Apa yang kau ketahui tentang kegelapan, tanyamu suatu ketika. Tergoda aku menjawa bahwa kegelapan adalah sebuah puisi ketika mentari berangkat ke peraduan. Namun tidak, atmosfir kita sedang tidak dalam kelucuan. Aku tahu yang kau maksud gelap adalah sejumlah cerita-cerita yang mestinya tidak bertemu dalam kehidupan domestik ibu rumah tangga biasa atau remaja yang banyak menghabiskan waktunya dengan majalah Hai dan Gunung Agung.
 
Walaupun engkau terangkan dalam kesederhanaan yang kompleks, terus terang aku tetap tidak tahu apa kegelapan yang kau maksud. Tapi dari nada suaramu mestinya kegelapan adalah suatu kata benda yang membuat lututmu lunglai tertekuk dan tanganmu dengan gemulai mengibarkan bendera penyerahan. Dan kegelapan juga menghabiskan semua cadangan energi yang seharusnya membuatmu tetap bergerak. Sungguh tidak kuketahui apa yang telah kau lalui selama ini. Pengalamanku tentang hidup hanya terbatas pada buku-buku bacaan dan pergaulan domestik.
 
Okey, sekarang kau telah melalui kawah candradimuka dan kau telah kehilangan semua bulumu untuk mengipas-ngipas mentari pagi. Tapi kalau aku jadi kau, tidak akan pernah kubiarkan sayap gundulku berkepak tanpa bunyi. Biarkan bulu-buluku tercabut dalam letup-letup kawah. Biarkan kepalaku tengelam, bangkit, tenggelam dan bangkit lagi. Yang penting adalah dengan sisa kekuatan aku bisa melompati mulut kawah dan memamerkan kering-kerontangnya ragaku pada dunia. Dengan sedikit tenaga itu akan kubangun sedikit kesombongan bahwa dunia tidak mengambil apapun dariku selain kemudaanku.
 
Hei, telah sampai dimanakah engkau? Teringatkah kamu pada gelak-gelak kecil yang kita bangun pada siang-siang penuh keheningan. Malam ini terdengar olehku sayup-sayup roda kereta kelas ekonomi mengilas rel karatan yang membawamu memasuki kebun-kebun tebu. Sedang apakah kau di gerbongnya nya yang pengap dan bau keringat? Mestinya diantara kenangan yang tertinggal di belakang sempat juga kau selipkan sebuah sesal mengapa semua ini bisa terjadi pada dirimu, pada seluruh hidupmu dan satu-satunya pada dirimu. Apa yang kau bawa serta bersamamu? Aku? Mungkin sebagaian kecil saja.
 
Setelah engkau tiba di sana, di keheningan teras gunung Tulung Agung, apakah lantas kehidupan akan berhenti di sana? Aku tidak yakin bahwa kehidupan akan berakhir di sana, sejarah akan tertutup disana dan kau hanya menghabiskan dua puluh tahun berikutnya hanya dengan zikir. Aku tak yakin kekosongan di tulung agung akan mengisimu untuk dua puluh tahun berikutnya. Kepedihanmu tidak akan meninggalkanmu selama kau berusaha mengabaikannya. Kegagala akan selalu mentertawakanmu selama kau menganggapnya tidak ada.
 
Dunia matrix katamu dan kau agak heran menemukan aku berdiri dengan kaki tertancap kuat di sana. Konsepmu tentang duniaku sungguh2 membuat aku terheran. Aku pernah curiga padamu bahwa ketidak mampuanmu dalam mengambil satu posisi dalam duniaku telah membuatmu menarik diri sedemikian rupa sehingga dunia matrix untukmu hanyalah cerita dimana semua pendertiaan berawal. Sebetulnya tidak seluruhnya demikian sebab kebahagiaan hakiki sebetulnya juga berawal disini. Kebetulan saja kau belum menemukannya atau pernah tapi luput dari pegangan tanganmu.
 
Sebelum kau sampai di kotamu ada informasi sedikit. Dialun-alun, tepat di jantung kotamu, ada monumen buah apel berwarna merah. Kenanglah bahwa aku pernah ada disana dan naik keatas monumen itu hanya untuk sekedar memastikan betapa jeleknya buah apel itu dari dekat.
 
Selamat jalan.
 
 

Kirim email ke