Dari Majalah Detik. Kayaknya menarik. Azmi -
Namanya tidak terkenal sekali. Tapi kalau suka membeli bunga di pasar bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, boleh jadi Anda telah membeli bunga yang dipasok H.M. Arifin. Ia pensiun tahun 1994, saat usianya 52 tahun. "Kepepet memikirkan biaya sekolah tiga anak lelaki, saya mulai berbisnis ayam potong," kata Arifin. Kesulitan besar menghadang di saat krisis ekonomi datang. Modal tak mencukupi buat melanjutkan usaha itu. Bisnis ayam pupus, ia beralih jadi pedagang bunga kecil-kecilan. Kini, di usia 60 tahun, usaha bunga Arifin berkembang menggembirakan. Anak-anak yang diharapkan dapat sekolah sampai meraih S1 tercapai, sementara dapur rumah tangga tetap berasap.. Arifin menjadi tamu istimewa dalam acara Bedah Bisnis Rhenald Kasali di radio M97 FM, Senin, 25 Maret lalu. Acara yang dipandu Dr. Rhenald Kasali dan penyiar Febrira Galib itu jadi menarik buat siapapun yang kelak akan pensiun. Ari Darmawan menyunting perbincangan yang seru itu berikut ini. Anda mulai bisnis ayam potong dengan berapa ekor dan di mana? Di daerah Gadog, Ciawi, Bogor. Awalnya 3.000 ekor. Hasilnya bagus, kita tambah jadi 5.000 ekor. Alhamdulliah cukup bagus juga. Anak saya yang pertama sampai lulus S1 tahun 1997. Sayang kok cuma bertahan dua tahun lebih. Kenapa terus beralih ke bunga? Begitu mulai enak, datang krisis. Harga pakan ayam naik berlipat-lipat, mahal sekali. Uang cash saya nggak cukup buat modal. Bunga lebih murah? Karena sering ke Gadog, mampir Puncak, lihat-lihat bunga. Saya pikir, orang Jakarta kan banyak yang senang ada bunga di rumahnya. Ya sudah, saya Tanya: boleh nggak saya jualkan di Jakarta? Boleh asal bayar cash. Lama-lama mungkin dia kasihan lihat orang sudah tua masih kluyar-kluyur, dia bilang: "Ambil saja dulu, nanti kalau ngambil berikutnya baru bayar." Lama-lama dia percaya. Ngambil berapa buat jual di Jakarta? Nggak banyak, cuma 10 ikat sampai 20 ikat, saya ambil sendiri. Kalau secara ekonomis, hitungannya nggak masuk. Tetapi saya pikir, kalau nggak nyoba sesuatu terus mau ngapain? Langsung beli dari petani? Yang pertama-tama saya beli dari pengusaha bunga. Beli langsung ke petani baru belakangan ini. Dijual ke mana saja? Di lingkungan RT saja, kan ada juga warga yang ingin bunga seminggu atau dua minggu sekali. Terus juga ada arisan ibu-ibu. Sebenarnya yang rajin, yang jadi sales-nya itu isteri saya. Saya ceritanya bagian produksi. Dari pengusaha bunga harganya ada yang Rp 6.000 ada yang Rp 8.000 seikat. Saya jual Rp 10 ribuan. Untung Rp 3 ribuanlah seikat. Tapi itu nggak saya hitung betul. Pokoknya kelihatan usaha. Ibarat orang, yang penting jalan dulu. Siapa tahu Tuhan kasih jalan. Alhamdulillah, saya dapat jalan. Selain lingkungan se-RT, dijual ke mana lagi? Makin lama makin banyak yang pesan bunga. Suatu hari di tahun 1998-an, anak saya ngajak lari pagi hari Minggu di Senayan. Kita lari-lari, habis itu saya duduk makan bubur, anak-anak jual bunga. Ini adalah inisiatif anak-anak, saya harus menghargai dan mendukung. Alhamdulliah, bawa 10 ikat bunga, laku tujuh atau delapan ikat. Saya bilang kepada anak-anak, kita harus punya pos tempat jualan yang tetap. Jangan pindah-pindah. Tiap minggu pasti ada yang laku di Senayan. Ada orang-orang Jepang yang rutin membeli. Mereka bilang bunganya bagus, segar dan tahan lama. Suatu ketika, yang bikin anak-anak kaget, ada yang pesan 200 pot bunga. Anak-anak khawatir pembayarannya bagaimana? Sudah pesan ke pengusaha bunga, kalau tidak dibayar pembeli, nanti bagaimana? Kasih rumah? Anak-anak kontak calon pembeli itu lagi dan bertanya, alamatnya di mana, bayarnya tunai atau bagaimana? Jadi, anak-anak berusaha menghindari risiko dengan mempelajari pembeli lebih detil. Ini soal kejujuran. Kita semua nggak ada tahu. Jadi kita berdoa saja, 200 pot bunga kita kirim. Nggak dibayar? Alhamdulillah, dibayar tunai. Waktu itu saya jual Rp 10 ribu per pot. Untuk saya sekeluarga, itu anugerah besar. Dari situ saya dan akan-anak tambah semangat. Mereka tahu, setiap ada keuntungan saya langsung masukkan ke buku bank anak-anak untuk biaya sekolah. Saya ingin anak-anak harus selesai S1. Setelah makin berkembang, apa lagi yang dilakukan? Saya pikir bisnis ini harus punya sarana. Ada dua pilihan waktu itu, mencari tempat jualan yang tetap atau melalui orang. Kita pilih melalui orang, karena kalau punya tempat berarti kita harus terus-menerus menunggui toko. Sementara anak-anak harus tetap sekolah dan saya harus mengawasi pelajaran mereka. Jadi, lebih baik cari orang lain yang sudah jual bunga, kita memasok bunganya. Anak saya yang pertama mutar-mutar tiap Sabtu dan Minggu, sampai dapat kenalan pedagang bunga yang punya kios di Rawa Belong. Alhamdulillah, kita mulai coba memasok antara 25 sampai 30 ikat waktu itu. Saya ngomong sama pengusaha dan petani bunga, pesanan saya semakin banyak, bagaimana caranya supaya bunga yang datang ke tempat saya, bukan saya menjemput ke atas (Puncak). Pengiriman lancar, pembayaran pun lancar. Kualitas bunga dan harga kita dianggap bagus. Sampai sekarang masih jalan dengan pedagang di Rawa Belong? Masih berlangsung sampai sekarang. Pernah ada pesanan 600 pot bunga melalui pedagang di Rawa Belong itu. Tapi bunganya hanya warna merah dan putih. Pesanan khusus untuk event 5 Oktober (Hari TNI -Red). Mula-mula saya khawatir, karena pesanan banyak dan warnanya khusus, jangan-jangan pengusaha/petani di Puncak nanti minta uang tanda jadi dulu. Untung waktu itu saya dipercaya juga, hingga nggak harus pakai tanda jadi segala. Langsung beli mobil atau motor? Nggak, karena saya bilang kepada anak-anak jangan pakai uang itu buat membeli sesuatu yang menambah beban. Beli mobil kan nambah beban, biaya perawatan misalnya. Anda juga menjual tanaman hias, ya? Itu juga karunia lagi. Awalnya, saya kasihan lihat petani dagangannya belum laku. Saya kasih Rp 5.000 di kasih dua karung isi ketimun dan terong. Selanjutnya, saya memikirkan bagaimana bisa membantu petani seperti itu. Mula-mula saya beli sayuran mereka dan saya jual di Pasar Minggu. Ada untungnya juga sih, tapi saya pikir ini bisa mengganggu bisnis bunga saya. Lantas, ketika jalan-jalan di pasar bunga, saya lihat ada tanaman hias. Setelah tanya-tanya, ternyata tanaman hias itu nggak susah-susah pakai green house segala. Waktu ketemu petani ketimun tadi, saya bilang: "Kalau Anda bisa menanam tanaman ini, daripada ketimun, ini laku dan saya bisa ambil seminggu sekali ... Itu tanaman apa? Orang menyebutnya Baby Dollar, Safer Dollar, Bola Balon, Antorium, segala macamlah. Jadi sampai sekarang saya ambil dari dia tanaman hias itu. Ternyata, teman-temannya juga ikut menanam. Saya bilang, "Anda mengatur panennya. Saya seminggu sekian pot, Anda atur dengan teman-teman petani supaya jangan saling merugikan. Nah, ini hasil tambahan lagi. Anda jualan ke kantor-kantor? Hanya kantor yang dekat-dekat saja yang saya layani. Ini sebetulnya peluang dan tantangan. Saya menyesal, kenapa baru dapat bisnis ini setelah saya berumur begini. Melayani permintaan kantor itu memeras tenaga. Padahal peluangnya bagus. Paling tidak mengambil 7 sampai 10 pot/ikat, dan rutin diganti-ganti. Untuk yang mau pensiun, saya anjurkan ambil peluang ini. Katanya juga membuat dekorasi taman di hotel? Itu ceritanya ada tetangga saya kerja di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jl. Sudirman. Dia pesan bunga untuk bosnya yang berulang tahun. Anak saya bersama petani-petani bunga di Puncak itu membuatkan yang sangat unik, sehingga Sang Bos tertarik. Suatu ketika, ada event di hotel itu, lalu kita diminta membuat dekor taman. Untuk proyek ini saya dibantu teman-teman pedagang di Rawa Belong. Mereka punya tenaga ahli taman dan kendaraan. Sejak itu, seminggu sekali atau dua kali kita terima order dekor taman di hotel itu. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

