> Begini. > Kita ......... eh banyak urang nan ahli sabagai kritikus > Karena manjadi kritikus itu enak. > Tunjuk hidung si anu, suku, kalompok, lalu cercai dengan se-puas- > puasnya dengan berbagai analisa yang kadang dikarang sandiri. > Study - analyze - judge ( apo istilah ko 'Pi ??? ( Epi Serpong)) > by himself ..... by herself juga'.
Masih lebih bagus, paling ndak muncul kepermukaan apa yang dialami se-hari2, terfikirkan tapi ndak tau mau di gimanain, atau se- buruk2nya timbul kecurigaan2 tapi ndak tau gimana ngebuktiin (namanya juga ndak semua orang berbakat Sherlock Holmes). Tentunya menurut perspektif masing2. Sukur ter-kristal (we find something in common) menjadi kesadaran untuk tanggungan bersama, kalau ndak ya ndak pa pa malape aho sajo. That's the way life goes. > Bahwasanya ; " Si Padang " > - primordial, sok demokratis, tahimpik nak diateh, di titik nol, > fanatik, feodal, susah berubah, statis, bangga dengan symbol-symbol, > suka mahetong-hetong urang bapangkaik, anu beginu .... ini begini. > Bacalah 10 keburukan / kekurangan, maka -manuruk kritikus- > sambilan satangah ditimpakan ke " si Padang" saat ini. Masih lebih bagus, paling ndak tahu bagaimana cara sebagian orang minang melihat ke-minangan-nya. Bukannya phenomena baru kalau orang sudah bisa melihat kesalahannya (walaupun bisa jadi ndak terlalu akurat), daripada sibuk mencari shoulder2 eh..eh orang lain untuk memikulkan kebodohan yang kita perbuatan. Lagian, membiarkan glass half full lari sendiri tokh terlalu riskan (bisa2 awak lah mangamek-ngamek se didalam Silaing Kariang sabalun tibo di Padang) kalau ndak ber-sinergy dengan glass half empty (kok dibiaan surang mainsuk-insuk saroman cipuk, ndak tibo2 pulo beko) > > Lalu ................ > Doing nothing to fix the problem. > Because its yours not mine. > Berpuas-puas dengan diri sendiri ............. toh yang dikritik > tak akan bisa membela diri. > si padang sadang kanyang ditunjuk hidungnya Sebagian orang senang meng-ekspose apa yang diperbuatnya kalau perlu sampai ke-hal2 yang sifatnya paling pekah, biar diikuti orang lain tentunya (ndak jelek2 amat). Sebagian orang risih atau ndak terbiasa begitu, mungkin karena malu atau terdidik untuk meyakini begitu (tokh hidup sebenarnya ndak tergantung apo kecek urang). Atau banyak juga yang ndak berbuat apa2 (jiga abdi teh eh..eh), tapi bagaimanapun juga tokh ikut merasakan, paling ndak sebagai anggota mantimun bungkuak di masyarakaik (bebal2 juga tokh masih punya kulit) Lagian, masak harus ditambah aturan baru, untuk gabung RN harus melampirkan CV (apa yang sudah diperbuat, apa yang akan diperbuat, dan kira2 apa kontribusinya untuk Minang Kabau), daftar keluarga dan bank statement. Ya ndak tokh? Sakadar palapeh uweh2 eh..eh Wass, JD RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

