Dear Uda Epi,
Ambo sambuangkan mangopikan kiriman dari uda, mudah-mudahan amalnyo
mengalir ka Angku Aa Gym, amiin.
Iko kiriman ka 4.
Wassalam
Elthaf Bagindo, '80
Karunia Hidayah
K.H. Abdullah Gymnastiar
Siapapun di dunia ini hanya akan menjaga dengan sungguh-sungguh sesuatu yang
dianggapnya berharga dan membuang sesuatu yang dianggapnya tidak berharga.
Semakin bernilai dan semakin berharga suatu benda, maka akan lebih
habis-habisan pula dijaganya.
Ada yang sibuk menjaga hartanya karena dia menganggap hartanyalah yang
paling bernilai. Ada yang sibuk menjaga wajahnya agar awet muda, karena awet
muda itulah yang dianggapnya paling bernilai. Ada juga yang mati-matian
menjaga kedudukan dan jabatannya, karena kedudukan dan jabatan itulah yang
dianggap membuatnya berharga.
Tapi ada pula orang yang mati-matian menjaga hidayah dan taufik dari-Nya
karena dia yakin bahwa hidup tidak akan selamat mencapai akhirat kecuali
dengan hidayah dan taufik dari ALLOH yang Mahaagung. Inilah sebenarnya harta
benda paling mahal yang perlu kita jaga mati-matian. Betapa nikmat iman yang
bersemayam di dalam kalbu melampaui apapun yang bernilai di dunia ini.
Karenanya, sudah sepantasnya dalam mencari apapun di dunia ini, kita tetap
dalam rambu-rambu supaya hidayah itu tidak hilang. Misal, ketika mencari
uang untuk nafkah keluarga, kita sibuk dengan berkuah peluh bermandi
keringat mencarinya, tapi tetap berupaya dengan sekuat tenaga agar dalam
mencari uang ini hidayah sebagai sebuah barang berharga tidak hilang dan
taufik tidak sampai sirna.
Begitupula ketika menuntut ilmu, kita kejar ilmu setinggi-tingginya tetapi
tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah tidak sampai sirna. Bahkan seharusnya
acara mencari nafkah, mencari ilmu, atau mencari dunia bisa lebih
mendekatkan dengan sumber hidayah dari ALLOH SWT.
Ada sebuah doa yang ALLOH SWT ajarkan kepada kita melalui firman-Nya,
"Robbanaa, laa tuziquluu banaa ba'da ijhhadaitana wahablana
milladunkarahmatan innaka antal wahhaab..." (Q.S. Ali Imran [3]: 8). (Ya
Tuhan kami, jangan jadikan hati ini condong kepada kesesatan sesudah engkau
beri petunjuk, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisimu, sesungguhnya
Engkau Maha Pemberi Karunia).
Demikianlah ALLOH Azza wa Jalla, Dzat Maha Pemberi Karunia Hidayah,
mengajarkan kepada kita agar senantiasa bermohon kepada-Nya sehingga selalu
tertuntun dengan cahaya hidayah dari-Nya. Tidak bisa tidak, doa inilah yang
harus senantiasa kita panjatkan di malam-malam hening kita, di setiap
getar-getar doa yang meluncur dari bibir kita.
***
Suatu waktu ada seorang wanita yang belum beberapa lama masuk Islam
(muallaf). Dan ternyata keluarganya tidak bisa menerima kenyataan ini,
sehingga ibunya mengusirnya dari rumah. Kejadiannya ketika menjelang jam
lima sore telepon berdering, suara diujung sana bicara dengan terbata-bata,
"Aa, aa tolong a tolong...!" Belum selesai bicara hubungan telepon terputus.
Dari nadanya kelihatan darurat, sehingga jelas-jelas si penelpon sedang
dalam kondisi membutuhkan bantuan. Sayangnya tidak diketahui dimana
menelponnya? Keadaannya bagaimana? Cuma yang diketahui pasti adalah ALLOH
Maha Melihat, Maha Menyaksikan segala kejadian, dan Mahakokoh dalam
melindungi siapapun. Tidak akan terjadi musibah, "illabiidznillah" tanpa
ijin ALLOH, dan tidak akan teraniaya kecuali dengan ijin ALLOH pula.
Usai hubungan telepon terputus, saya berpikir apa yang bisa dilakukan!?
Karena yang terbayang di benak saat itu adalah justru si anak dianiaya,
teleponnya direbut atau kabelnya diputuskan. Terbayang pula andai si anak
ini dipaksa kembali ke agama semula oleh orang tuanya atau minimal dianiaya.
Tapi sejenak kemudian ingat pula akan Kemahakuasaan ALLOH bahwa hanya dengan
karunia-Nya saja hidayah bisa sampai kepada si anak itu. Betapapun orang
memaksa untuk melepas hidayah keyakinan di jalan-Nya, tapi kalau ALLOH Azza
wa Jalla, Dzat yang Mahakuasa telah menghunjamkan dalam-dalam hidayah itu di
kalbunya, kita lihat bagaimana Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah SAW yang
mulia, dijemur diterik matahari, dibawahnya beralas pasir membara, badan pun
dihimpit batu yang berat, tapi bibirnya yang mulia tetap mengucapkan,
"ALLOH, ALLOH, ALLOH".
Demikianlah jikalau ALLOH telah menghunjamkan karunia hidayahnya, tidak ada
seorangpun yang bisa melepaskannya. Begitupun dengan si anak dalam kejadian
ini, setelah teleponnya diputus oleh ibunya, ternyata benar ia dianiaya,
dijambak, dan dirobek-robek jilbabnya. Hanya kemudian dengan ijin ALLOH, dia
dapat kembali menutup auratnya dan dengan hati pilu si anak pun ikut bersama
bibinya. Hanya ALLOH-lah yang melepaskan dari setiap kesempitan.
Mudah-mudahan kejadian diatas dapat menambah keyakinan akan kokohnya
perlindungan ALLOH Azza wa Jalla. Betapapun tidak ada yang menolong,
yakinlah bahwa ALLOH-lah satu-satunya penolong. Begitupun ketika ada yang
menganiaya, maka si penganiaya pun adalah makhluk dalam genggaman ALLOH.
Tidak ada satupun ayunan dan pukulan tangan, atau bahkan tendangan kakinya,
kecuali tenaganya karunia dari ALLOH. Tidak ada satupun darah yang menetes,
kecuali dengan ijin ALLOH.
Karenanya mudah-mudahan saja apa yang menimpa si anak dalam peristiwa diatas
adalah salah satu cara bagaimana ALLOH menanamkan keyakinan kepadanya.
Karenanya walaupun tidak ada yang menolong, yakinlah bahwa ALLOH-lah yang
Mahakuasa memberikan pertolongan. Memang, terkadang kita ditingkatkan
keyakinan, dinaikan peringkat kedudukan disisi ALLOH, salah satunya dengan
diuji dengan bala dan kesempitan terlebih dulu.
***
ALLOH SWT dalam hal ini berfirman, "Dan orang yang dipimpin ALLOH, maka
tiadalah orang yang akan menyesatkannya" (Q.S. Az Zumar [39]:37).
"Dan siapa yang disesatkan oleh ALLOH, maka tidak ada yang dapat
menujukinya" (Q.S. Ar Ra'du [13]:33).
"Siapa yang diberi petunjuk (hidayah) oleh ALLOH maka ialah yang mendapat
petunjuk hidayah, dan siapa yang disesatkan oleh ALLOH, maka tidak akan
engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya" (Q.S. .
"Sesungguhnya ALLOH membiarkan sesat siapa yang dikehendaki-Nya dan
dipimpin-Nya siapa yang dikehendaki-Nya." (Q.S. Al Fathir [35]: 8).
Imam Ibnu Athoillah dalam kitabnya yang terkenal Al Hikam memaparkan, "Nur
(cahaya-cahaya) iman, keyakinan, dan zikir adalah kendaraan yang dapat
mengantarkan hati manusia ke hadirat ALLOH serta menerima segala rahasia
daripada-Nya.
Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati, sebagaimana
gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila ALLOH akan menolong
seorang hamba-Nya, dibantu dengan tentara nur Illahi dan dihentikan bantuan
kegelapan dan kepalsuan"
Nur cahaya terang berupa tauhiid, iman dan keyakinan itu sebagai tentara
pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan, syirik, dan ragu itu sebagai
tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi antara keduanya
tidak kunjung berhenti, dan selalu menang dan kalah.
Lebih lanjut beliau berujar, "Nur itulah yang menerangi (membuka) dan
bashirah (matahati) itulah yang menentukan hukum, dan hati yang melaksanakan
atau meninggalkan nur itulah yang menerangi baik dan buruk, lalu dengan
matahatinya ditetapkan hukum, dan setelah itu maka matahatinya yang
melaksanakan atau menggagalkannya." Semoga ALLOH Azza wa Jalla mengaruniakan
kepada kita penuntun yang membawa cahaya hidayah sehingga menjadi terang
jalan hidup ini, subhanallah. ***
Rasul Panutan Ummat
K.H. Abdullah Gymnastiar
Salam sejahtera kepada penghulu segenap makhluk yang paling mulia, rakhmat
bagi semesta alam, manusia paling sempurna, paling suci, dan penyempurna
revolusi zaman, dialah Muhammad SAW. Dialah nabi paling pemurah, paling
peramah, penuh kharisma dan kewibawaan, kesantunan, serta bergelar khatamul
anbiya. Dialah jalan terang bagi gelapnya kehidupan dengan kesemarakan
akhlaknya yang mulia, itulah puncak dari kebesaran dan kesempurnaannya
sehingga beroleh gelar Al Amin (yang dipercaya).
Berkaitan dengan keagungan nabi ini, Sayyid Hussein Nasr seorang cendekiawan
muslim terkemuka menulis, "Makhluk yang paling mulai ini (Muhammad SAW) juga
dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al
Amin-yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan
suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis
yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia
adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba ALLOH yang sempurna) dan
terakhir, sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan utusan (rasul) ALLOH,
tetapi juga kekasih ALLOH dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi,
sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, "Dan tidaklah kami utus engkau
(Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam." (Q.S. Al Anbia
[21]:107).
Ungkapan keagungan ini tidaklah berlebihan karena ALLOH Azza wa Jalla pun
memuji beliau, bahkan senantiasa bershalawat kepadanya, firman-Nya,
"Sesungguhnya ALLOH dan para malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepadanya."
(Q.S. Al Ahzab [33]:56). Demikianlah ALLOH dan para malaikat bershalawat
kepadanya, seharusnya apatah lagi kita sebagai makhluk kecil yang tiada
berdaya ini.
Disamping bershalawat ternyata penghormatan kepada Rasulullah SAW memiliki
etika tersendiri. Tidak cukup hanya bershalawat saja, karena yang terpenting
adalah kita harus yakin benar bahwa Rasulullah adalah suri tauladan
sepanjang zaman. Jikalau kita ikut dalam tuntunan beliau insya ALLOH akan
selamat dunia dan akhirat.
ALLOH SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul ALLOH itu
menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang
mengharapkan menemui ALLOH di hari kemudian dan yang mengingati ALLOH
sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan
bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali ada contohnya dari
Rasulullah.
Ketika misalnya, rumah tangga keluarga kita berantakan, maka solusi
terbaiknya adalah dengan mencontoh Rasul dalam mengemudikan bahtera rumah
tangganya. Subhanallah, siapapun yang mampunyai referensi Rasulullah dalam
perilaku sehari-harinya, maka hidupnya seperti seorang yang punya katalog
yang sangat mudah di akses, segalanya serba tertuntun.
Begitu pentingnya tauladan ini. Itulah sebabnya mengapa P4 gagal di
Indonesia? Padahal dimana-mana dilakukan penataran, berbagai metode dan pola
digunakan, biaya pun keluar miliaran rupiah, tapi mengapa tidak berhasil
merubah pola pikir masyarakat? Jawabannya mudah saja, menurut yang saya
pahami dari Dr. Ruslan Abdul Ghani yang menyatakan bahwa salah satu penyebab
utamanya adalah karena tidak ada contohnya. Siapa sekarang orang Indonesia
yang paling Pancasilais sehingga layak ditauladani perilakunya? Belum ada!
Karenanya berbahagialah umat Islam yang mempunyai tauladan Rasulullah SAW,
dalam dirinya semua aspek kehidupan telah ada reperensinya. Mau duduk,
bertemu dengan kawan, bertemu dengan orang kaya, bercakap dengan orang papa,
berhubungan dengan pejabat, semua telah ada contohnya, termasuk bagaimana
teknik menghadapi penjahat. Semuanya sudah jelas, bahkan sampai hal yang
paling sederhana seperti di kamar kecil yang paling tersembunyi sekalipun,
semua ada tuntunannya.
Sayangnya kita jarang menyempatkan diri untuk mempelajari bagaimana perilaku
Rasulullah SAW yang sebenarnya. Karenanya jikalau Pesantren Daarut Tauhiid
saat ini dianggap sedang "naik daun", maka sama sekali bukan karena ide
cemerlang seseorang, hakikatnya karena pertolongan ALLOH Azza wa Jalla
dengan syariat mengamalkan sebagian dari tuntunan Rasulullah SAW yang
diaktualisasikan dan dikemas sedemikian rupa. Jadi, apatah lagi bagi
orang-orang yang mampu mengaplikasikan semua yang telah Rasul tuntunkan,
hasilnya tentu akan jauh lebih luar biasa lagi.
Oleh karena itu, bagi sahabat yang dikaruniai kesempatan menjadi guru dan
mengharapkan dicintai dan dihormati muridnya, tidak membosankan murid ketika
mengajar dikelas, proses belajar-mengajar menjadi efektif, serta para
muridnya menjadi cerdas dan berpikiran maju, maka contohlah Rasul dalam
mengajar. Bagaimana cara Rasul mengajar? Ternyata Rasulullah mengajar dengan
penuh kelembutan, kasih-sayang, dan sangat ingin para sahabatnya menjadi
maju.
Jikalau anda seorang manager perusahaan atau pejabat di sebuah instansi
pemerintahan, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar bisa sukses
dengan tetap mengikuti tuntunan Rasulullah? Ternyata Rasulullah SAW dalam
berorganisasi itu rendah hati, lembut perangainya, senang bertukar pikiran,
selalu meminta ide, saran, dan koreksi dalam bermusyawarah.
Adapun bagi pemuda yang ingin dicintai, disukai, penuh pesona, melimpah
kharismanya, maka pelajari bagaimana pribadi Rasul. Para sahabat seperti
halnya Imam Ali ternyata juga meneladani Rasulullah SAW. Nampaknya jikalau
kita berat menghadapi hidup ini, maka pertanyaannya adalah sampai sejauh
mana kita mampu meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW?
Demikian penting arti sebuah tauladan atau penuntun bagi kehidupan
seseorang. Karenanya siapapun akan sengsara atau bahkan tersesat jikalau
tidak pernah meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW.
Dialah penuntun kita dari kesesatan dan gelapnya kehidupan.
Seperti halnya sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum
ini ada hikmah yang bisa diambil. Kejadiannya adalah dari penuturan seorang
mubaligh asal Bandung. Ketika itu ia diundang bertabligh di suatu tempat di
Tasikmalaya. Berangkatlah ia naik mobil bersama penjemputnya. Penjemput
sebagai penunjuk arah di depan satu mobil dan sang mubaligh mengikuti di
belakang dengan mobil lain.
Beberapa jam perjalanan lancar-lancar saja, sayangnya setelah beberapa saat
sampai di wilayah Tasik, penunjuk arah memacu kendaraannya lebih cepat
sehingga mobil sang mubaligh tertinggal jauh di belakang. Cerita selanjutnya
mudah ditebak, sang mubaligh pun tersesat. Belok kiri tidak ketemu, belok
kanan masuk pasar, waktu pun berlalu sia-sia, hatinya bahkan sudah mulai
gelisah tidak menentu.
Nampaklah betapa sengsaranya orang yang tersesat, waktu dan tenaganya
terbuang percuma, tujuan tidak menentu, perasaan pun tidak enak, bahkan
sebentar-sebentar harus tanya sana-tanya sini, sungguh merepotkan.
Demikianlah kegelisahan akan makin akrab dengan orang-orang yang kehilangan
penuntun dalam hidupnya.
Bayangkan saja andaikata kita tidak punya penuntun, tidak punya penunjuk
arah, lalu kita berjalan menuju suatu tempat yang belum diketahui
sebelumnya, pastilah tidak akan menentramkan perjalanan tersebut. Tapi
jikalau penuntun, arah, dan tujuannnya jelas, maka langkah kita akan mantap
dan hati pun senantiasa disaputi ketentraman. Dan Rasulullah SAW adalah
penuntun dan panutan kita sepanjang zaman.***
Bila Selalu Mengingat Mati
K.H. Abdullah Gymnastiar
Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita
dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh
dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya,
tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan
justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan
tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan
bersama ALLOH Azza wa Jalla.
Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, "Rontoknya iman ini akan
terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya
tanpa terasa habis tandas tidak tersisa". Demikianlah yang terjadi bagi
orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya
jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.
Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada
hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak
begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat
tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk
berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang
menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula
doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa
Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun
berkenan melunasi utang rekan tersebut.
Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula
motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis
tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya
seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi
senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah
menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan.
Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok
harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun
memutuskan untuk shalat di rumah saja.
Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat
tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat
rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri
menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu
shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari
berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di
dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang
terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus
duluan!" Pikirnya.
Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan
di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah
disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang
ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan,
majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu
malah hilang.
Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang
diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak
bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah
dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak
melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan
keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.
Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah
tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun
mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi
kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara.
Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan
munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah
yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam
keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah
(jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti
ini.
***
Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam.
Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam
pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya
tidak tahu entah kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika
si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia
untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa
melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si
wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.
Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh
lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati
pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah
si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau
bertanggung jawab.
Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang
yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus
pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh
hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi".
Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat
Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad,
naudzhubillah.
***
Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam
Al Ghazali.
Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di
sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu
adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara
anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang
sedang berangkat ramaja.
Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin
selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari
menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata rurun ke hati", begitulah
saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras
cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut
Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis
itu.
Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi
rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang,
orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya
harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin
yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu,
tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak,
seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya
terlebih dulu.
Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis
ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga
akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah
bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu.
Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan
pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH,
aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah
menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya
terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid
yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan
murtad dan suul khatimah.
***
Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa
salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang
berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya
adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal,
padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah
kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian
yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di
relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul
khatimah, maka selalulah ingat mati.
Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu
mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju
mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan
tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku
berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui,
niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."
Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh
dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan
senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat.
Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang
didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami
atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa
Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu,
alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul
khatimah.
Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat
kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang
kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat
Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih
datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali
kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai
daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku
sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku
menemui-Mu."
Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh
karunia khusnul khatimah. Amin! ***
> ----------
> From: Elthaf[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, March 22, 2002 7:36 AM
> To: '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]';
> '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]'
> Cc: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [IASMA1/B-BKT] Kopian Ceramah Aa GYM (3)
>
> Dear Bapak / Ibu di 4 palanta.
> Karano attachment yang ambo kirimkan banyak yang indak bisa buka di
> PC bp/ibu, dan ado permintaan dari bp/ibu untuak manyambuang mangkopikan
> ceramah ustadz Aa GYM yang akan dibukukan untuak koleksi pribadi, ambo
> cubo
> kopikan judul seramah salanjuiknyo, Ini kiriman yang nomor 3.
> Semoga amal kopian ini mengalir ke buya Aa GYM, amiin.
> Mohon maaf bagi sanak yang nggak berkenan.
> Wassalam
> Elthaf Hijaz St. Sri Bagindo, 1980, Biaro.
> --------------------------------------------------------------------------
> --
> --------------------------------------------------------------------------
> --
> ------------------
>
>
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================