|
Indonesiamu.com,
20-02-02 Politik
Banjir, Banjir Politik Oleh Indra J. Piliang �Jika
keesokan harinya matahari terbit dan menjanjikan hari yang baik, tak dapat aku
menahan diri untuk berteriak: Nah, mereka telah menerima hadiah lagi dari
langit, sekarang mereka mendapat bahan untuk saling merampas lagi. Tak ada yang
tak dapat mereka jadikan bahan untuk saling merampok. Kesehatan, nama baik,
kegembiraan, waktu istirahat!� (Johann
Wolfgang Goethe: 1749-1832) Banjir
telah menjadi komoditas politik paling akbar dan paling wahid mengawali tahun
pelaksanaan AFTA ini. Mega yang membawa mendung, hujan, badai dan halilintar,
turut dijadikan sebagai ajang saling hujat pelaku politik, lembaga swadaya
masyarakat, bahkan juga elemen masyarakat. Seakan semuanya ingin menunjukkan
diri sebagai singa Allah dalam perang Uhud, ketika Hamzah terbunuh. Semuanya
berlangsung ketika sunyi dan kengerian datang ke tengah warga negara yang
tinggal di loteng, tempat-tempat penampungan, bersama penyakit menular dan perut
lapar. Do�a-do�a korban banjir itu seakan tak ada yang mengamini, untuk terlepas
dari keberingasan alam yang sedang menggugat masturbasi kekuasaan dan
pemerkosaan alam sekitar. Lalu apa yang bisa kita tarik dari prosesi kepongahan itu? Dari kacamata politik, telah sangat telanjang ditunjukkan, bagaimana bendera partai atau ideologi ditancapkan dalam setiap tiang-tiang bantuan �kemanusiaan�. Ekonomi lumpuh, tertelan deru air. Trilyunan rupiah hilang percuma, menambah lagi beban ekonomi yang telah memperdaya rakyat selama empat tahun ini. Dan trilyunan rupiah lagi disiapkan, lengkap dengan kontraversi angka antara Sutiyoso yang menginginkan angka besar, dengan Kwik Kian Kie yang mementingkan efisiensi anggaran. Trilyunan rupiah yang hendak disiapkan itu, berada dalam keadaan krisis kepercayaan terhadap pejabat dan birokrasi yang menggunakannya. Uang negara yang dikelola ditengah ketidak-kepercayaan, akan menambah masalah baru, apalagi apabila tak diikuti dengan transparansi dan akuntabilitas publik, seperti halnya penggunaan APBD DKI yang lebih banyak untuk membeli kebutuhan personal pejabat dan biaya rutin penyelenggaraan pemerintahan, ketimbang mengalokasikannya kepada rakyat yang membutuhkan. Lalu,
ketika ada banyak keluhan atas lambannya penanganan pemerintah kepada korban
banjir, DPP PDI Perjuangan berteriak: �Jangan politisasi masalah banjir!�
Bahkan, seorang anggota DPR mengungkapkan sinyalemen, �Ada LSM yang hendak
menumbangkan rezim Mega dan Hamzah!� Bagaimana bisa politisi berteriak agar
masalah banjir jangan dipolitisir, sementara bendera partai dan satgas-satgas
partai dengan enteng datang ke lokasi-lokasi bencana? Mestinya, agar persoalan
banjir tak dipolitisasi, partai tersebut menanggalkan kaos partainya. Di sebuah
koran, bahkan ada adegan Akbar Tanjung dengan berbaju Golkar merogoh dompetnya
untuk membantu korban banjir, ketika mengadakan rapat di ruangan ber-AC. Apa
bukan politisasi korban banjir namanya? Banjir
yang menggenangi Jakarta, dan banyak kota lainnya, adalah akibat dari perlakuan
yang buruk terhadap alam dan manusia, selama bertahun-tahun. Ketika Mall Kelapa
Gading dibangun, pohon-pohon tua berusia lebih dari 50 tahun ditebang oleh
pengembang, atas izin Sutiyoso. Sebuah surat pembaca di media nasional
menuliskannya, tetapi tak mendapatkan tanggapan berarti. Padahal, pohon-pohon
tua adalah benteng alam. Pohon tua menyerap air untuk pertumbuhan ranting, akar,
batang, dan daunnya. Pohon tua juga mengikat tanah agar tak mudah bergerak kian
kemari, karena disapu air. Ketika pohon tua itu ditebang, pertanda perang
terhadap alam dimulai, dan balasannya adalah banjir yang tak lagi menemukan
senderan untuk berhenti sejenak. Pohon tua yang mati akibat pilihan strategi
pengembangan kota yang mengedepankan pembangunan mall-mall yang memperbudak
tanah, ditangisi oleh surat pembaca itu, juga oleh air yang kemudian menjadi
liar. Pilihan
untuk tak melibatkan alam sebagai bagian dari unsur yang harus dipelihara dalam
strategi pembangunan ekonomi, sungguh merupakan kecongkakan yang menunjukkan
kekerdilan pikiran. Membangun benda-benda mati diatas humus tanah, rayap-rayap,
cacing, atau unsur nabati dan hewani lainnya yang hidup, adalah penghinaan atas
karya Tuhan yang maha indah itu. Baik dari sisi agama, maupun dari sisi ekonomi
dan politik, strategi pembangunan material seperti ini tidak bisa dibenarkan.
Apa gunanya trilyunan rupiah yang didapatkan, kalau akibatnya adalah kematian
bagi alam? Memperlakukan
alam sebagai unsur yang terus-menerus dieksplotir adalah kemunduran paling besar
dari peradaban manusia. Bahkan manusia zaman antik sekalipun, memperlakukan alam
dengan sangat santunnya, hanya mengambil yang dibutuhkan, lantas menumbuhkan
kembali yang sudah hilang. Kematian bagi alam adalah fase bunuh diri kolektif
bagi masa depan manusia, yang anehnya dilakukan oleh orang-orang yang diberi
amanah untuk memerintah dalam zaman modernisme. Banjir
memang tak usah dipolitisasi. Yang patut dipertanyakan adalah tanggung-jawab
negara untuk melindungi warga negara. Apa gunanya teks-teks indah kenegaraan,
tentang keadilan sosial, tentang negara kesejahteraan, tentang kemerdekaan,
apabila untuk soal penanganan banjir saja negara seolah tak bisa berperan
apa-apa? Sudah saatnya penyelenggara negara menyadari, bahwa ketika manusia yang
diberlakukan bak hewan, dengan cara diserobot tanahnya, diruntuhkan tempat usaha
kecilnya, diteror anak-istrinya agar pindah demi kepentingan pengembang; dan
ketika manusia itu tak mampu melawan lagi, alam memberikan perlawanan dengan
cara yang sulit diduga. Penyelenggara negara seakan lupa, bagaimana mungkin pra
tumbangnya Soeharto, jutaan belalang datang menghabiskan setiap daun pohon yang
disinggahinya? Dari mana belalang itu datang? Air
mata penderitaan rakyat mungkin sudah kering, tetapi airmata alam tak pernah
mengering. Dua pertiga unsur bumi adalah air. Air yang menenggelamkan Benua
Atlantis, melahap kapal Titanic dan kapal Tampomas II, juga memamah ummat nabi
Nuh. Air juga yang merobohkan penguasa tiran seperti Fir�aun. Air tak pernah
main-main, apabila menampakkan kemarahannya. Sayangnya, manusia yang kebetulan
diberi amanah atas nama demokrasi, sering mempermainkan air, juga manusia yang
tinggal diatasnya; atas nama pembangunan, atas nama keindahan, atas nama
investasi, atau nama materi dan hedonisme. Akhir
bulan Februari ini, mudah-mudahan, ketika banjir menyurut, apa yang hendak
dilakukan oleh para penyelenggara negara, termasuk politisi dan birokrasi? Kita
tentu berharap ada perubahan kebijakan. Tetapi, sulit untuk berharap dari
kekuasaan yang sudah kehilangan telinga dan nuraninya. Akan banyak lagi usaha
menutupi kesalahan sendiri, akan banyak lagi upacara kemewahan diri. Seperti
kisah pemuda Welther yang tak percaya sama Duta Besarnya, hasil impresi Gothe
diawal tulisan ini, kita juga patut tak percaya para pemulung suara dalam event
Pemilu ini akan mengubah sikapnya. Tanda-tandanya sudah jelas, tudingan satu
telunjuk ke pihak lain, tanpa pernah mengingat adanya empat jari lain yang
mengarah ke dada sendiri.... Indra J. PiliangPeneliti
Politik dan Perubahan Sosial CSIS.
|
- RE: [RantauNet] Politik Banjir, Banjir Politik (2) Indra Piliang

