|
Assalamualaikum,
Pagi2 buka e-mail, what's a surpirse!
Tampaknya RN sedang bergelimang dengan kalimat2 manis. Terutama penawaran
seputar the shoulders to cry on itu. Hm, manis sekali. Thank U all. Dari
belakang ternyata ada lagi yang lebih heboh yang mempertanyakan Ada Apa Dengan
Cinta. Sampai2 saya buka ramalan bintang untuk Capricorn hari ini. Karier:
Tingkatkan kelebihan biar CV tampak hebat. Cinta: Hati2 dengan pria "manis"
kadang mereka tak dapat dipercaya. Tips: Tenangkan situasi, tak enak di
keluarga.
Wassalam,
Evi
----- Original Message -----
From: mardani a
soedewo
Sent: Wednesday, May 01, 2002 7:53 PM
Subject: Fwd: Article rejected, un-authorized poster of [EMAIL PROTECTED] Tolong postingkan,
===================
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
"Demi Waktu Sesungguhnya manusia akan senantiasa merugi Kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih Dan mereka senantiasa saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran" (QS. Al Ashr, 103 : 1-4) Assalamu'alaikum warahmatulLahi wabarakatuh. ADA APA DENGAN CINTA? Apa yang sedang terjadi di sekeliling kita? Banyak orang yang masih mencari cinta. Tidakkah ia menemukan cinta itu di lingkungan terdekatnya? Tidakkah ia menemukan cinta itu di dirinya sendiri? Subjek ini memang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Dari sastra tasawuf hingga Melly yang menciptakan lagu dengan judul di atas. Ada apa dengan cinta? Sebetulnya tak ada apa-apa dengan cinta itu sendiri. Apa pun definisinya. Pernah ada buku terbitan lama sekali. Jika buku tentang agama Islam mungkin sudah layak disebut sebagai kitab kuning. Isinya kumpulan definisi tentang cinta menurut orang-orang terkenal dunia, ya politikus, ilmuwan, sastrawan, dsb. Dus, per definisi saja, cinta sudah layak untuk dibukukan. Menurut catatan statistik sebuah lembaga konseling di Jakarta, dari ribuan kasus yang masuk perbulannya, prosentase terbesar adalah mengenai cinta yang berada di bawah kategori hubungan antar manusia. Padahal klien yang berkonseling lebih dari 90% bukan remaja. Sebagian di antaranya sudah berkeluarga, atau pernah berkeluarga. Dan . 60 persen lebih adalah perempuan. Ada apa dengan cinta? Kalau kita melihat wilayah, jelas kasus-kasus itu terjadi di kota metropolitan Jakarta. Suatu hal yang absurd, kota di mana teknologi demikian maju, telekomunikasi begitu dahsyat, anak SMP pun sudah banyak yang ber-handphone. Wartel berjajar, kadang bahkan kurang dari 100 meter, jauh di bawah ketentuan Telkom sendiri. Namun hubungan inter personal menjadi kering. Di internet yang juga disebut sebagai dunia virtual, orang merasa aman untuk menyembunyikan jati dirinya. Dengan demikian ia bisa mengeksplorasi dan mengeksploatasi sisi-sisi "gelap" jiwanya yang sering tak dapat ia munculkan di dunia nyata. Padahal sisi "gelap" itu nyata ada, sedangkan sering yang ditunjukkan di dunia nyata malah sisi yang palsu. Fakta itu menunjukkan bahwa justru di segmen masyarakat yang secara ekonomis mampu, komunikasi antar individu menjadi rapuh. Belum lagi melihat dampak modernisasi (dari sudut negatifnya, bukan berarti tak ada dampak positif) pada menurunnya standar moralitas masyarakat. Saya tidak bermaksud untuk memberikan suatu jawaban atau pandangan tertentu dalam tulisan ini, melainkan untuk mengajak kita semua merenungi fenomena yang terjadi di masyarakat kita sekarang. Ah, itu mengada-ada. Mungkin ada yang mengatakan demikian. Toh dari dulu pun persoalan itu sudah ada. Memang standar moral dan normatif masyarakat ikut berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kalau dulu dalam pertemuan-pertemuan, kita menari piring atau ikut bung Karno berlenso, kini di mana-mana orang asyik berpoco-poco yang seperti senam militer itu. Begitu pula, dulu anak muda penggemar The Beatles sudah dianggap urakan, berandal, crossboy. Kini Beatlesmania bagai anak-anak manis berdampingan dengan Metalmania, atau grindcoremania. Maka dari dulupun selalu ada kontroversi antara pro status-quo dan anti status-quo. Pro kemapanan dan anti kemapanan. Baiklah saya ingin coba melihat yang berada di wilayah abu-abu. Yaitu ada sejumlah orang yang hatinya ingin berontak dari kemapanan namun tak mampu (atau takut?) mengambil konsekuensinya. Kalangan inilah yang secara psikologis mengalami perpecahan kejiwaan. Saya masih agak Freudian jika melihat masalah ini. Sebagai (mantan) praktisi psikologi, saya banyak menemukan fakta (kalau tak bisa dibilang semua) bahwa kondisi kejiwaan seperti ini bermula dari masa kecil mereka. Secara umum saya simpulkan, bahwa dalam kasus-kasus yang saya sempat tangani, ini disebabkan oleh lemahnya komunikasi antara orangtua dan anak. Di sisi lain saya melihat kurang bijaknya orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Tentu saja secara prosentase saya mengakui bahwa dalam satu keluarga hanya satu atau dua anak saja yang mengalami "penyimpangan" begini. Sementara anak-anak lain dalam keluarga yang sama "kelihatannya" tidak mengalami persoalan yang sama. Meski bukan tidak mungkin mereka lebih bisa memendam atau menutupinya, atau tidak terlihat oleh saya. Namun prosentase itu meski kecil menimbulkan kekhawatiran sebagaimana teori gunung es. Yang tampak di permukaan hanya kecil namun ternyata begitu besar yang berada di bawah permukaan hingga mampu menenggelamkan kapal legendaris Titanic yang sempat di-klaim tak bisa tenggelam. Benar atau tidak kekhawatiran tersebut tak ingin saya bahas lebih lanjut. Namun yang saya ingin tekankan adalah: Satu, begitu pentingnya aspek komunikasi antar manusia, baik antara orangtua dan anak, suami dan istri,antar teman, dsb. Kedua, pentingnya untuk membuka wawasan diri. Di jaman serba mungkin seperti sekarang, sempitnya wawasan hanya akan membawa bencana. Seperti seorang yang pernah saya kenal dekat pernah mengatakan bahwa ia tak takut menanggung resiko (demi keinginan hatinya) selama ia sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang yang tak bersalah di sekitarnya. Nah! Di satu sisi akal pikirannya mampu berfikir sehat. Namun seringkali perasaan "sesaat" (arti sesaat di sini bisa beberapa nanosekon atau duapuluh tahun) lebih mendominasi tubuhnya dan melakukan aktivitas (ucapan, tindakan) yang bertentangan dengan akal sehatnya sendiri. Dalam pengamatan saya, faktor gender ternyata tidak relevan di sini. Hal tersebut bisa terjadi di kedua gender. Lalu salah siapa, sang perempuan yang mencintai laki-laki lain atau laki-laki itu yang "memberi angin" hingga perempuan itu mencintai? Atau salah orangtua yang tak memberi bekal pendidikan moral dan penguatan jiwa anak, atau memang anak itu yang bandel hingga sekarang ia merasakan akibatnya? Saya kira yang salah adalah pertanyaannya. Karena pertanyaan itu tidak layak untuk ditanyakan. Toh tak ada manfaatnya dalam menguraikan benang kusut yang terjadi. Secara teoritis, dalam menghadapi benang kusut bisa diambil dua cara yaitu dengan ketekunan dan kesabaran menguraikan satu demi satu simpul, atau ambil pedang dan babat saja, selesai. Namun secara humanis, manusia bersifat unik. Tak dapat kita membuat suatu generalisasi hingga mengambil satu cara untuk semua. Dus artinya harus diambil langkah-langkah penanganan secara personal. Dari satu sudut, anak yang tidak diperkenalkan pada budaya demokrasi dan proses akan mengakibatkan ia mudah kagum atau membenci sesuatu berdasarkan referensi yang amat terbatas tanpa memahami proses di balik fenomenantersebut. Budaya paternalistik yang tidak demokratis sangat menghambat pertumbuhan jiwa dan kedewasaannya sehingga justru membentuk karakter pemberontak. Ketika remaja bentuk pemberontakan itu akan berbaur dengan pubertas yang mendorong anak untuk melakukan "eksperimen" dengan hal-hal yang tanpa disadarinya merupakan penolakan terhadap orangtuanya. Selain itu. tekanan,perintah dan larangan sangat besar peranannya dalam membentuk karakter munafik atau "topeng-topeng". Begitu pula sangat kuat dugaan bahwa permissiveness terhadap moralitas lebih dominan sebagai upaya memberontak dari belenggu orangtuanya. Kurangnya encouragement atau pengakuan atas eksistensi anak yang bersifat mendorong perkembangan jiwa menuju kedewasaan bisa berakibat fatal. Hal ini membuat anak amat tertekan. Hal ini seharusnya bisa disingkirkan apabila sejak dini ia mendapat kasih sayang yang cukup dan pengenalan terhadap realitas kehidupan untuk memperkuat jiwanya, dengan demikian ia akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang kenyal terhadap benturan kehidupan. Di sinilah terlihat bukti bahwa umumnya orangtua mengabaikan faktor psikologi anak. Lebih jauh lagi, manusia mengabaikan pentingnya filsafat sebagai panduan dalam menjalani hidup. Hal ini membuat kebanyakan manusia menjalani hidupnya sebagai robot-robot, atau lebih tepat lagi sekrup-sekrup dari suatu mesin besar peradaban yang bernama industrialisasi. Dus, mesin ini menghasilkan dampak dehumanisasi yang menempatkan manusia sebagai objek dan bukan subjek. Lihat pola umum pendidikan kita yang mengabaikan pelajaran-pelajaran humaniora. Begitu pula pelajaran-pelajaran eksak jauh lebih bergengsi dibandingkan ilmu sosial, apalagi agama. Bahkan ada kecenderungan bahwa agama diko-optasi oleh mesin peradaban tadi. Maka ilmu pengetahuan memang membuat manusia pintar, namun filsafat akan membuat manusia menjadi bijak. Konteksnya tentu adalah dunia. Apabila ingin mendapatkan dunia dan akhirat, tentu saja tak lain tak bukan dibutuhkan agama, karena agama bukan semata syariat yang mengatur pola hubungan keduniaan. Ketika sang anak dewasa, keluarga lagi yang "menentukan" dengan siapa ia boleh menikah. Bagi keluarga anak perempuan, tingkat pendidikan, jabatan yang memadai, kemampuan memberi nafkah "materi", dan suku calon suami menjadi persyaratan mutlak. Kadang semua telah memenuhi persyaratan orangtua atau keluarga, bahkan sang anak sendiri pun telah menerima segala persyaratan itu. Kita asumsikan bahwa sang calon suami/istri tersebut adalah orang terbaik bagi kehidupan dirinya dalam rumah tangga kelak. Namun mengapa kemudian segala hal itu kemudian menjadi tak berarti lagi sekian tahun kemudian? Adat dan keluarga tak cukup kuat untuk mengatasi hal ini. Bagaimana adat akan efektif diberlakukan di metropolitan Jakarta yang heterogen, sementara nun jauh di tanah asalnya adat telah juga telah kehilangan maknanya. Di bumi manapun, adat sebagai budaya terus berkembang selaras dengan bergesernya waktu. Ini jangan disalah-tafsirkan dengan menolak adat/budaya sama sekali. Namun lebih kepada melihat secara jernih dan kepala dingin tanpa arogansi status, pangkat, atau jabatan, dan menelisik lagi relevansi nilai-nilai yang kita pergunakan dalam melihat tiap persoalan. Bukankah tiap orang punya hak yang sama untuk disayangi sebagai anak? Ingatkah pada ayat Qur'an yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan suci.Orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Begitu pula ketika ia sudah dewasa. Tak dapat semena-mena kita menghakiminya atas kesalahan yang diperbuat. Kedewasaannya diperoleh melalui proses yang kurang terkendali. Ia memang punya jalan hidup sendiri. Namun orangtua (baca: keluarga) harus melindunginya dengan cara yang ia bisa terima. Bukan perlindungan yang malah mengungkungnya dan membuatnya berontak. Akibatnya, justru keluarga tak dapat mengetahui bahaya apa yang akan mengancamnya,alih-alih menolongnya. Sudah belasan tahun lalu seingat saya, seks bebas pra nikah menggejala dan kemudian mewabah hingga kini. Menurut penelitian yang pernah dilansir oleh majalah TEMPO di tahun 80-an itu, mayoritas seks bebas ini dilakukan di rumah keluarga sang anak perempuan (!). Ini belum termasuk ekstra marital. Masih ingat kasus Eko, seorang anak SLTA yang mengadakan angket mengenai seks hingga heboh kemudian oleh sekolahnya ia dikeluarkan? Lihatlah,pengungkapan suatu fakta aktual ternyata sudah mendapat stigma buruk dari pihak yang merasa punya otoritas. Tidak semua demikian. Masih banyak yang baik, bijak, dsb. C'mon. Jangan kita lontarkan apologia yang justru menutup diri dari kenyataan. Justru sikap demikian akan menutup upaya-upaya untuk melakukan rekonstruksi dan koreksi demi perbaikan di masa depan. Salah seorang klien saya dulu adalah orang yang secara fisik dewasa namun secara mental "pseudo" dewasa. Sangat kuat fisik dan mentalnya, namun tekanan bertubi-tubi tanpa ada katup pengaman di sisi keluarganya membuatnya pecah dan limbung. Ia berupaya minum obat tidur secara berlebihan, di kamarnya sendiri. Di rumah keluarganya sendiri. Jelas yang terjadi di sini adalah lemahnya komunikasi antar anak dan
keluarganya. Tak perlu dicari siapa yang salah dalam hal ini, namun dibutuhkan
kebesaran hati masing-masing pihak untuk menempuh upaya rekonsiliasi melalui
dialog yang tak henti. Bagaimana pun setan dan iblis
tak hanya berada di luar, tapi juga berada dalam diri kita masing-masing-sering tanpa kita sadari. It takes two to tango, kata orang mancanegara. Tak dapat dilakukan dialog tanpa keikutsertaan kedua pihak. Meski pihak yang mengajak dialog tentu mendapat catatan tersendiri dari yang Maha Kuasa,terlepas ajakan dialog itu bersambut atau tidak. Menurut data yang saya miliki, tingkat pendidikan maupun status sosial (ekonomi) tidak menjamin kualitas kehidupan yang lebih baik. Pelacuran bukan hanya terjadi di kalangan bawah, demikian juga korupsi tidak hanya di kalangan atas. Maka faktor-faktor pendidikan dan ekonomi menjadi tidak signifikan lagi. Minimal bagi saya pribadi, tanpa agama (secara kaaffah) kita hanya akan berputar-putar tanpa arah dalam menempuh kehidupan di dunia ini. Jadi rumusan tulisan ini adalah bahwa dalam hubungan inter personal mutlak dibutuhkan komunikasi yang intensif. Kedua, komunikasi tersebut tak kan bermanfaat apabila masing-masing pihak tak membuka wawasan berfikir seluas mungkin. Dan yang terakhir, yang bisa menjamin bukan saja kehidupan dunia yang tenteram tapi juga akhir yang baik di pasca kehidupan ini hanyalah pemahaman dan penerapan agama (baca:Islam) sebaik mungkin. Maka marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, utamanya dalam mengkaji dan mengaplikasikan dienulLah. Al Islam. Insya Allah kita akan menemukan berbagai jawaban atas persoalan kita di sana. Bagi siapapun yang sedang berada dalam kegalauan, simaklah puisi "balsem" berikut. Mudah-mudahan bisa sedikit menghilangkan kepusingan, dengan izin Allah. Setelah manis kau cecap Setelah manis kau cecap Tak sepantasnya kau remehkan gula Apalagi wangi belum kau resap Bagaimana kau abaikan bunga? Setelah merdu kau nikmati Tak sepantasnya kau laknati lagu Apalagi haru belum kau rasakan Bagaimana puisinya kau rendahkan? Setelah sunnah kau minati Tak sepantasnya kau sepelekan hadits Apalagi belum kau hayati al-Qur'an Bagaimana mushafnya kau kecilkan? Setelah keyakinan kau dapatkan Tak sepantasnya kau campakkan iman Apalagi mi'raj belum kau hidupi Bagaimana shalat kau anggap sepi? Setelah hakikat untukmu mengada Tak sepantasnya kau kecam filsafat Apalagi makrifat belum kau rasa, menyinta Bagaimana terikat kau anggap nista? KHA Mustofa Bisri 1988 Inna lilLahi wa inna ilaihi raji'uun. Laa hawla wala quwwata ilaa bilLah. Wassalamu'alaikum warahmatulLahi wabarakatuh. Al faqir, Umar Syaifullah. |

