--- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
Engku Jusfiq, terima kasih atas tanggapan Anda, dan mohon maaf baru
sekarang bisa saya tanggapi, tidak lain karena sebagian besar waktu saya
belakangan ini habis untuk urusan mencari nafkah buat keluarga. Dan
tidak jarang pula karena urusan mencari nafkah itu terpaksa meninggalkan
rumah berhari-hari. Tetapi kalau tidak begitu, bagaimana pula dapur
orang rumah akan berasap?
> On 15 Mar 2002, at 16:09, Darwin Bahar wrote:
> Saya hanya ingin mengomentari kalimat berikut:
>
> "Saya, dan kebanyakan orang yang mengaku Islam waktu ini hanya
> mampu menangkap kulit: cara berpakaian, bahasa dan cara berbicara
> (seakan-akan Islam identik dengan Timur Tengah), cara menghapal
> hukum-hukum.
>
> Tetapi di dalam banyak terjadi �pembusukan�, termasuk---dan
> terutama---di kalangan pemimpin dan orang-orang yang menyebut
> dirinya kiyai dan ulama!"
>
> Sayang anda tidak jelas menunjukan contoh yang anda sebut
> sebagai 'kulit Islam' dan "pembusukan" jadi saya tidak tahu apa
> persisnya yang anda maksudkan.
>
> Jadi saya hanya bisa meraba-raba.
Saya ambil perumpamaan buah durian: ada kulit dan ada isinya. Dengan
cara berfikir holistik kita akan melihat bahwa kulit dan isi sama
pentingnya. Dengan kata lain duren adalah buah yang kulitnya seperti A
dan isinya seperti B. Bayangkan, apakah apakah daging buah duren bisa
lezat, lembut dan utuh kalau tidak dilindungi kulit yang kuat, dan
apakah buah duren akan ada artinya kalau yang ada hanya kulitnya, isinya
kosong melompong. Tetapi orang sekarang (sangat mungkin saya masuk
kategori ini) rupanya lebih mementingkan kulit: pakaian, bahasa, cara
berbicara, kecenderungan meniru sikap lahiriah Rasulullah SAW, tetapi
abai terhadap pesan-pesan Islam yang ada dalam Al Qur�an serta ucapan
dan perilaku Nabi: seperti kejujuran dan sikap amanah, sikap zuhud,
persaudaraan, penghormatan kepada kemanusiaan, toleransi serta kesediaan
untuk hidup berdampingan dengan budaya dan agama yang berbeda.
Merebaknya KKN yang jelas-jelas merupakan penafian terhadap semua
pesan-pesan Islam yang saya kemukakan di atas---termasuk di kalangan
sementara ulama dan pemimpin ummat---di Indonesia merupakan indikator
yang sangat jelas terhadap hal yang saya sebut sebagai �pembusukan�
>
> Yang jelas anda tidak mau menurutkan apa saja yang tertulis di
> al-Mushaf dan hadist secara harafiah: anda gosok gigi saya yakin
> tidak memakai ranting pohon akasia dan anda akan menolak untuk
> membunuhi orang kafir dan ahli al-kitab bila mereka menolak masuk
> Islam.....
Tidak ada perintah untuk membunuhi orang kafir dan ahli al-kitab bila
mereka menolak masuk Islam (lihat penjelesan saya lebih lanjut).
>
> Dan anda berfikir, anda mengunakan akal seperti yang disuruhkan
> oleh al-Mushaf juga
>
> Ini yang jelas.
Anda benar, dan saya percaya bahwa sangat banyak kaum muslimin yang
berfikiran seperti itu.
>
> Karena yang jelas dari tulisan anda itu terbatas maka saya
> padakan untuk mengulang apa yang telah sering saya katakan
> tentang al-Mushaf:
>
> Ada yang terikat waktu dan tempat di al-Mushaf itu, ayat-ayat
> makiyah tidak terikat waktu sedangkan ayat-ayat madani
> sebahagian besarya (tidak semua) terikat waktu.
>
> Jadi ayat-ayat madani itu bisa diabaikan oleh orang Indonesia
> ditahun 2002 ini.
Mengenai hal ini nanti akan saya tanggapi secara terpisah, melanjutkan
diskusi kita atas topik yang sama yang terputus beberapa waktu yang
lalu.
>
> Jelasnya, anda tidak perlu membunuhi orang kafir dan ahli
> al-kitab.
>
Sepanjang yang saya ketahui hanya satu ayat Al Qur�an yang sering
dikaitkan dengan hal itu----yang lazim disebut ayat �pedang�---yaitu
Surrah At-Taubah ayat 5:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram, maka bunuhlah
orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka.
Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika
mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat,
maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.
Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.
Sepintas ayat yang termasuk kategori ayat madani tersebut terlihat
�seram�, kecuali kita mengetahui dua hal: pertama bahwa beberapa teks Al
Qur�an memang merespon langsung sejumlah peristiwa yang terjadi
sepanjang masa kenabian Muhammad SAW. Karena itu untuk memahami sejumlah
ayat, pertama perlu diketahui asbabunnuzulnya, dan kedua keterkaitannya
dengan ayat-ayat yang berdekatan atau ayat-ayat di Surrah lain dengan
konteks yang sama. Kalau dilihat dari konteksnya jelas bahwa ayat
tersebut ditujukan kepada orang-orang yang melakukan pengkhianatan atau
mengingkari perjanjian mereka dengan kaum muslimin, seperti yang
dijelaskan pada ayat 4
Kecuali dengan orang musyrikin yang kamu telah mengadakan
pernjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi
suatupun (dari isi perjanjianmu) dan mereka tidak (pula)
membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka
itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang taqwa.
Serta dengan ayat 7
�.Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu
berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaqwa.
Namun saya tidak mengesampingkan fakta bahwa ada sebagian kaum muslimin
yang dalam menafsirkan ayat �pedang� mengabaikan konteks ayat 4 dan ayat
7. Namun walaupun saya sama sekali bukan ahli tafsir (apalah awak ini),
penafsiran seperti itu tidak sesuai dengan fakta sejarah (asbabunnuzul)
bahwa ayat-ayat ini turun setelah Perjanjian Hudaibiyah. Seperti
diketahui, dalam Perjanjian Hudaibiyah tersebut Nabi banyak memberikan
konsesi kepada Kaum Kafir Qurraisy, padahal secara politik dan militer
kaum muslimin waktu itu sudah mulai kuat. Namun sangat jelas bahwa
Perjanjian Hudaibiyah tersebut adalah bagian dari strategi Nabi yang
sangat cermerlang dalam upaya merebut Makkah yang nyaris tanpa
pertumpahan darah, suatu peristiwa penaklukan yang tidak ada duanya
dalam sejarah
Dapat saya tambahkan bahwa kalau kita lihat Ayat 5 tersebut, tidak ada
perintah untuk membunuh Ahli Kitab, dan juga tidak ada di ayat dan
Surrah lainnya. Yang ada ialah Ayat 40 Surrah Al Haj yang secara
implisit menyatakan bahwa para penganut agama pada hakekatnya menyembah
Tuhan yang sama
�dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian
manusia dengan sebagian lain, tentulah telah dirobohkan
biara-biara, gereja-geraja, sinagog-sinagog, dan
mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
> Sedangkan hadits, saya yakin anda juga sudah sampai kekesimpulan
> bahwa perdefinisi, hadits itu TIDAK ada yang sahih, jadi tidak
> perlu dipegang. .
>
> Jadi anda juga tidak perlu mengosok gigi dengan ranting pohon
> akasia.
>
Saya yakin maksud Anda ialah bahwa hadis Nabi yang sebagian besar
merespon kondisi masyarakat Abad VII hendaknya tidak dimaknai secara
literal, tetapi yang ditangkap pesan-pesannya. Kalau Nabi waktu itu
mengosok gigi beliau dengan kayu siwak, pesannya ialah agar kaum
muslimin harus selalu menjaga kebersihan gigi dan mulutnya, dan kaum
muslimin waktu ini tentu saja dapat membersihkan gigi dan mulutnya
dengan sikat dan pasta gigi.
Seperti kita ketahui kesahihan hadis berkaitan dengan jelas atau
tidaknya sanadnya serta seperti apa kepribadian para penyampai hadis
tersebut..
Sekian dulu, Wassalam, Darwin
>
> > Tanggal hari ini di kalender berwarna merah tanda hari besar, 1
Muharam,
> > Hari Besar Islam.
---dipotong---
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================