Subj: Amerika dan Timor-Timur
Date: 12/9/2001 11:14:58 AM Eastern Standard Time
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent from the Internet (Details)
Amerika dan Timor-Timur
disiarkan: December 8, 2001
-------------------------
Kontroversi baru telah muncul sehubungan dengan diumumkannya dokumen
rahasia yang menunjukkan dukungan Amerika atas serbuan Indonesia ke
Timor timur tahun 1975. Sikap Amerika itu sebetulnya sudah diketahui
sejak lama, tapi baru kali ini diungkapkan secara terbuka.
Tanggal 6 Desember tahun 1975, Gerald Ford yang waktu itu presiden
Amerika, dan menteri LN Henry Kissinger, bertemu dengan presiden Suharto
pada akhir kunjungan singkat mereka ke Jakarta. Sebelumnya, masih tahun
yang sama, Vietnam, Kamboja dan Laos telah jatuh ke tangan komunis.
Amerika sangat khawatir akan meluasnya komunisme di Asia tenggara, dan
keprihatinan ini juga dirasakan oleh Suharto.
Dalam pertemuan dengan presiden Ford dan menteri LN Kissinger itu,
Suharto menyebut soal Timor Timur. Portugal, kata Suharto, tidak sanggup
mengatasi situasi yang terus memburuk di kawasan bekas koloninya itu.
Suharto kemudian minta apa yang disebutnya "pengertian" Amerika akan
"tindakan cepat dan drastis" yang mungkin diambil Indonesia.
Presiden Ford menjawab: "Kami memahami situasinya, dan kami tidak akan
menyulitkan posisi anda." Henry Kissinger memperingatkan bahwa
penggunaan senjata buatan Amerika oleh tentara Indonesia dalam tindakan
yang mungkin diambil Suharto itu "mungkin akan menimbulkan persoalan."
Tapi Kissinger menambahkan, semua itu tergantung dari bagaimana operasi
militer itu ditafsirkan orang.
Kawat rahasia dan terinci yang dikirim dan diterima oleh departemen LN
Amerika, dikeluarkan dari kategori rahasia bukan Juni lalu atas dasar
kebebasan informasi. Kawat itu serta sejumlah dokumen rahasia lainnya
diumumkan oleh kantor arsip keamanan nasional pada universitas George
Washington.
Selama 25 tahun, para aktivis kemerdekaan Timor Timur serta
kelompok-kelompok hak asasi menunjuk pada pertemuan presiden Ford dan
jenderal Suharto tanggal 6 Desember itu sebagai bukti dari apa yang
mereka sebut "keterlibatan Amerika" dalam penyerbuan Timor timur oleh
Indonesia dalam tahun 1975.
Tentara Indonesia melancarkan serbuan itu hanya beberapa jam setelah
pertemuan Suharto dengan presiden Ford dan menteri LN Kissinger. Timor
timur kemudian dicaplok oleh Indonesia tahun 1976.
Para pengecam mengatakan, komentar menteri LN Kissinger kepada jenderal
Suharto itu telah memberi "lampu hijau" bagi penggunaan senjata buatan
Amerika dalam penyerbuan ke Timor timur. Penggunaan senjata seperti itu
dilarang oleh perundang-undangan Amerika, dan merupakan permulaan dari
penindasan bengis yang dilakukan Indonesia atas bekas koloni Portugal
tadi selama lebih dari dua dasawarsa.
John Miller, pejabat "East Timor Action Network" mengatakan, dokumen itu
menunjukkan dengan jelas adanya keputusan tentang kebijaksanaan politik
luar negeri Amerika serta berbagai implikasinya pada masa itu. Katanya:
"Dengan memahami sejarah ini, yang menurut saya tidak disebabkan adanya
kekeliruan,tampak adanya keputusan politik yang diambil dalam tahun
1975. Kalau kita memahami hal ini, kita akan bisa mencegah terulangnya
peristiwa serupa di masa depan; dan kita juga mestinya bisa mencegah
pemulihan hubungan kerjasama militer yang terlalu dini. Kita sebaiknya
memanfaatkan penangguhan kerja-sama militer itu, dan mencoba untuk
memaksakan perubahan dalam tindak-tanduk angkatan bersenjata Indonesia."
Pemerintah Amerika secara drastis mengurangi hubungan militernya dengan
militer Indonesia setelah terjadinya pembantaian di Timor Timur yang
dilakukan oleh kelompok milisi pro-Indonesia menjelang referendum yang
disponsori oleh PBB. Amerika kemudian mencabut embargo penjualan
peralatan militer yang dianggap tidak membahayakan, kepada Indonesia.
Bekas presiden Ford dan bekas menteri LN Kissinger tidak memberikan
reaksi yang segera atas keluarnya dokumen-dokumen rahasia itu. Kissinger
selalu mengatakan, dia baru mendengar rencana penyerbuan Timor Timur itu
ketika dia sudah berada di bandar udara Jakarta setelah pertemuan dengan
Suharto.
Luis Costa Ribas adalah kepala kantor perwakilan stasiun televisi
Portugal S.I.C. di Washington. Dia mengatakan, para pemimpin Timor Timur
sadar bahwa Amerika adalah negara sahabat, dan bahwa mereka lebih suka
melihat ke depan dan tidak ke masa lalu. Katanya:
"Para pemimpin Timor Timur tahu dan sadar tentang hal itu; dan tidak
berusaha menekankan kekecewaan mereka atas tindakan Amerika dulu. Saya
kira pandangan mereka tentang Kissinger juga berbeda dengan pandangan
mereka tentang Amerika. Mereka sekarang berpendapat bukan waktunya
untuk menekankan berbagai perbedaan pendapat di masa lampau, karena
lebih penting melihat ke depan, untuk mendapatkan bantuan politik dan
bantuan pembangunan, mengingat Timor Timur akan menjadi negara merdeka
dalam waktu beberapa bulan mendatang."
Tahun ini, bekas menteri LN Kissinger mengadakan pertemuan di New York
dengan beberapa tokoh penting Timor Timur, termasuk pemenang hadiah
Nobel Jose Ramos Horta dan Xanana Gusmao.
Kissinger dilaporkan menjanjikan bantuannya guna mencarikan bantuan
investasi modal untuk Timor Timur. Ramos Horta juga malahan dikutip
mengatakan: "Mengapa hanya menyalahkan Kissinger? 'Kan semua itu terjadi
dalam rangka perang dingin?"
Kata jurubicara pemerintah Indonesia, dikeluarkannya dokumen rahasia itu
tidak akan merusak hubungan Amerika-Indonesia ataupun hubungan Indonesia
dengan Timor Timur yang akan segera merdeka.
--------------//----------------
Dutamardin Umar

