Asslamu'alaikum wr. wb,

Ambo postingkan tulisan urang lain iko, manuruik ambo sangaik kanai bana jo situasi kini. Sanak J. Dachtar manyabuik alang alang nan paralu disiangi. Ambo takuik sikap nan sarupo dibawah ko lah banyak pulo dinagari awak, apolah iko sababnyo. Kok awak diskusikan baa.

Salam

St. Bagindo Nagari

 

Hipokrisi yang Luar Biasa Mengerikan

Oleh Limas Sutanto

"...Bapak Gubernur hanya bicara. Bapak Panglima hanya bicara. Kepala Polda juga bicara. Tapi, yang sengsara malah rakyat kecil. Rakyat kecil mati terus sia-sia" (Demianus Hitijaubessy, saksi mata tindak kekerasan di Desa Soya, Ambon, 28 April 2002)

KETIKA hamparan manusia dibantai di Bosnia; ketika Amerika Serikat menghujani Afganistan dengan ledakan-ledakan bom dahsyat mengerikan; dan ketika warga Palestina dibunuhi di Jenin oleh tentara Israel, deret panjang warga bangsa Indonesia memekikkan protes heroik. Memang seyogianya demikian. Surat kabar dan televisi mewartaluaskan pekik teriak kuat warga bangsa Indonesia yang tersentuh, bahkan terkoyak nurani kemanusiaannya.

Warga bangsa Indonesia sedemikian prokehidupan, sebegitu tegas membela kedamaian, sedemikian berani menentang kejahatan, heroik sekali, membanggakan sekali.

Namun, siapa mengira bangsa yang sedemikian prokehidupan dan amat heroik itu, justru dirinya sendiri terbelah oleh hipokrisi yang luar biasa mengerikan? Tubuh bangsa Indonesia sendiri dilumuri kekerasan, yang tidak bisa dibilang kalah mengerikan ketimbang bentang kekerasan di Bosnia, Afganistan, dan Timur Tengah.

Simaklah tuturan warga Desa Soya di Ambon yang polos ini: "Tiba-tiba, (ledakan) bom terdengar di mana-mana. Banyaknya tidak terhitung. Serentetan tembakan juga terdengar di mana-mana". Warga lain bertutur memberikan kesaksian tentang penyerangan di Desa Soya, Ambon, Minggu, 28 April 2002 dini hari itu. "Yang menyerang juga berpakaian loreng. Jumlahnya sangat banyak".

Kata saksi yang lain sembari terisak-isak: "Perusuh itu datang di rumah saya sekitar pukul 04.30. Mereka langsung memberondong dari jendela. Cucu saya dan istri saya langsung meninggal diberondong senjata api dan saya sempat melihat mereka berpakaian loreng, menutup muka. Beta ini tidak bicara politik. Sementara itu, Bapak Gubernur hanya bicara. Bapak Panglima hanya bicara. Kepala Polda juga bicara. Tapi, yang sengsara malah rakyat kecil. Rakyat kecil mati terus sia-sia" (Kompas, 29/4/2002).

Harian Kompas pada edisi tersebut mencatat kekejian di Desa Soya itu menewaskan 12 orang dan menyebabkan 12 orang lainnya luka-luka berat.

Pada dataran kejujuran boleh diakui, betapa peristiwa kekerasan di Desa Soya hanyalah salah satu representasi dari deret panjang dan gundukan tinggi peristiwa kekerasan mengerikan yang dilakukan oleh hamparan warga bangsa Indonesia terhadap sesama warga bangsa Indonesia. Bagaimana ini semua bisa terjadi justru di tengah bangsa yang biasanya begitu heroik membela warga dunia yang teraniaya oleh kekerasan warga dunia lainnya? Hipokrisi sungguh mengoyak kepribadian Indonesia.

Dan oleh warga sederhana, hipokrisi itu dikristalisasikan dalam ungkapan: "...Bapak Gubernur hanya bicara. Bapak Panglima hanya bicara. Kepala Polda juga bicara. Tapi, yang sengsara malah rakyat kecil. Rakyat kecil mati terus sia-sia".

Masih bisakah para pemimpin sipil dan para pemimpin jajaran aparat keamanan negara, di seluruh bumi negeri Indonesia, menghayati rasa bertanggung jawab ketika melihat betapa mereka terbukti tidak bisa mengejawantahkan fungsi kepemimpinan universal dan paling hakiki, yaitu melindungi hamparan warga bangsa dari kekejaman dan kekerasan yang sebegitu langsung mengancam keselamatan hidup mereka? Masih bisakah jajaran penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, pengacara) menghayati rasa bertanggung jawab untuk sungguh menyelidiki, menangkap, menyidik, mengadili, dan menghukum para pelaku kekerasan dan otak rancangan tindak kekerasan yang sesungguhnya?

Di tengah hipokrisi yang amat mengerikan, niscayalah kedua pertanyaan itu secara riil mendarat pada jawaban kecut sekali: Tidak bisa. Maka mungkin bangsa Indonesia sendiri nanti akan melihat, betapa para pemimpin saling melempar beban tanggung jawab, atau berkolaborasi untuk saling menutupi kesalahan masing-masing, bahkan melemparkan beban tanggung jawab dengan menuding rakyat jelata sebagai lahan subur konflik horizontal yang mereka semaikan sendiri.

Mungkin pula para pemimpin hipokrit melemparkan beban tanggung jawab kepada jajaran anak buah mereka, mengkambinghitamkan beberapa anak buah mereka, sementara mereka sendiri tetap tampil berlagak bagaikan orang-orang suci murni yang tetap berhak dan berwenang penuh menduduki jabatan kepemimpinan dengan segala privilese yang bisa mereka nikmati.

Mungkin pula bangsa Indonesia sendiri nanti akan melihat, betapa hamparan aparat penegak hukum tidak sungguh-sungguh menyelidiki, menangkap, menyidik, mengadili, dan menghukum para pelaku kekerasan dan otak rancangan kekerasan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, hipokrisi makin merebak, meresap mendalam, menguat, menjadi kian ingar bingar. Hipokrisi makin boleh terjadi, bahkan diam-diam ia meresap ke dalam khazanah mental bawah sadar kolektif, dan di sana terangkat sebagai "nilai" yang niscaya ada, dan niscaya diadakan demi "mempertahankan hidup diri".

Akan tetapi, ingatlah kuasa hipokrisi itu sungguh membelah-belah serta mengoyak-ngoyak tubuh bangsa Indonesia, mungkin sampai berkeping-keping, luluh lantak. Kini Ambon kembali luluh lantak. Namun jika hipokrisi terus merebak dan kian menguat, tak mustahil peluluh-lantakan tidak hanya terjadi di Ambon, melainkan juga terjadi di tubuh besar bangsa Indonesia. Mengerikan sekali.

Hipokrisi adalah kekuatan patologi psikososial yang amat jahat dan mengerikan. Perebakan dan pemerkuatan hipokrisi sungguh menghancurkan sendi hakiki keberadaan dan kehidupan suatu masyarakat, bangsa, dan negara, yaitu kepercayaan.

Bayangkanlah, betapa mengerikan kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, ketika di tengah masyarakat, bangsa, dan negara itu kepercayaan sirna. Di sana, warga bangsa yang satu mencurigai warga bangsa yang lain; setiap orang melihat pemimpin, sungguh hanya sebagai pemimpin pura-pura; setiap orang memandang aparat keamanan, sungguh hanya sebagai aparat-keamanan-seolah-olah; setiap orang melihat hakim, jaksa, pengacara, sungguh sebagai seolah-olah-hakim, seolah-olah-jaksa, seolah-olah-pengacara.

Dan ujungnya, semua warga bangsa Indonesia melihat bangsa dan negara Indonesia, sungguh hanya sebagai seolah-olah-bangsa-Indonesia dan seolah-olah-negara-Indonesia.

Hendaknya para pemimpin Indonesia menyadai bahwa hipokrisi mengerikan sekali. Hipokrisi sungguh mengancam eksistensi Indonesia. Hipokrisilah kekuatan mengerikan yang mencabik-cabik Indonesia.

Masih cintakah para pemimpin dan para elite itu kepada Indonesia? Jika memang masih mencintai Indonesia, segera hentikan hipokrisi. Kembangkan kejujuran nan sejati. Akuilah kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Rintislah kepemimpinan yang sejati, bukan kepemimpinan-seolah-olah, dengan titik awal hakiki: kejujuran yang tidak bisa ditawar sama sekali.

Limas Sutanto, Psikiater, tinggal di Malang.

 

Kirim email ke