http://kompas.com/kompas-cetak/0203/01/opini/menp04.htm Mengonstruksi Pendidikan Islam Transformatif
Oleh M Agus Nuryatno KRITIK utama terhadap pendidikan Islam saat ini adalah kecenderungannya yang bersifat normatif. Mulai dari rumusan tujuan sampai isi bersifat "melangit." Dalam pengertian, rumusan-rumusan itu cenderung bersifat teosentris dan abstrak. Hal demikian bukannya tidak sah, tetapi cenderung mengabaikan realitas nyata yang justru di situlah peserta didik hidup dan berinteraksi. Sementara itu, metodologi yang dipakai untuk mendekati materi agama cenderung bersifat indoktrinatif. Dalam konteks inilah diperlukan rethinking terhadap pendidikan Islam. Pendidikan Islam harus senantiasa dikaitkan dengan realitas historis manusia. Tujuan Pendidikan Islam Transformatif (PIT) tidak hanya berorientasi vertikal, yakni menjadikan anak didik beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga berorientasi horizontal, yakni bagaimana keberimanan dan ketakwaan peserta didik mempunyai imbas kepada perilaku sosial mereka di masyarakat. Hubungan manusia-Tuhan yang akan melahirkan kesalehan pribadi, dalam perspektif PIT, harus melahirkan hubungan sosial antarmanusia yang berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain, kesalehan individu harus mempunyai imbas kepada kesalehan sosial. Titik tolak PIT berangkat dari semangat tauhid. Namun, makna tauhid di sini tidak dipahami hanya dari sisi teologis an sich, yakni Allah Maha Esa, kepada siapa semua bergantung. Tauhid dalam pengertian PIT, selain mempunyai makna teologis seperti itu, juga mempunyai makna sosiologis, yaitu kesatuan manusia (oneness of human beings). Dalam bahasa Farid Esack (1997) tauhid adalah refleksi dari undivided God for undivided humanity. Kesatuan manusia ini tidak dapat dicapai kecuali dengan menciptakan masyarakat tanpa kelas (classless society). Yang dimaksud dengan masyarakat tanpa kelas ini bukan mengacu kepada semangat sama rasa, sama karsa, tetapi lebih pada konsep kesetaraan dan keadilan dalam hubungan antarmanusia. Semangat utama pemahaman tauhid seperti itu adalah agar ada dialektika antara aspek normatif dan sosiologis, antara teks dan konteks, teks dan realitas. Inilah postulat dasar dan bangunan filosofi PIT. PIT berupaya melakukan kontekstualisasi pendidikan agama dengan realitas historis kehidupan peserta didik. Kontekstualisasi ini diperlukan agar pendidikan tidak tercerabut dari akar sosialnya. Selain itu, agar pendidikan tidak menghasilkan manusia-manusia yang pintar dan cerdas, tetapi cenderung selfish dan egois, serta tidak peduli terhadap realitas sekitar. Bagi PIT, kecerdasan otak harus diimbangi kepekaan hati nurani. Kontekstualisasi pengajaran agama Sesuai semangat PIT, pengajaran agama pun harus senantiasa dikontekskan dengan realitas yang terjadi di sekitar kita. Mengajarkan teologi, misalnya, dalam pandangan PIT tidak melulu mengulang-ulang teologi klasik Islam seperti aliran jabariyah, qodariyah, maturidiyah, dan seterusnya yang cenderung abstrak dan ahistoris. Pengetahuan teologi klasik itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana menghadapkan teologi Islam dengan persoalan kekinian yang lebih urgen dan mendesak. Bagaimanapun juga harus diakui, tantangan dan zaman saat teologi klasik itu dirumuskan jauh berbeda dengan tantangan dan realitas zaman kita kini. Dalam perspektif PIT, pengajaran teologi Islam kini seharusnya diarahkan untuk mengembangkan apa yang disebut Aloys Budi Purnomo (Kompas, 9/11/ 2001) sebagai religious literacy (melek agama lain). Mengapa? Karena persoalan inilah yang paling mendesak untuk segera dipecahkan. Betapa karena perspektif yang sempit terhadap agama lain menjadikan agama sering dijadikan alat propaganda dan provokasi untuk menyebar fitnah dan kebencian antarsesama umat beragama. Kasus Poso dan Maluku adalah contoh nyata akan hal ini. Perspektif yang sempit, ditambah muatan-muatan politis-ekonomis, menyebabkan konflik antarumat beragama menjadi kian rentan. Di sinilah diperlukan pengajaran teologi yang inklusif dan memberikan pemahaman yang memadai terhadap agama lain. Jika pengajaran teologi Islam hanya berkutat kepada teologi masa lalu, maka akan sulit memberikan pencerahan kepada peserta didik tentang agama lain. Harus diakui porsi pengajaran religious literacy masih amat minim di lingkungan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Alasan klasik yang sering diungkapkan adalah, jangankan mempelajari agama lain, untuk mempelajari agama sendiri saja masih belum cukup. Jika alasan ini terus dipertahankan, sampai kapan pun religious literacy tidak akan bisa diajarkan. Karena sulit mengukur batasan "mengetahui" atau "memahami" agama sendiri. Mengajarkan puasa pun tidak melulu bersifat normatif, tetapi juga bersifat sosiologis. Puasa, dalam perspektif PIT, tidak hanya berarti menahan makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenam Matahari. Puasa juga merupakan latihan untuk bisa merasakan penderitaan orang lain, dan inilah esensinya. Dengan bisa merasakan penderitaan orang lain, akan timbul rasa empati dan keberpihakan terhadap mereka yang miskin dan tertindas. Demikian juga dengan mengajarkan zakat. Zakat tidak diajarkan secara mekanis sebagai karitas dari mereka yang punya kepada yang tidak punya. Pengajaran secara mekanis ini tidak mempunyai kekuatan transformatif, karena yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Dalam perspektif PIT, zakat harus diajarkan secara strukturalis. Zakat harus mempunyai kekuatan transformatif dalam mengubah struktur sosial masyarakat ke arah yang lebih adil. Dari indoktrinasi ke dialog Semangat PIT untuk senantiasa mengontekskan pengajaran agama dengan realitas sosial tidak bisa terwujud jika metode pembelajaran agama masih bersifat indoktrinatif. Model pengajaran demikian menutup peluang bagi adanya pendalaman dan komprehensi akan suatu persoalan. Model indoktrinatif cenderung menekan peserta didik untuk berpikir eksklusif, simplistik, dan tidak menghargai pluralitas pemikiran. Jika agama diajarkan dengan pola ini, alih-alih untuk mengembangkan religious literacy, untuk melihat agama sendiri secara kritis pun akan sulit. Model indoktrinatif hampir sama dengan konsep pengetahuan sebagai makanan (knowledge as food), seperti dikritik Sartre. Gagasan to know is to eat adalah paralel dengan semangat indoktrinasi. Pengetahuan dalam model ini harus diberikan kepada peserta didik. Ia tidak dilahirkan dari upaya kreatif peserta didik sendiri. Secara implisit, model ini mengandaikan peserta didik sebagai passive beings, atau obyek, bukan subyek. Kebalikan dari model itu, metode yang dipakai PIT dalam pembelajaran agama adalah metode dialogis. Dialog diperlukan agar ilmu agama yang diajarkan mengalami proses refleksi bersama antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa. Proses inilah yang akan menjadikan peserta didik menjadi kreatif dan kritis, sekaligus ada pendalaman dan komprehensi terhadap materi agama yang diajarkan. Proses pembelajaran dalam konteks PIT mengandaikan dua gerakan ganda: dari realitas nyata ke arena pembelajaran, lalu kembali ke realitas nyata dengan praksis baru. Tahap pertama, memakai istilah Paulo Freire dalam Cultural Action for Freedom (1972), adalah tahap kodifikasi (codification), yakni penelaahan beberapa aspek penting yang terjadi di realitas nyata peserta didik. Fakta-fakta obyektif itu lalu dibawa ke arena pembelajaran untuk dianalisis, dihadapkan pada teks normatif agama. Ini merupakan tahap dekodifikasi (decodification), yaitu proses deskripsi dan interpretasi. Tahap selanjutnya adalah praksis, tahap pengejawantahan ke realitas kongkret. Tahap praksis ini dihasilkan dari proses kodifikasi dan dekodifikasi. Diharapkan peserta didik sekeluarnya dari arena pembelajaran mempunyai praksis baru di masyarakat. Proses pembelajaran agama seperti itu bisa dilaksanakan bila peserta didik tahu peran mereka sebagai subyek kreatif dalam pembelajaran. Untuk itulah pendidikan Islam transformatif selalu menempatkan peserta didik sebagai subyek dan active being. Mereka selalu dilibatkan dalam proses dekodifikasi materi agama. * M Agus Nuryatno, mahasiswa S3 Faculty of Education, McGill University, Canada; staf pengajar di IAIN Sunan Kalijaga Yoyakarta _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

