Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dr. Taufik Abdullah Ketua LIPPI yang berdarah Minang pernah menulis di
Tempo, bahwa Orang Minang itu �orthogenic�: mereka pertama-tama merasa
diri mereka muslim, setelah itu baru merasa sebagai orang Minang. Hal
ini bisa menjelaskan mengapa sebagian netters di Milis Surau dan
Rantau.net bereaksi keras terhadap beberapa lontaran pemikiran
introspektif terhadap Islam dari  Urpas yang disampaikannya dengan
bahasa yang �nakal� dan �menggigit�. Tidak kurang salah satu dari yang
�geram� itu adalah Rangkayo Nurbaini McKosky yang sangat terpelajar dan
santun itu, dan---sepanjang yang saya ketahui---bermukim di Amerika
Serikat sebuah negeri yang sangat liberal. Beberapa netters malah
mengira bahwa Urpas adalah�.. Jusfiq Hadjar St. Maradjo Lelo. Namun saya
yakin bahwa beliau-beliau yang mengira Urpas adalah Jusfiq Hadjar itu
belum pernah membaca secara langsung posting-posting Jusfiq Hadjar di
Milis Apa Kabar, Proletar, Istiqlal dan sejumlah milis lainnya. Kalau
yang pernah atau sering pasti berpendapat bahwa Urpas �tidak ada
apa-apanya� dibandingkan dengan Jusfiq Hadjar. �Tidak ada tempat bagi
Jusfiq di Ranah Minang!� tulis seorang netter di Proletar. Tidak sedikit
pula yang mencapnya sebagai �kafir�, suatu penilaian yang tidak
berlebihan kalau orang membaca dari apa yang tertulis pada
posting-postingnya mengenai Islam. Cercaan  bahkan ancaman fisikpun
tidak jarang ditujukan kepadanya.. Namun seperti kata pepatah, dalam
lautan dapat diduga, dalam hati manusia siapa tahu. Di bawah ini adalah
dialog saya dengan Jusfiq Hadjar di Milis Proletar belum lama ini.
Dialog diawali dengan tanggapan Jusfiq atas ucapan selamat merayakan
Hari Natal yang yang saya tujukan kepada netters yang beragama Nasrani
di beberapa milis pluralis, termasuk Milis Proletar.

Jusfiq Hadjar:
-----------------
Saya sudah akan merasa amat senang bila seluruh ummat Islam di
Indonesia bersedia menerima untuk hidup berdampingan secara damai dengan
orang lain yang bukan pemeluk agama Islam.

Darwin Bahar:
-----------------
Terima kasih atas tanggapan dan harapan Engku Jusfiq

Seperti Engku Jusfiq ketahui, sebenarnya sejak dulu di kalangan akar
rumput di Indonesia tidak ada masalah antara orang Islam dengan Orang
Kristen.

Saya pernah membaca cerita seorang perempuan Batak Kristen, bagaimana
keluarga Minang tempat dia kos menerimanya dan menganggapnya seperti
anak sendiri, sewaktu ia bersekolah di Normal School Padangpanjang. Dan
orang Padangpanjang---kota yang dijuluki Serambi Mekkah itu---sampai
sekarang juga tidak pernah mengganggu gugat gereja katolik di
Gugukmalintang yang sudah ada (sejak) zaman Belanda.

Dan saya sendiri sewaktu bertugas di sebuah Proyek Bank Dunia di
Sulawesi Utara dan Selatan di akhir tahun delapan puluhan dan pernah
�berkelana� di perkampungan Kristen di Minahasa dan Satal (yang
kristennya dikenal kuat), tidak pernah mendapat perlakukan yang tidak
menjenangkan hanya karena saya seorang Minang dan Muslim yang taat.

Namun di kedua pihak ada biang-biang kerok (plus perangai sebagian
penginjil yang sering melakukan tindakan-tindakan yang tidak etis dalam
penyebaran Agama Kristen di kalangan penganut Islam, terutama di
kalangan ummat yang kondisi sosial ekonominya lemah)---yang sangat rajin
melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan sikap saling curiga
mencurigai (sampai-sampai kegiatan mulia yang dilakukan Mendiang Romo
Mangun di Kali Code di Yogyakarta juga �dimusuhi� sebagian Ummat
Islam)---dan kemudian dimanfaatkan oleh unsur-unsur angkara murka,
sehingga kemudian mereka saling bunuh.

Karena itu saya sangat gembira bahwa Pertemuan Malino yang dengan bijak
difasilitasi oleh Pemerintah Indonesia---walaupun sangat
terlambat---memperlihatkan tanda-tanda bahwa konflik antarpenganut agama
Islam dan Kristen di Poso yang sudah banyak memakan korban di kedua
pihak, bisa diakhiri.

(Mudah-mudahan Ambon segera menyusul)

Akhirul kalam, semoga Engku Jusfiq dan Keluarga selalu sehat walafiat
dan tidak kurang suatu apapun di Leiden

Wassalam, Darwin

Jusfiq Hadjar:
----------------
Saya ulang: posisi yang anda pertahankan adalah posisi yang baik, posisi
yang dari sudut ajaran Islam bisa dipertahankan dan telah dipertahankan
dari zaman Muh.Abduh dan Afghani dan dipertegas oleh Abdul Razik.

Dari sudut teologis posisi anda tidak bisa diruntuhkan.

Anda memegang, antra lain, al-Kafirun yang mengakui hak orang lain untuk
tidak mengikuti ajaran Islam.

Dibalik itu saya juga tahu bahwa sebahagian (besar?) orang Islam di
Indonesia tidak (selalu) mengikuti ajaran al-Banna, Sayed Qutb dan
Maududi.( "di kalangan  akar rumput di Indonesia tidak ada masalah
antara orang Islam dengan Orang Kristen." menurut istilah anda)

Namun kita juga kudu ingat - dan ini amat penting - bahwa tidak ada -
dari sudut teologis - yang bisa menyalahkan al-Banna, Sayed Qutb atau
Maududi: mereka adalah juga - dari sudut ajaran Islam - orang-orang
Islam yang baik, karena mereka adalah JUGA orang Islam yang menurutkan
ajaran Islam dengan baik.

Tidak ada yang bisa membantah argumen mereka untuk memusuhi 'Barat',
kaum Nasrani atau Yahudi. Semua argumen mereka juga didasarkannnya ke
al-Mushaf

Inilah masaalahnya dengan ajaran Islam: al-Mushaf itu kayak supermarket
atau departement store:apa saja bisa anda temukan disana. Ajaran Islam
bisa dibawa kemana saja.

Inilah, menurut hemat saya tugas moral semua orang Islam saat ini:
mencari jalan untuk menghindarkan reading al-Banna, Sayid Qutb dan
Maududi.

Saya mengusulkan - dan saya baru tahu beberapa hari yang lalu ketika
saya membaca sebuah tulisan tentang Islam di berkala Panoramiques bahwa
Muh.Taha yang mati digantung di Sudan juga telah lama mengajukan usul
ini: abaikan ayat-ayat Madani dan peganglah ayat-ayat makiyah.

Darwin Bahar:
-----------------
Barangkali inilah kelebihan Al-Qur'an sebagai kumpulan wahyu yang
terakhir yang diturunkan-Nya, terbuka untuk berbagai penafsiran, karena
selain Kitab, Sang-Khalik juga memberikan anugerah yang sangat berharga
kepada manusia---yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya---yaitu
akal budi dan ilmu. Dan di dalam Al-Qur'an pula sejumlah ayat ditutup
dengan kata-kata: "tidakkah kamu berakal?". Sedangkan di ayat-ayat lain
dapat pula ditemukan: "Apakah sama mereka yang berilmu sama dengan yang
tidak? Lalu di dalam Al-Qur'an pula Allah memberi tahu bahwa di samping
ayat-ayatNya yang tertulis, juga sangat banyak ayat-ayatNya yang tidak
tertulis: "Apabila seluruh pohon-pohon dijadikan pena, dan air laut
dijandikan tinta, tidaklah akan mampu menulis seluruh ayat-ayatKu".

Tentu tidak perlu dikatakan bahwa tidak akan mampu manusia membaca
ayat-ayatNya yang tak tertulis itu selain dengan akal budi dan ilmu.

Tetapi referensi dalam berhubungan dengan ummat non-muslim bagi saya
tidak hanya Surrah Al-Kafirun, tetapi juga ayat Qur'an yang sering
disampaikan oleh para dai: "Sangat besar kerugian manusia di manapun
mereka berada kecuali mereka memelihara hubungan dengan Allah dan dengan
manusia". Saya garis bawahi: dengan manusia (an-nas) dan bukan hanya
dengan sesama muslim (!) saja.

Dari segi ketokohan, penguasaan Ilmu dan keluasan wawasan kegamaan, saya
hanya sebutir debu yang tidak berarti bila dibandingkan dengan Al-Banna,
Sayid Qutb dan Maududi. Bahkan jika dibandingkan dengan para murid
beliau-beliau tersebut. Namun dengan segala kedhaifan saya, saya pikir
ayat-ayat seperti di atas ini perlu ditafsirkan dengan lebih pas dan
cerdas oleh para tokoh dan pemikir muslim waktu ini.

Akhirulkalam, terima kasih atas diskusi yang menarik ini dan terima
kasih pula atas wacana yang Engku Jusfiq sampaikan. Hal-hal yang saya
anggap baik dari siapapun Insya Allah akan saya terima.

Wassalam, Darwin

Jusfiq Hadjar:
----------------
Saya pakai al-Kafirun, karena surah itu yang  jelas dan saya yakin hapal
diluar kepala hampir semua orang Islam dan, sepanjang yang menyangkut
masaalah ini memadai untuk dijadikan sandaran argumen.

Dan masih ada memang ayat-ayat lain yang juga mendukung argumen
toloransi beragama itu.

Atau ayat-ayat yang menyuruh mukmin untuk memakai akal atau untuk
berbuat adil terhadap siapa saja, termasuk terhadap orang kafir dan
ahl-al Kitab. Artinya ayat-ayat yang manusiawi.

Cuma, saya ulang pula, di al-Mushaf kita temui JUGA ayat-ayat yang
bertolak belakang dengan al-Kafirun dan ayat-ayat yang searah denga
al-Kafirun itu. Asoka - saya juga - sudah berusaha menunjukkan ayat-ayat
itu sehingga tidak perlu lagi diulang disini.

Inilah masaalahnya - dan saya ulang mengucapkan terima kasih saya kepada
Sasis yang mengingatkan peserta berbagai mailinglist ini: ayat-ayat
al-Mushaf itu bertentangan yang satu dengan yang lain, karena - ini
Muh.Taha yang memformulasikan dengan jelas: al-Mushaf itu ada dua,
al-Mushaf makiyah dan al-Mushaf madani.

Al-Mushaf makiyah bisa dianggap tidak terikat waktu dan tempat sedangkan
al-Mushaf madani terikat waktu.

Artinya ayat-ayat makiyah yang tidak terikat waktu dan tempat itu, masih
berlaku hingga sekarang, tapi ayat-ayat madani hanya berlaku di Madinah
di abad ke VII Masehi.

Dan menurut salah satu posting Zakki disini, disamping Muh.Taha,
sekarang ini bukan satu dua pembaru pikiran Islam yang sampai
kekesimpulan yang yang sama.

Terlepas dari Muh.Taha dan pemikir  yang disebut oleh Zakki itu, dan
dengan memakai pendekat anthropologis dan historis dalam membaca
al-Mushaf saya sendiri sampai kekesimpulan yang sejajar dan mengusulkan
- dengan kosa kata saya - agar kita mengencingi dan mencampakkan
ayat-ayat madani.

     Dari segi ketokohan, penguasaan Ilmu dan keluasan wawasan
     kegamaan, saya hanya sebutir debu yang tidak berarti bila
     dibandingkan dengan Al-Banna, Sayid Qutb dan Maududi. Bahkan
     jika dibandingkan dengan para murid beliau-beliau tersebut.
     Namun dengan segala kedhaifan saya, saya pikir ayat-ayat
     seperti di atas ini perlu ditafsirkan dengan lebih pas dan
     cerdas oleh para tokoh dan pemikir muslim waktu ini (Kutipan
     dari Posting Darwin Bahar, DB).

Anda berendah hati dan adalah hak anda untuk berendah hati, tapi anda
tidak bisa mengatakan bahwa reading mereka itu toleran terhadap manusia
lain. Anda tidak bisa berkata bahwa reading mereka sejajar dengan
reading anda.

Reading anda adalah reading toleran dan manusiawi, sedangkan reading
mereka adalah reading biadab, buas, keji keji lagi kejam.

=============================================================

Dialog tidak saya lanjutkan, karena saya tidak mempunyai kelengkapan
ilmu yang memadai untuk menolak atau menerima wacana, apakah Al-Quran
perlu dikategorikan sebagai al-Mushaf Makiyah yang tidak terikat waktu
dan tempat dan al-Mushaf Madani yang hanya berlaku dalam abad
VII---apalah awak ini---walaupun saya termasuk orang yang berkeyakinan
bahwa seluruh ajaran-ajaran Islam yang mengenai kemasyarakatan perlu
selalu diinterprestasikan ulang dengan cerdas dari waktu ke waktu.
Apalagi dalam Agama Islam sangat banyak hal yang boleh dan harus dicerna
dengan akal budi dan ilmu pengetahuan kecuali hal-hal tertentu yang
�taken for granted� seperti keimanan kepada Allah SWT, kitab-kitabNya,
para Nabi dan Rasul, adanya kehidupan sesudah mati serta  kewajiban
untuk menjalankan ibadah seperti yang tercantum dalam Rukun Islam yang
lima. Dan kalau dalam interprestasi ulang tersebut terdapat perbedaan
pendapat adalah sesuatu yang sangat alami dan manusiawi. Bukankah
Rasulullah SAW sendiri pernah berujar bahwa perbedaan pendapat di
kalangan umat beliau merupakan rakhmat?

Terlepas dari hal tersebut, sejujujurnya  saya merasa memperoleh banyak
pelajaran yang berharga dari dialog tersebut. Salah satu pelajaran itu
ialah kesahihan pepatah: �dalam lautan dapat diduga, dalam hati manusia
siapa tahu�.

Akhirul kalam hanya kepada Allah SWT jua saya yang dhaif berserah diri,
mohon pertolongan, petunjuk dan hidayah.

Wassalam, Darwin



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke