Assalamualaikum Wr, Wb.
Dunsanak kasadonyo, iko ado artikel tentang Buya Hamka. Mambaco
tentang buya ko, ambo jadi ingek jo salah satu lagunyo Zalmon, lagu
nan bisa manitiakan ayia mato.
Oi... Ranah Minang...
Carikan gantinyo...
Dimuek di Harian Republika, Sabtu tanggal 2 Mar 02.
Semoga ado mamfaatnto bagi awak semua.
Wassalam,
T. Lare
Sabtu, 02 Maret 2002
Mengarang dengan Cinta
Hamka punya kebiasaan tak elok. Dua jari telunjuk tangannya sering
tak bisa tinggal diam, mengetuk-ngetuk seolah-olah sedang mengetik.
Gerakan jari yang tak disadari itu berlangsung tak hanya kala
sendirian, tapi juga terjadi bila sedang menerima tamu, di meja makan
atau dalam perjalanan. Sasaran ketukan ujung telunjuk kadang tangan
kursi, daun meja, piring makan, dan benda lainnya.
Siti Raham, isteri Hamka, tak berkenan pada kebiasaan suaminya. Dia
sertamerta akan menegur bila telunjuk Hamka berulah. ''Lah tibo pulo
akuan Angku Haji,'' gurau isterinya. Akuan adalah sejenis mahluk
halus atau jin peliharaan para dukun. Angku Haji, begitulah sapaan
isterinya kepada Hamka, pun tersipu-sipu bila diingatkan bahwa
ketukan kedua jarinya menandakan tibanya si akuan.
Hamka tentu saja tak berkawan dengan akuan. Namun meski mengetik
dengan dua jari, anaknya Rusydi Hamka mengakui bahwa Buya Hamka mampu
mengetik dengan sangat cepat. Bisa jadi bila saat 'akuan' datang
kepada Hamka disorongkan mesin tik beserta kertasnya bakal tercipta
satu tulisan.
Kecepatan mengetik Hamka berbanding lurus dengan produktivitas
tulisannya yang tinggi. Imaginasinya yang tak henti -- yang sering
memaksa jari telunjuknya menghentak-hentak liar -- terus mendorong
Hamka berkarya hingga senja usianya.
Pada usia belia, 17 tahun, Hamka telah menghasilkan tiga jilid buku
Khatibul Ummat. Mirip penerbitan periodik, buku itu beredar secara
terbatas di kalangan kawan-kawannya di Padang Panjang.
Roman pertama karangannya Si Sabariyah terbit tahun 1928. Ditulis
dalam bahasa Minang dengan huruf Arab Melayu, kisah ini diangkat dari
peristiwa nyata yang terjadi di Sungai Batang yang dibumbui dengan
imaginasi Hamka. Buku ini tiga kali naik cetak. Meski tirasnya masih
kecil karena namanya belum cukup dikenal, Hamka mampu mengongkosi
perkawinannya dengan Siti Raham pada 1929 dari hasil penjualan buku
ini.
Sejak itu pula Hamka menghidupi keluarganya dari dunia penulisan. Dia
lalu memboyong keluarganya ke Medan pada tahun 1936. Bekerja sebagai
redaktur majalah Pedoman Masyarakat, kreativitas Hamka mengalir
deras. Tulisan-tulisan legendarisnya meluncur dalam waktu berdekatan:
Di bawah Lindungan Ka'bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
(1938), Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), Merantau ke Deli (1940).
Dalam sastra modern Indonesia, Hamka memang diakui sebagai penulis
yang produktif. Dalam catatan Rusydi, ayahnya telah membukukan 118
tulisan mencakup bidang sastra, agama, dan filsafat. Di luar angka
itu masih banyak tulisannya yang tersebar dalam berbagai penerbitan.
Tingginya produktivitas Hamka rupanya diimbangi pula dengan sambutan
besar masyarakat pembacanya. Buku-bukunya mengalami cetak ulang yang
terus-menerus. Penggemarnya terus bermunculan, bahkan hingga lebih 40
tahun kemudian. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, misalnya, pada 1979
telah mengalami cetakan yang ke-13.
Pengamat sejarah sastra Indonesia Prof Andries Teeuw menyatakan bahwa
Hamka harus dibicarakan secara khusus. Dalam bukunya Sastra Baru
Indonesia I, Penerbit Nusa Indah, tahun 1980 (halaman 104), Teeuw
menyebut Hamka sebagai ''pengarang yang paling banyak tulisannya
tentang agama Islam, yang juga pernah menghasilkan beberapa buah
karya yang bernilai seni sastra''.
Uraian itu menunjukkan bahwa Teeuw mengakui bahwa Hamka seorang
sastrawan. Tapi pada halaman 107 dia mengatakan: ''Hamka tidak dapat
dianggap sebagai pengarang besar, walau dengan ukuran apa sekalipun;
dari segi psikologi roman-romannya lemah, terlalu bersifat moralis,
dan plotnya sering bersifat sentimental, jika tidak dikatakan
melodramatis. Pretensinya sebagai pelopor kesusastraan Islam di
Indonesia juga telah ditolak bukan saja oleh golongan anti-Islam di
Indonesia tapi juga oleh para pemimpin golongan Islam sesudah
perang''.
Dalih minor Teeuw untuk tak menyebut Hamka sebagai pengarang besar
terkesan na�f. Dalih ''dari segi psikologi roman-romannya lemah,
terlalu bersifat moralis dan plotnya sering bersifat sentimental,
jika tidak dikatakan melodramatis'' jelas mengada-ada. Dia
menggenaralisasi semua roman Hamka lemah. Sastra juga tak mengenal
tebal-tipisnya kadar yang pas agar tidak dicap 'terlalu moralistis'
ataupun 'sering bersifat
sentimental'.
Ihwal pretensi Hamka dan adanya penolakan pun tak ada penjelasan
rinci. Guru Besar Universitas Leiden, Belanda, itu tak menampilkan
data atau fakta penilainnya tentang pretensi Hamka sebagai pelopor
kesusasteraan Islam di Indonesia. Tentang penolakan golongan anti-
Islam ... dan seterusnya patut pula dipertanyakan. Soalnya dunia
sastra terlepas dari masalah suka atau tak suka. Bagi sastrawan yang
utama adalah berkarya. Soal diterima atau ditolak itu urusan
belakangan.
Posisi Hamka yang ulama sekaligus pengarang roman sempat pula
merepotkannya. Para pembaca muslim menolak roman Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Menurut mereka, seorang
ulama tak pantas menulis roman percintaan sekalipun bernafaskan
Islam. Hamka dijuluki kiai cabul.
Hamka lalu membela diri lewat tulisan Mengarang Roman (Pedoman
Masyarakat No 4, 1938). Dia menyatakan tak sedikit roman yang
berpengaruh positif terhadap pembacanya. Hamka merujuk pada roman-
roman 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat yang kolot dan usang,
pergaulan bebas, kawin paksa, poligami untuk kepuasan nafsu seks, dan
bahaya pembedaan kelas.
Serangan lebih keji menimpa Hamka pada paruh awal 1960-an. Tokoh-
tokoh Lekra, organisasi onderbouw PKI, menuduh roman-roman Hamka
sebagai hasil plagiat. Abdoelllah Said Patmadji dalam tulisannya di
Lentera, ruang kebudayaan harian Bintang Timur, dalam bahasa yang
kasar menyatakan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck jiplakan dari
Majdulin, saduran dalam bahasa Arab oleh pengarang Mesir Musthafa
Luthfi Al-Manfaluthi dari buku berbahasa Prancis Sous les Tilleuls
karya Jean Baptiste Alphonse Karr.
Polemik yang kemudian berbau politik ini melibatkan pula Pramudya
Ananta Toer di belakang Abdoellah SP yang difasilitasi Bintang Timur,
Harian Rakyat, Merdeka, dan Antara. Sementara Duta Masyarakat
menyuarakan pihak Hamka yang didukung HB Jassin, Usmar Ismail, Anas
Ma'roef, A Rahim Mufty, Rusjdi, Soewardi Idris, Dra. N Soelaiman dan
lain-lain.
Menurut SI Poeradisastra, memang ada persamaan plot antara kedua
karya yang dipolemikkan itu. Permaan itu, kata dia, menunjukkan
adanya pengaruh besar Manfaluthi terhadap Hamka. Tapi dengan kepala
dingin, Poeradisastra menilai Hamka menulis suatu cerita yang berdiri
sendiri, baru, berdiri sendiri, yang berbeda dengan Majdulin atau
Sous les Tilleuls.
Roman yang diributkan berlarut-larut ini diilhami peristiwa nyata
kapal Van Der Wijck yang tenggelam di sebelah barat Pulau Bawean,
timur laut Semarang pada tanggal 21 Oktober 1936. Kapal itu berlayar
dari Surabaya menuju Jakarta. Dalam rentang waktu yang relatif
pendek, pada 1937 roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck turun
sebagai cerita bersambung pada majalah Pedoman Masyarakat. Tahun
berikutnya Balai Pustaka pun menerbitkan roman itu dalam bentuk buku.
Menulis karya sastra bagi Hamka, di mata SI Poeradisastra, merupakan
ibadah. Dengan sikap jiwa demikian, Hamka lewat karya sastranya
berdakwah atau berkhutbah. Ini menimbulkan konsekuensi tak cukup
memberikan eksistensi otonom terhadap tokoh-tokohnya.
Sedangkan Sides Sudyarto DS membahasakan karya-karya Hamka sebagai
realistis, romantis, dan religius. Dia juga mengagumi kejujuran Hamka
yang menunjukkan pengakuan atas kenyataan dan melukis kenyataan itu
sendiri sebagai objektivitas dan realitas.
Orang sering bertanya kepada Hamka tentang resepnya menjadi pengarang
yang produktif sampai hari tuanya. ''Dasar kepengarangan saya adalah
cinta,'' jawab Hamka singkat.
Rusydi, putranya, menyebutkan bahwa segala yang hal dikerjakan
ayahnya -- entah mengarang, pidato, dakwah, konferensi, sesekali
berpolitik, menjadi wartawan, dan sastrawan -- semata-mata demi
menegakkan keagungan Tuhan dengan semangat cinta.
Lantas apa pula arti cinta bagi Hamka? ''Cinta tertinggi itu kepada
Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Pandanglah alam dengan cinta, dan berjuang dengan semangat
cinta. Dengan begitu Anda akan berbalas-balasan cinta dengan Dia
Pemberi Cinta. Cinta sejati adalah tatkala Anda memasuki gerbang maut
dan bertemu dia, Almautu ayatu bi sadiq,'' katanya.
Dengan semangat cinta pula menjelang ajalnya, dua telunjuk tangannya
terus bergerak-gerak seolah menulis. Afif, putranya, mengamati gerak
jari ayahnya dari kanan ke kiri. ''Buya menulis kata 'Allah','' tutur
Afif. ismantoro
Sabtu, 02 Maret 2002
Teriakan Pagi Buta untuk Anak-anak
''Ki... ki... ki... eee. Di... di... di... eee!'' Teriakan itu masih
akrab di telinga Rusydi Hamka. Bukan nada marah yang terdengar di
pagi buta itu. Bagi anak-anaknya, suara melengking sang ayah, Buya
Hamka, begitu lucu sehingga memancing mereka tertawa, bila terkenang.
Bila tak ada sahutan, Buya akan datang mengetuk pintu kamar. Ia
mengulang teriakan, sampai anak-anak terbangun. Suara itu, kenang
Rusydi, kadang seperti teriakan penjual onde-onde, kadang seperti
lagu penjual serabi atau kue putu.
Begitulah, kata Rusydi, cara Buya membangunkan keluarganya untuk sama-
sama salat subuh di masjid. Ki adalah panggilan untuk Fakhri, anak
pertama Buya. Dan Di adalah sebutan untuk Rusydi.
''Harus saya akui melaksanakan shalat terasa selalu berat. Tak jarang
ada saja di antara kami, anak-anaknya, yang berpura-pura sakit.''
Bila demikian, Buya berkata, ''Oh sakit,'' sambil mengelus kepala
anaknya dengan muka dibuat seserius mungkin. ''Wah sepanas kucing
hidung. Cepat ambil air wudu supaya dingin.''
Tapi bila bujukan tak kena juga, kata Rusydi, timbul keras ayahnya.
''Ada di antara kami kena tempeleng, kalau dianggap sudah waktunya
diperlakukan demikian.'' Buya baru akan mengijinkan anak-anaknya tak
ke masjid, bila mereka benar-benar sakit.
Saat anak-anak memasuki dewasa, setelah duduk di SMA, tak ada lagi
tangan melayang. Tak ada pula pelototan kejam. ''Ayah hanya
memperingatkan dengan suara lemah lembut, dengan sedikit sindiran,
yang membuat anak-anak kadang tersenyum kecut,'' kenang Rusydi.
''Kafir wa'ang nanti (kafir kamu nanti).'' kata Rusydi, meniru
sindiran ayahnya bila melihat anaknya enggan salat.
Kata Rusydi, Buya menanamkan pada putra-putrinya untuk selalu shalat
dan mengaji. Ia sendiri yang menjadi guru dan membimbing anak-anak
membaca dan mengerti isi Alquran. Menimba ilmu setinggi mungkin
memang dianjurkan, salat dan mengaji tak boleh ditinggal, demikian
pesan Buya, kata Rusydi.
Untuk memberi semangat, Hamka berusaha memberi hadiah bila anak-anak
menamatkan Alquran. ''Saya dan abang saya dipotongkan kambing ketika
katam Alquran,'' kata Rusydi.
Hamkapun selalu bertanya kepada anak-anaknya, apakah sudah salat atau
belum, bila mereka tiba di rumah. Bila belum, ia meminta mereka
shalat lebih dulu, baru kerjakan lainnya.
Tak hanya menekankan shalat dan mengaji, Buya pun mengajarkan kepada
anak-anaknya untuk selalu bersyukur kepada Allah swt, untuk semua
yang mereka terima dalam kehidupan.
Ia juga mangajak anak-anaknya selau mengingat kebesaran Allah swt.
Satu yang diingat Rusydi, Buya selalu menyuruh anak-anaknya untuk
sejenak melihat ke langit di timur, saat turun dari tangga Masjid Al
Azhar, ketika pulang usai salat subuh.
''Perhatikan awan di sana. Begitu indah. Paduan warnanya dan
bentuknya selalu berubah. Tak pernah sama setiap hari. Begitulah
keagungan dan kekayaan Allah swt. Maha Pencipta, Maha Pelukis, yang
tak bisa ditiru,'' kata Rusydi, mengenang kata-kata Hamka.
Menurut Rusydi, Buya juga seorang penyayang. Ia mudah tersentuh atas
kesusahan yang dihadapi anak-anaknya. Tapi ia juga bisa berubah
menjadi keras, bila nakal anak-anaknya dianggapnya sudah keterlaluan.
Buya pun tak membeda-bedakan anak-anaknya. Tapi kata Rusydi, boleh
dikatakan ialah yang paling beruntung karena sering mendapat
kepercayaan dari Buya.
Hamka sering memintanya membantu, berkaitan dengan karya-karya
tulisnya. ''Saya sering diminta untuk membaca ulang, mengetikkan
naskah-naskah Buya, sebelum dikirim untuk dimuat di surat kabar atau
majalah.'' kata Rusydi, yang kini anggota DPR.
Kepercayaan Buya ini, kata Rusydi, bukan artinya ia dilebihkan dari
adik-kakaknya (10 bersaudara). ''Mungkin karena saya mempunyai minat
tulis-menulis. Saya seakan-akan menjadi sekretarisnya.''
Menurut Rusydi, Buya pula yang menuntunnya menulis, sehingga ia lalu
bisa bekerja jadi wartawan Panji Masyarakat, media yang diprakarsai
Buya.
Selain selalu dinaungi kehidupan beragama, hidup bersama Buya, kenang
Rusydi, juga penuh keakraban dan gelak tawa. Ada saja cara Buya
melucu untuk menghibur keluarga, terutama saat menghadapi masa-masa
sulit.
Buya selalu bercerita dengan logat yang lucu, dengan bahasa Minang,
dialek khas kampungnya, Sungai Batang di tepian danau Maninjau,
Sumatera Barat. ''Ada saja ceritanya tentang masyarakat kampung
itu,'' kenang Rusydi.
Bahan cerita banyak yang menceritakan ulah konyol seorang yang Buya
namakan Datuk Mudo. Ulah sang datuk dalam kreasi ayahnya ini selalu
memancing tawa, sehingga mereka lupa kesulitan yang menghimpit.
Buya sangat penyayang pada anak-anak dan cucu-cucunya, kenang Rusydi.
Mungkin, ia tak ingin anak-anak mengalami susah seperti semasa
mudanya. ''Ayah dan ibunya bercerai. Ibu kawin lagi, begitu pula
ayahnya. Bayangkan sulitnya Buya menyesuaikan diri. Datang ke rumah
ibunya, ada ayah tiri. Datang ke rumah ayahnya, ada ibu tiri,'' kata
Rusydi.
Memang, semasa kecil Buya lebih banyak diasuh kakek dan neneknya.
Ayah sering bepergian. Ayahnya pun banyak istri, seperti umumnya
ulama masa lalu di Sumatera Barat.
''Itu juga yang jadi alasan Buya hanya mau beristri satu. Dan baru
menikah lagi setelah ibu kami meninggal. Itupun setelah dipaksa anak-
anak. Padahal sebagai orang terkenal, di kampung dulu ia banyak
diminta orang untuk mau menikahi putri-putri mereka,'' kata Rusydi.
''Buya tak ingin kami mengalami masa-masa sulit seperti yang
dialaminya.''
Begitu juga pada cucu-cucu. Buya selalu menyempatkan diri menengok
mereka.
Bila cucu baru lahir, ia sendiri yang pergi ke Pasar Tanah Abang
untuk memilih kambing besar, untuk akekah sang cucu. Sering kali uang
akekah berasal dari kocek Hamka. Kalau belum diakekah, tak diijinkan
sang cucu dibawa pulang dari rumahnya.
Kata Rusydi, pulang dari bepergian, Buya sering mengumpulkan permen.
Gula-gula itu dibagi rata untuk cucu-cucu. Dengan oleh-oleh itu, ia
membujuk sang cucu. ''Nambo (saya atau kakek) punya permen, tapi
nambo capek. Pijit dulu nambo biar hilang capeknya. Sayang pipi
nambo, nanti nambo kasih permen.'' yogara
Sabtu, 02 Maret 2002
Ulama Pembaharu yang Toleran
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan Hamka,
merupakan salah seorang tokoh Islam yang lengkap keulamaannya. Ia
bukan hanya dikenal sebagai mubalig atau dai yang komunikatif, namun
juga seorang sastrawan yang piawai dan produktif menulis soal-soal
keislaman.
Tak kurang dari 118 buku yang ditulisnya. Ini di luar karangan-
karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan
disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah.
Juga di luar buku-buku yang ditulis orang lain mengenai dirinya.
Pendek kata, hampir tidak ada satu bidang keagamaan dan
kemasyarakatan yang tidak dikupas Hamka. Dari bidang sastra, seni,
sejarah, budaya, biografi, tafsir Alquran, akidah, filsafat, tasawuf,
dakwah hingga tanya jawab soal agama. Dalam bidang yang terakhir ini,
jawaban Hamka tegas dan tuntas, dari soal perkawinan beda agama
seperti dilakukan Emilia Contessa-Rio Tambunan, soal makhluk hidup di
planet lain, kyai dukun, hingga soal pemujaan berlebihan terhadap
Sheikh Abdul Qadir Jaelani.
Selain lewat tulisan, Hamka juga giat berdakwah melalui lisan -- baik
di radio, teve maupun berceramah secara langsung di depan jamaah.
Pada 1959 setelah Konstituante dibubarkan, Hamka -- yang menjadi
wakil rakyat dari Masyumi hasil pemilu 1955 -- pun mengakhiri
aktivitas politiknya. Sejak itu ia memusatkan kegiatannya pada bidang
dakwah. Apalagi ketika itu ia juga menjadi imam Masjid Agung Al-
Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dari masjid di kawasan elit Jakarta itu setiap usai salat Subuh Hamka
memberikan kuliah. Pada sekitar tahun 1970-an hingga menjelang
wafatnya, kuliah subuh Hamka selalu dipadati jamaah dari berbagai
kawasan Jakarta. Jamaahnya bahkan membludak hingga tangga masjid. Di
RRI dan TVRI, ceramah dan tanya-jawab Hamka -- yang mempunyai acara
tetap di dua media itu -- juga selalu ditunggu para pendengar dan
pemirsa.
Menyimak berbagai karya tulis, ceramah, dan kuliah-kuliah Hamka
seperti diuraikan di atas, sulit memposisikan ulama kelahiran Padang
ini dalam peta keulamaan dan pemikiran Islam di Indonesia. Dalam hal
yang terakhir ini, Hamka boleh dibilang mempunyai kesamaan dan
sekaligus perbedaan dibandingkan dengan dua ulama dan pemikir Islam
yang selama ini dikenal mewakili kelompok besar umat Islam di
Indonesia: KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.
KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Pengikutnya kini
berjumlah puluhan juta orang. Ia dikenal sebagai pembaru ajaran Islam
dari 'penyakit' TBC (takhayul, bid'ah, dan c/khurafat). Ungkapan dia
yang terkenal di kalangan Muhammadiyah adalah 'Semua ibadah
diharamkan kecuali ada perintah dan semua muamalah (masalah dunia)
boleh dilakukan kecuali ada larangan.'
Dalam hal itu, Hamka sama dengan KH Ahmad Dahlan. Ia juga dikenal
sebagai tokoh Muhammadiyah dan sekaligus pembaru. Bedanya, kalau
ajaran Dahlan 'kering' dari spiritualisme atau kerohanian, Hamka
justru sebaliknya. Ia merupakan penganjur dan bahkan menulis sejumlah
buku tentang tasawuf. Ia sangat fasih mengupas sisi kehidupan
spiritual Nabi Muhammad dan para sahabat, serta ajaran dan
personifikasi dari para tokoh-tokoh sufi/tarekat dari abad
pertengahan hingga yang ada di nusantara.
Ia sering mengutip ayat Alquran Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub
yang menjadi dasar ajaran tawawuf. Ayat yang bermakna 'Bukankah
dengan menyebut Asma Allah (zikir) hati menjadi tenang' (QS 13.30)
itu pulalah yang menjadi pegangan kaum nahdliyin dalam mengamalkan
kehidupan kesufian/kerohanian. Di sinilah kesamaan Hamka dengan KH
Hasyim Asy'ari.
Sebagaimana diketahui, KH Hasyim Asy'ari -- bersama KH Abdul Wahab
Hasbullah -- merupakan pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Pendirian NU
antara lain dimaksudkan untuk menjaga/mempertahankan tradisi Islam
dari gerakan pembaharu Wahabiyah di Arab Saudi. Pembentukan NU --
yang pengikutnya kini juga berjumlah puluhan juta -- diawali dengan
adanya delegasi ulama Indonesia ke penguasa Arab Saudi yang meminta
agar sejumlah peninggalan Islam -- antara lain makam Nabi Muhammad
dan sahabat -- di Mekah dan Madinah tetap dilestarikan.
Dari delegasi itulah kemudian muncul ide mendirikan NU. Pada
perkembangannya kemudian, pembentukan NU juga untuk melestarikan
ajaran dari tradisi Islam. Intinya, ajaran Islam selain bersumber
dari Alquran dan Hadis, juga bisa dari teladan dan ijtihad para
sahabat dan ulama saleh, termasuk ajaran dan amalan tarekat yang
berkembang di kalangan NU.
Namun, berbeda dengan kaum Nahdliyin, sufistik Hamka tidak mengikuti
salah satu ajaran maupun amalan tarekat yang diakui oleh NU. Dari
buku-buku sufistik yang ditulisnya tampak Hamka tidak menjalani
ritual tertentu seperti yang dijalankan pengamal tarekat pada
umumnya. Misalnya suluk, baiat, dan amalan-amalan tertentu yang
dijalankan pada waktu-waktu tertentu.
Dalam hal ini bahkan Hamka mengritik amalan-amalan sufistik yang
dianggap menyimpang yang mengarah pada syirik. Sebagai misal ia
mengritik amalan-amalan yang mengarah pada pemujaan berlebihan
terhadap Sheikh Abdul Qadir Jaelani, seorang tokoh besar tarekat
kelahiran Baghdad.
Terlepas kritiknya terhadap tarekat, Hamka, seperti dikemukakan di
atas, merupakan penganjur dan sekaligus pengamal tasawuf (yang
mementingkan sisi rohani) dalam kehidupan sehari-hari. Ini pulalah
yang mendekatkan Hamka dengan kalangan warga NU.
Bahkan terhadap kalangan NU, ia dikenal sangat toleran. Meskipun ia
seorang tokoh Muhammadiyah, tapi saat menjadi imam salat Subuh di
masjid sering memakai qunut manakala ia tahu banyak warga NU yang
ikut berjamaah.
Dari puluhan buku yang ditulisnya, Hamka juga tampak sengaja
menghindar dari membahas masalah-masalah furi'iyah (cabang), yang
seringkali menjadi perdebatan tajam antara kalangan Muhammadiyah dan
NU. ikhwanul kiram
Sabtu, 02 Maret 2002
Tangis Buya untuk Umat
Bila kini ada gelar ''dai sejuta umat'' untuk seorang ulama kondang,
mungkin gelar yang paling cocok untuk Buya Hamka dulu semasa
hidupnya, salah satunya, adalah ''ulama penerima keluh kesah umat''.
Kenapa gelar ini layak disandangkan padanya? Setiap hari, walau usia
melemahkan fisiknya, Buya tetap membuka rumahnya di Jalan Raden
Fatah, Jakarta Selatan, untuk menerima keluh kesah warga. Hamka tak
sampai hati menolak, walau kehadiran mereka menyita istirahatnya.
''Biarkan mereka, jangan ditolak, apalagi kalau datang karena
kesusahan,'' kata Rusydi, putra Hamka, bercerita kenapa Buya sampai
mau begitu saja menerima siapa saja yang datang ke rumahnya.
Rusydi tak ingat pasti awal mula rumah itu jadi ibarat klinik dengan
Buya sang dokternya. Seingatnya, para tamu mulai datang ke rumah di
kawasan Kebayoran Baru itu sejak Buya bebas dari tahanan tahun 1966.
Ia pernah hampir tiga tahun ditahan pemerintahan Orde Lama, dengan
tuduhan akan menggulingkan pemerintahan Soekarno.
Sebelumnya, kegiatan meningkatkan ketakwaan umat lebih banyak
dilakukan Hamka dalam pertemuan dengan jamaahnya di Masjid Agung Al
Azhar, masjid yang dipimpinnya.
''Makin hari, makin banyak orang datang. Mungkin menyebar dari mulut
ke mulut. Bila ada masalah datang saja ke Buya.'' Kata Rusydi, macam-
macam alasan mereka datang. Ada yang sekadar ingin bersilahturahmi,
namun lebih banyak untuk meminta nasehat yang bersifat pribadi.
Begitu seringnya Hamka menerima para tamu, ''sehingga Buya bak
menjadi seorang dokter praktek yang tak memungut bayaran,'' kata
Rusydi. Kisah para tamu ini dapat dibaca pada tulisan Rusydi dalam
buku Buya Hamka, Pribadi dan Martabat terbitan Pusta Panjimas 1983.
Mulanya tamu datang tak kenal waktu. Tapi, mengingat waktu Buya yang
terbatas, apalagi usianya mulai menua, Rusydi berinisiatif membatasi
waktu konsultasi --dari selesai Ashar sampai Magrib. ''Bila penting
sekali, Buya menyediakan waktu usai magrib.''
Status sosial tamu yang datang beragam. Dari yang mampu, misalnya
pejabat pemerintahan dan artis, sampai gelandangan. Macam-macam
masalahnya. Dari soal hukum agama, mengadukan kemalangan, sampai soal
keluarga, misalnya anak perempuan mereka hamil sebelum nikah, soal
istri dan suami yang ingin bercerai.
Seingat Rusydi, kasus-kasus keluarga biasa muncul dari kalangan elit.
''Mungkin begitulah kondisi masyarakat saat itu, saat Jakarta mulai
menjadi kota metropolis.''
Cara Buya memberikan nasehat beragam pula. Bila ia datang seorang
istri mengeluhkan suaminya, Hamka lalu meminta ia datang lagi membawa
suaminya. Setelah itu, baru Hamka menasehati, kadang membujuk, agar
mereka berbaikan lagi dengan saling memaafkan. ''Bagi yang melanggar
agama, kadang Buya lebih dulu memarahi mereka sampai mereka pun
menangis. Baru kemudian diberi nasehat,'' kata Rusydi.
Ibu-ibu gelandangan, kenang Rusydi, kadang datang dengan membawa anak-
anak mereka. Untuk mereka, Buya biasa memberi makan dan uang ala
kadarnya. Bila tak punya uang, Hamka menasehati mereka agar tabah dan
mau berusaha, jangan meminta-minta. ''Sampai pencuri pun datang
meminta maaf, begitu tahu ia telah mengambil buah di pohon milik
kami.''
Begitulah sehari-hari, kata Rusydi, Hamka disibukkan kalau ia tak
sedang keluar kota untuk undangan ceramah atau kegiatan lain. Kadang
Hamka kecapaian. Kalau sudah begitu, anak-anak lalu memintanya
beristirahat, pindah ke rumah satu anaknya, agar tak terganggu.
Tapi kata Rusydi, Buya selalu menolak saran anak-anak. ''Doakan agar
pekerjaan ini menjadi salah satu amal kita. Berapalah beratnya kita
membantu memecahkan persoalan mereka, dibanding yang mengalaminya.
Seberat-beratnya mata memandang, berat juga bahu memikul bukan,''
demikian Hamka menjelaskan penolakannya.
Keluhan tamu-tamu itu kadang menekan pribadi Hamka. Kata Rusydi,
sering malam hari ia melihat Buya menangis, bila teringat masalah
yang dihadapi para tamu, sementara ia merasa tak mampu membantu.
''Buya sangat berempati terhadap mereka. Ia ingin membantu
sebisanya.''
Datangnya tamu-tamu bahkan tak henti sampai Hamka benar-benar harus
istirahat karena sakitnya, sebelum ia meninggal dalam usia 73 tahun
tanggal 24 Juli 1981.
Begitulah antara lain gambaran betapa Hamka, ulama yang sangat peduli
dengan permasalah yang dihadapi umat. Ia tak mampu menolak kedatangan
mereka, karena baginya, begitulah di antaranya ulama harus berperan:
berada di tengah umat dengan masalah mereka. Tugas semacam ini tetap
dijalaninya, baik saat masih menjadi ketua umum MUI, maupun sesudah
ia mengundurkan diri.
Tak terbilang umat yang telah dibantunya, baik itu langsung dengan
menemuinya ataupun melalui khotbah-khotbah yang sejuk yang
disampaikannya melalui RRI dan TVRI. Khotbahnya bahkan banyak diikuti
warga nonmuslim, sampai banyak di antara mereka yang datang, minta di-
Islam-kan oleh Hamka. Bila tidak, banyak pula yang mengaku menjadi
sadar akan pentingnya menjalani ajaran agama masing-masing, setelah
menyimak khotbah-khotbah Hamka.
Dengan peran yang disandangnya, kata Rusydi, Buya selalu berusaha
mengikuti perkembangan umat. Untuk itu, ia menyadari harus selalu
menambah pengetahuannya, dengan banyak membaca. ''Sampai-sampai, ke
manapun bepergian, Buya membawa buku, yang bila ada waktu akan
dibacanya.''
Walaupun sesibuk itu, kata Rusydi, Buya berusaha tak pernah
meninggalkan membaca Alquran di malam hari, berikut salat tahajud.
Selain di rumah, Hamka pun sering memberikan konsultasi di masjid.
Kebiasaan memberikan konsultasi ini sudah dilakukannya sejak ia
dipercaya mengasuh Masjid Al Azhar awal tahun 1960-an. Hamka menjadi
imam besar masjid itu sampai ia wafat.
Memang nama besar Masjid Al Azhar tak bisa dipisahkan dari Hamka. Ia
mengikuti benar proses pembangunan masjid, sejak dari awal sampai
mulai digunakan.
Saat awal-awal salat di masjid itu, jamaah hanyalah para tukang becak
dan buruh yang turut membangunnya. Namun, setelah diresmikan,
mulailah kaum pedagang di sekitar pasar Majestik berdatangan. Mereka
tertarik, mendengar di masjid itu Buya Hamka mengadakan pengajian
tafsir yang menyejukkan hati.
''Kita mulai perjuangan dari masjid, selama ini kita lalai
memperhatikan masjid karena sibuk di parlemen,'' ujar Hamka pada
kawan-kawannya yang menjadi jamaah.
Perjuangan melalui masjid? Ini berawal saat Soekarno mulai memusuhi
Masyumi, berkaitan dengan semakin dekatnya sang presiden dengan PKI.
Belakangan Soekarno membubarkan Masyumi, partai tempat Hamka menjadi
anggotanya.
Dengan PKI menguasi parlemen dan pemerintah, Hamka memilih masjid
menjadi basis perjuangan. Pada khotbah-khotbahnya, Hamka menegaskan
bahwa garis yang akan ditempuhnya adalah membina umat lewat masjid.
Dengan simpati teman-temannya, baik dari kalangan ulama dan para
jenderal TNI yang antikomunis, Hamka mendapat banyak bantuan untuk
menyemarakkan kegiatan Al Azhar. Masjid itu lalu bukan hanya untuk
salat, tapi juga dijadikan pusat perpustakaan Islam di Jakarta.
Tak sadar, Hamka pun harus berhadapan dengan kaum komunis, sampai
saatnya ia difitnah akan menggulingkan Soekarna, sehingga ia ditahan
tanpa pernah diadili (Januari 1964-sampai 1966).
Bebas dari tahanan, Hamka kembali ke jamaah. Buya pun lebih banyak
menyediakan waktu untuk umat, di antaranya ia jadikan rumahnya tempat
menampung keluh kesah umat yang sedang terhimpit derita. Sedang ia,
hanya berusaha membantu sebisanya. yogara
Sabtu, 02 Maret 2002
Mengarang dengan Cinta
Hamka punya kebiasaan tak elok. Dua jari telunjuk tangannya sering
tak bisa tinggal diam, mengetuk-ngetuk seolah-olah sedang mengetik.
Gerakan jari yang tak disadari itu berlangsung tak hanya kala
sendirian, tapi juga terjadi bila sedang menerima tamu, di meja makan
atau dalam perjalanan. Sasaran ketukan ujung telunjuk kadang tangan
kursi, daun meja, piring makan, dan benda lainnya.
Siti Raham, isteri Hamka, tak berkenan pada kebiasaan suaminya. Dia
sertamerta akan menegur bila telunjuk Hamka berulah. ''Lah tibo pulo
akuan Angku Haji,'' gurau isterinya. Akuan adalah sejenis mahluk
halus atau jin peliharaan para dukun. Angku Haji, begitulah sapaan
isterinya kepada Hamka, pun tersipu-sipu bila diingatkan bahwa
ketukan kedua jarinya menandakan tibanya si akuan.
Hamka tentu saja tak berkawan dengan akuan. Namun meski mengetik
dengan dua jari, anaknya Rusydi Hamka mengakui bahwa Buya Hamka mampu
mengetik dengan sangat cepat. Bisa jadi bila saat 'akuan' datang
kepada Hamka disorongkan mesin tik beserta kertasnya bakal tercipta
satu tulisan.
Kecepatan mengetik Hamka berbanding lurus dengan produktivitas
tulisannya yang tinggi. Imaginasinya yang tak henti -- yang sering
memaksa jari telunjuknya menghentak-hentak liar -- terus mendorong
Hamka berkarya hingga senja usianya.
Pada usia belia, 17 tahun, Hamka telah menghasilkan tiga jilid buku
Khatibul Ummat. Mirip penerbitan periodik, buku itu beredar secara
terbatas di kalangan kawan-kawannya di Padang Panjang.
Roman pertama karangannya Si Sabariyah terbit tahun 1928. Ditulis
dalam bahasa Minang dengan huruf Arab Melayu, kisah ini diangkat dari
peristiwa nyata yang terjadi di Sungai Batang yang dibumbui dengan
imaginasi Hamka. Buku ini tiga kali naik cetak. Meski tirasnya masih
kecil karena namanya belum cukup dikenal, Hamka mampu mengongkosi
perkawinannya dengan Siti Raham pada 1929 dari hasil penjualan buku
ini.
Sejak itu pula Hamka menghidupi keluarganya dari dunia penulisan. Dia
lalu memboyong keluarganya ke Medan pada tahun 1936. Bekerja sebagai
redaktur majalah Pedoman Masyarakat, kreativitas Hamka mengalir
deras. Tulisan-tulisan legendarisnya meluncur dalam waktu berdekatan:
Di bawah Lindungan Ka'bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
(1938), Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), Merantau ke Deli (1940).
Dalam sastra modern Indonesia, Hamka memang diakui sebagai penulis
yang produktif. Dalam catatan Rusydi, ayahnya telah membukukan 118
tulisan mencakup bidang sastra, agama, dan filsafat. Di luar angka
itu masih banyak tulisannya yang tersebar dalam berbagai penerbitan.
Tingginya produktivitas Hamka rupanya diimbangi pula dengan sambutan
besar masyarakat pembacanya. Buku-bukunya mengalami cetak ulang yang
terus-menerus. Penggemarnya terus bermunculan, bahkan hingga lebih 40
tahun kemudian. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, misalnya, pada 1979
telah mengalami cetakan yang ke-13.
Pengamat sejarah sastra Indonesia Prof Andries Teeuw menyatakan bahwa
Hamka harus dibicarakan secara khusus. Dalam bukunya Sastra Baru
Indonesia I, Penerbit Nusa Indah, tahun 1980 (halaman 104), Teeuw
menyebut Hamka sebagai ''pengarang yang paling banyak tulisannya
tentang agama Islam, yang juga pernah menghasilkan beberapa buah
karya yang bernilai seni sastra''.
Uraian itu menunjukkan bahwa Teeuw mengakui bahwa Hamka seorang
sastrawan. Tapi pada halaman 107 dia mengatakan: ''Hamka tidak dapat
dianggap sebagai pengarang besar, walau dengan ukuran apa sekalipun;
dari segi psikologi roman-romannya lemah, terlalu bersifat moralis,
dan plotnya sering bersifat sentimental, jika tidak dikatakan
melodramatis. Pretensinya sebagai pelopor kesusastraan Islam di
Indonesia juga telah ditolak bukan saja oleh golongan anti-Islam di
Indonesia tapi juga oleh para pemimpin golongan Islam sesudah
perang''.
Dalih minor Teeuw untuk tak menyebut Hamka sebagai pengarang besar
terkesan na�f. Dalih ''dari segi psikologi roman-romannya lemah,
terlalu bersifat moralis dan plotnya sering bersifat sentimental,
jika tidak dikatakan melodramatis'' jelas mengada-ada. Dia
menggenaralisasi semua roman Hamka lemah. Sastra juga tak mengenal
tebal-tipisnya kadar yang pas agar tidak dicap 'terlalu moralistis'
ataupun 'sering bersifat
sentimental'.
Ihwal pretensi Hamka dan adanya penolakan pun tak ada penjelasan
rinci. Guru Besar Universitas Leiden, Belanda, itu tak menampilkan
data atau fakta penilainnya tentang pretensi Hamka sebagai pelopor
kesusasteraan Islam di Indonesia. Tentang penolakan golongan anti-
Islam ... dan seterusnya patut pula dipertanyakan. Soalnya dunia
sastra terlepas dari masalah suka atau tak suka. Bagi sastrawan yang
utama adalah berkarya. Soal diterima atau ditolak itu urusan
belakangan.
Posisi Hamka yang ulama sekaligus pengarang roman sempat pula
merepotkannya. Para pembaca muslim menolak roman Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Menurut mereka, seorang
ulama tak pantas menulis roman percintaan sekalipun bernafaskan
Islam. Hamka dijuluki kiai cabul.
Hamka lalu membela diri lewat tulisan Mengarang Roman (Pedoman
Masyarakat No 4, 1938). Dia menyatakan tak sedikit roman yang
berpengaruh positif terhadap pembacanya. Hamka merujuk pada roman-
roman 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat yang kolot dan usang,
pergaulan bebas, kawin paksa, poligami untuk kepuasan nafsu seks, dan
bahaya pembedaan kelas.
Serangan lebih keji menimpa Hamka pada paruh awal 1960-an. Tokoh-
tokoh Lekra, organisasi onderbouw PKI, menuduh roman-roman Hamka
sebagai hasil plagiat. Abdoelllah Said Patmadji dalam tulisannya di
Lentera, ruang kebudayaan harian Bintang Timur, dalam bahasa yang
kasar menyatakan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck jiplakan dari
Majdulin, saduran dalam bahasa Arab oleh pengarang Mesir Musthafa
Luthfi Al-Manfaluthi dari buku berbahasa Prancis Sous les Tilleuls
karya Jean Baptiste Alphonse Karr.
Polemik yang kemudian berbau politik ini melibatkan pula Pramudya
Ananta Toer di belakang Abdoellah SP yang difasilitasi Bintang Timur,
Harian Rakyat, Merdeka, dan Antara. Sementara Duta Masyarakat
menyuarakan pihak Hamka yang didukung HB Jassin, Usmar Ismail, Anas
Ma'roef, A Rahim Mufty, Rusjdi, Soewardi Idris, Dra. N Soelaiman dan
lain-lain.
Menurut SI Poeradisastra, memang ada persamaan plot antara kedua
karya yang dipolemikkan itu. Permaan itu, kata dia, menunjukkan
adanya pengaruh besar Manfaluthi terhadap Hamka. Tapi dengan kepala
dingin, Poeradisastra menilai Hamka menulis suatu cerita yang berdiri
sendiri, baru, berdiri sendiri, yang berbeda dengan Majdulin atau
Sous les Tilleuls.
Roman yang diributkan berlarut-larut ini diilhami peristiwa nyata
kapal Van Der Wijck yang tenggelam di sebelah barat Pulau Bawean,
timur laut Semarang pada tanggal 21 Oktober 1936. Kapal itu berlayar
dari Surabaya menuju Jakarta. Dalam rentang waktu yang relatif
pendek, pada 1937 roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck turun
sebagai cerita bersambung pada majalah Pedoman Masyarakat. Tahun
berikutnya Balai Pustaka pun menerbitkan roman itu dalam bentuk buku.
Menulis karya sastra bagi Hamka, di mata SI Poeradisastra, merupakan
ibadah. Dengan sikap jiwa demikian, Hamka lewat karya sastranya
berdakwah atau berkhutbah. Ini menimbulkan konsekuensi tak cukup
memberikan eksistensi otonom terhadap tokoh-tokohnya.
Sedangkan Sides Sudyarto DS membahasakan karya-karya Hamka sebagai
realistis, romantis, dan religius. Dia juga mengagumi kejujuran Hamka
yang menunjukkan pengakuan atas kenyataan dan melukis kenyataan itu
sendiri sebagai objektivitas dan realitas.
Orang sering bertanya kepada Hamka tentang resepnya menjadi pengarang
yang produktif sampai hari tuanya. ''Dasar kepengarangan saya adalah
cinta,'' jawab Hamka singkat.
Rusydi, putranya, menyebutkan bahwa segala yang hal dikerjakan
ayahnya -- entah mengarang, pidato, dakwah, konferensi, sesekali
berpolitik, menjadi wartawan, dan sastrawan -- semata-mata demi
menegakkan keagungan Tuhan dengan semangat cinta.
Lantas apa pula arti cinta bagi Hamka? ''Cinta tertinggi itu kepada
Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Pandanglah alam dengan cinta, dan berjuang dengan semangat
cinta. Dengan begitu Anda akan berbalas-balasan cinta dengan Dia
Pemberi Cinta. Cinta sejati adalah tatkala Anda memasuki gerbang maut
dan bertemu dia, Almautu ayatu bi sadiq,'' katanya.
Dengan semangat cinta pula menjelang ajalnya, dua telunjuk tangannya
terus bergerak-gerak seolah menulis. Afif, putranya, mengamati gerak
jari ayahnya dari kanan ke kiri. ''Buya menulis kata 'Allah','' tutur
Afif. ismantoro
Sabtu, 02 Maret 2002
:Hamka, sang Pelepas Dahaga
Oleh S Sinansari ecip
Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang
sangat Muhammadiyah kental dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang
biasanya seperti ''diwajibkan'' di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa
tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? ''Salah seorang
yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,'' ujarnya.
Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi. Artinya, ketika
salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia
menghormati ''anggota'' yang berada di antara jamaah. Luar biasa.
Pada waktu Menteri Agama dijabat oleh KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur),
pada 1950, Hamka diangkat menjadi pegawai negeri di departemen agama.
Ketika itu, usianya sudah 42 tahun. Tugasnya khusus untuk mengajar di
berbagai perguruan tinggi Islam.
Dengan dua contoh tersebut, sengaja ingin ditunjukkan dari banyak
contoh, betapa di tingkat pimpinan, orang NU dan orang Muhammadiyah
saling menghargai dan menghormati dengan nyata.
Sayang, Hamka meninggal 24 Juli 1981, hari Jumat, bertepatan dengan
hari ke-22 bulan Ramadhan. Waktu meninggalnya dipilihkan oleh Allah
swt, pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Karya-karyanya dinikmati masyarakat secara luas. Buku yang ditulis
Hamka 118 buah. Romannya monumental, misalnya Di Bawah Lindungan
Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Melawat ke Deli. Di
bidang keagamaan, tentu saja Tafsir Al Azhar-nya (30 juz) sangat
istimewa. Tafsir tersebut dikerjakan sewaktu Hamka dimasukkan tahanan
oleh Orde Lama karena difitnah. Pemfitnahnya mengakui sendiri kepada
Hamka karena terpaksa dan Hamka memaafkannya. Selain itu, juga ada
buku langka, Sejarah Umat Islam Indonesia, yang sayang, kini tidak
ada yang meneruskannya.
Seperti kebanyakan para remaja Minang pada masa lalu, Hamka suka
merantau. Baru berusia 18 tahun dia naik haji tanpa izin orang
tuanya. Sepulang dari haji, sambil bekerja setengah tahun di sana,
Hamka tidak balik ke rumah, melainkan ke Medan menjadi guru di
perkebunan. Dia baru pulang setelah dipanggil ayahnya, untuk
dinikahkan.
Hamka berguru tentang Muhammadiyah kepada AR Sutan Mansur, kakak
iparnya di Pekalongan. Sejak itu, dia terus aktif di Muhammadiyah,
sampai menjabat di pimpinan pusat. Dia mengundurkan diri dari PP
Muhammadiyah pada tahun 1972, ketika muktamar di Makassar. Setelah
itu, dia aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hamka pada 1931 ditugasi oleh PP Muhammadiyah untuk ke Makassar.
Tugasnya adalah menjadi mubaligh. Dia mukim selama tiga tahun.
Rupanya dia merekam kenangan hidup di Makassar itu untuk suatu kali
muncul dalam romannya yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
(1939).
Khusus tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menjelang G-30-
S meletus, terjadi polemik hebat. Kalangan kiri, di antaranya
Pramudya Ananta Toer, melalui ruang budaya/sastra Lentera di harian
Bintang Timur, Hamka diserang. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck,
menurut mereka, plagiat (curian) dari roman Alphonse Karr, sastrawan
Prancis, yang sudah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi.
Kehadiran roman tersebut di tengah masyarakat pencintanya tetap tak
tergoyahkan.
Di dalam bidang politik, Hamka antara lain menjadi anggota
Konstituante, hasil Pemilu 1955. Dia calon dari Masyumi untuk
mewakili daerah Jawa Tengah. Presiden Soekarno akan menerapkan ide
Demokrasi Terpimpin. Hamka menolaknya dalam sidang Konstituante.
Perlawanan yang lebih luas terjadi hingga penyusunan konstitusi baru
mendapati jalan buntu. Soekarno membubarkan Konstituante.
Hamka lalu mendirikan majalah Panji Masyarakat pada Juli 1959. Dia
menapaki kembali dunia jurnalistik, seperti masa mudanya di Pedoman
Masyarakat. Dia sebagai pemimpinnya. Pada 17 Agustus 1960, Panji
Masyarakat dibreidel alias dilarang terbit karena memuat karangan
Bung Hatta yang terkenal, Demokrasi Kita. Isinya, kritik yang tajam
atas Demokrasi Terpimpin. Panji terbit lagi, setelah Orla jatuh, 1967.
Perlawanan terhadap ketakbenaran dilanjutkan Hamka. Pada waktu aliran
kepercayaan akan ''diresmikan'' oleh Presiden Soeharto, dia tidak
setuju. Perlawanan dilakukan di MPR dan Hamka kalah. Aliran
kepercayaan dikuatkan dalam bentuk ketetapan MPR
Pada hari-hari berikutnya oleh petinggi pemerintah digencarkan adanya
acara Natal Bersama, sampai ke daerah-daerah. Sebagai pimpinan MUI,
Hamka tidak menyetujuinya. Keluarlah fatwa MUI, yang melarang ummat
Islam untuk ikut Natal Bersama. Menteri Agama Alamsyah marah. Hamka
menjawabnya dengan berhenti jadi ketua umum MUI. Tiga bulan kemudian,
Hamka meninggal.
Watak pembrontak Hamka tampaknya diperoleh dari Dr Abdul Karim
Amrullah, ayahnya. Karena melawan Belanda, ayah Hamka dibuang ke
Sukabumi dan kemudian meninggal di Jakarta. Secara khusus, ayahnya
memberi julukan Hamka sebagai Si Bujang Jauh, karena kegemarannya
merantau.
Pada bulan-bulan menjelang meninggalnya, Hamka sangat ditunggu-tunggu
masyarakat. Dia muncul di layar TVRI sekitar Magrib. Dia bertutur
sangat baik, tentu saja tanpa teks. Suaranya tenang. Wajahnya teduh.
Dia tidak menghujat, tidak mengancam, dan tidak menakut-nakuti.
Dengan menatap dan mendengarnya, orang merasa sejuk dalam
kerindangannya. Hamka mengayomi. Penulis yang pernah mewarisi
memimpin majalah Panji Masyarakat versi baru, seperti halnya jutaan
orang yang lain, merindukan kehadirannya.
Tokoh Islam yang cendekia ini, tidak hanya diakui di Indonesia. Di
Malaysia, dia sangat dikenal. Tidak heran bila Universitas
Kebangsaan, memberikan penghargaan gelar doktor (honoris causa).
Universitas Al Azhar, Mesir, juga memberikan gelar doktor HC. Secara
resmi, di Indonesia belum ada yang memberi penghargaan. Namun,
penghargaan yang tak terucapkan, seperti pasir di pantai, tak
terhitung banyaknya.
Pada situasi yang gersang sekarang, orang seperti Hamka diperlukan.
Perjalanan kering di padang pasir memerlukan tempat singgah untuk
melepas dahaga sambil mengembalikan tenaga baru. Benar, kehadiran
Hamka diperlukan lagi. Dia tidak berkata-kata, tapi juga memberi
contoh bersikap yang tegas dan berperilakku yang benar. Siapakah lagi
ulama yang seperti dia kini? Mungkin ada, tapi kalibernya tidak
sebesar Hamka.
Sabtu, 02 Maret 2002
HAMKA
Konsisten pada Pokok Toleran pada Cabang
Moderat dalam cabang (furu'iyah), tapi tegas dan konsisten dalam
pokok (akidah). Demikian gambaran sikap beragama Hamka. Ia termasuk
salah satu pimpinan teras Muhammadiyah yang kerap memimpin doa Qunut
saat mengimami salat Subuh -- masalah khilafiyah yang sering menjadi
akar perselisihan antara warga NU dan Muhammadiyah.
Peneliti sejarah Islam, Prof Dr Azyumardi Azra, melihat sikap toleran
Hamka itu sebagai pengamalan hadis Nabi SAW bahwa perbedaan adalah
rahmat. ''Sikap seperti itulah sebenarnya yang dianjurkan oleh Islam
dan dicontohkan oleh para imam mazhab, seperti Hanafi, Abu Hanifah,
dan Syafii. Itu sikap tasamuf,'' katanya, di Ciputat, Rabu lalu.
Sekalipun menjadi imam, tambah Dr Sinansari ecip di tempat terpisah,
Hamka tampaknya ingin tetap bersikap demokratis. Tiap mengimami salat
Subuh ia sering bertanya, apakah di antara jamaahnya banyak yang dari
kalangan nahdliyin (NU). Jika ya, maka tanpa ragu-ragu Hamka akan
membaca doa Qunut pada rakaat kedua sesudah rukuk.
Ada kesan Hamka kurang tegas. Tapi, menurut Azyumardi, itu contoh
keluwesan (fleksibilitas) seorang ulama dalam menghadapi perbedaan,
atau cabang yang tumbuh di kalangan ummat. Sebab, tiap-tiap cabang
ada dasar dan rujukannya. Dan, Hamka berusaha merangkul semuanya.
''Tepat jika Buya dijuluki sebagai ulama perangkul ummat,'' ujarnya.
Sikap itu, tambah rektor IAIN Syarif Hidayatullah ini, justru
menunjukkan keluasan wawasan agama Hamka. Dan, itu juga dikatakan
tokoh lain yang dekat dengan Hamka, Sekjen DDI Drs H Husein Umar.
''Karena keluasan wawasan dan sikap tolerannya itu, Hamka dicintai
ummat,'' katanya dalam sebuah diskusi di Republika, pekan lalu.
Pengaruh dan peminat dakwah Hamka, tambah Husein, juga meluas sampai
ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand.
Bahkan, mendiang perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak, pernah
mengatakan Hamka bukan hanya milik Indonesia, tapi milik seluruh
rumpun Melayu.
Justru karena sikap tolerannya itu, acara-cara dakwah Hamka selalu
dibanjiri jamaah, dan mimbar agamanya di TVRI digemari banyak
kalangan. Karena, kata-katanya sangat menyejukkan hati. Bahkan,
kalangan non-Muslim pun banyak yang tertarik pada dakwah Hamka. Sikap
itu, menurut Husein, juga tercermin dalam semua karyanya, baik buku
sastra maupun agama. Tak ada satupun dari 118 buku karya Hamka yang
menyinggung masalah furu'iyah -- untuk menghindari perdebatan yang
tidak perlu.
Dan itu, tambah Azyumardi, merupakan pengaruh dari bacaan-bacaan
Hamka yang luas, terutama buku-buku tasawuf, yang kemudian ia uraikan
dalam buku Tasawuf Modern. ''Hamka adalah penganjur neo sufisme. Ia
mengamalkan kehidupan tasawuf, tapi tidak meninggalkan keduniaan. Ia
seorang fuqaha (ahli fiqih -- pen) sekaligus sufi,'' ujar mantan
wartawan Panjimasy -- majalah yang pernah dipimpin Hamka -- itu.
Jika hanya memahami fiqih, lanjut Azyumardi, seorang ulama akan
cenderung kaku. Tapi, kalau juga mempelajari tasawuf, maka kekakuan
itu akan terbuka, sehingga menjadi toleran dan inklusif. ''Ini hikmah
penting yang perlu kita petik, bahwa dalam memahami Islam hendaknya
secara kaffah (utuh -- pen). Tidak hanya bertumpu pada syariat, tapi
juga tasawuf, sehingga ada keseimbangan,'' katanya.
Ada sisi lunak, ada juga sisi kerasnya. Jika sudah menyangkut akidah,
menurut Husein Umar, Hamka tidak kenal kompromi. Ia sangat tegas dan
konsisten. ''Ketika orang lain ragu-ragu untuk bersikap, Hamka bisa
dengan cepat bersikap tegas, dengan segala risikonya,'' kata
cendekiawan yang juga pernah menjadi wartawan Panjimasy ini.
Husein menyebut contoh sikap Hamka terhadap perayaan Natal Bersama
yang pada tahun 1970-an digalakkan pemerintahan Soeharto. Selaku
ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu, Hamka mengeluarkan
fatwa yang mengharamkan umat Islam untuk mengikuti Natal Bersama,
karena merupakan ritual umat Nasrani. Ketika itu pemerintah mendesak
Hamka agar mencabut fatwanya. Tapi, ia menolaknya. ''Kalau ulama mau
dipaksa mencabut fatwanya, lebih baik berhenti menjadi ulama,'' kata
Hamka ketika itu.
Tekanan dari pemerintah tersebut, menurut Husein, memang lebih
bersifat politis. Karena itu, Hamka memilih mundur dari jabatan ketua
MUI daripada harus mengikuti desakan pemerintah. Itu, tambah
Azyumardi, adalah sikap politik Hamka. Ia memang tidak mau terlibat
politik praktis -- seperti dilakukan banyak ulama sekarang -- tapi
bukan berarti Hamka tidak berpolitik. Azyumardi menyebut strategi
politik Hamka adalah low politic.
Hamka memilih sikap tegas itu untuk menjaga integritas pribadinya
sebagai ulama. Dan, itu, menurut Azyumardi dan Husein, makin
menegaskan bahwa Hamka memang tokoh yang memiliki integritas tinggi.
Hamka menunjukkan pribadi yang marwah, yang punya harga diri. Ia
tidak gampang tergoda oleh kekuasaan dan fasilitas. ''Saat diangkat
menjadi ketua MUI, Hamka mendapat fasilitas mobil, tapi dia
menolaknya,'' kata Azyumardi. ''Itu cermin sikap sufistik Hamka yang
mencontoh pribadi Imam Ghazali.''
Tak pelak, sikap tegas itu sering menempatkan Hamka pada posisi yang
kurang nyaman. Selaku ketua MUI, misalnya, Hamka sempat mengibaratkan
dirinya sebagai kue bika yang dibakar di antara dua api: di atas
pemerintah dan di bawah ummat. Memang, salah satu fungsi MUI adalah
menjembatani antara pemerintah dan ummat dalam memasyarakatkan
program-program pembangunan.
Sikap Hamka tidak berbeda ketika menghadapi persoalan Pancasila.
Menurutnya, sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, tidak bisa
disejajarkan dengan empat sila lainnya. Secara tegas, ia mengatakan,
''Saya sebagai seorang Muslim tidak dapat berpikir lain, dan tidak
dapat dipaksa berpikir lain, dari bahwa sila yang pokok ialah sila
pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Kalau sekiranya pemerintah
menganjurkan paham bahwa kelima sila itu sama kedudukannya, maka
anjuran pemerintah itu sebagai penguasa hanyalah akan dianggukkan
orang karena takut menentang kekuasaan. Namun, orang akan tetap pada
keyakinan hidupnya, yaitu Tauhid.''
Itulah sisi keras dari Hamka. Namun, sekali lagi, dalam menghadapi
masalah cabang, Hamka sangat toleran. Terhadap kelompok ummat yang
berbeda cabang, seperti NU dan Muhammadiyah, Hamka dengan arif
merangkul keduanya. ''Secara implisit Buya memang memiliki cita-cita
untuk mewujudkan masyarakat Muslim di mana furu'iyah tidak lagi
menjadi pertikaian,'' kata Azyumardi.
Sikap toleran yang dicontohkan Hamka, tambah Azyumardi, penting untuk
menjadi rujukan sikap beragama masyarakat. Lebih-lebih, ketika
fragmentasi antar-kelompok umat cenderung menajam. Sikap luwes itu,
menurutnya, dapat menjadi stimulus untuk merekatkan kembali ukhuwah
Islamiyah. Sebab, dari sikap toleran itu akan muncul sikap tenggang
rasa, saling menghargai dan sensibilitas mazhab.
Sikap itu, lanjutnya, juga penting menjadi rujukan para elit politik
Islam yang kini sedang terpecah, seperti elit PKB dan PPP. Ini juga
yang dilihat cendekiawan Dr Bahtiar Effendy. Kontekstualitas kiprah
Hamka itu, menurutnya, makin penting jika kita melihat kondisi bangsa
yang penuh dengan krisis multi-dimensional.
Pemikiran-pemikiran dan kiprah Hamka, tambah Bahtiar, dapat
memberikan kekuatan batin tersendiri, karena selalu menawarkan daya
spiritualitas yang cukup tinggi. Dalam setiap pemikirannya, Hamka
selalu berusaha menampilkan Islam sebagai solusi bagi kehidupan.
Dimensi spiritual itu, kata Bahtiar -- juga diakui oleh Dr Abdul Hadi
WM, sangat kita perlukan dalam menghadapi krisis kehidupan berbangsa
dan bernegara. Bahtiar memberi contoh yang dilakukan Presiden Bush
senior (ayah Presiden AS sekarang). Tiap akan melancarkan suatu
serangan, Bush berkonsultasi dulu dengan para rohaniawan. Aspek
spiritual menjadi bagian dari strateginya.
Mestinya, menurut Bahtiar, para elit politik kita juga demikian, agar
upaya pemecahan persoalan bangsa dapat menemukan pencerahan atau
titik terang. Sayangnya, para elit politik kita, juga pemerintah,
tidak pernah mengaitkan persoalan bangsa dengan dimensi spiritual.
hery sucipto/ahmadun yh
Sabtu, 02 Maret 2002
Sajak Karya Hamka
KEPADA SAUDARAKU
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaummu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridla Ilahi
Dan akupun masukkan
Dalam daftarmu .......!
Bandung 13 November 1957
(Ditujukan kepada M Natsir Dalam sidang Konstituante)
Sabtu, 02 Maret 2002
ANEKDOT DI SEPUTAR HAMKA
Bel untuk Buya
Saat jadi ketua umum MUI, Buya Hamka mendapat kantor di gedung baru
di belakang Masjid Agung Al Azhar. Untuk Hamka, disediakan sebuah
ruangan yang cukup besar dengan meja besar pula. Di meja ada sebuah
bel. Hamka boleh menekannya bila ingin memanggil stafnya, kalau perlu
bantuan.
Tapi Hamka tak pernah menggunakan bel itu. Walau sudah tua, ia lebih
senang mendatangi stafnya. ''Mereka punya nama, kenapa kita panggil
dengan bunyi tut tut listrik,'' katanya, memberi alasan.
Belakangan, Hamka kembali ke kebiasaan lama, berkantor di rumahnya,
yang tak jauh dari masjid. Satu alasannya, ia capek mondar-mandir ke
kamar ketua-ketua yang lain dan sekretaris MUI.
Anak Perempuan
Buya Hamka ketat mendidik putri-putrinya. Ia tak mau putri-putrinya
bergaul di luar batas ajaran agama. Ia pun sering memperhatikan putri-
putrinya, apa yang mereka lakukan di luar dan di rumah.
Salah satunya adalah menyangkut Aliyah. Hamka sering memperhatikan
putri keduanya itu, yang sangat rajin belajar. Putrinya itu menjadi
guru bahasa Jerman di sebuah SMA di Jakarta, walaupun ia belum
menyelesaikan studi sarjana.
''Jadi doktoranda memang perlu cepat-cepat. Tapi jangan lama-lama
meranda (tanpa suami),'' kata Hamka bergurau.
Satu sore, saat berjalan-jalan dengan istrinya, Hamka melihat Aliyah
berdiri menunggu bis di depan sekolah, dengan seorang laki-laki.
''Tak salah itu Iyah,'' kata istrinya.
'Ya, tapi siapa di sebelahnya,'' kata Hamka.
Malam harinya, saat makan malam --waktu yang sering menjadi
konferensi keluarga -- ibu bertanya kepada Aliyah tentang laki-laki
itu.
''Dia cuma rekan sesama guru,''jawab Aliyah.
''Tidak ada apa-apa di balik itu?'' tanya Hamka.
''Ayah dan ummi tak suka melihat kau berdiri atau berjalan dengan
laki-laki, kecuali kalian bermaksud baik untuk berumah tangga,'' kata
ibu.
''Kau bawa saja ke sini, kenalkan kepada kami,'' kata Hamka.
Aliyah mencoba berdebat. ''Ya, tapi kami belum membicarakannya sampai
ke situ. Dia tentu akan malu ketemu ayah.''
''Ayah maklum, tapi kalian bukan anak-anak kecil lagi. Kalian harus
membicarakannya. Ayah beri waktu satu minggu,'' kata Hamka sambil
mengetuk meja, tanda ia telah memutuskan.
Seminggu kemudian, pak guru muda itu, Sofyan Saad, datang ke rumah
dan ngobrol-ngobrol dengan Hamka di beranda.
Laki-laki itu lalu menikah dengan Aliyah, walau mereka belum
menyelesaikan studi sarjana. Walaupun begitu, mereka berhasil
menamatkan studi. Mereka memberi tiga cucu laki-laki untuk Hamka.
Humor dan Tabligh
Sebagai ulama, Buya sering membubuhi ceramah dengan humor, terutama
menyangkut pengalaman-pengalamannya. Salah satu humor yang sering
diulang-ulangnya saat bertabligh adalah tentang pemuda yang
keranjingan aliran marxis.
Kata Hamka, pernah datang kepadanya seorang anak SMA yang rupanya
merasa sudah pintar. Dia bertanya kepada Hamka: ''Mana Tuhan, saya
tak percaya, saya mau lihat Tuhan dengan mata kepala saya sendiri
secara kongkret.''
Hamka balik bertanya: ''Kamu akan melihat Tuhan dengan matamu itu.
Tapi matamu sendiri apakah pernah engkau lihat?''
''Pernah melalui cermin,'' jawab sang pemuda.
Hamka membalas: ''Bayangan di kaca itu bohong, karena matamu yang
kiri dalam kaca menjadi kanan, dan yang kanan jadi kiri.''
Menurut Hamka, ''pemuda itu mengaku atheis, marxis, sosialis dan
segala is is lagi.''
''Saya suruh sembahyang, pemuda itu mengatakan sembahyang tak logis.''
Hamka bertutur beberapa bulan kemudian ia bertemu lagi dengan pemuda
itu. Wajahnya yang kuyu, pucat pasi dan jalan mengangkang. Rupanya
pemuda itu terkena penyakit kelamin sipilis.
''Itulah is terakhir bagi orang yang sok is is,'' kata Hamka
menasehati sang pemuda. n
Hamka dan Nama
Saat umur Hamka 70 tahun, seorang tamu bertanya kepadanya kenapa ia
masih bisa mengingat nama 22 cucunya. Hamka menjawab,'' Kebetulan
nama-nama cucu saya mudah diingat dan dieja lidah saya. Kalau saja
anak-anak memberi nama cucu-cucu dengan nama-nama barat atau
sanskerta, yang disukai orang sekarang, tentu lidah saya sulit
mengucapkannya.''
Bukan kebetulan keluarga Hamka memberi anak-anak mereka dengan nama
Arab. Masalahnya, Hamka selalu mengkritik nama yang kebarat-baratan,
yang dipakai seorang muslim. Ia menilai itu tanda rendah diri.
Ceritanya, ada seorang sanaknya memberi nama anaknya Raj Kapoor,
bintang film India.
''Apa itu?'' Hamka bernasehat agar nama anak itu diganti Abdul Gafur.
''Gafur itu artinya Tuhan yang maha pengampun. Ditambah Abdul,
menjadi berarti hamba Yang Maha Kuasa.''
Orangtua anak itu mengikuti nasehat Hamka.
Cerita lain, seorang ibu memperkenalkan anak perempuannya yang diberi
nama Sofia Loren.
''Biar cantik secantik bintang film Itali itu,'' kata sang ibu.
''Bagus, bagus, bagus,'' kata Hamka berkali-kali. ''Memang anak ini
secantik bintang flim itu.''
Tapi, kata Buya, akan lebih baik bila nama itu diganti saja dengan
nama muslim. ''Menjadi Safiah. Safiah adalah nama yang baik, yang
artinya penyembuh. Ibu saja juga bernama Safiah. Nah buang saja
Lorennya dan tetap memanggilnya Sofi.'' yoe
Sabtu, 02 Maret 2002
Dr Abdul Hadi WM:
Hamka, Rujukan Solusi Krisis
Sebagai sastrawan yang banyak mengkaji tasawuf, Anda tentu mengamati
pemikiran-pemikiran Hamka di bidang spiritualisme. Menurut Anda,
seberapa penting peran Hamka dalam perkembangan tasawuf di Indonesia?
Peranan Hamka dalam dunia tasawuf sangat penting, khususnya dalam
memperkenalkan kembali tasawuf kepada kalangan modernis. Ternyata
dalam visi Hamka, tasawuf harus dibedakan antara tasawuf yang sekadar
kebatinan saja dan tasawuf yang benar-benar dalam wujudnya. Dia
membela tasawuf yang bersumberkan Sunnah Rasul dan Alquran. Hanya dia
tidak memberikan apresiasi terhadap paham Wihdatul Wujud, khususnya
paham Ibnu Arabi dan Ibnu Syabiin. Tetapi, bagaimanapun juga, Hamka
mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap tasawuf. Sebetulnya, dia
ingin mengambil sisi-sisi praktis dari tasawuf bagi kehidupan modern
ini sebagai dasar spiritualitasnya, dan itu sejauh pengamatan saya,
berhasil.
[[Apa sumbangan paling penting Hamka dalam disiplin ilmu tasawuf?]]
Bagi saya, sumbangan Hamka terbesar ya Tafsir Al-Azhar itu. Karya
tafsir itu dilandasi kesadaran Hamka sebagai seorang reformis dan
modernis. Artinya, kecenderungan tafsir sufistik, dan itu tidak sama
dengan tafsir Jalalain misalnya. Dalam rentang masa yang jauh, bahkan
ke depan sekalipun, karya Hamka itu telah mampu menjadi suatu kajian
dan objek tersendiri yang banyak dijadikan rujukan kaum pengkaji
keislaman di Indonesia. Itu tak lain karena gaya dan model tafsir dia
yang mudah dipahami dan merupakan karya besar pada masanya yang
hingga kini tetap memberi pengaruh signifikan dalam percaturan Islam
bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia Melayu dan kalangan
lainnya.
[[Dalam bidang tasawuf itu, Hamka sebenarnya hanya menyumbangkan
pemikiran ataukah dia praktekkan dalam kehidupan sehari-hari?]]
Sejauh yang saya tahu, Hamka adalah sosok yang konsisten. Jadi apa
yang dia ucapkan juga dia praktekkan dalam kehidupan sosial. Saya
ingat salah satu novelnya, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Vijck.
Tokoh Zainuddin dalam novel itu sebenarnya adalah semacam biografi
dia. Dalam novel itu diceritakan, Zainuddin -- yang ayahnya dari
Minang dan ibunya dari Makassar -- berkeinginan untuk jadi ulama
sekaligus ingin terjun dalam gerakan politik dan mendalami seni dan
sastra.
Jadi, dalam diri Hamka itu ada pergolakan ingin menjadi sastrawan,
politikus, dan agamawan atau ulama. Nah, dalam konteks ini, menurut
saya, semua memang tercapai. Hanya dalam hal politik, dia memang
tidak terjun dalam politik praktis, tapi dia tetap dalam perjuangan
politik melalui dakwah, tulisan, dan karya-karyanya.
[[Jika dicari rujukannya, pemikiran tasawuf Hamka itu sebenarnya
dekat ke siapa? Al-Ghazali atau Ibnu Arabi, atau malah mengkritisi
keduanya?]]
Dia lebih dekat dengan Al-Ghazali. Tapi, barangkali, yang paling
dekat adalah dengan Sheikh Ahmad Sirkindi, yang ingin kembali
meletakkan tasawuf sebagai bagian terpenting dalam syariat.
Sebenarnya, tasawuf juga tak jauh beda dengan syariat, hanya tafsiran
orang saja berbeda-beda, dan aliran-aliran sufi juga berbeda-beda.
Ada memang kalangan sufi yang tidak mempersoalkan, tapi itu tidak
banyak. Nah, pengaruh mencolok dari kedekatan Hamka dengan aliran
Sheikh Sirkindi misalnya, bahwa dia (Sirkindi -- Red) sebagai salah
seorang pendorong atau pembawa aliran reformis. Ia buktikan hal itu
dengan mendirikan tarekat Muhammadiyah di India pada abad 17 M. Jadi
ciri kepeloporan reformasi itu cukup kental dalam diri keduanya.
Demikian halnya dengan Al-Ghazali, meski tak begitu kental.
[[Pendapat Anda sendiri tentang buku-buku dan pemikiran tasawuf Hamka
serta pengaruhnya yang terpenting?]]
Yang utama adalah Tafsir Al-Azhar. Karya ini di Indonesia, di
Malaysia, Brunei, dan negara-negara ASEAN lainnya, sampai sekarang
masih sangat populer. Bahkan di beberapa institusi pendidikan di
Malaysia, buku ini menjadi semacam rujukan utama dalam bidangnya.
Untuk roman-romannya, terutama yang terpenting adalah roman Di Bawah
Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Hamka itu seorang pengarang produktif. Dia menulis banyak buku
keagamaan, sastra, seni, serta lainnya. Karena itu, dia mampu
berbicara dalam konteks keislaman yang sangat luas. Mungkin saja ini
pengaruh dari belajar dia yang otodidak, di mana kebiasaan orang
Minang bahwa anak laki-laki harus merantau, dan itu dilakukan Hamka.
Sejak umur 16 tahun, dia sudah merantau ke berbagai daerah, dan
akhirnya ke Kairo, Mesir dan juga Arab Saudi. Dari sini, dia bukan
saja menguasai bahasa Arab, tapi juga menguasai sastra Mesir modern
dan sastra Arab secara keseluruhan. Nah, di situlah awal pergulatan
intelektual dia.
[[Sumbangan Hamka bagi peradaban Islam di Indonesia juga besar.
Menurut Anda, seberapa besar kontribusi itu?]]
Sumbangan terbesarnya terutama karena dia telah menghidupkan kembali
wacana khazanah Islam melalui karya-karyanya itu di dalam bahasa
Melayu dan Indonesia khususnya. Ini jarang dilakukan para ulama di
zaman itu, di mana mereka (ulama-ulama tersebut) selalu menulis
tentang fikih dan pemikirannya fiqh oriented, tak memberi perhatian
pada dimensi disiplin keislaman lainnya.
[[Dibandingkan dengan tokoh-tokoh Islam lainnya, M Natsir misalnya,
di mana posisi Hamka dalam peta pemikiran Islam di Indonesia?]]
Natsir bukan pengarang seperti Hamka. Dia (Hamka) berpengaruh bukan
karena peranan politiknya, tapi karena kesastrawanannya. Keulamannya
ditunjang oleh keberhasilannya bersastra. Kepiawaiannya dalam
menulis, berdakwah, dan bersikap itulah yang menjadikan dia
berpengaruh dan, karena itu menjadi tokoh kharismatik.
Seberapa penting sih menurut Anda, tokoh seperti Hamka ini bagi
bangsa yang gampang kehilangan kepribadian seperti sekarang ini?
Begini ya. Di sekolah-sekolah harus kembali diajarkan kesusasteraan,
kesenian, dan kebudayaan. Belajar sejarah Islam itu tak hanya
khalifah-khalifah yang diperkenalkan, tapi juga harus kitab-kitab
seperti tasawuf yang dikarang pujangga-pujangga Melayu. Semua itu
harus dibaca dan diajarkan di sekolah dan pesantren-pesantren.
Sekarang ini kalau ditanya, mereka tidak akan tahu siapa itu Sheikh
Nawawi Al-Bantany, Arsyad Al-Banjary, Raja Ali Haji, Hamzah Fansuri,
dan bahkan Hamka. Itu harus ditumbuhkan. Islam datang itu justru
untuk menghidupkan kebudayaan dan peradaban.
[[Seperti kita tahu, Hamka menjadi ketua umum MUI yang pertama dan
kedua kalinya. Namun, sebelum masa jabatan keduanya berakhir ia
mundur karena berseberangan sikap dengan Pemerintahan Soeharto saat
itu. Komentar Anda?
Itulah peran politiknya. Tidak gampang menghadapi tokoh seperti
Hamka. Dia seorang tokoh yang sangat tawadhu dan pemaaf, tapi tak
kenal kompromi dalam hal yang prinsip. Dia merasa malu jika harus
kompromi. Dulu, pada tahun 1940-an, dia dituduh sebagai kyai cabul
karena menulis roman. Dalam tulisannya di majalah Pedoman Masyarakat,
Hamka membalas, 'Kkalau para ulama memandang pengaruh negatif sastra
lebih besar daripada pengaruh positifnya bagi pembaca, maka bagi saya
justru tak sedikit pengaruh positif sastra bagi pembaca'. Dan
peristiwa lain, ya ketika dia dituduh plagiat roman Maghdalena, tapi
dia berkeras menolak tuduhan itu. Artinya, ini menunjukkan dia tak
mau kompromi.
[[Dalam kaitan keteladananya, sejauh mana pelajaran yang dapat
diambil dari Hamka bagi bangsa yang sedang mengalami multi krisis
ini?]]
Hamka, bagaimanapun adalah seorang tokoh, ulama, dan budayawan besar.
Jasanya bagi Indonesia dan Islam di Melayu sangat besar. Apa yang
diajarkannya dapat menjadi salah satu stimulus mencari solusi krisis
bangsa, bahwa krisis ini kan sebenarnya pangkalnya adalah moral.
Telah terjadi krisis moral yang luar biasa.
Nah, Hamka bisa menjadi rujukan mencari solusi itu melalui ajaran-
ajarannya. Sayangnya, apresiasi terhadapnya sangat kurang. Dia lebih
dihargai di Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Di Indonesia,
jangankan ajarannya diformalkan di sekolah, penghargaan pemerintah
pun sangat minim. Tak ada yang namanya Jalan Hamka, juga tokoh Islam
lainnya seperti Natsir dan lainnya. Tapi Jalan Tendean, Daan Mogot,
Panjaitan banyak kita temui. Seberapa besar sih peran mereka
dibandingkan dengan Hamka? hery sucipto
Sabtu, 02 Maret 2002
Hamka di Mata Intelektual Muda
Ulil Abshar-Abdalla
Tokoh Muda NU/Pengamat Kemasyarakatan
Saya kenal Hamka sejak kecil, melalui karya-karyanya -- antara lain
//Di Bawah Lindungan Ka'bah, Sejarah Islam di Indonesia, Tasawuf
Modern//, dan //Tafsir Al Azhar//. Dari sini saya merasa dekat dengan
Hamka, meski secara fisik belum pernah bertemu. Melalui karya-
karyanya itu, hemat saya, Hamka menjadi sosok unik, tokoh dan pemikir
muslim yang universal dan sangat moderat. Ia kyai yang menyejukkan,
juga orator yang cerdik.
Dari pembacaan yang demikian, ada beberapa hal yang menarik dari
Hamka dan ini patut diteladani oleh generasi sekarang. Pertama, Hamka
memiliki kemampuan artikulasi yang luar biasa. Dia dapat menyampaikan
sesuatu yang rumit, dengan bahasa dan cara yang mudah dipahami banyak
orang. Selain itu, pendapat dan gagasannya jarang menimbulkan
perdebatan di kalangan umat.
Kedua, Hamka lebih berhasil secara literer. Dalam arti, melalui karya-
karyanya dia mampu menunjukkan kualitasnya sebagai penulis,
intelektual, budayawan, penyair, dan sekaligus ulama yang disegani.
Ini dapat kita jumpai dalam buku-bukunya //Tasawuf Modern//, novel
//Di Bawah Lindungan Ka'bah//, dan //Tafsir Al Azhar//.
Dari segi keagamaan dalam konteks sekarang, apa yang ditulis Hamka
sebenarnya bukanlah sesuatu yang unik, karena karya-karyanya
sesungguhnya hanyalah mewarisi tradisi Islam yang diwakili Muhammad
Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Hanya saja, keistimewaannya, warisan
tradisi itu ia formulasikan sedemikian rupa sehingga berhasil
menerjemahkan gagasan Islam reformis atau reformasi Islam.
Singkatnya, Hamka mampu mengawinkan antara otentifitas dan modernitas.
Ketiga, Hamka adalah sosok yang unik dalam pengertian artikulasi
Islam universal. Jika saya bandingkan dengan Cak Nur (Nurcholish
Madjid -- red) misalnya, Hamka lebih sebagai kyai umat dan bukan
sebagai pemikir besar seperti Cak Nur, meski harus diakui kontribusi
Hamka dalam bidang pemikiran tak dapat dinafikan. Sebagai kyai umat,
dia mampu menata umat agar tidak cerai berai, mampu 'ngemong' mereka,
dan karena itu, sebisa mungkin dia menghindar dari permasalahan yang
dapat menimbulkan polemik. Dari coraknya yang demikian itu, Hamka
mampu membangunkan umat dengan caranya sendiri.
Jamal D Rahman
Penyair/Redaktur Majalah //Horison//
Sosok Hamka tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarganya.
Hamka lahir dan tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang sangat
religius. Pengaruh religiusitas ini sangat tampak dalam karya-
karyanya -- baik puisi, novel maupun buku-buku lainnya. Dalam
pandangan saya, di sinilah letak keistimewaan dia. Seebab, pada
masanya, sekitar tahun 1950-an, para tokoh dan pemikir Islam jarang
sekali yang mengupas atau menulis suatu masalah yang sarat dengan
dimensi keagamaan.
Hanya, di sisi lain, kita memang tidak menutup mata, minimal dalam
pengamatan saya, bahwa Hamka dalam karya-karyanya hanyalah
menampilkan 'Islam latar''. Artinya, dia menampilkan suatu cerita
juga pemikiran yang lebih menonjolkan figurnya, bahwa figur itu
seorang muslim. Tetapi, tema-tema sosial dan keagamaan yang kritis,
tidak dia tonjolkan sebagai //mainstream// dalam substansi karyanya.
Persoalan-persoalan yang sifatnya krusial, Islam sebagai bagian dari
//problem solving//, tidak diangkat ke permukaan.
Semestinya, Hamka dapat menampilkan Islam sedemikian rupa, sehingga
menjadi bagian dari penyelesaian suatu masalah. Apalagi latar-
belakang dia yang religius, akan menjadi //starting point//
tersendiri dalam menampilkan karya-karyanya, dan bahkan memang
demikian harusnya.
Tetapi, sekali lagi, hal ini tidak diangkat oleh Hamka. Ini berbeda
misalnya dengan AA Navis. Melalui karyanya semisal //Robohnya Surau
Kami//, Navis mengangkat persoalan umat Islam secara kritis, analitis
dan sebagai suatu persoalan. Dengan demikian, problem yang tengah
dihadapi umat pada masanya semaksimal mungkin akan dapat ditemukan
solusinya melalui perhelatan intelektualitas karya.
Namun demikian, kehadiran Hamka telah memberi nuansa dan warna
tersendiri dalam percaturan intelektualisme Islam pada masanya.
Beberapa karyanya yang hingga kini masih sangat relevan dengan
perkembangan zaman saat ini, misalnya dapat kita baca melalui //Di
Bawah Lindungan Ka'bah//. Lewat karya ini, Hamka mencoba
menggambarkan anak muda yang sedang jatuh cinta, bahwa pada kondisi
demikian tidak sepatutnya pasangan anak muda itu larut hanya dalam
dekapan cinta. Tetapi, bahwa cinta hanyalah salah satu ekspresi dari
potensi dan naluri yang wajar, yang bukan menjadi tujuan utama.
Inilah yang saya kira di antara kekuatan Hamka.
Dr Bahtiar Effendy
Cendekiawan Muslim/Pengamat Politik
Buya Hamka dalam konteks pemikiran dan pengembangan Islam Indonesia,
bahkan di Asia Tenggara, menurut saya, lebih sebagai tokoh generalis.
Artinya, semua yang berkaitan dengan masalah keislaman, dia kuasai
dengan baik. Dia menguasai sastra, tasawuf, filsafat, sejarah,
teologi, tafsir, budaya, dan lain sebagainya. Dengan latar belakang
demikian, dia mampu mengupas dan mengangkat Islam secara baik, dan
itu terus kontekstual. Ini berbeda misalnya, dengan pemikir atau
tokoh di masa sekarang, yang secara spesifik lebih mencerminkan
kepakarannya. Misalnya, si A pakar politik, si B pakar tafsir, dan
lain sebagainya.
Kualitas dan penguasaan Hamka dalam berbagai aspek itu dapat kita
baca melalui banyak karyanya. Dalam bidang sastra misalnya, karyanya
//Di Bawah Lindungan Ka'bah//, merupakan karya besar dia yang sangat
berpengaruh bagi generasi pelanjut sastra nusantara. Dan karena itu,
sejauh pengamatan saya, dia lebih sebagai sastrawan dan budayawan.
Tetapi, di sisi lain, dia juga cendekiawan dan intelektual muslim
yang sangat dihormati. Karena itulah, agak sulit membaca diri Hamka,
karena luasnya lingkup wawasan dia.
Dia juga tak bisa dilepaskan dari pengembangan Islam melalui media
massa, dengan mendirikan majalah //Panjimas//. Ini secara substansial
sangat berpengaruh dalam wacana pemikiran. Hamka mempunyai rubrik
khusus di Panjimas, yaitu //Lentera Hati//. Melalui rubrik ini, dia
memberikan pencerahan-pencerahan dan solusi suatu masalah. Panjimas,
khususnya pada era 1970-an, menjadi satu-satunya media otoritatif
yang menjadi rujukan bagi wacana pemikiran Islam. Para pengkaji Islam
periode 1960-an ke atas, selalu menempatkan Panjimas sebagai
parameter dari perkembangan Islam di Indonesia.
Berkaitan dengan relevansi pemikiran-pemikiran Buya Hamka, saya kira
apa yang pernah digagaskan atau dirumuskan Hamka melalui berbagai
pertemuan, diskusi, ceramah maupun karya-karyanya, masih sangat
relevan. Kontekstual kiprah Hamka itu lebih-lebih jika kita melihat
kondisi bangsa sekarang yang penuh dengan krisis multi-dimensional.
Nah, dalam kondisi dan situasi seperti ini, jika kita kembali membaca
pemikiran-pemikiran dan konstribusi Hamka, akan memberikan kekuatan
batin tersendiri, bahwa kiprahnya selalu menawarkan daya
spiritualitas yang cukup tinggi. Dimensi penguatan spiritualitas
inilah yang kita perlukan saat ini, terlebih dalam menghadapi krisis
kehidupan berbangsa dan bernegara. hery s
Buek email gratis di http://sungaipagu.zzn.com
____________________________________________________________
Get your own FREE Web and POP E-mail Service in 14 languages at http://www.zzn.com.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================