Antisipasi El Nino Bisa Dilakukan Tanpa Impor Beras Oleh Wartawan "SH" Merry Magdalena
JAKARTA - Masih hangat dalam ingatan kita akan dahsyatnya kemarau panjang yang melanda negeri ini empat tahun silam. Jutaan hektar hutan di Sumatera dan Kalimantan dilalap api. Tahun 1998, Indonesia yang sebelumnya sempat berbangga hati sebagai negara agraris dan berswasembada pangan, menjadi salah satu pengimpor beras terbesar di dunia. Tahun 2001, Badan Usaha Logistik (Bulog) berencana mengimpor 500.000 ton beras Vietnam yang dananya konon akan diambil dari bantuan Bank Pembangunan Islam (IDB). Masih kurang puas dengan "ambisi" impor beras, institusi yang sama ingin memanfaatkan fasilitas Undang -undang Publik (UUP) 480 (PL 480) dari Amerika Serikat (AS) untuk impor beras tahun 2002 ini. Semua keinginan berimpor-ria itu berpaku pada satu alasan, El Nino. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di AS memprediksi gejala timbulnya El Nino sudah semakin jelas terlihat dari hari ke hari. Diperkuat lagi dengan hasil pengamatan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), Australia yang menyatakan gejala tersebut sudah tampak di kepulauan Christmas. Tanda-tanda akan datangnya fenomena alam ini sudah diumumkan ke seluruh belahan dunia. Tidak kurang dari Food and Agriculture Organization (FAO) mendesak negara Asia sebagai lumbung pangan untuk mulai menyimpan bahan vital. Tidak heran, sebab kawasan Asian Tenggara sebagai produsen 25 persen seluruh pangan dunia terancam kekeringan berkepanjangan. Krisis Pangan Namun perlukah kondisi alam ini kembali dijadikan alasan utama negara kita untuk kembali mengimpor beras besar-besaran? Secara teknologi sebenarnya selalu ada antisipasi yang bisa dilakukan manusia. "Ada badan agroklimat dan pakar-pakar cuaca di pemerintah yang semestinya bertugas memberi informasi kepada para petani. Kondisi cuaca bisa dijadikan acuan tanaman atau varitas macam apa yang harus ditanam," tutur Riza V. Tjahyadi, Direktur Eksekutif Pesticide Action Network (PAN). Informasi macam inilah yang sering tidak dilakukan secara transparan dan besar-besaran terhadap petani. Dalam hal ini Departemen Pertanian juga harus menyediakan benih tanaman pangan yang tahan kering, yaitu tanaman pangan yang dalam pengolahannya hanya membutuhkan sedikit air. Riza berpendapat seandainya El Nino memang sudah jauh-jauh hari diperkirakan kedatangannya maka sedari dini pula kita harus bersiap. Ia percaya tidak ada alasan kuat Indonesia harus kembali menjadi pengimpor beras terbesar de-ngan argumen krisis pangan diakibatkan oleh El Nino. PAN sendiri sejak Agustus 2001 mengadakan uji coba terhadap lima jenis varitas padi di wilayah Sumatera Barat. Dari kelima jenis tersebut dicari mana jenis yang paling tahan dengan kekeringan. Riza yakin jika sedari kini petani Indonesia mulai menanam, krisis pangan tidak perlu terjadi separah kekeringan tahun 1997-1998 silam. "Yang penting, sedari kini petani harus kembali memulai masa tanam. Kalau tidak akan celaka, sebab musim kemarau sudah di ambang mata," cetus Riza. Ini berarti kegagalan panen atau puso yang menurut Menteri Pertanian Bungaran Saragih diderita oleh 10.000 hektare lahan harus secepatnya diperbaiki. Bukan hanya masalah pertanian yang terancam oleh bahaya El Nino. Hutan yang menjadi sumber hayati bumi turut menjadi incaran korban kekeringan berkepanjangan yang ditimbulkan El Nino. Peristiwa kebakaran hutan di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan tahun 1998 sempat mengakibatkan terjadinya lintasan asap panjang di kedua pulau. Selimut asap tebal ini secara serius membahayakan kesehatan manusia. Kebakaran ini juga membahayakan keamanan perjalanan udara serta menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar di seluruh kawasan. Hapsoro, aktivis dari Telapak Indonesia menyebut pemicu kebakaran hutan terbesar saat itu bukan saja kondisi alam yang memang rentan terhadap api. "Sebagian besar kebakaran bersumber pada lokasi pembukaan areal industri oleh perusahaan-perusahaan besar. Cara pembukaan area itu dilakukan mereka dengan sengaja membakar hutan, " papar Hapsoro. Didukung oleh kondisi cuaca panas dan angin kuat maka api menyebar ke segala penjuru dan merambat ke hutan lain. Seandainya saja aturan pelarangan pembukaan area dengan cara membakar ini ditaati, kebakaran hutan tahun ini tidak akan lebih parah dari saat datangnya El Nino terakhir kali. Hutan kita tidak pernah ada habisnya dibabati. Setelah periode kebakaran hutan, yaitu 1997-1998 lewat, illegal logging menjadi momok berikutnya hingga hari ini. Padahal sedari pelajaran ilmu alam yang kita dapat dari bangku sekolah dasar (SD), jelas diketahui bahwa hutan merupakan sumber air dunia. Tanpa hutan berarti dampak kekeringan El Nino bisa lebih terasa lagi dahsyatnya. Pasti Datang Kembalinya El Nino ke Indonesia tidak dibantah oleh Paulus Winarso, ahli meteorogi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Tapi sampai sejauh ini belum bisa diketahui intensitasnya secara pasti. Menurut Paulus, kondisi cuaca yang sejak 1991 tidak teratur polanya membuat semua badan meteorologi dunia tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi. Bahkan sampai sekarang masih ada kontradiksi antar badan meteorologi dunia tersebut. "Itu semua diakibatkan oleh kondisi atmosfer yang selalu berubah. Yang jelas kemarau panjang akan berlangsung akibat dari konsentrasi energi berlebihan. Maka indikasinya kini akan terbalik, yaitu terjadi defisit hujan," jelas Paulus. Fenomena El Nino sendiri tidak bisa dipastikan periode kedatangannya. Kadang bisa lima tahun sekali atau bahkan lebih. Paulus menggarisbawahi bahwa kemarau yang disebabkan El Nino bisa berlangsung dari jangka waktu 12-18 bulan. Saat itu, kondisi curah hujan di Indonesia di bawah normal. Bukan tidak mungkin terjadi hujan selama beberapa hari, tapi setelah itu berhenti dalam jangka waktu panjang. "Kita tidak bisa mencegah terjadinya fenomena alam ini. Yang bisa dilakukan adalah melakukan upaya mengantisipasi bencana kekeringan. Waduk-waduk bisa diisi sedari sekarang dan air harus dihemat pemakaiannya," tandas Paulus. Lelaki yang bergabung dengan BMG sejak 1974 ini menambahkan, tidak ada negara di dunia ini yang bisa melawan kondisi alam. Australia dan AS saja cukup kebingungan saat menghadapi Badai Chris yang melumpuhkan Australia Utara bulan lalu. *** -- GMX - Die Kommunikationsplattform im Internet. http://www.gmx.net RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

