Paralu juo dipikia jo kapalo dingin, pandangan Bapak Sutjipto iki
SBN
 
Sent: Saturday, April 06, 2002 5:35 PM
Subject: [Islampembebasan] Jihad ke Palestina

Republika
 Sabtu, 06 April 2002
 
Jihad ke Palestina
 
Oleh : Soetjipto Wirosardjono
 
Secara pribadi saya tidak kenal anak muda cemerlang ini. Bahkan saya
merasa juga belum pernah bertemu muka dengan Ketua Umum Pemuda
Muhammadiyah hebat ini. Saya hanya kebetulan menyaksikan acara talk
show di sebuah stasiun TV swasta pada hari Rabo malam(?), membahas
topik konflik Palestina Israel babak paling mutakhir.
 
Sebelumnya saya mengenal baik tokoh Pemuda Muhammadiyah Habib Chirzin
yang sumeh dan sangat njawani, di samping tentu saja Prof Dr Din
Syamsuddin, yang kini jadi Sekretaris MUI (Majelis Ulama Indonesia)
dan wakil Ketua PP Muhammadiyah. Usai menyimak talk show itu saya
siap untuk menuangkan reaksi saya pada sikap bijak anak muda itu dan
menyampaikan komplimen bagi keberanian moralnya.
Bayangkan, di zaman semua hati dan kepala orang dibikin panas oleh
arogansi Israel saat mengepung Ramalah termasuk menduduki Istana
Presiden Palestina Yaser Arafat dan menyandera tokoh yang menjadi
simbol perlawanan rakyatnya atas pendudukan tanah air Palestina oleh
Israel, Imam Addaruqutni berani bersikap dissent terhadap fatwa MUI.
Barang siapa mendengarkan argumen Imam pasti bisa memahami kenapa ia
berbeda.
 
Saat Front Pembela Islam (FPI) dan beberapa ormas Islam di Indonesia
lain mulai merekrut relawan dan mengadakan demonstrasi ke Kedutaan AS
dan lain lain untuk menunjukkan solidaritas umat Islam Indonesia bagi
perjuangan rakyat Palestina, dengan santai Imam bersama argumentasi
ilmiah Dr Riza Sihbudi (dari LIPI) bilang bahwa mestinya demonstrasi
itu mulai diarahkan juga kepada negara-negara Arab seperti Kerajaan
Saudi, Mesir dan Yordan yang memberi dukungan kepada rakyat Palestina
lebih sebagai dukungan simbolis yang kosong karena negara-negara itu
tetap menjalin hubungan ekonomi dan politik dan diplomasi dengan AS
secara sangat erat dan mengabaikan kepentingan perjuangan bangsa-
bangsa Arab yang telah lama berada di bawah hegemoni ekonomi politik
dan diplomasi Barat itu.
 
Tidak ada lagi tokoh pemimpin sekaliber Presiden Mesir Gamal Abdul
Nasser dan Presiden Assaad dari Syria atau Raja Faisal dari Saudi
yang punya nyali untuk melawan hegemoni itu, bila perlu memanfaatkan
potensi strategis yang dimiliki negaranya guna menekan AS agar tidak
membiarkan Israel menistakan Arab.
 
Saya kagum dengan keberanian moral Imam Addaruqutni untuk secara
terbuka bilang sesungguhnya Islam Kristen dan Yahudi itu, menurut
ajaran agama, adalah bersaudara. Saya bukan hanya setuju pada
pernyataan Imam itu, tapi ingin menggarisbawahinya. Tapi saya
khawatir disalahpahami ''mayoritas'' yang sudah teragitasi Fatwa MUI.
Bayangkan tatkala Israel secara sewenang-wenang membantai rakyat
sipil Palestina, mana mungkin orang berargumentasi dengan jernih di
bawah realitas konflik etnis dan agama, yang dijadikan mainan
kekuatan hegemoni politik global dan medan empuk untuk dimainkan oleh
kekuatan intelejen dari dalam negeri guna mencapai tujuannya?
 
''Bagaimana itu, Pak, tentang Fatwa MUI agar kita menyatakan perang
terhadap Yahudi?'' tanya Mas Sukur dari sekretariat BPPN kepada saya,
sambil menunjukkan head line koran Jakarta terbitan sehari
sebelumnya.
 
''Memangnya kenapa?'' saya balik bertanya.
 ''Katanya saat Fatwa itu dirumuskan, Ketua Umum MUI KH Sahal Mahfudz
 yang juga Rois Aam NU tidak hadir,'' jawab Mas Sukur, seraya
 menyayangkan untuk soal perjuangan sepelik ini, susah kalau umat
 Islam Indonesia tidak bisa dibikin bersatu.
 
Saya merasa argumentasi Imam Addaruqutni dan Riza Sihbudi malam itu
 bisa mewakili penjelasan atas dasar kepala dingin seorang Kyai yang
 sangat faham proporsionalitas, dan tidak ingin menipu diri sendiri
 apalagi umatnya.
 
Pengiriman sukarelawan dari Indonesia ke Palestina pada saat ini
tidak tepat karena -- siapapun sukarelawannya dari Indonesia --
niscaya tidak paham bagaimana bisa masuk ke kawasan Masjidil Aqso
saat ini, lewat negara mana? Akankah negara tersebut mengizinkan
sukarelawan Indonesia masuk, sementara negara arab garis depan itu
umumnya berada di bawah hegemoni Amerika Serikat?
 
Lagi pula dari segi kemampuan menghandel perlawanan kepada pasukan
Israel, apakah sukarelawan kita dapat disejajarkan dengan anak-anak
muda Palestina yang menjadi garda garis depan gerakan intifadah,
misalnya?
 
Daalam semangat yang sedang tinggi untuk melawan pendudukan Israel
atas tanah bangsa Palestina seperti sekarang, adakah tempat berkepala
dingin manata akal sehat?

Kirim email ke