|
Assalamu'alaikum wr.wb,
Ambo jadi ragu apo nan manulih di surau iko urang
minang atau bukan, kalaulah urang minang, iyo lah tabedo bana pamikiran urang
minang kiniko.
----- Original Message -----
Sent: Saturday, February 09, 2002 12:28 PM
Subject: [surau] Islam Liberal membuat saya mau muntah!
Islam Liberal membuat saya muntah.pikirannya kok kayak anak kecil.apa memang
karena pinternya ngikut dan makannya kayak wong kafir makanya seperti
itu?=============================================JIL:
Kebebasan yang Kebablasan Semangat
dan kesadaran umat untuk menerapkan syariat Islam kini menghadapi tantangan
serius dari Jaringan �Islam Liberal� (JIL). Meski dibungkus dengan kemasan
�ilmiah� yang memukau, sesungguhnya gagasan sekularisasi mereka sangat rapuh.
Kesesatan dibalut kebebasan?
Sore itu, Selasa(8/1) Aula Pesantren Tinggi
Al-Husnayain, Pekayon, Jakarta Timur tampak mempunyai kesibukan ekstra.
Sejumlah ulama, aktivis dakwah, penulis dan wartawan muslim berkumpul. Mereka
menggelar diskusi serius seputar Jaringan �Islam Liberal�.
Acara
tersebut, menurut shahibul bait, KH Khalil Ridwan terselenggara atas desakan
berbagai kalangan yang merasa gerah dengan kian gencarnya kampanye
sekularisasi yang dilancarkan JIL. Berbekal dana yang cukup, mereka
memanfaatkan jaringan surat kabar, jaringan radio, penerbitan bookleet dan
website.
Itulah sebabnya, menurut Ketua Badan Koordinasi dan
Silaturrahmi Pondok Pesantren Seluruh Indonesia (BKSPPI) tersebut, pertemuan
itu merupakan ajang urun-rembuk para ulama dan aktivis dakwah untuk menyamakan
pandangan dan sikap dalam mengantisipasi propaganda yang membahayakan
keyakinan umat itu. �Kalau kita biarkan, maka korbannya adalah masyarakat
awam. Secara perlahan akidah mereka mengalami pendangkalan yang berakhir
dengan kesesatan,� tandas Khalil Ridwan. Hal senada disampaikan Sekjen KISDI
Adian Husaini, yang juga salah seorang pemrakarsa pertemuan itu. �Karena
mereka telah melakukan kampanye secara serius, maka kami menghadapinya secara
serius pula.�
Pernyataan Khalil dan Adian tampaknya mewakili
kegeraman sejumlah kalangan. Terutama mereka yang selama ini dianggap JIL
sebagai kaum fundamentalis Islam. Pasalnya, dalam website-nya (Islamlib.com),
mereka menyatakan secara blak-blakan bahwa kemunculan JIL dipicu oleh
bangkitnya ekstremisme dan fundamentalisme agama. Indikasinya, menurut mereka,
antara lain munculnya kelompok dan media Islam militan, perusakan gereja,
penggunaan kata jihad untuk mengesahkan memerangi agama lain serta menjamurnya
partai-partai yang berasas Islam.
Dalam wawancaranya dengan
majalah Tempo edisi 30 Desember 2001, salah seorang penggagas JIL, Ulil Abshar
Abdalla, menyebut dengan jelas kelompok yang dimaksudnya sebagai Islam
militan. Mereka adalah kelompok yang selama ini getol memperjuangkan isu
penerapan syariat Islam seperti Laskar Jihad, Partai Keadilan serta sejumlah
partai Islam di parlemen.
Menurut Ulil dan kawan-kawan, tuntutan
kalangan militan untuk penerapan syariat Islam itu sangat kontraproduktif.
Pasalnya, akan terjadi kerancuan antara wilayah privat dan wilayah publik.
Menurut mereka, dalam kehidupan pribadi, agama memang memegang peranan.
Sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat, agama sekadar memberikan inspirasi.
Intinya adalah sekularisasi, memisahkan secara tegas antara agama dan
kehidupan negara. �Negara sekuler lebih utama daripada negara Islam ala
fundamentalis. Karena dia menampung energi keshalihan dan kemaksiatan
sekaligus,� tandas Ulil.
Ironisnya, ketika dikonfirmasi lebih lanjut
ihwal pernyataannya tersebut, Ketua Lakpesdam NU itu, terkesan bimbang.
�Sekarang ini, yang terbaik adalah negara sekuler. Negara yang memisahkan
antara agama sebagai tindakan privat dan negara sebagai wilayah publik.
Hubungan agama dengan negara adalah hubungan antara ruh dan jasad. Jadi agama
adalah semangat dan negara sekuler adalah jasad,� tandasnya kepada
SABILI.
Tampaknya Ulil lupa, jasad dan ruh memang dua hal yang berbeda.
Tapi memisahkankan keduanya akan menimbulkan petaka kematian. Karena itu,
dengan logika yang sama, mayoritas umat Islam yakin bahwa memisahkan antara
agama dan negara hanya akan melahirkan kehancuran. Di samping logika,
untuk memperkuat gagasan sekularisasinya, Pemimpin Redaksi Jurnal Tashwirul
Afkar itu tak lupa menyitir dalil. Menurutnya, satu-satunya hadits yang
menyuruh umat Islam mencontoh tindakan Nabi hanyalah pernyataan Rasulullah,
�Shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat.�
Implikasinya,
kata Ulil, dalam bidang ritual, umat Islam memang hanya meniru Nabi hingga ke
detail-detailnya. Tapi dalam segi-segi kehidupan lain, Nabi sama-sekali tak
pernah menganjurkan untuk meniru mentah-mentah. �Tak ada hadits yang
mengatakan, �Susunlah model kemasyarakatan sebagaimana model yang pernah aku
laksanakan�,� jelas Ulil.
Tak hanya itu, di harian Jawa Pos edisi
Minggu (2/12/01), dengan sinis Ulil pun menyindir kalangan �fundamentalis�
yang menjadikan Rasulullah saw benar-benar sebagai anutan. �Kaum fundamentalis
Islam dalam pandangan saya, tidak mengemban beban sejarah dengan baik, karena
kehendak mereka hanya diarahkan untuk membuat replika dari sejarah Muhammad
dengan mengabaikan sejarah progresif. Alangkah mudahnya menunaikan beban
sejarah itu sendainya kita hanya meniru �eksemplar� Nabi. Alangkah mudahnya
kalau kita sekadar menjadi imitator.�
Tafsiran Ulil tersebut
menurut Adian Husaini, sudah sangat ngawur. Ulil seperti menutup mata pada
sejumlah nash al-Qur�an dan hadits yang mewajibkan umat Islam menjadikan
Rasulullah sebagai panutan. Untuk itu Adian mengutip ayat 31 surah Ali Imran.
�Katakanlah (Muhammad),�Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.� Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.�
Jika agama dan negara telah dipisahkan, maka
jangan harap syariat Islam bisa diterapkan. Bahkan, Dr. Moeslim Abdurrahman,
kontributor JIL di Jawa Pos (16/9/01), mengatakan, ketika syariat Islam
diterapkan, maka ada tiga pihak yang dikorbankan. Pertama, kaum perempuan,
karena harus menerapkan hijab. Kedua, kelompok non muslim yang akan menjadi
warga kelas dua. Dan korban ketiga adalah adalah orang-orang miskin, karena
rentan melakukan pencurian.
Sekjen Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) sangat
keberatan dengan tuduhan Moeslim. Menurutnya, ajaran Islam sesungguhnya sangat
inklusif dan toleran. Karenanya kaum muslimin tak pernah menolak keragaman dan
senantiasa menghargai setiap perbedaan. Tak ada alasan bagi siapapun untuk
khawatir, kalau syariat Islam diterapkan. Jangankan mengorbankan kaum
perempuan dan orang-orang miskin, justru di dalam syariat Islam hak-hak
kalangan non muslim akan mendapatkan jaminan perlindungan. Sebaliknya Ketua
KISDI itu pun mengingatkan bahwa tuntutan penerapan syariat Islam adalah hak
asasi kaum muslimin yang tak boleh diabaikan. �Islam itu sangat menghargai
pluralisme dan inklusivisme. Kalau sekarang kalangan �Islam liberal� ingin
menampilkan Islam yang lebih pluralis, maka yang bagaimana? Bukankah Islam
selama ini sudah cukup pluralis di Indonesia. Tapi sekarang yang sedang
diperjuangkan adalah hak asasinya untuk menerapkan syariat Islam di Aceh,
Sulsel, Cianjur dan sebagainya. Hal ini adalah bagian dari demokrasi,�
ujarnya.
Da�i kharismatis ini pun memperingatkan agar kalangan
JIL mampu menilai kelompok Islam yang kadung mereka sebut gerakan radikal itu,
secara jujur dan obyektif. Siapa sesungguhnya yang memancing benturan sehingga
menghancurkan hubungan antarumat beragama yang sebelumnya penuh toleran.
Jangan sebaliknya, dengan dalih toleransi dengan kalangan non muslim justru
mereka menempatkan saudara seagama secara berhadapan. �Kalau tujuannya
untuk menghadapi Islam yang dianggap radikal, hendaknya teman-teman di JIL itu
jujur melihat. Umpamanya dalam peristiwa Maluku dan Ambon, itu akibat dari
satu sebab. Teman-teman di JIL agar menelusuri siapa yang memulai peristiwa
Ambon dan Poso. Siapa yang disebut kalangan garis keras. Jangan sampai
teman-teman yang ikhlas berkorban untuk menegakkan agama digolongkan garis
keras. Kalau DDII dianggap sebagai garis keras, kita tidak keberatan. Kalau
ukurannya menegakkan yang hak, kami akan tetap istiqomah. Yang hak itu hak dan
yang batil itu batil,� tambahnya.
Bagaimana pandangan JIL tentang
amar ma�ruf nahi munkar? Komentar A Sahal yang juga penggagas JIL terhadap
tuntutan penutupan hiburan di bulan Ramadhan yang dimuat Jawa Pos (18/11/01)
tampaknya bisa menjelaskan. �Saya melihat tuntutan menutup tempat hiburan di
bulan Ramadhan adalah satu simptom, suatu gejala dari kecenderungan pemimpin
Islam dan juga para khatib Jum�at yang pandangan keagamaannya sangat harfiah
dan kaku dalam melihat teks agama, tapi tanpa dibarengi dengan pengetahuan
yang memadai tentang kenyataan itu sendiri. Jadi, kalau ada ajaran amar ma�ruf
nahi munkar, mereka main larang saja. Tanpa ambil pusing dengan kompleksitas
persoalannya. Tanpa mau tahu apakah tindakan main larang itu akan efektif
untuk menyelesaikan persoalan atau justru kontraproduktif,� tandas
Sahal.
Alumnus pondok pesantren Futuhiyyah Mranggen ini mengajukan
sebuah alasan, �Kalau semua tempat hiburan ditutup, sementara kita hidup dalam
masyarakat yang bermacam-macam agamanya, bagaimana dengan hak non muslim untuk
mendapatkan hiburan? Kalau kalangan umat Islam menuntut toleransi pihak lain
untuk menghormati mereka yang berpuasa, kenapa umat Islam tidak toleran
terhadap hak-hak masyarakat agama lain yang tak punya kewajiban
puasa?�
Meski terasa pedas, Ketua Front Pembela Islam Habib Rizieq
Shihab menanggapinya dengan dingin. �Kalau kita meladeni mereka secara
berlebihan, itu merupakan propaganda mereka. Artinya, sama saja dengan iklan
gratis,� katanya lantang.
Menurut Rizieq, akar pemikiran Islam
liberal itu sesungguhnya adalah pendewaan terhadap akal. Pada masa silam, ia
menyebut gaya berpikir liberal seperti itu pernah dicontohkan oleh kalangan
Mu�tazilah. Bedanya, bagaimana pun rasionalnya, kata Rizieq, Mu�tazilah masih
memiliki rambu-rambu. �Mu�tazilah itu punya rambu-rambu. Sedangkan JIL
tampaknya terjun bebas. Jadi Islam mereka itu, bukan Islam kebebasan melainkan
kebablasan. Karena kalau bicara kebebasan, Islam tak pernah mengekang umatnya.
Syariat Islam itu bukan untuk mengekang hamba-Nya, tapi untuk kemaslahatan dan
kebahagian mereka,�imbuhnya.
Rizieq tampaknya tidak mengada-ada. Hal
ini bisa dilihat dari pernyataan salah seorang kontributor JIL, Haidar Bagir,
yang dimuat Jawa Pos (30/12/01). Ia menyebut akal sebagai rasul di dalam diri
manusia sebagaimana rasul merupakan akal di luar diri manusia. Tesis tersebut
menurut Haidar merujuk pada hadits Rasulullah. Sayangnya, ia tak menyebut
secara jelas hadits mana yang dikutipnya dan dalam konteks apa Rasulullah
menyampaikannya.
�Kalau kita membaca al-Qur�an, dengan sangat
tegas ayat-ayatnya memberikan penghargaan kepada independent reasoning
meskipun dengan tidak memutlakkannya. Tapi saya kira seorang pembaca al-Qur�an
yang baik pasti mampu melihat itu. Bahkan, kalau saya kutip sebuah hadits,
dikatakan bahwa akal itu adalah rasul dalam diri manusia, sementara rasul
adalah akal di luar diri manusia. Sesungguhnya wahyu yang dibawa para rasul
itu membawa kita ke satu titik yang akal juga bisa membawa kepadanya,� tutur
Haidar.
Pendapat yang lebih radikal justru dilontarkan oleh Ulil
Abshar. �Setelah wafatnya Rasulullah, maka tak ada sumber kebenaran yang
paling bisa dipegang kecuali akal manusia. Jika akal salah maka akan dikoreksi
oleh akal yang lain.�
Konsekuensinya, setiap nash al-Qur�an dan Sunnah
senantiasa dipahami dengan pendekatan logika. Mereka tak mau memahami nash apa
adanya. Termasuk dalil-dalil yang dikategorikan para ulama sebagai qath�iy.
Misalnya tentang hukum potong tangan. Menurut Ulil, yang qath�iy adalah
esensinya, yaitu keadilan. Sedangkan bentuk hukumannya, disesuaikan dengan
metode yang berkembang pada zamannya. Kalangan �Islam liberal� melihat hukum
potong tangan sebagai tradisi penduduk Arab yang masih nomaden. Cara berpikir
mereka saat itu sangat praktis. Karenanya, menurut mereka kini hukuman seperti
itu tak bisa dipertahankan lagi.
Penafsiran yang sama, dilakukan
atas makna hijab bagi kalangan perempuan. Bagi �Islam liberal�, hijab tidak
selalu harus diartikan dengan jilbab, tapi kehormatan. �Jilbab itu tidak
harus. Yang diharuskan adalah menjaga kehormatan. Dan terjemahan itu bisa
fleksibel sesuai dengan adat masing-masing kaum atau masyarakat,� kata
Ulil
Adian Husaini, melihat penafsiran seperti itu sangat rapuh.
Tak ada satupun rujukannya dalam nash maupun khazanah pemikiran ulama-ulama
Islam masa silam. Penalaran yang mereka kemukakan terkesan sekenanya karena
tak paham sistem. �Itu terlalu jauh. Yang namanya syariat itu maknanya hukum,
bukan moral. Sedangkan hukum itu harus dilembagakan. Tak ada satu pun ulama
mazhab yang memaknai kalimat faqtha�uu aidiyahumaa itu selain potong. Saya
lebih percaya pada ulama-ulama terdahulu. Hadits-hadits Rasulullah sudah
jelas, kok. Kapan, kenapa dan bagaimana seorang pencuri itu dipotong
tangannya. Kalau seorang terpaksa mencuri karena lapar, dia tak akan dijatuhi
sanksi. Malah akan disantuni.� Tak heran kalau Adian melihat
gerakan-gerakan sekularisasi itu sesungguhnya merupakan bagian dari upaya
untuk menundukkan umat Islam. Lihat saja jargon-jargon mereka persis seperti
yang dipakai kalangan Barat. �Yang membahayakan hegemoni Barat adalah kalangan
yang ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah. Bayangkan kalau sebuah
negara mampu menerapkan sistem politik, hukum dan ekonomi Islam. Barat akan
cemas karena tidak akan lagi tergantung pada produk-produk mereka. Mereka bisa
goyah.�
Walau demikian Adian yakin, bahwa pada akhirnya kalangan
�Islam liberal� itu, akan bosan dengan pemikiran mereka sendiri. Pasalnya
mereka tak menemukan kerangka pijakan yang jelas dan kuat untuk beragama.
�Akhirnya, aturan apa yang mereka pakai. Mereka menikah menggunakan hukum apa.
Toh akhirnya akan kembali ke syariat Islam lagi.�
Kerapuhan �Islam
liberal� juga diakui oleh Rizieq Shihab. Karena itu bagaimanapun canggihnya
kampanye mereka, FPI akan bisa mengatasi. �Kita keluar masuk desa dan
turun-naik gunung. Sekali tabligh bisa menyedot 10.000-an orang. Itu media
yang kita punya. Kita tak punya koran dan radio karena tak punya dana. Tapi
kita punya panggung dakwah yang lebih interaktif lebih dari radio dan koran.
Kita bisa bertatap wajah, bersalaman, berpelukan dan berdialog dengan umat.
Itu jauh lebih efektif. Insya Allah da�i-da�i FPI akan terus keluar masuk
kampung. Kita kampanyekan anti liberalisme dan AS. Saya telah cukup menarik
nafas di bulan Ramadhan,� tantangnya.
Senada, bagi Ketua Departeman
Penerangan Majelis Mujahidin, Fauzan Al-Anshari, kerapuhan �Islam liberal�
janganlah sedikit pun mengurangi kewaspadaan. Perlu upaya serius untuk
mengcounternya. �Bagaimanapun ghazwul fikri (perang pemikiran) itu sangat
berbahaya. Mereka tak sekadar melahirkan kerancuan tetapi sudah melakukan
action. Apalagi lawannya sama-sama muslim. Mestinya kita juga membuat jaringan
seperti mereka,� ujarnya menawarkan solusi.
Tawaran Fauzan tampaknya,
perlu ditindaklanjuti serius. Apalagi yang dihadapi adalah sebuah jaringan
yang memiliki fasilitas media dan dukungan dana yang cukup dari lembaga
internasional sekaliber Asia Foundation. Saatnya umat Islam menggalang
kekuatan, memperkuat basis intelektual untuk menumbangkan kesesatan yang
dibungkus dengan kemasan �ilmiah�.
Misbah
ARBIANSYAH IBNUL HASYIM
Mubarrak Muslim Camp (MMC) Jl.Patenggangan 10H ATB AIR TAWAR
PADANG www.geocities.com/arbidacrow www.geocities.com/rohis_teknik
Do You Yahoo!? Send FREE Valentine eCards with Yahoo!
Greetings!
| Yahoo! Groups
Sponsor |
ADVERTISEMENT
;) | |
;) | Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan <AL HASYR
(59:18)>
========================================================================= Alamat-alamat
e-mail Surau: Mengirimkan
artikel/opini :
[EMAIL PROTECTED] Mendaftarkan
diri
: [EMAIL PROTECTED] Mengundurkan diri
sementara :
[EMAIL PROTECTED] Kembali
aktif
: [EMAIL PROTECTED] Mengundurkan diri
selamanya :
[EMAIL PROTECTED] Kontak
Admin
: [EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups
is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
|