Jakarta, Akhir Maret 2002
Mendapatkan yang terhormat mamanda Marah Sutan di kampung,
Assalamu�alaikum wr.wb.,
Mudah-mudahan mamanda beserta mintuo serta segenap keluarga di kampung senantiasa berada dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Begitu pula kiranya dengan kemenakanda sekeluarga di perantauan ini. Amiin ya rabbal alamiin.
Kesibukan hidup di kota besar ini telah melengahkan kemenakanda untuk menyambung tali silaturrahmi melalui surat menyurat seperti ini. Kemenakanda mohon maaf karena sudah lama sekali tidak sempat menulis kepada mamanda.
Mamanda yang mulia,
Beberapa hari yang lalu si Nauman datang kerumah. Banyak cerita kami ke hilir kemudik. Ada juga rasanya yang boneh dari apa-apa yang disampaikannya. Diantaranya tentang peluang-peluang yang sebenarnya dapat diraih masyarakat di kampung untuk meningkatkan taraf kehidupan. Ini menyangkut kebiasaan kita yang biasa menjual hasil-hasil yang kita petik dari halaman pekarangan kita yang jarang diolah secara baik bahkan dijual mentah-mentah saja. Contohnya, kalau di parak di halaman belakang rumah tumbuh pisang, kita terbiasa menjual pisang itu masih tergantung dibatangnya. Atau kita tebang, tidak sampai di param, belum masak kita jual. Atau paling jauh kita param, setelah masak kita jual bulat-bulat begitu saja ke lapau si Tamburin yang kemudian mengolahnya jadi goreng pisang. Kita tidak pernah memikirkan untuk mengolah jadi pisang goreng karena tidak enak akan bersaing pula menjualnya dengan si Tamburin. Ini disebabkan karena pasar yang kita bayan gkan hanya sebatas kampung kita saja. Menurut si Nauman, yang kemenakanda rasa mungkin ada benarnya, kenapa kita tidak berfikir untuk merubahnya menjadi kerupuk pisang, yang bisa kita jual ke pasar ke Bukittinggi, atau bahkan ke tempat yang lebih jauh lagi. Kita siapkan baik-baik, kita olah sedemikian rupa, kita bungkus serancak-rancaknya, diberi kotak, diberi merek, untuk dipasarkan kemana-mana.
Ini berlaku untuk hampir semua hasil, entah pertanian, entah perkebunan, entah ternak, yang sebenarnya masih dapat kita olah dengan baik tapi tidak kita lakukan. Sejak seisuk kita sudah senang dan puas saja dengan kerupuk Sanjai, dan menjualnya masih dalam potongan yang serupa itu juga. Padahal selera masyarakat sudah berubah, generasi sudah bertukar. Sudah makin berkurang orang yang menikmati kerupuk Sanjai yang serupa itu. Kalaulah dibeli orang juga, orang cepat sadar bahwa kerupuk Sanjai itu tidak istimewa sangat. Begitu juga dengan kerupuk balado, masih disana-sana jua baik rupa maupun rasanya. Kenapa kita tidak mencoba merubah penampilannya, merubah bentuk olahannya.
Ada di satu dua negari orang sudah melakukan perubahan atau perbaikan itu tapi hasilnya belum terlalu baik karena cara mengerjakannya masih setengah-setengah. Belum berorientasi untuk dipasarkan ke masyarakat yang lebih luas.
Ada terniat dihati kami, kemenakanda dan si Nauman, nak mencoba usaha ini. Kita ulanglah dengan cerita pisang. Seandainya saja di kampung kita setiap rumah menanam pisang rajo, dan kampung kita mampu manghasilkan sekian ratus tandan setiap bulannya, kami akan mencoba mengolahnya. Maka maksud surat kemenakanda ini, ingin meninjau seandainya hal yang serupa ini mungkin untuk dilaksanakan di kampung kita. Hasilnya nanti kita jual dengan sistim berbagi untung, jadi bukan kita beli pula mentah-mentah pisang itu dari masyarakat kampung. Inilah yang ingin kemenakanda tanyakan. Mungkinkah kiranya mamanda memulai, mengajak masyarakat untuk mencobanya?
Itulah kira-kira yang ingin kemenakanda sampaikan. Mudah-mudahan mamanda memakluminya.
Kemenakanda cukupkan sampai disini dulu surat ini. Tolong mamanda sampaikan salam takzim kemenakanda untuk Angku Imam di mesjid beserta segenap jemaah mesjid di kampung. Begitu pula salam untuk segenap kaum famili.
Salam takzim kemenakanda,
Wassalamu�alaikum wr.wb.,
Sjamsuddin St. Rajo Endah.
Do You Yahoo!?
Yahoo! Tax Center - online filing with TurboTax

