Tolong, Muliakan Aku Dengan Maafmu
Publikasi: 23/04/2002 08:25 WIB
eramuslim - Ini sebuah
kisah anonymous tentang dua orang sahabat
karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah
perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar
temannya. Orang yang
kena tampar, merasa sakit hati,
tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di
atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar
dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan
oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan
rasa takutnya sudah hilang, dia
menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT
TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang
menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai
hatimu, kau menulisnya di atas
pasir, dan sekarang kamu menulis
di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita
harus menulisnya di atas pasir
agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi,
kita harus memahatnya di atas
batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup
angin."
Cerita di atas, bagaimanapun
tentu saja lebih mudah dibaca
dibanding diterapkan.
Begitu mudahnya kita memutuskan
sebuah pertemanan 'hanya' karena sakit
hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan
hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih
perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan
untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian
dari sifat buruk diri kita.
Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus
saya lakukan ketika saya sakit
hati. Beliau mengatakan ketika
sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak
kita sakiti terlebih dahulu.
Bukankah sudah menjadi kewajaran
sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita
telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia
menginginkan sakit yang sama seperti
yang dia rasakan.
Bisa jadi juga sakit
hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan
perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.
Namun demikian, Saudara-saudaraku, salah seorang guru saya selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan
sungguh sangat berat. Karena itu
beliau mengajari kami untuk 'menyerahkan'
sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti
mengetahui bagaimana sakit hati kita-
dengan membaca doa, "Ya
Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan
yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami."
Bukankah Rasulullah pernah berkata, "Tiga hal di antara
akhlak ahli surga adalah memaafkan
orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada
orang yang berbuat buruk kepadamu".
Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah
menyakiti hatimu dan kau tidak
membalas, dan mungkin juga kau
menyakiti hatiku karena aku pernah
menyakitimu. Namun dengan
ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.
Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang
rusukku hingga menyesakkan dada. Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku 'ada'
di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku.
Tolong jangan kau tambahkan
kehinaan pada diriku dengan mengadukan
kepada Tuhan bahwa aku telah
menyakiti hatimu. Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan. (Hadi
[EMAIL PROTECTED])