Lika-Liku Hidup Lukminto (Raja Tekstil - PT Sritex)
Saya dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa
Timur. Kami bertetangga dengan keluarga Bapak H. Harmoko, Ketua DPR/MPR RI.
Beliau adalah sahabat saya sejak kecil. Meskipun akhirnya jalan hidup kami
berbeda, namun itu tak membuat jarak di antara kami. Kami tetap akrab bila
bertemu.
Saya terjun ke bidang bisnis dan industri tekstil. Kisah saya jadi
industriawan dan pengusaha tekstil yang sukses saya mulai ketika
menjadi pedagang tekstil kecil-kecilan di Pasar Klewer Solo. Waktu itu saya
wira-wiri menjual tekstil eceran. Lalu, meningkat sampai mempunyai
sebuah kios tetap.
Rupanya, saya memang hoki berbisnis tekstil, sehingga lambat laun saya
bahkan bisa membuka pabrik tekstil sederhana yang berlokasi di Jl.
Kyai Maja di tepi Bengawan Solo. Dengan memiliki pabrik tekstil sendiri,
usaha bisnis saya maju kian pesat. Lalu, bersama kakak kandung saya, kami
mendirikan pabrik tekstil besar seluas 65 hektar dengan investasi 300
miliar rupiah.
Pabrik tersebut kami beri nama PT Sri Rejeki Isman (Sritex), berlokasi
di Desa Jetis, Sukoharjo. Karyawan yang bekerja di sini kurang lebih
20.000 orang.
Pada tanggal 3 Maret 1992, pabrik kami tersebut turut diresmikan oleh
Bapak Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di daerah
Surakarta, Jawa Tengah. Bukan main bangganya kami ketika itu. Terutama saya
tentunya.
Cita-cita saya untuk menjadi orang kaya tercapai sudah. Kini orang tak
bisa lagi menghina diri saya seenaknya. Sebab, saya bukan lagi Lukminto
yang dulu (miskin).Lukminto hari ini adalah Lukminto yang kaya raya, bahkan
berhak menyandang gelar "Raja Tekstil."
Tapi benarkah saya bahagia ? Secara lahiriah memang, saya tak kurang
suatu apapun. Punya rumah mewah, punya
harta berlimpah, punya pabrik modern dengan ribuan karyawan, dan punya
isteri cantik yang setia. Kurang apa lagi ? Tapi, ada satu hal yang
tidak pernah saya rasakan, batin saya tak pernah tenang. Saya selalu
diliputi kegelisahan, karena selalu berpacu mengejar materi.
Sebagaimana umumnya WNI keturunan Tionghoa, keluarga kami adalah
penganut agama Budha Konghucu, yakni agama
Budha yang telah bercampur dengan tradisi dan pandangan hidup leluhur
kami. Tetapi, karena kami dari keluarga miskin maka pendidikan agama kurang
mendapat perhatian. Kami lebih disibukkan untuk mencari uang. Sejak
kecil saya telah diajar untuk berdagang.
Saya masih ingat, pulang sekolah, saya dan kakak langsung berdagang
makanan-makanan kecil, seperti kacang goreng, permen, rokok, dan
lain-lain. Kedua orang tua kami selalu menekankan kepada kami agar kelak harus
menjadi orang kaya. Sebab jadi orang miskin itu tidak enak, selalu jadi
cemoohan dan hinaan orang. Begitu pesan mereka. Kami pun selalu dididik
untuk tidak boleh puas terhadap perolehan yang kami dapat. Kalau
perolehan yang kami dapat hari ini sama dengan yang kemarin, itu berarti rugi.
Karena dicambuk oleh hal-hal yang seperti itu, saya tumbuh menjadi
anak yang mandiri dan ulet. Saya tak punya cita-cita yang muluk-muluk
sebagaimana lazimnya teman-teman seusia saya ketika itu - jadi pegawai negeri,
ABRI, polisi, pilot, dokter, dan lain-lain. Saya cukup bercita-cita jadi
orang kaya.
Mengapa begitu ? Sebab, saya tahu diri. Sebagai WNI keturunan, nasib
kami nyaris ditentukan oleh usaha dan keuletan kami sendiri. Setelah saya
beranjak remaja, saya semakin sadar bahwa posisi kami "kurang
beruntung" dibandingkan saudara-saudara kami lainnya.
Kami tak bisa jadi ABRI, kami tak boleh jadi pegawai negeri. Padahal
kami sudah lahir di negeri ini, dan mencintai negeri ini sama besarnya
seperti saudara-saudara kami dari suku-suku lainnya di Nusantara ini. Tapi,
itulah kenyataan.
Tak Punya Pegangan
Tak ada jalan lain bagi kami untuk dapat bertahan hidup, selain
mengkonsentrasikan seluruh daya dan kemampuan kami dalam bidang
perdagangan. Itulah barangkali faktor yang membuat kami menjadi suku bangsa
yang
ulet berdagang. Tapi, resikonya, yaitu tadi, perhatian terhadap kehidupan
beragama sangat kurang. Bahkan dalam soal yang satu ini, saya nyaris
tak punya pegangan yang pasti. Di rumah, saya beragama Budha Konghucu,
tapi di sekolah saya beragama Kristen.
Agama buat saya ketika itu, tak lebih hanya sebagai tempelan belaka.
Sebagai penganut Budha, saya nyaris tak pernah ke wihara untuk bersembahyang.
Begitu pun sebagai penganut Kristen, saya nyaris tak pernah ikut kebaktian di
gereja.
Karena terlalu dikejar obsesi untuk menjadi orang kaya, saya jadi lupa
segalanya. Saya tak tahu lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Semua cara akan saya tempuh untuk memperoleh kekayaan. Termasuk dengan jalan
"muja" ke Gunung Kawi. Di tempat yang dianggap keramat ini banyak
orang yang datang untuk minta pesugihan (kekayaan). Melalui petunjuk yang
diberikan kuncen, saya mulai nglakoni (menjalankan) beberapa
persyaratan yang tak bisa saya ceritakan di sini.
Alhasil, dalam tempo singkat usaha dagang saya maju pesat. Yang semula
saya hanya pedagang tekstil eceran, meningkat bisa membuka kios, lalu
membuka pabrik tekstil sederhana, sampai akhirnya mendirikan pabrik tekstil
raksasa seperti PT Sritex tersebut. Kendati sudah menjadi Raja Tekstil, namun
batin saya kosong dari siraman rohani. Saya tak pernah merasakan
kebahagiaan dan kedamaian, sebagaimana yang sering saya saksikan dari
kehidupan kaum
muslimin.
Kebetulan, sebagian besar karyawan saya beragama Islam. Sering saya
saksikan, di sela-sela waktu istirahat makan siang, mereka tak lupa
menunaikan sembahyang (belakang saya tahu itu disebut shalat).
Meskipun waktu itu di pabrik ada tempat khusus untuk shalat (mushalla
atau masjid), namun mereka tetap mendirikan shalat di beberapa tempat
seperti di gudang dan di lorong-lorong pabrik.
Sering saya amati, usai shalat wajah mereka tampak begitu cerah.
seakan terpancar dari jiwa mereka yang tenang. Padahal saya tahu pasti, gaji
mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang saya miliki.
Suatu kali, secara iseng pernah saya tanyakan kepada salah seorang karyawan,
mengapa mereka begitu disiplin melaksanakan shalat.
Apa jawabannya ? Jawabannya sungguh membuat saya terkejut. "Kami
shalat
semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, sebab hidup di dunia hanya
sementara. Ada kehidupan yang kekal di akhirat kelak, yang harus kami
persiapkan sebelum mati," begitu jawab mereka.
Sungguh, selama itu saya tak pernah berpikir tentang mati. Yang saya
tahu, kematian itu hanyalah akhir dari kehidupan. Sedangkan menurut karyawan
saya yang muslim tadi, kematian adalah pintu atau jalan antara untuk menuju
alam lain yang disebut akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan
diperhitungkan sesuai baik-buruknya. Mengingat itu semua, bulu kuduk
saya berdiri. Sungguh, saya amat takut menghadapi kematian dalam keadaan
saya yang bergelimang dosa.
Mimpi Shalat
Sejak itu, saya jadi pendiam. Saya jadi lebih suka merenung dan
berpikir tentang diri saya sendiri. Saya pun mulai suka mengikuti siaran
Mimbar
Agama Islam yang ditayangkan TVRI setiap Kamis Malam.
Begitu tenggelamnya saya dalam perenungan, sehingga pada suatu malam,
tepatnya tanggal 10 Januari 1994 bertepatan malam 27 Rajab (Isra' Mi'raj),
saya bermalan di vila kami yang sejuk di daerah Tawangmangu (Solo).
Dalam tidur saya bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karib saya,
lalu saya disuruh melaksanakan shalat.
"Saya nggak bisa shalat," jawab saya. Lalu, teman saya memberi contoh
bagaimana caranya shalat. Setelah paham, saya pun disuruh mengulangi
gerakan shalat yang ia peragakan. "Shalatlah kamu," katanya. Lalu, saya pun
shalat. Tapi, baru separo jalan, saya pun terjaga. Ternyata, itu hanya mimpi.
Sejak bermimpi seperti itu, saya jadi gelisah. Isteri saya pun sempat
bingung melihat diri saya. Tapi saya tak menceritakan mimpi itu
kepadanya.
Untuk beberapa waktu lamanya, mimpi itu hanya jadi rahasia diri saya
seorang. Tapi lama-lama saya tak tahan juga untuk tidak bercerita.
Kebetulan, saya mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi. Ia
seorang muslim yang taat. Ketika pada suatu malam saya minta dipijat olehnya,
saya ceritakanlah mimpi itu kepadanya. Mendengar cerita mimpi saya itu, Pak
Edi spontan bergumam, "Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan
masuk Islam," katanya mantap. "Benarkah ?" tanya saya.
"Insya Allah," jawabnya pasti.
Sejak itu, saya pun mulai dibimbingnya untuk melaksanakan shalat. Saya
pun mengikuti sarannya untuk berkhitan. Tapi itu semua saya lakukan secara
sembunyi-sembunyi. Saya bahkan dikhitan di Jakarta.
Ketika masuk bulan suci Ramadhan, saya pun ikut melaksanakan ibadah
puasa dan mengeluarkan zakat (mal).
Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hati saya itu, Pak Edi
menyarankan agar keislaman saya itu harus segera diproklamirkan. Alasannya,
agar
semua orang tahu bahwa saya sudah muslim. Sarannya itu pun saya terima.
Singkat cerita, pada tanggal 11 Maret 1994 bertepatan dengan peringatan
Supersemar, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan umat
Islam dan
karyawan PT Sritex, dibimbing oleh pemimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin,
Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir, S.H.
Alhamdulillah, isteri saya pun kini telah menjadi seorang muslimah.
Bahkan pada tahun 1995 lalu, bersama isteri dan 10 orang staf PT Sritex, kami
berkesempatan menunaikan ibadah haji.
Dari Buku : Saya Memilih Islam (Kisah Orang-orang yang Kembali ke
Jalan Allah)
Penyusun : Abdul Baqir Zein
Penerbit : Gema Insani Press Jakarta 1999

