Assalamualaikum wr.wb.

Poligami dan kelanjutan keturunan�

Secara gamblang dan mudah dimengerti dengan adanya poligami tak bisa tidak
akan menyebabkan banyaknya anak keturunan yang merupakan  suatu berkat dari
Allah Taala tentunya. Jika seorang wanita memiliki  seratus suami, darinya
tidak akan dapat lahir seratus orang anak.  Akan tetapi sebaliknya, jika
seratus orang wanita memiliki  satu suami, maka lahirnya seratus anak tidak
jauh dari kemungkinan.  Jadi, suatu cara yang melaluinya bisa diharapkan
anak keturunan manusia bisa berkembang  dan dengan demikian bertambahnya
jumlah hamba-hamba Allah, mengapa pula  cara itu dikatakan berakibat  buruk?

JIka ada asumsi dan pendapat yang mengatakan  bahwa  hal ini poligami
bertentangan dengan keadilan, pendapat ini juga akan batil dan gugur, sebab
tatkala Allah menciptakan  seorang sebagai pria  maka didalam dirinya telah
ditanamkan potensi dan kemampuan untuk menciptakan banyak anak. Dan apabila
dibandingkan dengan wanita  maka kepada pria telah diberikan kekuatan dan
potensi-potensi yang sangat besar,  dalam bentuk demikian , Tuhan melalui
tangan-Nya sendiri telah mematahkan "keadilan".Sesuatu yang memang tidak
dibuat setara dan sama oleh Tuhan , bagaimana mungkin manusia  memandangnya
sama  dan setara? Menganggapnya sama dan setara  tentu adalah suatu
kebodohan yang nyata.

Selain itu juga telah dijelaskan bahwa di dalam poligami tidak ada
kezaliman, penganiayaan  dan penindasan terhadap seorang wanita. Misalnya
jika isteri pertama seseorang ada, maka wanita lain yang ingin kawin dengan
orang itu baru akan melakukan  perkawinan tersebut apabila ia memang telah
setuju terhadap poligami.  lalu , tatkala suami isteri itu telah setuju, apa
pula hak orang lain mengajukan keberatan ? Tatkala orang yang memiliki hak
telah melepaskan haknya, maka keberatan orang lain adalah sia-sia. Jika
isteri pertama benar-benar mengetahui bahwa di dalam Islam kaum pria  dapat
kawin lagi, maka mengapa pada waktu pernikahan dia tidak membuat persyaratan
supaya suaminya tidak akan kawin lagi? Dalam bentuk demikian,  melalui sikap
diamnya , sang isteri pertama itu pun telah melepaskan haknya.

Dan ini hendaknya juga diingat bahwa poligami sedikitpun tidak menjadi
masalah  dalam hubungan  manusia dengan Allah. Jika seseorang memiliki
sepuluh ribu isteri sekalipun, namun  dia memiliki hubungan yang suci dan
kokoh dengan Allah , maka sepuluh ribu isteri itu sedikitpun tidak
berpengaruh pada hubungan tersebut. Justeru melalui kesempurnaan orang itu
akan terbukti bahwa , kendatipun dia memiliki hubungan yang demikian (dengan
isteri-isterinya) tetapi tetap saja dia seolah-olah tidak memiliki hubungan
dengan siapapun kecuali dengan Allah.

Hal ini  bisa diperumpamakan dengan dengan seekor kuda. Jika seekor kuda
tidak dapat berjalan sedikitpun dalam kondisi ditunggangi beban,  namun
tanpa penunggang  serta beban dapat berjalan dengan baik, maka apa pulalah
kegunaan kuda seperti itu? Demikianlah orang-orang yang perkasa adalah
mereka yang mensikapi hubungan-hubungan mereka seakan-akan tanpa memiliki
hubungan.

Hendaknya kita janganlah membayangkan syahwat orang-orang suci  sama dengan
nafsunya orang-orang yang tidak suci. Sebab orang-orang yang tidak suci itu
terbelenggu dalam nafsu syahwat, sementara  didalam diri orang-orang suci ,
Allah sendiri telah menciptakan syahwatnya  itu dengan hikmah
kebijaksanaanNya. Hanya bentuknya saja yang sama sementara hakikatnya jauh
berbeda.Seperti halnya tawanan yang hidup di dalam penjara , maka para
petugas penjarapun demikian, namun status dan kondisi mereka jauh berbeda.

Sebenarnya hubungan sempurna seorang manusia  baru akan terbukti apabila
pada kenyataannya manusia itu memiliki banyak sekali hubungan meliputi
hubungan isteri-isteri, anak keturunan, perniagaan, dllnya sehingga pada
dirinya terdapat berbagai macam beban, lalu kemudian dia bersikap
seolah-olah tidak menjalin hubungan dengan siapapun kecuali dengan Allah.
Inilah tanda-tanda yang dimiliki oleh insan kamil.

Jika seseorang tinggal disebuah belantara, hidup menyendiri tidak memiliki
pasangan isteri, tidak ada anak-anak, tidak ada kawan, tidak ada beban
hubungan apapun, maka bagaimana mungkin kita dapat memahami bahwa dia telah
mendahulukan Allah atas segenap keluarga, segala milik dan harta
kekayaannya? Tanpa diuji dan teruji bagaimana mungkin kita dapat
mengakuinya?

Jika Junjungan kita Rasulullah SAW, tidak memiliki banyak isteri  bagaimana
mungkin kita dapat mengerti betapa beliau  pada waktu mengorbankan jiwa
raganya di jalan Allah tampil seperti tidak memiliki hubungan sedemikian
rupa seolah-olah tidak ada satupun isteri beliau. Dengan menikahi banyak
isteri  dalam ratusan badai cobaan yang senantiasa menerpa, beliau SAW telah
membuktikan kepada kita  bahwa tidak ada  tujuan beliau berupa kelazatan
jasmaniah.  Dan beliau tetap memiliki kehidupan tersendiri   yang tidak
bertumpu pada benda apapun, sehingga tidak ada yang dapat menghalangi beliau
untuk berhubungan dengan Allah.

Para ahli sejarah mengetahui bahwa sebelas orang anak laki  telah lahir
dalam rumah tangga beliau dan kesemuanya itu meninggal dunia dikala beliau
masih hidup. Dan pada  kewafatan setiap putera beliau selalu mengatakan:
"Saya sedikitpun tidak memiliki hubungan dengannya. Saya adalah milik Allah
dan kepada Allah lah saya akan kembali".  Setiap kali anak beliau wafat
(...yang jelas merupakan buah hati beliau) , yang tercetus dari mulut
beliau, hanyalah; "Ya Allah , Aku mendahulukan Engkau atas segala sesuatu.
Aku sedikitpun tidak memiliki hubungan dengan anak ini." Tidakkah dari itu
terbukti bahwa beliau sama sekali tidak memiliki hubungan  dengan
keinginan-keinginan dan nafsu syahwat dunia? Dan setiap saat beliau  siap
mempersembahkan nyawa beliau di jalan Allah.  Menurut riwayat, pernah suatu
kali dalam sebuah peperangan jari beliau terkena pedang  dan mengucurkan
darah, beliau hanya berkata kepada jari beliau itu: "Wahai jari! Apalah
artinya engkau ini. Engkau hanyalah sebuah jari yang terluka di jalan
Allah."

Suatu kali Saidina Umar r.a. datang berkunjung kerumah Rasulullah SAW dan
melihat tidak ada barang apapun dirumah itu. Sementara beliau terbaring
telentang diatas sebuah tikar dan punggung beliau berbekas  kena tikar kasar
itu. Menyaksikan hal itu, Saidina Umar r.a. menangis tersedu-sedu.
Rasulullah SAW hanya berkata: "Wahai Umar, mengapa engkau menangis?" Saidina
Umar r.a. berkata : "Saya menangis melihat penderitaan Tuan. Kaisar Roma dan
Kisra Persia yang merupakan orang-orang kafir hidup senang berlimpah
kemewahan sementara Tuan hidup dalam penderitaan seperti ini?" Rasulullah
SAW hanya menjawab sembari menghibur; "Apalah artinya hubungan saya dengan
dunia ini. Saya ini seperti seorang yang menunggangi onta dibawah terik
panas matahari . Dan ketika terik panas disiang hari itu membuatnya
menderita, maka untuk istirahat dia berhenti  dibawah keteduhan sebuah
pohon. Kemudian setelah beberapa menit , dia menyambung perjalananannya lagi
dalam terik panas itu."

Dan diantara isteri-isteri Rasulullah SAW, selain Siti Aishah r.a. ,
kesemuanya adalah wanita yang berusia lanjut.  Bahkan ada yang beuisa diatas
60 tahun. Jadi dengan demikian  dapat diketahui bahwa tujuan-tujuan penting
dan pokok dari poligami yang beliau lakukan adalah untuk menyebarkan
tujuan-tujuan agama dan rohaniah dikalangan kaum wanita. Dan dengan hidup
bersama beliau, beliau dapat mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada
isteri-isteri beliau tersebut, supaya mereka dapat membimbing kaum wanita
lainnya melalui suri tauladan dan pengajran mereka.

Sunnah beliau SAW sampai sekarang  tetap berlangsung dan berkelanjutan
terus keakhir zaman dikalangan umat Islam, yakni pada waktu wafatnya seorang
saudara atau kerabat , senantiasa diantara umatnya dikatakan, "Inna lillaahi
wa innaa ilaihi raji'uun"......(QS. 2:157). "Kita ini kepunyaan Allah dan
barang milik Allah serta kepadaNya lah kita kembali.  Pertama kali kalimat
yang jujur dan penuh kesetiaan  dan kepatuhan ini meluncur keluar dari mulut
Rasulullah SAW. Barulah kemudian diperintahkan bagi yang lainnya untuk
menrapkan contoh tersebut.

Jika seandainya Rasulullah SAW tidak memiliki isteri yang banyak dan tidak
ada anak-anak beliau yang lahir, maka bagaimana mungkin kita dapat
mengetahui bahwa beliau di jalan Allah sedemikian rupa siap berkorban
sehingga anak keturunan itu beliau anggap tidak ada artinya sedikitpun
dibandingkan dengan Allah?


Wassalamu'alaikum wr.wb.
Adi N.S.


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke