(dan karena itu pemerintah dengan mudahnya dicaplok oleh sektor bisnis), fenomen
ini disebut ‘neo-liberalisme’. Di sini, korban-korbannya adalah
‘komunitas’ dan ‘agensi legitim dari pembuat kebijakan
publik’. Saya menduga bahwa keduanya (fascisme dan neo-liberalisme)
setidaknya berjalan beriringan di Indonesia (jika bukan dimaksudkan demikian,
unintentionally). Kesalahan kebanyakan dari kita adalah mengandaikan bahwa
kepentingan bisnis selalu bisa dibenarkan karena berdasar pada “kepemilikan
privat” (misalnya ruang privat) sementara kekuasaan pemerintah tidak.
Benarkah? Saat ini, setidaknya sementara ini, saya (bersama dengan kawan-kolega
pemikir yang lain) sampai pada kesimpulan bahwa akar dari masalah ini terletak
dari state-centrist (pandangan yang berpusat pada negara) dan konsepsi
monolitik dari kekuasaan dalam masyarakat. 

Masalah di atas menjadi sentral. Kini mari kita layangkan imajinasi kita ke
situasi konflik suku di banyak negara di Afikra. Apa yang terjadi di sana?
Adalah negara dan pemerintahan bisnis yang sudah selama ini dijarah oleh
konflik kepentingan tribal-komunal tiada berkesudahan. Para korbannya adalah
pemerintahan negara dan spontanitas pasar dalam transaksi ekonomi. Tetapi, dalam
kebanyakan kasus di Afrika, jala pintas kepada proses ini adalah sebuah aliansi
dari suku yang menang dengan sektor bisnis yang selalu bergantii rupa
laksana bunglon. Mirip seekor bunglon, kepentingan bisnis bisa beradaptasi pada
rejim jenis apa saja. Maka, bagi mereka, otoritarianisme atau demokrasi bukanlah
soal. Jika laba bisa dikeruk lebih banyak dibawah rejim otoritarian, that is
fine. Jika laba bisa ditimbun dibawah kepemimpinan demokratik, itu juga oke,
kok. 

Banyak komentator mengandaikan bahwa ‘mencari laba’ dan
‘demokrasi’ adalah konsekuensi benefisial satu sama lain persis karena
mereka tidak membedakan antara ‘kebebasan dalam terminologi
filosofis’ dan ‘kebebasan untuk mencari laba’. Sementara keduanya 
kadang
sukar dipisahkan (seperti halnya kita tidak bisa memisahkan fisiologi dan
materialitas), mereka tetaplah berbeda. Jika mereka tidak berbeda,
perusahaan-perusahaan pencari laba sehaursnya sudah mati di bawah Pinochet, Marcos,
Hitler atau Soeharto, bukan? Fakta bahwa neo-liberalisme tidak mati (bahkan jadi
jauh lebih jumawa) dibawah Pinochet atau Soeharto malah membuktikan yang
sebaliknya.

Semua ini berarti bahwa ‘demokrasi’ adalah variable bebas, bukan
tergantung pada kapitalisme dan  bukan pula pada sosialisme (sebagaimana
diasumsikan secara luas). Sesungguhnya, hubungan yang diasumsikan ada antara
‘demokrasi’ dan ‘kapitalisme’ berakar bukan pada pola
empirik, melainkan pada pertanyaan bagaimana menghasilkan uang untuk aktivitas
demokrasi. Dan di sinilah muncul kawasan yang bukan hitam-putih dari etika.
Di sinilah muncul kawasan abu-abu yang diperebutkan. Masalahnya adalah ini:
karena baik kapitalisme dan sosialisme melibatkan praktek kekuasaan dan karena
praktek kekuasaan hanya akan bermanfaat bagi kebaikan bersama jika dikontrol
oleh kriteria demokrasi, maka demokrasi bukan secara inheren adalah bagian
dari kapitalisme dan sosialisme, namun, lebih merupakan variable bebas.
Bagaimana dengan klaim pendukung neo-liberal yang meliht bahwa poses demokratik
semacam ini sudah termaktub dalam pilihan-pilihan bebas sebagai konsumen?
Pertanyaan ini menimbulkan ketawa. Mengapa? Karena klaim ini mereduksi hidup (bahkan
hidup sosial, hidup bersama) menjadi konsumsi ekonomi belaka. Bahkan jika
kita, sementara saja, menerima klaim bahwa kebebasan konsumen adalah tempat
bagi demokrasi di dunia neo-liberal, banyak kasus (misalnya sengketa buruh dan
manajemen Shangri-La Hotel) tidak dapat dibenarkan sebagai pendukung klaim
ini. Dan kita belum lagi membicarakan kebebasan memilih teknologi (dengan
implikasinya pada keselamatan dan lingkungan hidup, misalnya) dan hal-hal lainnya..

Maka, saya percaya bahwa konsepsi poli-sentris dari kekuasaan dan konsepsi
baru mengenai demokrasi ini netral. Mereka bisa diterapkan baik pada
sosialisme maupun kapitalisme. Mereka bisa diterapkan pada situasi di Indonesia, baik
jika ada di bawah bendera Partai Komunis maupun di bawah komite konglomerasi
bisnis. Di sini, tuduhan bahwa pemikiran semacam ini adalah anti pasar, jelas
tidak berdasar. Terhadap apa yang demokrasi menjadi tidak netral, adalah
terhadap praktek kekuasaan yang tidak terkontrol dan tidak bertanggung jawab
terhadap publik, baik di bawah kapitalisme maupun sosialisme. 

Maka dalam kebanyakan kasus, upaya klarifikasi menjadi seperti ini:
bagaimana mensosialisasikan notasi bahwa cara bisnis mengontrol dan membentuk hidup
bersama kita ini tidak selalu menguntungkan hidup bersama itu sendiri. Dan
sebenarnya, hal ini lebih melibatkan isu psikologis daripada isu ekonomis.
Kecerdasan eksploitatif neo-liberalisme adalah dia memasuki cara kita menilai
apapun dengan menanamkan terlebih dahulu prinsip kriteria
‘kenikmatan-prestise-status-kemewahan’ dalam masyarakat. Hal ini bukan 
bahwa prinsip
tersebut salah, tetapi bahwa upaya mencapainya seringkali dilakukan dengan
merugikan orang  atau pihak lain (di sinilah muncul masalah lingkungan, pemaksaan
PHK, dll). Mereka, kaum neo liberal ini mengontrol semua media masa dan cara
para jurnalis menulis beritanya pun didikte dengan apa yang ‘pantas
ditulis’ agar laku dijual. Ditambah lagi, tentu, bahwa apa yang pantas
ditulis adalah yang merepresentasikan gaya hidup yang paling mewah (mobil, mode
baju, tempat peristirahatan, rumah, telepon genggam, dan merk). 

Di sinilah muncul hubungan langsung antara advertensi-iklan yang sembarangan
(mindless) dengan konsumerisme (inilah mengapa saya mengatakan bahwa proses
ideologi yang dibawa oleh neo-liberal adalah budaya konsumeristik). Mereka
mengontrol semua media dan cara jurnalis menulis kisah dengan memfatwakan bahwa
perjuangan buruh Shangri-La, Serikat Buruh, PHK massal, dll kurang
menguntungkan jika ditulis sebagai berita. 

Jelas dengan demikian, sinergi paska klarifikasi konseptual ini membutuhkan
penetrasi gradual, juga pada sektor-sektor yang nampaknya tidak berhubungan
langsung dengan agenda pemberdayaan, termasuk di dalamnya media masa. Rasanya
juga bukan sebuah tindakan kriminal bagi kita untuk mulai berpikir akan
sinergi yang lebih luas seperti halnya mengmpulkan kawan-kolega dari berbagai
sektor yang lain: media masa, kantor-kantor pemerintahan, dosen-pengajar
universitet, peneliti, dan lain-lain. Bukan sebuah pertemuan umum bersifat formal,
melainkan beberapa orang yang tertarik dalam agenda macam ini. Hal-hal ini
secara inheren juga menunjukkan, bahwa masalahnya tidak terletak pada adanya
kekuasaan, tetapi, praktek keuasaan di tangan yang tak terkontrol. Memang benar,
kita bahkan tidak akan dapat melayani kebaikan bersama kecuali jika kita
berkepentingan dengan praktek kekuasaan yang sah, legitimate. 



-- 
Sent through GMX FreeMail - http://www.gmx.net


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke