Note: forwarded message attached.
Do You Yahoo!?
Yahoo! Tax Center - online filing with TurboTax
--- Begin Message ---Salaamun alaikum WW
Saya tak menyangka di hari ketiga saya bergabung kembali di RN, terjadi lagi iklim kudeta terhadap Panggugek dulu sebelum saya rehat. Tapi setelah saya membaca semua komentar dunsanak, maka saya mencoba memaparkan opini saya pribadi tentang nasib RN ke depan, perbaikan atau degradasi.
Setelah menganalisas lewat statistika (sejak mulai bergabung, artike no 7000-an sampai kini), ternyata saya menemukan bahwa hanya 5% dari anggota yang membahas topik adat, 15% soal ekonomi dan politik urang Minang, 2% geografis sumbar, 3% isu-isu perantauan, 5% seputar tokoh Minang dan 70% materi diskusi berkisar tentang Islam. Statistik ini perlu diakomodir, saya kira.
Tapi bagaimanapun, saya sependapat dengan Evi dalam hal ini agar RN sebaiknya lebih mengembangkan visinya up to the top, bukan menyempit ke hal-hal sepele. Dalam hal ini saya juga sependapat dengan Titik (Basri Hasan) bahwa ada kecondongan kita di RN untuk menghabiskan waktu, pikiran dan energi kepada hal-hal kecil yang tak bermanfaat. Mungkin karena hal seperti itu lebih 'hangat' dan mengasyikan. Entahlah.
Tapi saya juga setuju dengan email balasan dari Miko Mikardo bahwa perlu ada perubahan Tata Tertib yang berlaku sekarang. Saya setuju karena saya melihat Tata Tertib yang lama perlu di-update sesuai perkembangan waktu, wacana, interest dan teknologi. Salah satunya, menurut saya adalah supaya milis RN lebih atraktif dan akomodatif bagi kaum intelektual. Seperti pesan Cak Nur, "Wacana terbaik akan selalu menang."
Saya juga sependapat dengan Urpas bahwa dalam kasus ini Bandaro over-sensitif karena sistem dial-up online beliau yang a bit slower. Sejujurnya, saya di kantor tak punya masalah dengan file besar karena kami berlangganan ISP dengan servis dan teknologi yang lumayan bagus (menghindari sponsor, ISP itu tak usah disebutkan). Tapi di saat yang sama, saya juga menyadari kalau dial-up seperti Mr. Bendahara bukanlah hal asing karena saya juga berharap di masa depan RN cukup atraktif bagai pemakai warnet.
Saya rasa masalah itu sebaiknya diserahkan kepada pilihan si pemosting. Jika dia ingin artikelnya segera diklik user, tentu dia akan mem-posting seefisien mungkin, kecuali jika memang untuk hal-hal yang penting dan melengkapi dibutuhkan file yang lebih besar. Dan..kecuali si pemosting hanya ingin artikelnya dibaca oleh golongan mampu dan sengaja membatasi audiensi. Bukan berarti Mak Bandaro tak boleh baca, lho.
Pendapat itu juga didukung oleh sistem milis kita yang notabene masih numpang ke Yahoo, alias RN kurang gawe (memudahkan). Seehingga, kalaupun ada masalah besarnya file, maka yang akan pertama kali akan menangani masalah itu adalah the Yahoo. Saya percaya Yahoo lebih tahu mana posting yang mengancam 'down server' dan yang tidak. Sejauh itu dibolehkan Yahoo, saya kira tak ada masalah.
Bukan tak mungkin suatu saat kita harus menampilkan file-file audio video, di samping posting foto dan gambar. Kenapa tidak? Saya juga setuju dengan sebagian besar warga RN (kecuali Evi yang terkesan lebih suka hide-out) bahwa setiap anggota sebaiknya menunjukan identitas asli. Meskipun, diskusi di milis tak melibatkan gestur dan personal, tapi identified user akan menghasilkan posting-posting yang lebih bertanggung jawab.
Contoh, karena tak mengungkapkan identitasnya, pernah terbersit di kepala saya jangan-jangan Gusdur St Marajo itu adalah mantan Manajer Grafis di perusahaan saya yang dipecat oleh direkturnya beberapa waktu lalu (saya lupa persisnya) karena membuat proposal kredit ke sebuah BPR di Ciputat tanpa pengetahuan Direksi. Kesannya, dia mencoba mengadu domba saya dengan Mr. Titik dan malah menantang saya.
Substansi artikel orang seperti itu saya anggap masalah sepele dan tak perlu dilayani. Bisa jadi bukan dia. Tapi karena unidentified, sehingga saya jadi berprasangka begitu. Karena itu untuk menghidari purbasangka, alangkah baiknya identitas anggota tak hanya di tangan admin saja, melainkan juga dibagikan (dalam bentuk list) kepada semua warga RN lengkap dengan nama, lahir, pekerjaan, alamat rumah, suku, kampung asal dan alamat pekerjaan/kantor.
Contoh kasus yang lain, beberapa waktu lalu saya mendapat informasi dari sejumlah warga masyarakat adanya seorang wanita berumur sekitar 23-28 tahun berkulit kuning dan bermata sipit tinggi sekitar 158-162 cm yang berdiri untuk waktu cukup lama, gelisah hanya untuk mengamati tempat kediaman saya dari seberang jalan, menyandang semacam tas kuliah di bahunya. Ketika dihampiri oleh Satpam kami, wanita itu diam saja dan buru-buru pergi.
Saya sempat berprasangka, jangan-jangan wanita itu adalah Evi yang di RN ini. Maaf, terutama untuk Evi, ini hanya sekadar ilustrasi soal saja. Kalaulah data diri Evi ada di tangan saya termasuk pas foto, misalnya, tinggak dicocokkan saja dengan rekaman kamera CCP, ya toh?
Tapi saya sedikit kecewa dengan mayoritas warga di RN yang lebih asyik mengurusi hal-hal sepele ketimbang wacana-wacana besar yang lebih penting dan bermanfaat. Saya rasa dari statistik di atas, cukup beralasan kalau isu-isu tentang Islam adalah salah satu wacana besar yang bermanfaat. Dalam hal ini, saya setuju dengan Gusdur yang mengingatkan Bandaro supaya jangan alergi dengan diskusi Islam.
Saya juga kecewa, karena banyak artikel responsif dari warga RN yang kualitasnya tak jauh lebih baik dari tulisan Gusdur St Marajo seperti hujatan, cacian, menantang dan hal-hal sepele lain yang mungkin menunjukan kaliber mereka masing-masing sementara saya pribadi di RN mencari hal-hal yang "lebih berkaliber" seperti Basri Hasan (bukan muji lo, ya). Ibarat saya main catur, saya butuh lawan yang lebih berat supaya di masa depan saya bisa memainkan langkah-langkah yang lebih smart untuk menang. Seperti itulah.
Urpas, misalnya, juga mengecewakan saya dengan postingnya yang "berbau" kurang sedap (puisi tentang dirt). Kenapa anak muda secerdas dia gampang stres seperti itu dan menyalurkan stresnya ke milis yang di masa depan akan kita angkat harkat dan martabatnya ini. Saya kira semua kita pasti ingin RN ini identik dengan perkumpulan intelektual, bukan preman convention, ya toh?
Sebagai penutup, saya sangat setuju dengan anjuran St Lembang Alam agar Gusdur St Marajo minta maaf kepada Mr Bendahara Kaya Diraya. Bagaimanapun, kerja bakti Mak Bandaro patut dihargai. Siapapun yang mau kerja baik di RN, kita hargai. Asal, istilah urghang piaman, jan sampai indak bakalincikan.
Di satu sisi kurang sependapat dengan Mr Titik yang melihat isu Islam dari perspektif lain. Tapi di saat yang sama, kurang akomodatif terhadap artikel keislaman seperti yang sering dilantunkan oleh St Lembang Alam, M. Arfian atau Rahim Rahima, misalnya. Sikap non-akomodatif itu mungkin belum terjadi di RN, tapi ada baiknya kita saling mengingatkan agar hal itu jangan sampai terjadi. Seperti pribahasa ustad Mawardi Labai, "Lebih baik kehilangan Minang daripada kehilangan Islam."
Love always,
Esteranc Labeh A.C.
St Rangkayo Labih
Do You Yahoo!?
Yahoo! Tax Center - online filing with TurboTax--- End Message ---

