Laporan kristenisasi Fakta, sistematis lawan reaktif ?

Tanggapan untuk pak Boes dan pak Mohammad Arfian

Sinyalemen pak Boes, [EMAIL PROTECTED] ditanggapi oleh pak Mohammad Arfian, [EMAIL PROTECTED] dengan mengirimkan press release Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (Fakta) tentang kegiatan kristenisasi di Indonesia. Memang menurut data pak Arfian yang dikutip dari tabloid SIAR, edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999, hal 14, memperlihatkan penurunan jumlah umat Islam yang sangat signifikan dalam sepuluh tahun, dari 87,3% (dibulatkan menjadi 90%?) tahun 1990 (jumlah penduduk = 200 juta), menjadi 75% pada tahun 1999 (jumlah penduduk ?).

Yang menarik dari laporan Fakta adalah gambaran gerakan kristenisasi yang dilakukan secara sistemik dengan berbagai cara. Pertama: dengan memperbesar populasi Kristen dengan tidak bersedia mengikuti program KB (?), kedua: penyiaran agama kristen dengan terpola, seperti mendirikan gereja di pemukiman muslim, mendoalkan pasien di rumah sakit dan lain-lainnya, ketiga: pemerkosaan dan penipuan gadis muslim, keempat: penyebaran narkoba terhadap remaja (?), kelima: pernyataan palsu dari murtadin (kaum murtad) tentang Islam termasuk oleh Wadud Amrullah, keenam: memberi bantuan sosial di desa terpencil, dan ketujuh: mempergunakan ideom-ideom Islam yang dipelintirkan, dan saya yakin masih banyak strategi lain yang belum terpantau.

Dari fakta di atas, walaupun sebahagian dapat diperdebatkan kebenarannya, dapat disimpulkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara terencana dan sistemik didukung oleh organisasi kuat yang mempergunakan pendekatan ilmu pengetahuan untuk mendukung kinerjanya. Strategi yang diambil seperti selalu hadir pada saat orang membutuhkan, akan memperoleh apresiasi yang besar. Pada saat sakit, dimana setiap pasien menghadapi distress yang besar misalnya, waktu itu mungkin iman seseorang berada pada level yang paling rendah, dan dukungan spiritual sering sangat dibutuhkan. Pada saat itu setiap kelompok yang mampu menawarkan jasanya, akan diterima, yang jika dilakukan terus menerus akan memungkinkan terjadinya perubahan iman. Pendekatan ini tampaknya diterapkan pula pada saat terjadinya bencana alam seperti banjir dan lain sebagainya, atau didesa yang masih miskin di daerah terpencil. Masyarakat Islam tidak mempergunakan methoda ini untuk mengikat ummatnya.

Pendekatan ke masyarakat dengan mempergunakan nama terkemuka seperti Buya Hamka dan Kiai Kosim Nurseha akan mempercepat timbulnya kepercayaan dari masyarakat yang masih paternalistik. Namun karena kurangnya pengetahuan agama, setiap informasi yang disampaikan orang yang dipercaya, dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Belakangan ini kita temui kelompok-2 kecil yang cepat diterima masyarakat karena menawarkan hal-hal yang tampaknya praktis. Keinginan aneh seperti ingin jadi sakti, kebal, jadi kaya dan lain sebagainya, diterima oleh sebahagian masyarakat walapun denggan caraa yang menyimpang dari ajaran Islam, yang walaupun akhirnya dilarang pemerintah, telah menimbulkan korban dan meresahkan masyarakat. Keinginan untuk keluar dari lembah kemiskinan, dapat dieksploitir dengan mengajak pindah kepercayaan secara sistematis dan terencana kepada mereka yang lemah.

Masalahnya adalah bahwa masyarakat kita saat ini juga terperangkap dalam proses pemiskinan yang besar, terutama kemiskinan dalam ilmu pengetahuan dan dalam karenanya termasuk pula iman. Kasus Sumatera Barat yang menurut laporan terakhir hanya mampu memperoleh PAD sebesar Rp. 97 milyar sedangkan RAPBD-nya Rp, 297 milyar (1999) memperlihatkan bahwa masyarakat Sumatera Barat tidak cukup produktif untuk mampu membiayai pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakatnya. Ketidak produktifan ini juga terlihat dengan adanya berita busung lapar yang melanda beberapa nagari waktu lalu. Hal ini menimbulkan keadaan yang menegangkan dan menyebabkan pertahanan manusia terhadap berbagai hal berkurang, yang berpengaruh juga terhadap kadar imannya. Masalah inilah yang mungkin menyebabkan Rasulullah mengingatkan bahwa kemiskinan itu adalah dosa.

Laporan yang kami peroleh tahun 2000 menunjukkan bahwa 10% dari anak usia Sekolah Dasar Sumatera Barat tidak bersekolah, padahal bersekolah di SD tidak membutuhkan uang sekolah. Selanjutnya 41% dari anak usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama tidak melanjutkan pendidikannya, dan 67% dari pemuda yang seharusnye meneruskan pendidikannya ke SLTU tidak sekolah. Di lain pihak, menurut Gubernur, dari survey yang diadakan di 16 propinsi tentang Ilmu pengetahuan dan matematik, Sumatera Barat berada pada tingkat ke 15. Di lain pihak dilaporkan bahwa 40% dari anak sekolah di Padang tidak mampu membaca Al Qur�an. Gambaran itu menunjukkan betapa rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia Sumatera Barat saat ini dan tentu saja di masa mendatang.

Dalam keadaan seperti itu masyarakat dapat kehilangan daya tahan dan daya kritisnya. Islam menekankan bahwa derajat manusia itu ditentukan oleh ilmunya, dan jika kita yakin hal itu, dapat disimpulkan bahwa jika manusia tidak lagi berilmu, maka derajatnya menjadi hilang. Dalam keadaan itu masyarakat menerima seluruh perubahan dengan ketidak berdayaan. Oleh karena itu kehadiran injil berbahasa Minang, dan berbagai publikasi yang dikemukakan oleh Press Relasenya pak Arfian pun dapat berjalan mulus, karena tidak ada lagi resistensi masyarakat, yang mungkin karena kurungnya ilmu atau juga karena perubahan keadaan yang menyebabkan masyarakat hanya memikirkan perut, maka meraja-lelalah publikasi yang menyesatkan itu.

Beberapa tahun lalu, dengan alasan mengganggu ketenangan umum, publikasi seperti itu dilarang oleh Kejaksaan Agung. Saat ini dibawah payung Hak Azasi Manusia dan kemerdekaan berpendapat, hal seperti itu tidak lagi terjadi. Di dalam konteks ini temasuk pula pornographi yang dulu sangat ditakuti, sekarang bebas dengan dalih hak azasi manusia. Malam ini (Jumat, 8 Maret 2002) di Taman Ismail Marzuki dipentaskan pertunjukan oleh artis perempuan nasional dengan judul bombastis, Vagina monolog, suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada era lalu. Perubahan value system ini perlu dicermati dan di pikirkan adaptasinya.

Komentar konstruktif.

  1. Terjadinya perubahan nilai di dalam masyarakat perlu diperhatikan, dan disesuaikan dengan nilai yang kita junjung. Perubahan itu terjadi didorong oleh perubahan nilai yang terjadi di dalam negeri dan interaksi yang terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat dunia.
  2. Perubahan itu juga sengaja dibentuk oleh organisasi yang didukung oleh program yang jelas ditunjang ilmu pengetahuan, ditujukan untuk merubah sistem nilai masyarakat Indonesia yang sebahagian besar adalah muslim. Misi organisasi mungkin seperti sinyalemen Bapak Boes dan Arfian di atas, atau mungkin pula dengan tujuan yang lebih besar melemahkan daya tahan masyarakat Indonesia yang merupakan pasar terbesar di kawasan ini. Hal itu perlu dicermati.
  3. Sejarah membuktikan bahwa gerakan seperti itu tidak dapat diatasi dengan tindakan reaktif saja. Dibutuhkan organisasi yang dapat merancang counter action - nya. Diantara berbagai kegiatan yang dapat mengatasi pengaruh di atas, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan pendidikan, merupakan kunci penting untuk mengurangi dampak negatif yang mereka rancang. Dalam konteks ini termasuk pula pendidikan agama yang pernah menjadi salah satu keunggulan masyarakat Minang. Nama-nama besar seperti Tuanku Imam Bonjol dan kawan-kawannya, Inyiak Rasul, Inyiak Djambek, Inyiak Parabek, Buya HAMKA, Buya Dt. Palimo Kayo, Buya Gafar Ismail, Bapak Mohd. Natsir di antara nama-nama besar ulama lainnya, adalah contoh nyata dari kepeloporan masyarakat Minang dalam pendidikan agama.
  4. Organisasi dibutuhkan untuk mengumpulkan pemikiran, sumber daya dan upaya merancang program kerja pemberdayaan masyarakat yang dapat dilaksanakan dalam jangka panjang, menengah dan pendek guna membangun kembali masyarakat Minang sebagai center of excellence seperti yang pernah terjadi dahulu kala.
  5. Mari kita galang kekuatan untuk memberdayakan masyarakat dan membangun kembali Minang sebagai center of excellence. Terima kasih.

Lembaga kajian dan pemberdayaan masyarakat

Yayasan Imam Bonjol - Jakarta.

Telp. (62.21) 430.6813 Fax & Voice mail: (62.21) 430.6811

M.C. Baridjambek

Sekretaris.

Kirim email ke