|
Judul : Cantik Luar
Dalam
Pengarang: Ibn Taimiyyah
al-Harrani
Ibn Qayyim al-Jauziyyah
Pernerbit :
Serambi
Cantik
Luar Dalam: Sebuah Ungkapan Cinta
Oleh:
Evi
Kalau bicara soal kecantikan,
mungkin sebagian orang saleh akan berkerenyit dahi sebab khazanah
literatur Islam memang agak kering dalam mengapresisiakan wacana ini
secara frontal sebagai salah satu bentuk ciptaan Illahi. Lalu
apakah kecantikan? Sebetulnya bejibun buku di tulis dan beribu karya seni, musik
dan syair lahir yang kesemuanya bicara ttg kecantikan. Cuma hasil karya
tersebut memang tidak terang2an menggunakan istilah cantik atau kecantikan.
Bila seseorang bicara ttg Allah berikut seisi alam ciptaa-Nya dan termasuk
manusia melalui laku mental atau ahlak, moralitas dan cara pandang positif
mereka terhadap segala sesuatu maka dia sedang bicara soal
kecantikan. Kecantikan maknawi namanya.
Cantiknya para pelaku
kebajikan menurut Islam adalah ketika mereka terbagi menjadi dua
golongan terbesar: Al-Abrar al-Muqtashidiin( yang berbuat baik lagi
berlaku sederhana dalam amal perbuatannya) dan al-sabiqin al-Muqarrabbin
(yang berlomba2 melakukan kebaikan dan semakin mendekatkan diri kepada
Tuhannya). Sedangkan cantiknya ahlak menurut Nabi adalah
cantiknya orang2 beriman dimana orang yang paling sempurna imannya adalah
yang paling cantik diantaranya.
Prof. Muhammad Qutub menuliskan lain
lagi, analogi kategoristik nilai-nilai tertinggi adalah ketika seseorang
merasakan cita rasa kecantikan dan kemudian menemukan masalah bahwa
kecantikan hanya sebuah keniscayaan yang tidak memerlukan argumen. Tak kalah
seru adalah kecantikan menurut versi penulis al-Dzillah, Sayyid
Qutub; " Kecantikan adalah fitrah yang menyeluruh di dalam diri manusia.
Memandang ke langit (mestinya sedang banyak bintang :-)) sudah cukup untuk
mengetahui kecantikan itu."
Itulah kecantikan. Dan inilah buku
yang tidak biasa, yang menghadirkan tema yang kalau boleh saya katakan sekali
lagi sangat jarang ditemukan dalam khazanah literatur Islam. Pengarang pun
memang ulama yang "tidak biasa", yang masterpiece-nya pernah sangat
menggemparkan melalui Majmu al Fatawa. Namanya Ibnu
Taimiyyah, bersama dengan Ibnu Qayyim al-Jaziyyah,
mereka mencoba menempatkan kecantikan Allah dan ciptaan-Nya pada
tempat yang semestinya.
Yang menakjubkan dari karya guru dan
murid dan guru ini adalah, mereka tidak melupakan untuk mengupas
kecantikan fisik yang menjadikan industri kecantikan berkembang sedemikian rupa
seperti sekarang ini atau sesuatu yang membuat seseorang menjadi masyshur dan
terangkat citranya melalui tubuhnya seperti melegendanya nama seorang Lady Diana
(kalau ada yang mengatakan perempuan ini melegenda karena kecerdasan atau
kesalehannnya silahkan tunjuk tangan :-)).
Dalam kata pengantar buku ini,
Ibrahim ibn Abdullah al-Hazimi menyebutkan bahwa dalam bahasa Arab kecantikan
diungkapkan dengan kata al-jamal dan al-husn yaitu kecantikan
yang terdapat dalam perilaku maupun rupa manusia. Menurutnya pengertian tersebut
ditunjukan oleh sebuah hadist, "Sesungguhnya Allah itu cantik (jamil),
menyukai kecantikan (al-jamal)," yaitu kecantikan perilaku dan
kesempurnaan sifat. Dalam ungkapan yang lebih terang2an al-Tsa alabi
dalam bukunya Fiqh al-Lughah menggunakan istilah
al-shabah untuk wajah, al-wada'ah untuk kulit, al jamal
untuk mulut, al zharf untuk lidah, dan al-rasyaqah untuk
potongan tubuh. Semua kata2 ini mengacu untuk menunjukan cantik lebih harfiah
yaitu kecantikan fisik.
Bahkan buku ini juga tak segan
melukiskan ketampanan nabi secara lebih spesifik keduniawian. "Nabi adalah
seseorang yang bertampang paling rupawan dan berperawakan paling indah. Ia tidak
terlalu jangkung dan tidak pula terlalu pendek." ujar al-Barra ibn Azib. Lebih
jauh al-Bara mengungkapkan bahwa Nabi memiliki badan kekar dan berambut panjang
melampaui kedua telinganya dan kulitnya putih (oh my favorite one hehehe..). Ada
lagi ungkapan ketampanan Nabi yang akan merontokan jantung jutaan
perempuan muslim sedunia dirilis oleh Jabir ibn Samurah r.a., "Aku melihat
Rasullulah pada malam purnama. Saat itu beliau mengenakan gaun merah. Lalu aku
memandang beliau dan memandang bulan. Ternyata beliau lebih cantik daripada
bulan."
Begitulah! Kecantikan itu memang ada
dua: pertama, kecantikan batin dan kedua kecantikan lahir. Semua orang dalam
ungkapanya yang pendek atau panjang, ufuk barat atau Timur atau melintasi
dua titik yang paling jauh pada akhirnya toh akan setuju bahwa kecantikan
itu akan menarik penglihatan dan pikiran. Jika kecantikan batin dicintai karena
zatnya sendiri, kecantikan fisik merupakan nilai lebih berupa perhiasan berharga
yang telah Allah titipkan pada mereka yang memilikinya, "Allah menambahkan
dalam ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya."
So bagi mereka yang tidak begitu
beruntung dalam kecantikan fisik, jangan pernah kecil hati karena Islam
punya ungkapan yang sangat menghibur, "Kecantikan dalam lebih berharga dari
kecantikan luar."
Serpong 6 Mei 2002
|

