Rang islam kolo wak liek lah jauh hari, mambuek selebaran jumaaik tapi hasianyo alun juo nampak, baik dalam bidang baragamonyo ataupun dalam peningkatan kesejahteraanyo, apo masalahnyo garangan?.
Kolo dimusajik musajik wak liek haragonyo cuman Rp 100/lbr kolo awak manyumbang Rp10.000 sajo lah bisa mancetak 100 lbr. Tapi isinyo io kurang manarek, ndak jaleh ma nan fatwa ulama, atau ma nan informasi nan harus diolah labiah lanjuik, sadonyo nampak sakral se, dan indak aspiratif jo masalah nan awak hadoii sahari-hari, sahinggo maleh awak mambincangnyo. Kok untuak rang kampuang manuruik ambo, tantu informasi sakilas manganai teknologi tepat guna dalam maolah partanian dll atau parsoalan nan nyo adoii sahari hari tantu lasuah bana. Mudah mudahan para pakar nan canggih canggih, baik dari ilimu agamo, ilimu pambangunan maupun nan dari komunikasi massa bisa marekonsruksikan dengan baik media nan enteng dan murahko, sahinggo manyajikan materi nan sasuai ka urang banyak. Salam rang akaik ================================================= Media Indonesia, Minggu, 6 Januari 2002 Tambah Rukun Berkat 'Community Paper' Kini community paper bermunculan di sejumlah kawasan perumahan. Terbitan ini bisa dimanfaatkan di daerah bertikai. PERTIKAIAN antarwarga kini kerap terjadi di sejumlah kota besar. Mengantisipasi persoalan ini, sekelompok profesional muda dan mahasiswa membuat community paper sebagai perekat kerukunan antarwarga. Sejak delapan bulan lalu, di kawasan Perumahan Rungkut YKP Surabaya beredar tabloid bernama Jurnal YeKP. Media ini dikelola oleh tidak lebih dari delapan orang, sudah termasuk bidang usaha. Mereka adalah para profesional muda dan mahasiswa jurusan komunikasi di Surabaya seperti Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS). Menurut Pemimpin Redaksi Jurnal YeKP Moehammad Abdoellah, community paper ini dibuat dengan idealisme untuk mempertahankan suasana damai di kota kelahirannya. "Jurnal YeKP sebagai community paper bersifat independen dan bertujuan menjalin kerukunan dan mendidik warga. Juga untuk memuaskan ekspresi dalam jurnalistik bebas dan damai," ujar Abdoellah. Hanya bermodal sekitar Rp3 juta, para pengelola Jurnal YeKP sudah mampu memberikan pelayanan berupa informasi-informasi yang sangat lokal, di seputar kawasan Perumahan Rungkut YeKP, mulai daerah Pandugo, Medokan Asri, Rungkut Asri Timur, Utara, Barat, dan Tengah. Juga Penjaringan I dan II. Berita-berita yang ada di Jurnal YeKP seputar info tentang keamanan, kematian, kesehatan, kebersihan, dan lingkungan -- yang diperlukan warga. "Bahkan kami juga memberikan informasi tentang kegiatan bisnis warga Rungkut YeKP. Karena di sebuah lingkungan, tetangga yang satu belum tentu tahu apa kegiatan bisnis dan usaha yang dilakukan oleh tetangganya. Jadi hubungan warga mengarah pada hubungan yang rukun, saling mendukung walaupun ada saingan tapi saingan yang sehat," jelas Abdoellah seraya tersenyum. Jurnal mingguan yang bertiras delapan ribu eksemplar ini ternyata memberikan kontribusi yang sangat nyata bagi keharmonisan warga Rungkut YeKP. Ini tercermin dari makin banyaknya acara yang digelar oleh warga untuk warga. Warga juga bisa dengan bebas menyampaikan keluhan kepada pihak pengelola atau pengembang kompleks perumahan. Tentu saja Jurnal YeKP bertindak sebagai mediator. "Sampai soal pemilihan RT atau RW pun, Jurnal YeKP bisa menjadi mediator yang independen, sehingga bisa meredam konflik. Selain itu warga yang memiliki usaha atau bisnis kecil-kecilan pun bisa mendapatkan ruang untuk beriklan dengan harga murah," jelas Abdoellah. Setiap terbit, Jurnal YeKP hadir dengan empat halaman hitam-putih, dan dibagikan gratis untuk seluruh warga Perumahan Rungkut YeKP. Kelangsungan hidup media ini tergantung dari perolehan dana iklan sebesar Rp9-10 juta/bulan Keberadaan community paper yang banyak beredar di kalangan warga, ternyata menarik perhatian Lembaga Informasi Nasional (LIN). Lembaga ini mengundang aktivis yang peduli di bidang community paper dari seluruh Indonesia berkumpul di sebuah hotel bintang tiga di Bandung, bulan lalu. Mereka diajak merumuskan community paper yang benar-benar berarti bagi perdamaian dan kehidupan jurnalistik di Indonesia. Dalam acara ini hadir tak kurang dari 27 aktivis yang berasal dari Samarinda, Pontianak, Manado, Medan, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Banjarmasin, Madiun, dan Sidoarjo. Mereka menyoroti jenis community paper yang independen -- dalam arti dibiayai pribadi atau sekelompok orang, atau patungan warga masyarakat di sebuah kawasan lingkungan yang bertujuan "dari warga, untuk warga, dan oleh warga". Kalimat terakhir inilah yang disepakati mereka untuk merumuskan jenis community papers yang bercirikan peredam konflik dan pemersatu warga. Sosiolog Universitas Indonesia Imam B Prasodjo kepada Media mengatakan untuk membedakan community paper yang betul-betul memiliki kemampuan meredam konflik dan bisa membangun kerukunan antarwarga, sangat tergantung dari misinya. "Kalau misinya untuk bisnis, tentu sangat berbeda dengan yang kita inginkan. Lain halnya kalau misinya untuk jurnalistik damai, untuk lingkungan yang harmonis dan nyaman, dan untuk membangun kehidupan bertetangga yang baik. Saya yakin media seperti ini sangat dibutuhkan saat ini," ungkapnya yakin. Menurut Imam, community paper yang independen sangat mendesak keberadaannya di Indonesia. Bahkan di Jakarta ini, Imam sangat berharap dalam waktu dekat akan ada community paper untuk beberapa kawasan seperti Matraman, Manggarai, dan Pasar Rumput. "Juga di luar Jawa seperti di Sambas dan Poso. Perjanjian Milano itu saat ini memang cukup berhasil meredam konflik, dan akan terpelihara dengan media semacam community papers yang independen," ujar Imam menegaskan. Sosiolog itu juga mengingatkan agar pemunculan community paper harus betul-betul terhindar dari sejumlah faktor yang bisa menjebak. Seperti Klompencapir pada zaman Orde Baru. Media yang diperuntukkan bagi para petani ini sebenarnya bagus. Dengan catatan hanya untuk para petani. Mereka yang masuk ke dalam Klompencapir ternyata tidak mampu berbicara lebih dari seputar pertanian. Kelompok ini pun rentan keberadaannya karena sangat tergantung pada si pembentuknya, yaitu mantan Presiden Soeharto. Ketika Soeharto lengser, Klompencapir pun hilang tanpa bekas. Yang pasti, community paper yang independen saat ini bisa menjadi alternatif yang aman dan mendesak untuk meredam konflik, khususnya di daerah bertikai. [.] Dina Amalia/M-1 RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

