Assalamualaikum Wr.Wb.

Tulisan Rahima sangat menyentuh sekali perasaan 
manusia normal, mendidik tanpa terasa menggurui,
yang sanagty beda sekali dengan dengan pengajian
di surau maupun yang "dilapau". 
Pertanyaan yang mengganjal ialah berapa orangkan
manusia normal yang masih tersisa di negeri ini?
Setelah ratusan tahun jadi bangsa budak yang miskin,
lalu setelah "merdeka" diperbudak lagi oleh bangsanya
sendiri, lalu diterpa langsung oleh badai teknologi
yang menawarkan kesenangan, namun tanpa disertai
kearifan dan pengetahuan untuk mencapainya.
Sementara itu sistem politik dan ekonomi sama sekali
tidak memberi celah untuk common people untuk naik
tingkatan ekonominya. Sayangnya sistemik yang rusak
ini masih dipercaya oleh kebanyakan orang, sehingga
mereka semua berlomba masuk kedalam birokrasi dengan
bawah sadar ikut menjalankan seperti yang anda
ceritakan. 

Coba simak posting seorang kawan berikut ini:

------------- oleh A Yuen
Ditegaskan oleh Yusuf Kalla, rendahnya mutu pendidikan 
terutama disebabkan oleh proses pendidikan yang salah. Jadi 
bukan disebabkan oleh kesalahan kurikulum atau mata pelajaran 
di sekolah. 
o> Bukan hanya proses pendidikan pak menteri.. budaya 
pendidikan kita juga sangat bobrok, orientasi orang untuk 
sekolah juga sudah terlanjur salah arah.. asumsi publik 
adalah jika anda sekolah.. lantas anda punya gelar.. nah anda 
pasti dapat kerja di perusahan bonafide atau naik eselon di 
Pemerintahan. Yah.. pak menteri mungkin tidak buta.. bahwa 
atasannya (DR.HC. H. Hamzah Haz) juga memberikan kontribusi 
besar sekali terhadap demoralisasi lembaga pendidikan kita.

Kemudahan mendapat nilai bagus atau lulus ujian menyebabkan 
anak-anak malas belajar. Mereka tidak menyadari kondisi itu 
justru menyebabkan mereka jadi bodoh. 
o> Belajar itu bukan hanya menghapal isi buku semata pak 
menteri, tapi juga mereka harus mampu berpikir kritis, dan 
terus berdialektrika dalam segala hal, sehingga anak-anak 
bangsa ini tidak berpikiran statis. Selain itu, etika dan 
moral sangat dibutuhkan.. bukan menjadi acuan pasti.. apabila 
seorang anak itu pintar lantas dia menjadi beretika. Pak 
menteri juga harus memahami bahwa pendidikan yang paling 
dominan itu malahan tidak berada di sekolah, tapi keluarga 
dan lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi. Dan nilai 
buruk dari guru tidak menjustifikasi bahwa anak itu bodoh, 
mungkin saja anak itu jujur.. karena tidak menyontek.

Untuk itu, kata Yusuf Kalla pihaknya dalam waktu dekat akan 
melakukan kampanye agar anak-anak kembali rajin belajar. 
Caranya mendorong para guru agar berani memberikan nilai yang 
sesuai dengan kemampuan belajar murid-muridnya. 
0> Wah.. proyek lagi dong pak menteri.. ck ck ck.. di 
pedalaman Kalimantan Barat ini saja masih ada kampung yang 
punya satu buah SD dengan guru 1 orang yang juga merangkap 
dari kepala sekolah sampai TU.. trus ada lagi SD yang hanya 
sampai kelas 4 saja, untuk kelas 5 dan 6 harus melanjutkannya 
ke kota kecamatan yang jaraknya sangat jauh (ini terjadi di 
hampir semua daerah pedalaman di kalimantan barat) kalo 
begitu terus kondisinya bagaimana anak bangsa ini mau pintar 
pak. Dan keblingernya para bupati.. mereka malah berlomba 
mendirikan kampus kejuruan di ibukota kabupaten, dengan 
berkedok otonomi daerah yang super celaka itu tadi.
Ini bukti nyata seorang Menteri tidak paham tentang apa yang 
terjadi di lapangan, sudut pemahaman mereka hanya didasari 
atas fenomena umum di p. jawa dan itu di generalisasikan 
untuk semua wilayah Indonesia.

Yusuf Kalla mengeluh, akibat tidak punya motivasi untuk rajin 
belajar, maka anak-anak jadi memiliki waktu luang yang 
banyak. Kenyataan inilah yang akhirnya mendorong mereka 
terlibat tawuran dan perkelahian antar pelajar.
o> Nah kan, tidak salah.. mata seorang Yusuf Kalla hanya 
melek di seputar Jabotabek. Tawuran pelajar itu cuma banyak 
terjadi di sana, dan tensi itu sangat kecil di daerah diluar 
Jakarta. (lha bapak mungkin belum lupa, bagaimana tingkah 
bapak2nya-sebagai panutan itu berduel di Senayan, sehingga 
dengan sukses menyulap Sidang Tahunan menjadi Sidang Tawuran).
Tawuran pelajar juga seharusnya dipahami sebagai ketidakadaan 
media untuk menyalurkan energi darah muda para remaja yang 
pada rentang usia pelajar itu cenderung sedang mencari jati 
diri. Solusinya adalah bagaimana mentransformasikan energi 
konflik yang memang ada tersebut menjadi positif. Lha anak 
kecil nakal itu wajar pak.. malah yang diam-manyem itu yang 
bisa dicurigai idiot.

Upaya untuk mendorong anak-anak untuk lebih rajin belajar 
juga dilakukan untuk mencegah agar bangsa Indonesia jangan 
menjadi bangsa kuli saja. Buktinya, kata Yusuf Kalla, para 
TKI hanya bisa bekerja sebagai sopir atau pembantu di luar 
negeri. 
o> Kembali ke awal unek-unek saya tadi.. terbukti toh bahwa 
dalam frame berpikir menteri kita saja "sekolah untuk kerja"
dan sangat wajarlah lembaga pendidikan yang seharusnya 
mengemban misi mulia mencerdaskan anak bangsa itu juga 
menjadi mesin kapitalis yang tidak kalah rakusnya dengan 
mesin-mesin produksi lainnya. Dan asal pak menteri tahu saja, 
biaya SPP TK (swasta) saja saat ini sama biayanya dengan saya 
membayar semesteran, bagaimana seorang kuli bisa 
menyekolahkan anaknya? sementara untuk makan saja mereka 
harus pontang-panting. 
Jika para netter pernah dengar kasus bunuh diri 1 keluarga 
tionghoa di Singkawang (1998) maka saya mau katakan bahwa 
disamping mayat bapak dengan 2 anak itu ada 2 stel pakaian 
sekolah yang masih baru.. (bapak tersebut tega membunuh 
anak2nya karena lelah menanggung beban ekonomi) terpaksa beli 
baju sekolah dan biaya daftar ulang sekolah tapi harus 
mengorbankan perut, mau berhutang--terjebak gengsi dan harga 
diri. Itu hanya sebuah kasus kecil..efek dari sebuah fenomena 
gunung es dari kekejaman kapitalisme pendidikan Indonesia.

Saya secara pribadi sangat sepakat dengan pandangan Mas Roem 
T yang menyatakan SEKOLAH ITU CANDU.. sekolah itu mesin 
kapitalisme.. oleh sebab itu pak menteri yang terhormat, saya 
sarankan mari kita bongkar dulu pemahaman kita tentang 
sekolah, mari kita ciptakan sebuah sekolah untuk PEMBEBASAN.

Salah satu faktor yang membuat saya muak dengan kuliah (fak. 
pertanian) saya adalah ucapan dosen saya yang 
mengatakan "kalian (mhs) ini adalah calon2 petani manajer 
yang termasuk dalam kategori petani modern, bukan petani 
tradisional yang hanya berhuma saja"  

Teriring salam dan haru saya buat para pejuang Pendidikan.. 
buat Alm. Romo Mangunwijaya, yang tulisannya telah membuka 
isi otak saya tentang pendidikan.


a yuen
(bekas mahasiswa)
_______________________________________________________________


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke