Saya bertanya kepada Ibu Rahima: (timbal balik dari cerita buku dibawah) Sebagai Universitas islam terbesar dan terpandang, Apakah saat ini Mahasiswa Al-Azhar telah melakukan suatu langkah Untuk mempersatukan Remaja2 Islam di Dunia....?
Menggugah Semangat Jihad Intelektual Al Faruqi Penulis: Rachmad K Dwi Susilo Sumber : Republika, 24 Desember 2000 Judul: Mendidik Generasi Baru Muslim Penulis Buku: Dr. Muhammad Shafiq Penerbit: Pustaka Pelajar Cetakan: Pertama, Juli 2000 Tebal: 230 hal + xxii Pembahasan tentang proses islamisasi ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari dua nama intelektual Muslim, yaitu Ziaudin Sardar dan Ismail Ra'ji Al Faruqi. Sardar menginginkan proses Islamisasi secara fundamental, sementara Al Faruqi lebih pada bidang akademisi. Tetapi, kelebihan Al Faruqi yang tidak dimiliki Sardar bahwa ia menindaklanjuti gagasan-gagasannya dengan aksi (program), sejak dari pendirian lembaga-lembaga, riset, penerbitan buku, sampai penemuan-penemuan ilmiah. Kerja-kerja intelektual ini telah dilakukan secara konsisten bersama istrinya, Lois Lamya Al Faruqi (Lois Isben) sampai keduanya terbunuh (baca: syahid) secara sadis pada 27 Mei 1986 di rumah mereka di Wyncote, Pensylvania. Ditemukan tiga tikaman senjata tajam di dada Lamya dan tiga puluh luka di dada dan tangan Ismail R Al Faruqi. Tidak jelas, apa modus operandi Joseph Young, laki-laki African-American, 50 tahun, yang membunuh mereka. Tetapi menurut penulis buku ini, pasti ada keterlibatan sebuah agen rahasia di belakangnya, yang merasa tidak tenang dengan aktivitas-aktivitas Al Faruqi. Siapakah Ismail Ra'ji Al Faruqi? Apa kontribusinya dalam mempelopori kebangkitan Islam? Ismail R Al Faruqi dilahirkan di Jaffa, Palestina 1 Januari 1921. Ayahnya, Abd al Huda Al Faruqi adalah seorang ahli hukum (qadi) dan seorang tokoh agama yang cukup dikenal sarjana Islam di Palestina. Keluarganya termasuk kaya raya dan cukup terpandang. Tetapi, setelah adanya kolonialisme Israel ke negaranya, ia bersama sebagian besar kerabatnya mencari perlindungan ke Beirut, Libanon. Di negara ini ia mendapatkan gelar BA pada The American University. Setelah itu ia kembali ke tanah airnya dan menjadi gubernur di wilayah Galilee Pemerintah Palestina. Tetapi di tahun 1948, penjajah Yahudi kembali lagi mendepak ia dan keluarganya untuk keluar dari Palestina. Didorong rasa dendam, Al Faruqi mengadakan pembalasan untuk memerangi penjajah dan mengadakan sejumlah aksi di tanah air. Tetapi, ia kecewa karena munculnya perpecahan internal warga Palestina, akhirnya ia merencanakan pergi ke Amerika Serikat. Di Amerika inilah Al Faruqi memulai perjalanan intelektualnya. Perjalanannya berpindah-pindah dari satu universitas ke universitas yang lain, baik sebagai pendidik maupun mahasiswa. Bermula dari Indiana University's Graduate School of Ard and Science, dilanjutkan ke Harvard University untuk mendapatkan gelar MA. Sementara itu gelar PhD-nya didapat dari Universitas Indiana. Suatu saat Al Faruqi diundang oleh Mc Gill Univeristy's Institute of Islamic Studies. Kekaguman Stanley Brice Forst, dekan Graduate Studies and Research pada penguasaan Al Faruqi terhadap perangkat-perangkat intelektual modern, membuatnya berkesan bahwa Al Faruqi adalah seorang teman debat yang gigih, seorang kolega yang ''menggugah'', sekaligus seorang teman yang ramah. Dia mengakui bahwa Al Faruqi adalah seorang yang berdimensi dua dunia: Barat dan Timur. Bersama Fazlurrahman, cendekiawan asal Pakistan, Al Faruqi pernah dikontrak Institut Penelitian Islam di Karachi sebagai profesor penuh (full profesor). Perjalanan ini berkaitan dengan Program Islamisasi Hukum dan Administrasi Pemerintahan yang dicanangkan oleh Muhammad Ayub Khan, Presiden Pakistan saat itu. Dalam perjalanannya di Pakistan ini telah menyadarkannya bahwa Islam adalah kekuatan persatuan antara orang-orang Muslim, baik Arab maupun non-Arab. Dan idenya tentang arabisme -- yang sebelumnya dianggap sebagai yang paling benar -- mulai berubah. Menurutnya arabisme justru akan mengundang ketegangan antardunia Islam yang sudah mulai retak. Dari pengalaman-pengalamannya yang didapat di Pakistan juga semakin menguatkan tekad Al Faruqi bahwa tempat yang paling memadai untuk hidup, mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan keislamannya di AS. *** Semangat Islamnya semakin menguat manakala Al Faruqi membandingkan keadaan Barat dengan masyarakat Islam. Bahkan, ia acapkali mengeluhkan Amerika yang selalu melakukan kejahatan terhadap ajaran Islam. Amerika mengkampanyekan pada warganya, sehingga percaya bahwa umat Islam adalah ''sekelompok makhluk liar'' yang hanya bisa melakukan kejahatan. Para misionaris gencar menyuarakan bahwa orang Islam hanya menjadi penghambat peradaban Kristen, sedangkan para orientalis menyatakan bahwa ajaran Islam tidak lain adalah serpihan-serpihan perjanjian lama. Sementara itu kondisi ilmu-ilmu sosial yang diajarkan di universitas hanya menjadikan dunia Islam sebagai objek perencanaan kebijakan (hal 42). Mengapa ini dapat terjadi? Menurut Al Faruqi, kesalahan ada pada diri umat Islam sendiri. Masyarakat barat sudah berpikir tentang persatuan dan kerja sama global, sedangkan umat Islam masih menderita penyakit lama: Tribalisme (kesukuan), nasionalisme, dan sektarianisme. Keprihatinannya ini nampak dengan gamblangnya. Ia menjelaskan persoalan umat yang kian kompleks. Seperti keterpecahan, kemiskinan, keterbelakangan dalam iptek dan fanatisme madzab keagamaan yang terlalu berlebihan. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman terhadap Islam dan godaan materialisme barat dan propaganda anti-Islam -- yang digencarkan tanpa henti oleh media Barat -- merupakan permasalahan mendesak yang mengantarkan dunia Islam nyaris ke dalam kehancuran. Akibatnya, umat Islam yang nota bene negara-negara kaya mau menandatangani perjanjian-perjanjian dengan Barat, meskipun isi perjanjian tidak memuat kepentingan umat Islam. Al Faruqi menyebutnya umat Islam mau bertingkah laku seperti pengemis yang tidak malu, bahkan bangga dengan apa yang diperoleh dari majikannya. Martabat umat Islam terseret ke lumpur. Sudah terlalu banyak nada kecaman, tetapi tidak seorang pun datang dengan pertolongan yang terorganisir. Al Faruqi mengibaratkan kondisi umat Islam ini ibarat seperti seekor lembu yang terjatuh dengan di sekelilingnya banyak anjing dan srigala yang siap merenggut potongan-potongan dagingnya dengan sepengetahuan lembu. Sebagai tanggapan atas kemalangan ini, kebanyakan pemimpin politik Muslim mencoba melakukan westernisasi terhadap umat dengan harapan lebih memberi semangat secara politik, ekonomi dan militer. Namun, beberapa kali percobaan ini gagal, umat berakhir dengan semakin tergantung dengan Barat (hal 153). Meskipun demikian, hidup Al Faruqi di Barat tidak lantas membuatnya pesimis dan frustrasi. Menurut Muhammad Shafiq, Al Faruqi mampu melihat sisi budaya barat yang fungsional untuk penyebaran Islam. Seperti mulai hilangnya spiritualitas, banyaknya migrasi ke wilayah ini, dan kepercayaan yang tidak logis dalam mitos hellenisme Kristen -- seperti konsep inkarnasi Tuhan, trinitas, penyaliban/kematian Yesus. Islam memiliki visi yang mengesankan pada masyarakat Barat -- seperti persamaan derajat laki-laki dan perempuan, konsep kekhalifahan manusia, dan kehidupan keluarga islami yang ditopang keluarga besar (extended family). Menurut Al Faruqi, pendidikan merupakan jalan keluar untuk mengatasi persoalan umat. Umat Islam harus menekankan kembali pembacaan dan pembelajaran atas literatur-literatur Islam. Sekaligus harus dihilangkan penyakit-penyakit sepreti kebodohan, barbarisme, dan fanatisme. Setidak-tidaknya, ada tiga langkah untuk proses transformasi sosial ini. Pertama, iqra'. Belajar dari sejarah da'wah Rasulullah, telah dibuktikan bahwa transformasi sosial dari orang badui menuju masyarakat yang lebih berbudaya dimulai dengan pendidikan. Yaitu mulai terjadinya perubahan dari model masyarakat jahiliyah menuju model masyarakat ummah (berpengetahuan). Kedua, qolam, yaitu menguasai dan mengkomunikasikan pengetahuan kita pada orang lain. Ini merupakan langkah penting yang dapat menyadarkan dan membangkitkan umat. Kegiatan penelitian dan penulisan buku-buku mampu mengubah nasib bangsa-bangsa dan mereka akan menjadi bangsa yang kuat. Ketiga, bayan, yaitu kemampuan untuk menjelaskan yang dapat digunakan untuk memahamkan orang lain dalam pertemuan pribadi, literatur, atau media. Esensinya, terma ini bermakna pemahaman seseorang secara jelas mengenai hubungan-hubungan sesuatu dan kemampuan seseorang menjelaskannya pada orang lain. Al Faruqi mengatakan, bukan pedang yang mengontrol dunia modern, tetapi ilmu pengetahuan dan buku-buku bacaan. Dengan bantuan elektronik suatu bangsa harus menggantikan pedang dengan pengetahuan jika ia masuk menjadi bangsa yang unggul. Apakah yang menarik pada diri Al Faruqi? Di sinilah, aktivitasnya yang padat dalam bidang pendidikan merupakan jihad intelektualnya untuk mengatasi persoalan umat. Di samping sebagai intelektual dengan karya ilmiah yang luar biasa banyaknya, ia juga mampu memerankan sebagai seorang pendidik yang humanis dan aktivis da'wah yang tidak kenal lelah. Aktivitasnya berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, pengembaraannya dari Pakistan sampai ke Amerika Utara, dari teman diskusi yang sebelumnya orientalis di Universitas Syracuse sampai berpindah ke pendidik dan pemimpin Muslim di Universitas Temple. Dalam karir intelektualnya, ia menjadi perintis berdirinya AMSS (The Association of Moslem Social Science) dengan tujuan islamisasi ilmu sosial, sedangkan dalam bidang da'wah ia mendirikan gerakan Al Urwah al Wutsqo di Amerika Utara. Dalam pribadinya yang utuh ini sampai-sampai orientalis HAR Gibb menggambarkan Al Faruqi sebagai orang yang benar-benar menjadikan Islam sebagai falsafah hidupnya (hal 42). Dalam bukunya ini, Dr Muhammad Shafiq (49), intelektual Muslim dari Pakistan yang juga murid Al Faruqi di Universitas Temple, mampu menjelaskan secara menarik sosok pribadi Al Faruqi. Dari perjalanan intelektual Al Faruqi, pergulatan-pergulatan pemikiran, aktivitas sehari-hari sebagai pendidik sampai aktivitasnya dalam berbagai gerakan da'wah yang dirintis atau diikutinya. Penulis mampu menghadirkan sosok Al Faruqi di tengah pembaca, meskipun ia telah syahid, 14 tahun lalu. Seperti diakuinya sendiri dalam buku ini, sebagai ''teman seperjuangan'' dalam da'wah, ketidakhadiran Al Faruqi sebenarnya hanyalah ketidakhadirannya secara fisik, tetapi semangat beliau akan selalu hadir di tengah-tengah umat Islam. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

