http://www.kompas.com/kompas-cetak/0201/28/NASIONAL/muha06.htm
Muhammadiyah Umumkan Idul Adha 22 Februari
Denpasar, Kompas
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengumumkan hari raya Idul Adha jatuh pada hari
Jumat, 22 Februari, mendatang. Penentuan tanggal hari besar Islam tersebut
berbeda dengan hari libur nasional yang pada penanggalan kalender jatuh pada
Sabtu, 23 Februari 2002.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat
(PP) Muhammadiyah Oman Faturohman dalam penjelasannya di sela-sela Tanwir
Muhamadiyah di Denpasar, Minggu (27/1), mengatakan, penentuan tanggal Idul
Adha tersebut didasarkan atas hisab di tiga lokasi, yakni Sabang (Barat),
Yogyakarta (tengah), dan Merauke (Timur).
Menurut Oman, ijtima Bulan dan Matahari menjelang awal bulan Julhizah 1422
Hijriah terjadi pada hari Selasa, 12 Februari pukul 14.42 WIB. Berarti
terjadi sebelum terbenam Matahari atau pada saat terbenam Matahari kedudukan
hilal (Bulan) sudah wujud atau di atas ufuk, sehingga Idul Adha yang
berlangsung tanggal 19 Julhizah jatuh pada hari Jumat, 22 Februari 2002.
Di lokasi paling barat Indonesia, Sabang, hilal (Bulan) berada pada posisi
satu derajat, 39 menit dan 50 detik. Yogyakarta dua derajat, 27 menit, 17
detik, serta Merauke satu derajat, 25 menit dan 25 detik.
Oman menjelaskan, dari posisi itu tampak bahwa posisi Bulan di Yogyakarta
lebih tinggi dari Sabang. Sabang berada di Lintang Utara, sedang Yogya
Lintang Selatan. Kebetulan deklinasi Bulan lebih selatan daripada deklinasi
Matahari, sehingga pada saat Matahari dan Bulan ada di selatan sekarang ini,
maka Sabang saat Matahari terbenam, Bulan dalam posisi lebih rendah.
Penentuan tanggal berbeda dari kalender, sempat menjadi keluhan peserta
Tanwir yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. Pertanyaannya, mengapa
Muhammadiyah kerap mengeluarkan putusan penanggalan hari besar yang berbeda
dengan pemerintah.
"Kalau memang dakwah kultural utamakan, saya pikir bersamaan lebaran satu
kali buat masyarakat lebih baik. Kenapa Muhammadiyah bersitegang tentang
lebaran. Muhammadiyah seharusnya mempertimbangkan umat, agar lebaran hanya
sekali. Kita memang menghormati perbedaan pendapat dan pluralisme. Tapi,
membuat masyarakat tenang, senang, nyaman, dan dalam satu kesatuan bangsa
lebih bagus daripada dua kali," ujar salah seorang peserta.
"Apakah tidak mungkin diambil langkah satu kali lebaran. Bukankah setiap
berkenaan dengan hari raya selalu diadakan pertemuan yang dikoordinasi
Menteri Agama. Muhammadiyah hadir di sana dan menyepakati keputusan
pemerintah. Namun, kenapa Muhammadiyah lalu kadang-kadang berbeda," timpal
yang lain.
Dijelaskan, pertemuan dengan Menteri Agama memang selalu menghasilkan
keputusan penentuan hari raya oleh pemerintah. Namun, forum juga
mempersilakan masyarakat yang menganut ketentuan lain untuk melaksanakan
hari raya sesuai perhitungannya.
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================
_________________________________________________________________
Send and receive Hotmail on your mobile device: http://mobile.msn.com
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================