Pilih ibu atau anak?

Seorang bapak berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit, gelisah.
Istrinya akan melahirkan anaknya yang pertama. Sudah beberapa jam ia
menunggu, tak jua terdengar tangis bayi. Tiba-tiba, seorang dokter berjalan
tergopoh-gopoh

keluar dari ruang persalinan menuju kearahnya.

"Bagaimana keadaannya dok?" tanyanya penuh harap.

"Maaf pak, kami sudah berusaha, kondisinya kritis sekali. Si ibu sudah tak
sadarkan diri!" jawab dokter itu.

"Jadi ...?"

"Kami tak mungkin menyelamatkan keduanya,tapi... masih ada harapan. Kami
hanya punya satu pilihan, menyelamatkan sang ibu, atau menyelamatkan sang
bayi!"

Lelaki itu kebingungan, dan tak bisa berkata-kata.......

"Maaf pak, setiap detik sangat berharga, tolong cepat jatuhkan pilihan!"
desak dokter itu.

Akhirnya, dengan berat hati lelaki itupun berkata lirih, "Dokter, saya
bingung sekali ... Saya pasrahkan sepenuhnya kepada anda. Tolong lakukan
yang terbaik!" pintanya.

Dokter pun bergegas kembali ke ruang persalinan. Nampaknya dia sudah
berpengalaman menangani masalah darurat seperti ini. Dan dia tahu apa yang
harus dikerjakan.

***

Ini adalah salah satu contoh, bagaimana keyakinan beragama bisa
mempengaruhi keputusan disaat genting. Seorang dokter beragama
kristen/katolik, ia akan berusaha menyelamatkan sang anak, dan mengorbankan
sang ibu. Bagi dokter muslim, ia akan berusaha menyelamatkan sang ibu, dan
mengorbankan sang bayi.

Yah, dua-duanya pilihan sulit, tapi itulah jalan terakhir.

Mengapa harus demikian?

Dalam ajaran kristen, setiap manusia terlahir sudah membawa dosa, doktrin
ini dikenal dengan "dosa waris" atau "dosa asal". Manusia terlahir sudah
menanggung dosa Adam dan untuk menebusnya ia harus mengikuti sang juru
selamat, penebus dosa. Dokter Kristen itu berjuang sekuat tenaga
menyelamatkan si anak,

agar dia dapat lahir dengan sehat dan selamat walaupun untuk itu si ibu
harus dikorbankan. Dokter berharap, setelah anak lahir akan mendapat
kesempatan

untuk dibaptis, dalam rangka menebus dosanya. Jika sang anak meninggal
sebelum dibaptis, anak itu akan masuk neraka. Sebab, dosanya belum sempat
tertebus.

Dalam ajaran Islam, setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah/suci.
Dokter muslim akan berjuang menyelamatkan si ibu, karena dia tidak khawatir
bahwa sang bayi akan masuk neraka.

Dengan terselamatkannya sang Ibu, insyaAllah setelah sehat kembali akan
dikaruniai kekuatan untuk mengandung lagi dan mudah-mudahan mendapatkan
ganti yang lebih baik, yang lebih soleh.

Sedangkan anak yang tak sempat terselamatkan, biarlah ia kembali ke
Penciptanya dalam keadaan suci. Mungkin malah lebih baik jika bayi itu
tidak terlahir di dunia yang penuh tipu daya ini agar hidupnya kelak tidak
menjadi orang yang tersesat.

Demikianlah, dalam kebingungannya lelaki tadi tak sempat menanyakan agama
sang dokter. Dan ia sudah memasrahkan sepenuhnya kepada dokter itu.

***
Kisah ini saya dengar dari pak Bambang Sukamto, seorang dokter yang sejak
tahun 1971 memeluk agama Islam. Ternyata bukan hanya kehidupan
sehari-harinya saja yang mengalami perubahan setelah menjadi muslim, karena
tuntutan profesipun menghendaki ia harus memilih sesuai keyakinannya.

Di dunia ini ada banyak agama dan kepercayaan. Pemahaman kita terhadap
ajaran agama yang kita anut, akan menentukan jalan hidup kita. Sejak bangun
tidur, kita sudah dihadapkan pada pilihan. Meneruskan tidur, atau bangun
sholat subuh?

Di kantor, saat istirahat siang hari, ada pilihan lagi. Makan siang dulu,
atau shalat dhuhur dulu? Langsung pulang ke rumah, atau mampir ke diskotik
dulu?

Ikut-ikutan korupsi, atau dimusuhi rekan sejawat? Bersegera menikah, atau
menundanya dulu? Hidup mulia disisi Allah, atau mulia dalam pandangan
manusia?

Kita akan sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang lebih rumit, dan
mengandung konsekuensi yang berat. Kisah diatas adalah salah satunya.

Beruntunglah orang yang selalu diberi jalan untuk mencari Ilmu yang
bermanfaat, yang selalu dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan dari
sekian banyak pilihan yang ada. Karena itu saya ingin berpesan kepada
saudara-saudaraku kaum muslimin, teruslah menggali ilmu-ilmu agama,
mudah-mudahan pengetahuan yang kita peroleh akan semakin memantapkan kita
dalam memutuskan suatu masalah, dan semoga akan lebih mendekatkan kita
kepada Allah SWT.

Amin ya rabbal alamiin.

Wallahu a'lam bishawab.

Kirim email ke