Title: FW: Efisiensi ala Andersen Consulting
Pak Ridwan yang baik
 
Copy : Kawan-kawan di Lembaga Kajian dan Pengembangan Masyarakat
            Imam Bonjol
 
Pak Ridwan, it's a good try, very funny as well as mendidik. Tapi pikir-pikir ada juga benarnya. Pendidikan memang perlu dalam menghadapi perubahan. Kata Prof Tom Cannon dari Kingston University (1998) dalam bukunya Welcome to the revolution, managing paradox in the 21st century, Pitman, mengingatkan bahwa jika manusia tidak berubah maka ia akan tertinggal atau ditinggalkan. Syukur melalui interaktif RantauNet dan milis Minang lainnya, kita melihat banyak generasi muda Minang yang mengejar pendidikan tinggi di berbagai institut manca negara untuk mengejar ilmu agar dapat mengadiopsi perubahan. Sayangnya di kampuang halaman terjadi sebaliknya, semakin banyak drop out yang akan menjadi korban di masa depan.
 
Sejalan dengan ceritera Bapak tentang perhatian Anderson consulting mengenai details, beberapa waktu yang lalu dalam perjalananan dari New York lewat Frankfurt ke Jakarta, saya pernah melihat advertensi Bank Bumi Daya (pada waktu itu - sekarang Bank Mandiri) dalam flight magazine yang menggambarkan seorang gadis cantik Bali menari. Disebelah bawah ditulis kira-kira begini: It's like a Bali dancer, the beauty lies in details. We take care of details for our costumers satisfaction dan seterusnya.
 
Ad tersebut memperlihatkan bagaimana perhatian terhadap perilaku dan service sangat menentukan, seperti kasus sendok jatuh Bapak (dan juga benang buat si adik). Sebetulnya konsep ini tidak asing bagi mjasyarakat kita. Selalu dikatakan batu ketek nan manaruang, riak ketek nan mangaramkan. Bukan gunung yang akan jadi penarung dan bukan gelombang besar yang akan menenggelamkan nelayan. Jadi yang kecil-kecil itulah yang berbahaya. Masyarakat Minang selalu diajarkan dari dulu tentang ereng jo gendeng, tentang gabak di hulu tando ka hujan. Orang sekarang sering mengatakannya sebagai body language. Dengan menerapkan konsep itu kita tahu kapan untuk berhenti. Jepang juga memperkenalkan konsep Keizen, constant improvement dalam manajemennya, selalu berusaha memperbaiki mutu kecil-kecil dari pelayanan yang juga diterapkan dalam interaktif dengan orang lain. Dengan demikian dapat dihindari rasa puas diri atau self complecency yang berlebihan, dan juga menghindari tindakan yang tidak adil dan menyakiti orang lain
 
Masalah yang terjadi dalam masyarakat saat ini tidak lagi memperhatikan hal itu, mungkin karena rasa kemerdekaan yang berlebihan. Banyak di antara masyarakat kita menganggap adalah haknya untuk berbuat, berbicara dan berprilaku semerdeka-merdeka mungkin, namun terkadang melupakan pertimbangan kemerdekaan orang lain yang mungkin terganggu dengan kemerdekaannya.(Orrang Jawa juga punya patokan, ngono yo ngono, men ajo ngono, yang terkenal itu). Katanya karena euforia demokrasi. Tetapi trend ini mulai mengganggu interaksi di dalam masyarakat. Akibatnya mulai terjadi konflik disana-sini.
 
Kesimpulan : perubahan itu perlu disejajarkan dengan value yang dianut masyarakat. Andaikata kita memperhatikan petuah orang tua sebagai value yang disepakati, dan menerapkannya sesuai dengan perubahan jaman, maka kita tidak perlu mengundang Anderson consulting melakukan perancangan prilaku masyarakat, ataukah perlu? Cuma kalau diperlukan, harap jangan lupa untuk mengingaatkan mereka agar merancang programnya sampai akhir, jangan sampai diberi kesempatan untuk improvisasi seperti kasus mendorong si adik yang mengkontiminasi sendok karena dapat merugikan (kesehatan) pelanggan, setuju nggak? Tetapi itu mungkin juga sedang menjadi trend saat ini, hidup bahagia di atas penderitaan orang lain. Pemeonya : emang gue pikirin? Masya Allah
 
See you on Saturday,
 
M.C. Baridjambek 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Friday, April 12, 2002 9:21 AM
Subject: Fw: Efisiensi ala Andersen Consulting

Fw: Efisiensi ala Andersen Consulting

Udah pernah baca email ini? 

Minggu lalu, saya pergi makan malam bersama beberapa teman kantor di
sebuah restoran yang kabarnya cukup laris di daerah kota (untuk yang
belum tahu, di Jakarta ada yang dinamakan daerah kota).
Saat memesan makanan, saya perhatikan pelayan yang melayani kami membawa
sepasang sendok di saku bajunya. Sedikit aneh, tapi saya tidak begitu
peduli. Namun, saat pesanan kami mulai diantar, saya melihat pelayan
lain membawa pula sepasang sendok disaku bajunya. Saya jadi tertarik
untuk melihat sekeliling dan ternyata memang benar dugaan saya, semua
pelayan restoran tersebut membawa sepasang sendok disaku baju
masing-masing.
Saya jadi ingin bertanya. "Mas kenapa semua pelayan di sini membawa
sepasang sendok di sakunya?" tanya saya yang datang membawa piring
sate. "Oh begini mas," jawab si pelayan, "pemilik restoran ini
memutuskan untuk menyewa Andersen Consulting, ahli dalam hal analisa
efisiensi kerja, untuk memperbaiki kinerja di restoran ini.
Setelah mereka analisa selama beberapa bulan, mereka menyimpulkan bahwa
pelanggan restoran ini menjatuhkan sendok makan mereka sebanyak 73,84
persen lebih sering dibandingkan peralatan makan lain yang ada dimeja.
Menurut Andersen Consulting, itu berarti rata rata 3 pelanggan
menjatuhkan sendok per meja setiap jamnya. Jika saja semua karyawan
restoran mengantisipasi hal itu, berarti kita bisa mengurangi waktu
yang terbuang untuk pulang pergi ke dapur mengambil sendok pengganti dan
menghemat waktu 1,5 jam waktu kerja per-shift."
Saking kagumnya dengan penjelasan si pelayan, tanpa sengaja saya
menyenggol salah satu sendok yang ada di meja. Segera saja si pelayan
mengambil gantinya dari saku baju sambil berujar, "Betulkan Pak, saya
tidak harus pergi kedapur sekarang untuk mengambil sendok pengganti
untuk Bapak!" Saya hanya bisa melongo dengan kejadian itu.
Tapi, kisah belum berakhir di situ. Ketika pelayan lain menghidangkan
pesanan tambahan, saya tetap memperhatikan sekeliling dan satu lagi hal
tampak aneh. Saya perhatikan hampir semua pelayan pria memasang benang
yang menyembul diujung ritsluiting celana mereka. Benang itu diikaitkan
ke ujung kancing terbawah dari baju. Lagi lagi rasa ingin tahu mengusik
saya. Sebab, ternyata pelayan perempuan tak memakai aksesoris benang
tersebut.
Ketika si pelayan tadi datang, saya menanyakan soal benang itu. "Wah
Bapak ini orangnya perhatian sekali ya. Tidak semua pelanggan disini
memperhatikan hal-hal sedetail Bapak," puji si pelayan sedikit
menggombal. Saya hanya tersenyum kecil. Apa anehnya orang suka
memperhatikan detail?
"Ini juga hasil analisa Andersen Consulting Pak," katanya melanjutkan,
"Mereka menyimpulkan bahwa kami pun harus menghemat waktu yang kami
habiskan di kamar kecil ketika buang air kecil. Dengan tali yang
dikaitkan ke si "Adik" ini (katanya sambil menunjuk tali itu), kami
tidak harus menggunakan tangan ketika mengeluarkannya. Berarti kami akan
terbebaskan dari keharusan membasuh tangan setelah buang air kecil. Dan
itu menghemat waktu yang terbuang di kamar kecil sebesar 25,92 persen."
Hampir tersedak saya mendengarkan penjelasan itu. "Memang, dengan tali
itu tangan jadi terbebas untuk memegang si "Adik". Tapi, bagaimana
caranya untuk memasukkannya kembali ke posisi semula?" tanya saya
menyelidik.
Dengan setengah berbisik si pelayan berucap, "Andersen Consulting tidak
menjelaskan secara spesifik tentang hal itu. Nggak tahu dengan yang lain
Pak. Tapi, kalau saya sih pakai sendok yang ada disaku baju ini."



Kirim email ke