"Hi uncle Edi!!! It's a BOY!!! Jesse C. Klaasen was born on January 28, 
2002 and is a perfect little bundle!! ....." (dikarek).

Begitu awal imel seorang kemenakan yang tinggal di Michigan. Berita suka 
cita ini juga melahirkan perasaan lain yang tidak bisa saya kesampingkan. 

Si Jesse itu menambah kehadiran penduduk dunia yang sudah meledak 
melebihi 6 milyar dengan 1,3 juta penganut Islam. Bumi keletihan menyusui 
nyawa yang sudah terlalu banyak ini. Misalkan Samuel Huntington batal 
meramalkan benturan peradaban Barat dengan peradaban Islam, toh 
orang-orang yang hidup dalam napas yang sama sekalipun akan saling 
sikut-menyikut demi kelangsungan hidup mereka, demi kenyamanan hidup 
mereka, demi memuaskan ego mereka.

Persaingan hidup sudah menempatkan orang-orang dalam kelompok yang 
ekstrim. Yang berpunya (intelijensia, uang, informasi) akan terus maju 
mobilnya dan yang bukan harus menarik gerobak reotnya dengan tingkat 
kehidupan rendah yang memilukan.

Negara Barat serta negara industri maju lainnya relatif sudah menyusut 
percepatan laju pertumbuhan penduduknya, sedangkan pasangan di Jepang 
dewasa ini hanya memiliki anak rata-rata 1,39 orang. Sementara itu, orang 
di Indonesia yang kepayahan membesarkan anak memiliki industri pelahiran 
anak yang bukan main majunya. 

Maunya saya melihat orang tidak beranak lagi dan mengadopsi anak yang 
sudah terlahir malang di dunia ini tanpa peduli apakah mereka itu orang 
Minang, Cina, Afrika, dan sebagainya. Kalau tidak mau mengadopsi anak, 
cukuplah punya anak seorang dan merogoh koceknya menyelamatkan orang yang 
kelaparan di sana-sini. Tetapi, saya ragu adakah 0,1% orang yang 
berprinsip hidup seperti itu.

Salju luruh lagi di Nihonmatsu melahirkan pemandangan yang sangat buram, 
pemandangan yang mewakili masa depan umat manusia.

e


Barata,

Sangkaan saya sudah hilang Anda diterkam cindaku atau dilarikan orang 
bunian ke puncak Gunung Merapi sana. Ke mana saja selama ini Anda 
berkirap?

>From: "Barata Dewa" <[EMAIL PROTECTED]> MIME-Version: 1.0
Subject: RE: [MinangNet] Zaman Dijital (5) 
>
>Zaman Dijital (5)
>
><<<<<<<<<Misalkan Anda hendak menyampaikan berita kepada sanak saudara 
>yang isinya sbb: "Kapatang ko Mak Garang nan suko berang-berang tajangkang 
>tainjak kulik pisang. Kapalonya badangkang tibo di dindiang dan boco. Inyo 
>bacaruik pungkang ka suok ka kida ka muko ka balakang. Hargo dirinyo nan 
>tinggi manyababkan inyo indak amuah dianta dan pai surang ka puskesmas. 
>Kapalonyo nan boco tu ditumbok jo perban dek pak mantari. Inyo lai 
>sehaik-sehaik sajo kini ko.">>>>>>>>>>>>>
>
>Ha..ha...Ah kau Edizal, bisa saja, bisa saja membuat aku 
>terpingkal-pingkal di rembang petang menuju magrib ini.Kau tahu, setelah 
>tertawa diapragmaku terasa sejuk sampai aku lupa memperhatikan bahwa kau 
>masih seja cemas tentang nasib orang Minang yang mutu kehidupannya 
>tertinggal jauh dari sudara satu spesiesnya yang terletak belahan bumi lain.

Adakah sifat cemas melihat "korban peradaban" merupakan suatu rahmat atau 
kemalangan? Saya yakin Anda juga punya sifat yang satu ini. 

>Sadarilah kawan, selama kegiatan pergi merantau masih menjadi kebanggaan 
>bagi orang Minang, selama itu pula kau tak akan berhenti cemas.Bagaimana 
>mungkin Minangkabau bisa maju kalau SDM-nya terus mengalami defisit karena 
>penduduknya kebanyakan lebih suka marantau cino,sekali pergi ogah kembali. 
>Ambil saja contoh dirimu.

Di negeri sakura ini, sobat, masih ada harapan. 
Di Ranah Minang? 
Lihat! 
Bini saya yang sedang memasak sambalado di sana tersenyum pahit sambil 
menggeleng-gelengkan kepala.

>Setelah mendapat pendidikan tinggi dan menikmati banyak 
>kemudahan-kemudahan di negara orang apakah ada niat dalam dirimu untuk 
>kembali dan dengan semangat idealis memabangun ranah minang? Paling-paling 
>hutangmu kepada tanah yang pernah memberimu air dan hasil buminya sehingga 
>terbentuklah Edizal yang bisa beremail ria dengan teleponnya seperti 
>sekarang hanya kamu balas dengan kiriman wesel setiap bulan plus sedikit 
>kepedulian seperti "ikut cemas" seperti yang engkau lakukan sekarang.

Dari wesel yang sedikit tersebut terberi juga makan para fakir miskin dan 
anak asuh saya. Sudah ratusan orang menerima beasiswa yang disumbangkan 
oleh orang tua asuhnya di Jepang, Amerika, dan Eropa. Sudah terbangun SD 
di kampung dan mudah-mudahan dalam waktu dekat terkumpul juga dana 
pembangun gedung SMP. Usaha ini akan terus saya lanjutkan sampai jengkang 
berkalang tanah.

>Setelah itu, anak-anak yang dilahirkan oleh istrimu, yang jelas-jelas 
>mendapat pendidikan yang lebih baik dari dirimu sendiri, akan kah mereka 
>pulang ke ranah Minang? Pakai logika instant saja;pasti tidak. Kalau itu 
>pun dilakukan, apa yang akan mereka lakukan di sana? Mereka sudah tumbuh 
>sebagai anak metropolitan yang mempunyai kebutuhan dan orientasi yang 
>mestinya berbeda dengan orientasimu yang lahir dan besar sebagai anak 
>desa. Okey, kalaupun kau termasuk makhluk Minang yang ideal, dalam arti 
>bahwa engkau mempersiapkan mereka agar tumbuh seperti layaknya anak-anak 
>Minang, apakah mereka merasa bahwa kembali ke tanah leluhurnya yang 
>tertinggal itu cukup berharga untuk di lakukan? Satu kehilangan besar!! 

Putusan tidak punya anak diambil sehabis berembuk dengan bini yang juga 
kuat menyokong ide ini. 
Taroklah 1 JUTA YEN setahun untuk menghidupi SEORANG ANAK sehingga 
diperlukan biaya sekitar 23 JUTA YEN sampai mereka tamat perguruan 
tinggi. Ketimbang punya anak sendiri dan menghabiskan uang sebanyak itu, 
kami lebih senang menggunakannya untuk menyelamatkan anak-anak malang 
yang sudah terlahir di muka bumi ini. Jadi, rutin tidak hanya mengirimkan 
uang ke Indonesia saja melainkan juga ke Amerika Latin, Afrika, dan 
negara Asia lain untuk mereka yang kelaparan. 
Konsekuensinya, tabungan kami hampir tidak ada dan tidak punya mobil. 
Tetapi, sedikit lentera kebahagiaan menerangi kalbu kami.

>Pola ini akan terus berulang. Wesel yang kamu kirimkan ke ranah Minang 
>akan dipakai sebagai biaya pendidikan dasar oleh para kerabatmu. Dan 
>setelah pendidikan dasar itu diperoleh, dan di kampung pun puguno 
>balun,para kerabatmu itu akan mengikuti jejakmu,pergi merantau guna 
>mencari peluang yang tak tersedia di ranah Minang. Begitu seterusnya 
>sampai lahir Edizal-Edizal lain yang meratapi;

Anda betul. Dari sekian ratus penerima beasiswa tersebut sudah banyak 
yang pergi merantau ke tanah Jawa dan tidak balik-balik lagi. Sebagian 
besar tidak pernah mengucapkan terima kasih secuilpun. Tetapi, itu tidak 
apa-apa asal mereka bahagia. Hanya saja yang menyedihkan adalah mereka 
tidak lagi ingat tempat mereka diasuh dan dibesarkan dengan kasih sayang.

>dimana kah letak manusia Minang di zaman dijital ini?

Dari segi teknologi, di bawah ketiak negara maju. 

>Salam,
>Barata

Salam,
Edizal

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke