Assalamu'alaikum WW

Pandapek Kanda Sony lai balaku nampaknyo, tingga kalanjutannyo,...


Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0112/11/UTAMA/peme01.htm

Pemerintah-DPR Sepakat Tunda Privatisasi Semen Gresik

Jakarta, Kompas
Berkaitan dengan kian meningkatnya reaksi penolakan masyarakat di sekitar 
lokasi pabrik semen PT Semen Padang (SP) di Sumatera Barat (Sumbar) dan PT 
Semen Tonasa (ST) di Sulawesi Selatan (Sulsel), pemerintah dan DPR akhirnya 
sepakat untuk tidak mengambil tindakan penyelesaian apa pun terhadap kasus 
PT Semen Gresik (SG) tahun ini.

Demikian diungkapkan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN) 
Laksamana Sukardi usai rapat kerja dengan Komisi V DPR di Jakarta, Senin 
(10/12). Ditambahkan, dengan adanya perjanjian baru antara pemerintah dan PT 
Cemex, batas waktu (deadline) 14 Desember 2001 bagi pelaksanaan hak opsi 
(put option) penjualan 51 persen saham pemerintah di PT SG kepada PT Cemex 
Indonesia juga menjadi tidak berlaku lagi.

Keputusan pemerintah dan DPR itu diambil, menyusul penolakan masyarakat 
Sumbar, Sulsel, serta para karyawan PT SG yang juga didukung oleh pemerintah 
daerah dan DPRD setempat, terhadap langkah penyelesaian yang akan ditempuh 
pemerintah berkaitan dengan put option dan tuntutan pemisahan (spin-off) PT 
SP dan PT ST dari PT SG.

Dalam pernyataan dua pekan lalu, Laksamana menyatakan, pemerintah akan tetap 
melaksanakan rencana put option penjualan saham PT Semen Gresik (yang di 
dalamnya ada PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa) kepada PT Cemex. 
Selanjutnya, untuk mengakomodasi tuntutan spin-off, pemerintah merencanakan 
untuk membeli kembali saham PT SP dan PT ST, hingga kepemilikan pemerintah 
di kedua BUMN semen itu mencapai 51 persen.

Namun, langkah ini ternyata mendapat penolakan dari masyarakat Sumbar dan 
Sulsel yang tidak menginginkan kepemilikan PT Cemex di PT SP dan PT ST. 
Bahkan, belakangan para karyawan PT SG yang didukung DPRD dan Pemerintah 
Daerah Jawa Timur (Pemda Jatim) juga menolak rencana put option tersebut, 
karena mereka tak menginginkan penguasaan PT Cemex atas PT SG.

Dijelaskan Laksamana, penyelesaian privatisasi PT SG tidak mungkin dapat 
dituntaskan pada tahun ini, karena beberapa hal yang menyangkut perjanjian 
baru penjualan saham SG masih dibicarakan dengan PT Cemex dan belum mencapai 
kata sepakat.

"Kalau dilihat keadaan tahun ini, pasti sulit dilaksanakan. Kita ada 
kesepakatan untuk cooling down, tidak memberikan statement-statement. Saya 
kira, masih banyak negosiasi dan perSaya juga minta kepada DPR untuk tidak 
memberikan pernyataan-pernyataan sepihak," ujar Laksamana.

Ketua Komisi V DPR Surya Darma Ali menyampaikan hal senada. "Mengingat 
berkembangnya eskalasi di masyarakat sekitar Semen Padang dan Semen Tonasa, 
pemerintah dan DPR sepakat untuk tidak mengambil suatu keputusan apa pun 
tentang Semen Gresik. Kira-kira sampai Januari nanti," ujarnya.

Surya Darma menambahkan, agar lebih terfokus, pembahasan mengenai PT SG akan 
dilakukan dalam rapat gabungan Komisi IX dan Komisi V DPR pada masa 
persidangan mendatang. Selama itu, Menneg BUMN juga diharuskan terus 
melakukan dialog dan musyawarah dengan berbagai pihak, termasuk dengan 
masyarakat di sekitar pabrik PT SP dan PT ST.

Soekarno-Hatta batal

Dari Jatim dilaporkan, ribuan karyawan PT SG, kemarin, kembali 
berdemonstrasi. Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi-aksi sebelumnya di 
Tuban dan Gresik. Kali ini, unjuk rasa mereka lakukan di DPRD Jatim. 
Tuntutan karyawan tidak berubah dari sebelumnya, yakni menolak rencana put 
option dan menuntut pemerintah mempertahankan saham sebesar 51 persen untuk 
menjaga stabilitas semen nasional.

Jika ini tak dipenuhi sampai 14 Desember, seluruh pegawai PT SG akan mogok 
total. Sikap ini didukung oleh pimpinan DPRD Jatim yang menjanjikan akan 
mendampingi para karyawan ke Jakarta untuk bertemu pemerintah pusat.

Sementara dari Batu Sangkar, Padang, Komisaris PT SP Djusril Djusan 
membantah pabrik semen tertua tersebut merugi. Dijelaskan, hingga Oktober 
2001, PT SP telah membukukan keuntungan lebih kurang Rp 72 milyar. Angka ini 
diperkirakan meningkat hingga akhir tahun ini.

Menurut Djusril, sebagai perusahaan yang sehat, memiliki utang dalam dollar 
merupakan hal wajar. Total utang saat ini 48 juta dollar AS. Sebelumnya, 
pada tahun 1999 total utang dalam bentuk valuta asing 91 juta dollar. "Soal 
utang, tak perlu diributkan, karena tahun 2003 utang tersebut diperkirakan 
lunas," ujarnya.

Mengenai penerimaan privatisasi yang sejauh ini baru tercapai Rp 3,5 
trilyun, Laksamana mengatakan, hasil tersebut tidak terlalu buruk. Angka ini 
berasal dari penjualan saham pemerintah di PT Telkom Tbk sebesar 11,9 persen 
pada harga Rp 2.600 sebanyak Rp 3,12 trilyun dan penjualan saham Sucofindo 
sebesar Rp 400 milyar.

"Jumlah sebesar Rp 3,5 trilyun itu cukuplah dalam waktu tiga bulan. Apalagi 
setelah ada kejadian 11 September (tragedi World Trade Center di AS). Lagi 
pula, waktunya terlalu singkat. Menteri Keuangan (Menkeu) akan mencari jalan 
keluar, tetapi saya belum berbicara dengan beliau," ujar Laksamana.

Secara terpisah, Pelaksana Harian Direktur Utama PT Angkasa Pura II Yayoen 
Wahyu memastikan, rencana privatisasi Bandar Udara (Bandara) Internasional 
Soekarno-Hatta akhir tahun ini batal dilakukan akibat lesunya minat investor 
di bidang penerbangan pascaserangan teroris 11 September di AS. Untuk itu, 
pemerintah memutuskan, menunda hingga situasi membaik.

Kepemimpinan kuat

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Vikram Nehru mengutarakan, salah 
satu syarat suksesnya program privatisasi adalah kepemimpinan politik yang 
kuat karena privatisasi harus didukung oleh seluruh partai politik. 
Kepemimpinan politik kuat ini merupakan salah satu dari delapan hal yang 
perlu dipelajari oleh Indonesia dari negara lain yang sudah sukses 
melaksanakan privatisasi. Beberapa hal yang ditekankan Nehru adalah 
privatisasi harus menguntungkan kedua pihak. Agar privatisasi berhasil, juga 
diperlukan lembaga "kampanye publik", untuk memberikan penjelasan 
seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai bagaimana jalannya privatisasi 
serta biaya-biaya sosial yang mungkin timbul.

Pemerintah juga diminta melakukan upaya untuk mencari tahu berapa besar 
biaya sosial yang harus dikeluarkan agar program privatisasi bisa menutup 
kompensasi, jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, 
monopoli juga harus dihilangkan, terutama di Indonesia yang industrinya 
sangat tinggi konsentrasinya.

Terakhir Nehru mengingatkan perlunya pembenahan situasi politik agar 
pemerintah dan politisi dapat bersama-sama menjalankan program privatisasi. 
Jangan sampai proses privatisasi yang sudah dimatangkan pada tingkat 
pemerintah harus didebat ulang dari awal.

Kepala Perwakilan Dana Moneter Internasional (IMF) di Indonesia David Nellor 
mengatakan, privatisasi merupakan langkah penting untuk mengurangi beban 
utang luar negeri. Dari privatisasi, Argentina berhasil mengurangi utang 
sebesar 40 persen, Mesir 25 persen, Hongaria 10 persen, dan Meksiko 60 
persen.

Bagi Indonesia, privatisasi penting untuk mendapatkan kembali kepercayaan 
investor dan meningkatkan efisiensi pada perusahaan yang diprivatisasi. 
(joe/har/boy/nal/edn/ds/tat)




======================================================================
                       Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================


_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke