Lee Kuan Yew, Terima Kasih!
Oleh Anies Baswedan


KETIKA Lee Kuan Yew mengatakan Indonesia adalah salah satu sarang teroris, sekonyong-konyong berbagai kalangan menggeliat dan tidak rela. Mulai dari wakil presiden, bekas presiden, menteri, politisi di DPR, opini di media massa, dan demonstrasi massa menanggapinya dengan penuh semangat. Tanggapan pun umumnya seirama: Lee bicara tanpa fakta yang jelas, tunjukkan buktinya, tidak paham demokrasi, negara tetangga yang oportunistik, atau Lee memang kaki-tangan Amerika Serikat (AS) sejak lahirnya Singapura.

Barangkali tanggapan-tanggapan itu ada benarnya. Singapura memang cerdik memanfaatkan peluang pergeseran geo-politik internasional. Barangkali, Singapura punya berbagai agenda domestik di balik terperosoknya Indonesia dalam daftar hitam fasilitator teroris yang dibuat sepihak oleh defense establishment di AS. Atau, barangkali karena faktor lain. Kita bisa saja menjejerkan berbagai kepentingan Singapura untuk menjelaskan mengapa Lee Kuan Yew sampai membuat pernyataan itu.

Namun, kejadian ini bukan yang pertama. Beberapa waktu lalu Deputi Menteri Pertahanan AS-Paul Wolfowitz-melontarkan tudingan yang juga menyudutkan Indonesia. Karena itu pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa Indonesia sering dijadikan bulan-bulanan oleh pimpinan negara lain? Mengapa para politisi asing berani menuding Indonesia dengan beragam tuduhan?

Jawaban standarnya adalah karena mereka punya hidden agenda di balik pernyataan dan tudingannya. Seperti dalam kasus pernyataan Lee, kita bisa membuat daftar kemungkinan hidden agenda di balik pernyataan yang menyodok Indonesia. Tetapi setelah daftar hidden agenda dibuat, pertanyaannya adalah apa salahnya mereka punya agenda? Bukankah wajar-wajar saja bila setiap bangsa, kelompok, partai, masing-masing punya agenda. Dan, apa pula yang bangsa ini bisa lakukan terhadap agenda milik bangsa lain?

***

MENGUTUK atau menyatakan kekecewaan tidak akan membuat semua agenda itu-bila memang ada-terhapus. Kutukan hanya bisa memuaskan panas hati, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Mengapa? Karena pernyataan yang menyodok dan memojokkan Indonesia itu bermula dari dalam negeri, di jantung Indonesia sendiri, bukan luar negeri.

Untuk bisa memahami realita ini kita harus melihat Lee sebagai politisi rasional yang melakukan langkah politis secara strategis dan kalkulatif. Dalam kasus ini, Lee sadar, dia tidak sedang berhadapan dengan bangsa tetangga yang berwibawa secara ekonomi, politik dan militer. Sebaliknya, dia sedang berhadapan dengan negeri yang morat-marit.

Lee sebagai politisi kawakan-meski punya bukti-akan berpikir berlipat-kali sebelum go public dan menuding nama Indonesia bila Lee memandang Indonesia dan para pemimpinnya sebagai bangsa dan pemimpin yang berwibawa. Tetapi, kewibawaan Indonesia tinggal mitos. Bukan cuma Lee, para pemimpin negara tetangga lain pun sanggup membuat kebijakan yang tidak menguntungkan-bahkan merugikan-Indonesia. Ambil contoh kebijakan pemulangan TKI dari Malaysia. Dalam pandangan mereka, mengapa harus khawatir dengan reaksi Indonesia, toh para pemimpin di Indonesia sendiri tidak peduli dengan nasib rakyatnya.

Inilah sumber masalahnya, negara, bangsa, dan pimpinan Indonesia telah kehilangan wibawa di mata internasional. Rakyat Indonesia dan para pemimpinnya tidak lagi disegani lagi, bahkan oleh para tetangga dekatnya. Jadi, jangan marah-marah pada Lee saja. Bercerminlah para pemimpin dan rakyat Indonesia: di mata internasional bangsa ini telah kehilangan kewibawaannya!

Lihatlah potret para pemimpin Indonesia dan rakyatnya. Hari ini menyerukan pemerintahan bebas korupsi, tahun berikutnya menentukan pejabat berdasarkan janji setoran uang korupsi untuk partainya. Hari ini menyerukan transparansi kekayaan pejabat, tahun berikutnya menolak melaporkan kekayaannya. Hari ini menyerukan hidup sederhana, besoknya terbang ke luar negeri merayakan pesta ulang-tahun keluarganya. Hari ini mengharamkan presiden perempuan, tahun berikutnya menjadi motor pencalonan presiden perempuan. Hari ini menyerukan pemisahan agama dan politik, tahun berikutnya memanipulasi simbol agama untuk mempertahankan kekuasaan. Hari ini menyatakan perang terhadap kemiskinan, besoknya mengeluarkan keputusan menyubsidi perusahaan swasta raksasa. Hari ini berdemonstrasi besar-besaran, besoknya makan besar dengan uang demonstrasi. Hari ini membuat proposal pengentasan kemiskinan untuk desa miskin, bulan berikutnya berganti mobil baru. Hari ini berjanji menjaga keamanan dan persatuan bangsa, besoknya berdiam diri menonton rakyat saling membantai. Hari ini mengumbar senyum ramah, besoknya menghunus pedang, beramai-ramai membunuh tersangka pencurian ayam. Dengan potret macam itu, rasa segan dan hormat macam apakah yang masih bisa diharapkan oleh dunia internasional?

Jadi, jangan buru-buru menyalahkan media internasional dan konspirasi internasional. Pernyataan yang menyodok dan memojokkan Indonesia itu hanya bisa terjadi karena realita domestik Indonesia yang amburadul. Lee Kuan Yew dan para pemimpin politik negara lain sadar sepenuhnya, mereka berhadapan dengan negara yang berantakan. Pemerintah yang tidak terarah, politisi yang rakus berebut korupsi kekuasaan, angkatan bersenjata yang rapuh, dan rakyat yang tidak berdaya. Bagi mereka, kenapa harus khawatir untuk membuat pernyataan keras terhadap Indonesia?

Dengan kejadian ini, kita pantas berterima kasih kepada Lee Kuan Yew. Pernyataan Lee-meski mungkin tidak berdasar fakta dan menyakitkan hati-telah menyadarkan kita, betapa tidak diseganinya pemerintah dan bangsa Indonesia di hadapan dunia internasional.

Kini giliran bangsa ini untuk menentukan sikap, akan terus menuding balik dan memprotes para politisi asing secara reaktif atau akan introspeksi dan melakukan perubahan kolektif secara serius.

 

----- Original Message -----
From: Yofi Andri
Sent: Wednesday, March 13, 2002 9:28 AM
Subject: RE: [RantauNet] Apakah Hanya Panggugek, Urpas, Hasan, etc.?

    Mmmm....panggugek datang, urpas menghilang.., sekalipun sang Yessi meratap supaya Urpas melantunkan bait-nya lagi, Urpas tetap diam.
    Panggugek Jangkang...., Urpas datang...
    Ada apakah gerangan? Dapatkah ditarik sebuah kesimpulan?
-----Original Message-----
From: rahim sumin [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, March 13, 2002 2:29 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [RantauNet] Apakah Hanya Panggugek, Urpas, Hasan, etc.?

 kemudian telah (dan akan) terbukti bahwa,
urpas, panggugek, hasan basri, edizal, jusfiq, atau titik bukanlha orang
yang sama!

Urpas,,, urpas,,, ini omong kosong bung, anda punya logika kayak logika burung sikikih, tau nggak, burung sikikih, dengan masukkan kepala doang ke lobang, dikira orang tak melihat anda ?? gimana mungkin anda membuktikan ini semuanya, sementara anda sendiri nggak pernah terus terang siapa anda dan siapa dia panggugek etc, anda adalah manusia topeng yang digerakkan sutradara untuk kepentingan tertentu, kalau nggau menuruti skenario sutradara anda nggak dapat makan dan nggak bisa,,,,

justru kalo pakai logika berbalik, pembuktiannya juga akan berbalik dan hasilnya akan lain, ternyata itu cara anda untuk mengelabui dan menutup diri anda.

udahlah, nggak usah pusing mikirin urpas,,,,biar aja urpas yang sakit dada,,,, 



Do You Yahoo!?
Try FREE Yahoo! Mail - the world's greatest free email!

Kirim email ke