Sejak Tahun 1984 sampai akhir Januari 2002 yang lalu karena pekerjaan saya banyak bepergian ke sejumlah kota provinsi, kabupaten dan kecamatan, tetapi belum ke Padang dan kota-kota lainnya di provinsi Sumbar. Di Pulau Sumatera saja misalnya, saya sudah pernah mengunjungi kota-kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Bandar Lampung, tetapi---ya itu---Padang dan kota-kota lainnya di Sumbar dilewati saja.
Dan awal pekan yang lalu bersama dua orang rekan sekerja saya bertugas ke Sumbar---terakhir saya kunjungi tahun 1995 untuk urusan keluarga---mengelilingi �poros� Padang, Pariaman, Lubukbasung, Maninjau, Bukittinggi (di kota yang sangat asri ini kami menginap semalam) dan kota kelahiran saya Padangpanjang lalu kembali ke Padang. Tetapi ini bukan cerita nostalgia. Ini berkenaan karena minat---dan pekerjaan saya yang berhubungan dengan desentralisasi dan otonomi daerah (desotda). Seperti apa perkembangan Sumbar setelah satu tahun diberlakukannya UU 22 dan 25/99? Seperti apa Sumbar, yang dikatakan sebagai provinsi yang paling siap dalam pelaksanaan desotda, Padahal Sumbar bukan daerah yang kaya SDA. Padahal dalam banyak hal Sumbar tidak banyak berbeda dengan provinsi lain, seperti Golkar yang �berhasil� menyauk suara 94% dalam Pemilu Tahun 1997 atau cerita adanya busung lapar di beberapa tempat, serta cerita KKN yang tidak kalah �seru� dibandingkan dengan provinsi lain. Memang pada pada suatu sisi Sumbar dikenal sebagai daerah---meminjam Emil Salim---kawasan �industri otak�. Memang masyarakat Minang dikenal sebagai masyarakat yang egaliter, demokratis, partisipatif dan Islamis (adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabulah). Memang masyarakat Minang dikenal mempunyai pranata sosial yang kuat dalam bentuk lembaga nagari Tetapi itu dulu! Lalu apakah semuanya itu dapat dikembalikan---termasuk memfungsikan lembaga nagari yang Perdanya sudah ada---dengan adanya desotda dalam sekejap seperti membalik telapak tangan? Kalau membaca koran, dengan dibangunnya kembali lembaga nagari, beberapa kemajuan memang sudah dicapai, tetapi cerita miring juga tidak kurang (termasuk dari yang saya baca di koran-koran lokal selama empat hari saya berada di sana) Dan saya tidak perlu menunggu lama. Baru keluar dari Bandara Tabing, saya langsung �ditodong� oleh seorang pengamen, suatu hal yang belum pernah yang saya alami di bandara-bandara lain di Indonesia, termasuk di Bandara A. Yani di Semarang yang dalam empat bulan terkahir ini sering saya kunjungi. Tetapi kesan tidak enak tersebut mulai berubah setelah saya dkk ke luar kota Padang keesokannya dalam perjalanan ke Pariaman dan kota-kota tujuan lainnya. Hujan besar yang sudah hampir dua pekan tidak turun, memingkinkan kami menikmati alam Sumbar yang indah, bersih dan tidak mencitrakan sebuah kawasan yang berkurangan secara ekonomi. Rekan saya, yang termuda, sebut saja Anto---seorang sarjana ternik lingkungan dan pengusaha realestat yang cerdas---yang beristerikan seorang perempuan Minang dan sering mengunjungi Sumbar, adalah yang paling ceria, dan sangat bangga akan Sumbar, lebih dari pada saya. �Alam Sumbar tidak kalah cantiknya dari Bali� ujarnya berkali-kali, suatu hal yang sulit dibantah (saya terakhir mengunjungi Bali bulan Agustus tahun lalu), lebih-lebih ketika kami meliwati kelok empat-puluh empat yang terkenal itu di mana danau Maninjau menghampar di bawahnya. �Spetakuler�, seru Anto berkali-kali. Tetapi Sumbar tidak hanya punya danau Maninjau. Masih ada ngarai Sianok, danau Singkarak, danau kembar Diatas dan Dibawah yang dilewati jalan raya Padang-Solok, dan lain-lain, hutan yang masih asri dan lestari. Sumbar juga punya prasarana jalan raya yang relatif cukup dengan kualitas yang baik, tetap mulus walaupun Sumbar tidak bebas dari hujan lebat dan banjir. Minangkabau juga punya budaya yang khas yang antara lain tercermin dari arsitektur bangunannya. Nilai-nilai luhur dari Agama Islam yang dianut 99% orang Minang---walaupun belakangan ini tergerus juga oleh modernisasi dan kecintaan yang berlebihan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi---menyebabkan orang Minang---sesuai dengan watak Islam yang sesungguhnya---toleran terhadap penganut agama lain. Nyaris tidak pernah ada gangguan terhadap tempat peribadatan, aset dan keselamatan dan penganut agama atau etnis lain. Tidak mengherankan, sewaktu aksi-aksi demo anti AS marak di berbagai tempat di Indonesia, Sumbar tidak termasuk kawasan yang oleh Kedubes AS di Jakarta yang tidak dianjurkan untuk dikunjungi oleh warga AS. Tentu tidak bisa diabaikan pula makanannya yang khas dan enak serta sudah go international. Ketika rekan saya yang lain---mantan birokrat---dengan sedikit �prihatin� mengatakan bahwa dari hampir dari Rp 200 M APBD Kabupaten Padang Pariaman hanya Rp 3 M yang berasal dari PAD, sehingga Kabupaten Padang Pariaman sangat tergantung kepada DAU, sembari terkekeh Anto menjawab, bahwa yang �miskin� adalah Pemdanya, tetapi rakyatnya makmur, kesan yang sukar dibantah dengan melihat kondisi rumah disepanjang jalan yang kami lewati, sangat berbeda misalnya dengan kondisi yang saya lihat di sepanjang jalan Pekanbaru-Duri di Provinsi Riau yang kaya minyak walaupun dalam kasus Sumbar, hal itu antara lain berkat kiriman uang yang teratur dari para perantau Minang yang tersebar di Nusantara dan Mancanegara. Malah Anto yang berasal dari Jawa Tengah dan sekarang tinggal dengan keluarganya di Bintaro, dengan setengah bergurau berkata, kalau Sumbar atau Sumatera menjadi �negara merdeka� maka dia akan memilih �kewarnegaraan� isterinya dan pindah ke Padang. Lalu Anto dengan lancar menguraikan sejumlah potensi daerah Sumbar yang bisa dikembangkan, khususnya di bidang industri parawisata, termasuk memindahkan Bandara Tabing yang waktu ini landasan pacunya pendek sehingga tidak dapat didarati pesawat berukuran jumbo serta dalam kondisi angin dan cuaca tertentu sukar untuk didadarati pesawat, sehingga pendaratan terpaksa dipindahkan ke Bandara Simpangtiga Pekanbaru atau Bandara Polonia Medan. Menurut Anto, jangan jadikan Sumbar daerah industri, karena hal ini bisa merusak lingkungan termasuk hutan yang kondisi dan kelestariannya waktu ini secara umum dan kasat mata jauh lebih baik di bandingkan dengan provinsi lain. Memang Sumbar dengan semua potensi alam, infrastruktur dan sosial memenuhi semua syarat untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata yang tidak kalah dengan Bali atau sejumlah kawasan wisata terkenal lainnya di nusantara dan mancanegara, serta secara bertahap mengurangi ketergantungan kepada DAU serta kiriman dari para perantau. Tentu persolaannya---sesuatu hal yang �klasik� ialah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi realitas. Ini tentu merupakan pekerjaan besar serta memerlukan adanya strategi pada level nasional, regional dan lokal yang jitu, serta didukung oleh Pemda yang menerepakan prinsip-prinsip-prinsip �good governance� Sumatera belum habis memang, tetapi untuk tetap eksis dan berkembang di waktu yang datang diperlukan pekerjaan besar. Sumbar tidak kekurangan cerdik pandai untuk melakukan hal ini. Yang penting kesungguhan dan sifat yang mendahulukan tujuan jangka panjang ketimbang kepentingan sesaat atau yang bersifat �ad hock�. Salam, Darwin RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

