Assalaamu'alaikum wr wb
 
Karena lagi ramai soal cinta, saya forwardkan artikel berikut.
Wassalaamu'alaikum wr wb
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
044-861-0217 (home)
090-3909-5742 (mobile)
 
ADA APA DENGAN CINTA

 Suatu saat, ketika saya menonton televisi, ada sebuah acara dimana
 reporter menanyakan kepada setiap orang, tentang makna cinta. Ada yang
 mengatakan bahwa cinta nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, cinta itu
 indah, cinta itu agung, cinta itu suci dan sebagainya. Padkay sendiri
 mengatakan, " Cinta, penderitaannya tiada akhir". Para filosof juga
 seringkali membicarakan tentang makna cinta dan akhirnya kesimpulannya
 tetap terserah kepada siapa yang memandang.

 Cinta dapat menjadikan manusia menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang
 menjadikan orang menjadi tercela. Seorang sahabat nabi, yang karena
 cintanya kepada beliau, rela menghadang panah-panah dengan tubuhnya untuk
 melindung beliau, dan cinta semacam ini adalah cinta yang penuh dengan
 nilai kemuliaan. Seorang ayah, karena cintanya kepada anaknya, rela
 bekerja siang malam, bahkan lembur segala, untuk membahagiakan istri dan
 anaknya, untuk sekedar melihat senyum mengembang di bibir istri dan
 anaknya, maka cinta yang demikian adalah cinta yang mulia. Cinta dapat
 membawa kepada nilai kebaikan dan kemuliaan.

 Kalau saya membaca surat kabar, maka pada rubrik konsultasi, seringkali
 saya membaca kesaksian pembaca tentang hubungan suami istri pra nikah
 antara seseorang dengan pacarnya, mereka mengatasnamakan cinta. Atau
 barangkali di malam valentinan kemarin, banyak pasangan muda mudi berasyik
 masyuk berciuman, berpelukan, dan mereka mengatasnamakan cinta. Yang
 demikian barangkali adalah cinta yang membawa kepada keburukan dan
 kehinaan.

 Dalam Islam cinta akan diarahkan kepada nilai kebaikan dengan landasan
 yang kokoh. Dalam Islam landasan cinta adalah cinta Alloh, dan cinta
 Rasul. Landasan yang takkan mungkin berubah, dan yang jika berubah akan
 mengurangi atau bahkan menghapuskan nilai keimanan seseorang. Kecintaan
 manusia pada suatu hal, harus berlandaskan pada dua cinta tersebut. Itulah
 yang menyebabkan nilai kecintaan dalam Islam memiliki ranking yang sangat
 tinggi, dan mempunyai bobot yang sangat berat, karena cinta harus
 berlandaskan pada semangat-semangat keimanan.

 Nanti, pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan dengan apa yang
 dicintainya, akan dikumpulkan dengan apa yang dicintainya. Orang bisa saja
 mencintai Nafa Urbach, Krisdayanti, Sheila on Seven, Ali bin abi Thalib,
 Fatimah ra, dan ia akan dibangkitkan bersama golongan orang yang
 dicintainya itu. Berhati-hatilah dalam mencinta, dan cintailah hanya
 orang-orang yang memang patut dan layak dicintai.

 Suatu saat seorang yang menjadi Imam Sholat, dilaporkan kepada Rasululloh,
 karena ia hanya membaca surat Al-Ikhlash dalam rakaat-rakaatnya. Apakah
 tidak ada surat lain yang lebih panjang? Lalu, Rasulpun memanggil orang
 tersebut, menanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut. Orang itu
 menjawab,"Saya mencintai Alloh hingga saya suka sekali dengan surat
 Al-Ikhlash itu, karena isinya menceritakan tentang keesaan Alloh." Maka
 Rasululloh berujar,"Alloh mencintaimu karena cintamu kepada-Nya". (sayang
 tak disebutkan perawinya)

 Pada kesempatan yang lain, Rasululloh bertanya kepada Umar, apakah Umar
 mencintai beliau melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Umar menjawab,
 "Kalau yang itu nampaknya belum, ya Rasul!". Rasululloh kemudian
 berujar, " Belum sempurna iman seseorang jikalau ia belum mencintaiku
 melebihi cintanya kepada dirinya sendiri," Umar menyahut, "Mulai saat ini,
 aku akan mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri!"

 Rating Cinta
 Islam mengenal beberapa peringkat cinta. Peringkat pertama adalah
 TATAYYUM, yang menduduki tempat teratas. Ialah cinta yang hanya mampu kita
 persembahkan kepada Rabb Yang Mahaagung, yang mampu menciptakan rasa ingin
 mempersembahkan gemerincing rupiah terakhir dan tetes darah penghabisan
 (romantis, bukan?). "Orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
 Alloh." (QS. Al-Baqarah:165).

 Peringkat kedua adalah ISYQ, yang hanya merupakan hak kekasih ALloh, pria
 yang paling indah akhlak dan kepribadiannya di muka bumi, yaitu Rasululloh
 SAW. Cinta ini berwujud kerinduan untuk bertemu dan mengikuti sunnahnya.

 Peringkat ketiga adalah SYAUQ, yaitu cinta antara sesama mukmin dengan
 mukmin lainnya. Antara suami-istri, anak-orangtua, and so on.

 Yang berikutnya adalah SHAHABAH, yang ditujukan untuk sesama muslim,
 hingga melahirkan Ukhuwah Islamiyah.

 Peringkat kelima disebut ITHF (simpati), yang ditujukan kepada sesama
 manusia. Rasa simpati ini menumbuhkan keinginan untukberdakwah
 menyelamatkan manusia dari ancaman siksa Alloh di hari akhir.

 Juru kunci cinta diduduki oleh INTIFA', yang merupakan kadar cinta yang
 paling rendah dan sederhana, yaitu cinta kepada selain manusia, seperti
 harta benda, pangkat, dan kedudukan. Bila dikelola dengan baik dan
 disertai rasa syukur, ia dapat menumbuhkan ghirah (semangat) untuk
 memanfaatkan dan mendayagunakannya di jalan Alloh.

 Di manakah rating cinta yang kita miliki saat ini?
 Hiduplah dalam naungan cinta, dan pilihlah cinta yang hanya berlandaskan
 kecintaan pada Alloh dan Rasululloh. Dan cintailah hanya orang yang memang
 layak untuk kita cintai, yang akan bersama kita menuju ridha-Nya.

 Selamat bercinta.
 Terimakasih kepada Dr. Abdullah Shahab, akan taushiyahnya Tentang Cinta,
tentu saja.
 Juga Ibnul Qayyim rahimahulloh. Insya Alloh.
 Adopted by: Abdul Chalik & Irman Sunandar

Kirim email ke