|
Tarimo kasieh banyak, sudah di save dan saya sangat setuju.
Kan management restauran Minang nebjadi top, serta selalu menjadi bahan
pelajarn. Jangan lupa pemberdayaan perempuannya, nanti akan saya sambung dengan
pengelolaan lingkungannya.
Zoer'aini
----- Original Message -----
Sent: 04 Februari 2002 4:45
Subject: Minang Perlu Bangun Sebelum
'Galodo'Datang
To : Rantau-netters Minang Berharap tanggapan, pemikiran, kritisi dlm memberi respons
kreatif thd prospek Sumbar dan Minang tahun '2002 and beyond'. Terima kasih. Wassalam. Note: Agar tidak lelah mata, sebaiknya dibuat
print-outnya.
Minang News Briefs & Commentaries
#4-1
February 2002Minang Perlu Membangun Jaringan Bisnis
dan Kerja. Sebelum 'galodo' melanda Sumbar
lagi.
Oleh: Abdul Razak
(Jakarta) Ini hendaknya
jadi Agenda Kerja penting jika orang Minang, di mana pun berada, ingin menjadi
'bagian dari solusi', dan bukan 'lebur dalam problems'
Indonesia, khususnya Sumatera Barat, bagi generasi kini maupun
turunannya. Apa visi, misi, perilaku (etos
kerja) yang perlu dibangun kembali, mulai dari diri sendiri, keluarga,
lingkungan kerja, meluas ke masyarakat sekelilingnya? Di mana bumi dipijak, di
situ langit dijunjung.
Kajian "Lords of the Rim & Minang-kiau" (MC Baridjambek)
menyimpulkan perlunya Minang membangun 1) solidaritas tinggi, 2)
jaringan kerjasama di berbagai bidang usaha dan kerja, dan 3) pundi
dana. Meniru secara bijak, kreatif dan kritis, kiat perantau Hua Kiau yang
menguasai ekonomi Asia dan Pasifik. Menangapi kesimpulan itu,
jo_angek<[EMAIL PROTECTED]> menyimpulkan
(deduktif):
- Minang perlu mengadopsi (grafting=mencangkok) banyak hal
(yg terbukti benar secara empiris) dari kultur Cina, manajemen modern, dan
semangat hidup (strife for survival) yg sudah dibuktikan banyak orang dari
berbagai etnis lainnya.
- Cina Hua Kiau gigih karena solidaritas sependeritaan yang
mengharuskan mereka membangun jaringan kerja dan bisnis yg saling mengayomi.
Direkat dengan kredo: sangsi hukum bagi pelanggar aturan main dan
sistem nilai yang disepakati; rajin dan ulet menghadapi segala kerja;
bersikap sederhana, hemat dengan dana; lembut dan sopan kepada tamu,tidak
gagah-gagahan seperti 'dude' (istilah dari rantaunetter Edel).
Masalah yang perlu diatasi: Penanggap menditeksi gejala sbb: 1)
Minang berbisnis tanpa aturan yang jelas (awak samo awak, ka baretong bana).
Mestinya ada pembagian tegas untuk evaluasi
kerja dan metoda bagi hasil. 2)
Tidak ada pemisahan wilayah bisnis dan wilayah keluarga sehingga sering
membubarkan kongsi, dan berpisah untuk bersaing di bidang dan pasar yg sama,
dengan asumsi 'rezeki awak indak ka pai ka urang
lain'. Contoh kasus:
Sarimande membangun restorannya berdampingan hanya 50 meter di sebelah
restoran Simpang Raya di Jalan Margonda Raya, Depok. Secara agamis, tidak salah, karena asumsi "tiap orang sudah dijatahkan
rezekinya". Tapi menurut logika ekonomi, Sarimande keliru. Pangsa pasar
(menengah atas di Depok) yang terbatas kini diperebutkan dua restoran sekelas
yg menawarkan menu dan harga yang sama. Kalau mau,
keduanya bisa berkompromi, menyepakati spesialisasi produk/menu agar saling
menghidupkan. Hua Kiau justru menghindari persaingan 'saling mencekik'seperti
caranya Minang-kiau. 3) Minang lemah dalam
memelihara kelanjutan usaha atau jaringan kemitraan agar bisa terus
menggurita. 4) Cenderung cepat puas sebagai
'single player' (satiok urang barajo di
hatinyo), dan sungkan mendengarkan saran orang lain (kok inyo santiang, aden indak ka batanyo
do). Orkes
Gumarang, misalnya, populer tahun 60an. Redup dan menghilang, tanpa
penerusnya. Kenapa? Dalam kelompok etnis lainnya di Indonesia, contoh serupa
juga terjadi karena kelemahan yang sama.
Solusi yang diusulkan: Jo-angek menyarankan: 1) model jaringan bisnis kekeluargaan
Minang harus punya "aturan main yang rinci", bekerja dengan tujuan "bisnis
harus meningkatkan kesejahteraan" bagi semua pihak,bukan sekedar "cari untung"
(meski diharuskan), apalagi mengorbankan prinsip dan etika bisnis, dan 2)
mengorganisasikan orang Minang yang ada di mana-mana.
Kondisi Sumbar sekarang: Prof. Emil Salim mengingatkan agar menyadari fakta-fakta berikut
ini:
- Secara geologi, Sumbar "terapung di atas lempeng tektonis
yang rawan gempa. Sering terjadi bencana alam "galodo", tanah longsor dan
lereng gunung runtuh."
- Pelabuhan Teluk Bayur berada di jalur
lalulintas laut sepi sehingga perlu upaya ekstra jika ingin menjadikannya
'entreport' dengan kerjasama pelabuhan lainnya.
- Luas kawasan pertanian yang sangat sempit (16% dari
42.878 km2).
- Peluang sangat terbatas untuk menaikkan pendapatan
penduduk Sumbar kalau hanya mengandalkan pertanian tradisional yang bertumpu
pada air dan tanah semata-mata.(Perlu model pertanian yang lain).
- Sumbar tidak memiliki sumber daya alam yg
kaya dan melimpah ruah.
- SDM di Sumbar merisaukan:10% dropped out SD, 41%
tidak meneruskan ke SLTP, 67% tidak sampai ke SLTA (data thn 2000). Semakin
tinggi jenjang sekolah, semakin rendah partisipasi anak usia sekolah.
- 40% dari 168.561 anak usia sekolah di Padang belum
bisa membaca Al-Quran ( Dr.Marjohan M.Pd.,
Ka. Dinas Pendidikan Kota Padang).
- Kesehatan masyarakat sangat buruk (rawan gizi;
kurang protein)
- Di Sumbar, ada delapan universitas; 200 doktor,
ratusan sarjana strata I dan II. (Apa saja inovasi, kreativitas,
kontribusinya? Tertidur barangkali? Tidak diberi peluang? Atau kebanyakan
puas jadi pemain tunggal?)
Emil Salim
mendeteksi "perkerabatan bersemangat budaya etnis seringkali menghambat
pengusaha berkembang. Itu sebabnya, tidak banyak pengusaha besar asal Minang
bisa bertahan lama"(Emil Salim, 'Membangun dengan
Pendekatan Etnis, Media Indonesia, 10/12/2001). Restoran Roda
(di Matraman Raya, Jakarta), misalnya, "mati suri" karena pemiliknya "lalai"
menyiapkan manajer pengganti dalam sistem organisasi usaha keluarga. Begitu
juga pengusaha tekstil Rahman Tamin dan lainnya yang hilang dari peredaran
tanpa pengganti.
Emil Salim menyimpulkan:
Perlu hubungan sinergis antara kelompok masyarakat
perantau dan kelompok rakyat di Sumbar. Fokus pada
ikhtiar ekonomi oleh dan bagi rakyat kecil karena Sumbar miskin sumber daya
alam.
- Strategi pembangunan bertumpu pada skill
dan knowledge-based development seperti yang
dikembangkan Gebu Minang melalui pusat kajian, pelatihan dan pengembangan
SDM (di Lubuk Seluah, kabupaten Solok).
- Pemda Sumbar perlu membangun iklim bisnis yg positif
dan kondusif (hapuskan pungutan tidak resmi, campurtangan Pemda dan DPRD yg
terlalu banyak, persekongkolan berdasarkan KKN).
- Pemda sebaiknya berkonsentrasi membangun prasarana
jalan, listrik, dsbnya yg tidak bisa dibiayai swasta.
- Beri keleluasaan kepada pengusaha untuk
mengembangkan kewiraswastaannya.
Komentar:
So, What next? Sebelum 'Galodo' datang lagi. Alah
tinggi hari ko, bung! Wake up! (Bangun!).Bak lagu Elvis Presley,
"It's now, or never." Sekarang juga, jangan tunggu besok!
Minang dihadapkan pada pilihan antara aturan 'Fair Play'
(Barat) atau 'Fair Share' (Timur, khususnya Jepang), atau kombinasi keduanya,
dalam membangun jaringan kerja dan bisnis yang saling menguntungkan dan
bertahan lama.Kedua acuan ini sama suksesnya,tapi dalam setting situasi,
kultur, dan semangat yang berbeda. Minang perlu meniru "spirit of
achievement"nya Melayu Malaysia. Prinsip-prinsip pokok "Fair Play" (aturan yang adil) dan
"Fair Share" (aturan sama-sama untung) bisa saja secara bijak,
kreatif,kritis diambil dan dirumuskan sebagai paradigma dan model network
Minang-kiau. Alasan: Kajian Ezra F.
Vogel (bukunya, Japan As No.1, Harvard:1979)
relevan sebagai acuan konseptual. Dalam mencari jawaban "Why Japan
succeeded?", Ezra, sebagai social scientist, tiap tahun riset ke
Jepang untuk menjawab "What lessons America can learn?" saat
Amerika merosot tahun 1970an, meski dalam berbagai hal negeri George W.Bush
itu semula unggul. Tergeser setelah 'Rambo' terlibat aneka konflik Perang
Dingin (yang berdarah-darah). Selepas dari
Harvard University (Ph.D., 1958), Ezra mencari dalil-dalil generalisasi
tentang "hubungan antara family and mental health that would hold true
cross-culturally". Ia meneliti Jepang sebagai studi kasus untuk menguji
hipotesa mengenai 'modern society'". Belakangan Ezra jadi Dubes di
Tokyo. Kajian Ezra
relevan dalam melihat bagaimana input kultural dan struktur organisasi kerja
melengkapi, memberi spirit luarbiasa yang memacu Jepang menjadi 'the No.1"
(sejak tahun 1970an). Pelajaran dari
Jepang ini agaknya ikut memacu China (dan jaringan Hua Kiau) tumbuh jadi
ekonomi terbesar no.3 di dunia sejak awal 90an, sebagaimana diyakini Sterling
Seagrave (Lords of the Rim, 1996) yang mengulas "the Invisible Empire of the
Overseas Chinese" di kawasan Asia Pasifik. Menurut
World Bank, China mungkin jadi 'the No.1' tahun 2020, menggeser Jepang ke
no.2, dan Amerika Serikat, no.3. Sukses China, antara lain, berkat besarnya
pasar dalam negeri (1,2 milyar jiwa). Investasi
beternak ayam saja, misalnya, kembali dalam setahun. Selebihnya, tinggal
ekspansi dan untung. Konsep Kajian Ezra,
dan pengamatan Dr. Bob Widyahartono (FE-Usakti), menemukan tiga
konsep berikut ini: 1) Prinsip 'Fair
Play', berupa generalized principles dari
pengalaman Barat, mensyaratkan aturan adil dan kesempatan yang sama (equal
opportunity law) bagi semua pihak untuk berbisnis. Tapi prinsip ini efektif dengan basis "individual
dynamics/dynamism" sebagai syarat "Fair Deal", meskipun akhirnya
"winners take all" (juara menguasai segalanya yang tidak pas dengan
pandangan Timur). 2) Prinsip 'Fair Share'
(bagi-bagi peluang dan manfaat secara adil) dari
Jepang yang mengandalkan "group dynamics &dynamism", harmoni
dalam mencapai konsensus dan keputusan penting. Terbukti struktur organisasi
bisnis dan kerja yang justru membuat Jepang unggul. 3) Sistem rekrutmen dan pengembangan SDM untuk organisasi
birokrasi dan bisnis membuat karyawan bangga dengan pekerjaannya dan loyal
kepada perusahaan.Terbukti dengan kemampuan memproduksi barang yang kompetitif
dalam harga dan terpercaja dalam mutu. Ilustrasi:
SDM birokrasi dan usaha bisnis dipilih dari yang terbaik,
lulusan universitas terunggul, berdasarkan keyakinan sukses bermula dari mutu
SDM. Maka itu, karyawan diberi pelatihan skills yang nanti diperlukan, dan
pengalaman kerja dengan sistem rotasi penugasan, back to campus,
dsbnya. Mereka bekerja
teamwork, bersemangat "group dynamics/dynamism". Seseorang
dipromosikan setelah dia berhasil membangun group kerja dan respek anggotanya
. Manajer bisnis bekerja dalam sistem "bottom up" -- inisiatif
bergerak dari bawahan, tidak menunggu perintah atasan. Usul rencana
kerja terinci belum dinaikkan ke atasan sebelum semua seksi yang terkait dalam
satu regu pekerjaan dikonsultasi. Kunci sukses organisasi kerja bertumpu pada
'Section', terdiri atas 8-10 karyawan, termasuk kepalanya (Ezra,
p.131). Ukuran Sukses? Kajian Bob
Widyahartono (FE-Usakti, Jakarta) menemukan: * Sukses
dirasakan sebagai prestasi kelompok (group performance).
* Leadership memobilisasi semua bakat bawahan tanpa tekanan
atau anggapan yang meremehkan bawahan. * Semuanya
dibimbing agar jadi 'star achievers' (bintang-bintang prestasi)
di lininya masing-masing. * Manajemen mengorganisasi
tugas demi produktivitas, dan mengarahkan karyawan mencapai tujuan
organisasi. * Praktek 'guanxi'
(network/jaringan kerja Hua Kiau) dilandasi 'shin-yung' (saling
percaya yang saling membutuhkan), interaksi komunikasi bisnis dan pemikiran
strategik. Kunci kiat manajemen: Ezra (Japan as No. 1) menyimpulkan: *
Perusahaan Jepang "is committed to the whole individual, not simply to
the task-related part of the individual (employee)." Manajemen
mengembangkan potensi karyawan seutuhnya (p.151). *
The primary commitment of a Japanese firm is not to its shareholders,
but to its employees.(p.152). * Success
and failure come from group effort, and are never laid on the shoulders of a
single person (p.157). * Sukses dan kegagalan
lahir dari upaya team, dan tidak pernah ditimpakan kepada satu orang.
* Create a sense of belonging and sense of pride to
workers, who believe their future is best served by the success of their
company (p.154). Ilustrasi: CEO Alfred
Sloan pernah menyombong bahwa perusahaannya, General Motors, mampu memberi
dividen kepada shareholders selama depresi ekonomi AS, meskipun harus
mem-PHK-kan pekerjanya. Sebaliknya,
pimpinan perusahaan Jepang tidak akan pernah berkata begitu. Sebab "valuing
profits above his employees would destroy his relationship with his
workers". Meraih untung atas pengorbanan buruh melukai hati terdalam
karyawan. Itu sebabnya, komitmen utama perusahaan Jepang bukan kepada pemegang
saham semata, tapi terhadap karyawan. Hanya dengan
cara begini, akhirnya shareholders juga akan beroleh manfaat.
Pilihan kreatif: Minang
mungkin harus menggabungkan "individual dynamism (ID)" yang memberi sumber
"energi" kreatif dan produktif di lingkungan kerja "group dynamics/dynamism
(GD)", seperti team sepakbola. Prestasi
satu/dua orang terkait kepada seluruh team. Sebaliknya, satu untuk semua, dan
tiap orang memberi kontribusi (input) untuk sukses team. Dari pertandingan,
juara menghormati team yang kalah, karena nilai prestasi sang juara juga
banyak ditentukan oleh mutu lawan tandingnya. Tinggal --
bagaimana merumuskan definisi operasionalnya dalam mekanisme
'input--process--output--feedback--reprocess' untuk menyempurnakan output
dalam suatu organisasi kerja dan bisnis berdasarkan gabungan ID dan GD.
Rumusan kultural Acuan budaya tetap
relevan sebagai rangkaian makna dan nilai yang melekat pada setiap orang.
Karena kultur adalah kerangka kerja yang memberi kita "bagaiman hidup harus
dihidupi.' Kultur menghimpun "nilai, norma, etika, moralitas" yang memberi
ciri pada perilaku dalam membedakan salah dan benar, adil atau zalim.
Persaingan organisasi kerja di Barat disikapi melalui "persaingan, tantangan,
konfrontsi dan situasi konflik" yang menghasilkan "winners take all."
Tapi
organisasi bisnis dan kerja di Timur bekerja berdasarkan visi "Fair
Share" dengan jalan "mencari kompromi, akomodasi, dan konsensus."
Lee
Kuan Yew (Singapore) dan Mahathir Mohammad (Malaysia) paling gigih
mengembangkan pola 'Fair Share" melalui politik 'Look East' (Belajar ke Timur)
untuk mengembangkan ekonomi dan SDM. Dua tokoh ini
pula yg paling gigih mendahulukan pengembangan SDM pada periode awal
pembangunan tahun 1970an. Lee terus menerus memprovokasi pelajar dan mahasiswa
agar jadi "Be the Best" (Jadilah yang terbaik!).Di setiap perusahaan modern,
pasti ada SDM lulusan universitas Singapura. Mahathir menyediakan
bea siswa bagi belasan ribu warga mudanya untuk studi lanjutan studi ke
berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Sementara itu,
pada masa yang sama, Indonesia tidak secara sistematis dan terprogram memacu
SDM karena pimpinan negara, instansi, perusahaan, bahkan sebagian perguruan
tinggi (dosen, dekan,dsbnya), melihatnya sebagai "membesarkan anak harimau",
"berbahaya", melahirkan "matahari kembar." Banyak kasus orang-orang berbakat,
berpotensi, akhirnya "meradang", melepaskan diri, pergi atas resiko
sendiri. Bagi orang
Minang, pilihan tidak bisa lain. "If you do not look and plan ahead,Minang
will be left behind!" Jika tidak merancang dan berbuat dengan visi dan
misi jauh ke depan, Minang akan tertinggal kereta.Ibarat 'timun
bungkuak', masuk tak dihitung, dibuang pun tak dihiraukan orang.
Apa begitu maunya ? Pilihan bijak,
kreatif, kritis, tapi tetap rendah hati, adalah menjadi "the best",
bermitra dengan siapa saja, jadi "terbaik" di lini, bidang, profesi
masing-masing, berdasarkan prinsip "fair play" dan "fair share". Syukur bisa
jadi teladan bagi etnis lainnya, dan 'Rahmatan lil-Alamin'!.
One
BIG human step to the moon began with a series of small steps on Earth.
Langkah BESAR menuju bulan dimulai dengan berbagai langkah kecil di bumi.
Sunnatullah-Nya begitu! "I've done my
modest part." Giliran Anda, rekan-rekan dan dusanak, memberi kontribusi
ikhtiar. Selamat kepada semuanya. God bless you, Minang's "thinkers, planners,
doers". (AR). ________________________________________________________
Salam hangat dari rekan-rekan
di: Lembaga Kajian dan Pemberdayaan
Masyarakat Yayasan Imam Bonjol
Jalan Walang Baru VII A No.7,
Jakarta 14260 Telephone: (62-21) 430.6813. Fax & Voice mail: (62-21)
430.6811 Pengurus: Aswin Jusar, Ketua:
<[EMAIL PROTECTED]> M.C. Baridjambek, Sekretaris:
<[EMAIL PROTECTED]> Darmasyah Darwis, Bendahara:
<[EMAIL PROTECTED]> Anggota:
Abdul Razak, M.Sc.(PR &
R&D) : <[EMAIL PROTECTED]> Dr.Ir.Suheimi Nurusan (Pendidikan SDM)
:<[EMAIL PROTECTED]> Ir.Ridwan M.Risan (System development/
management) :<[EMAIL PROTECTED]> Excecutive Voluntary
Club Drs Asmun A. Syueib,MA
:<[EMAIL PROTECTED]> Chairil Anwar,S.E.:
<[EMAIL PROTECTED]> Risda Djambek:
<[EMAIL PROTECTED]> __________________________________________________
|