|
Kebun Mawar Rahasia Mahmud Syahbistari Risalah Gusti
Salam Rindu Dari Tapal Hudud Evi "Orang2 suciku berada di bawah kubahku". Entah berasal dari mana ungkapan itu tapi sangat disenangi oleh sebagian besar pelaku Tasawuf klasik. "Cahaya dalam diri menciptakan Sufi, bukan kebiasaan agama" Sebuah ungkapan mempesona lain yg digunakan Sa'duddin Mahmud Syabistara (SMS), seorang Sufi klasik lain, di sampul bukunya yg cantik bertabur bunga mawar merah dalam karyanya Gulshan -i- Raz atau The Secret Rose Garden of Sa'duddin yg diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Florence Lederer. Sebagaimana mempesonanya sebutir biji badam yg membusuk saat dia tercerabut dari kulitnya, dunia tasawuf memang tidak terhindarkan dari ungkapan syair-syair romantis tatkala berbicara kepada sang Khaliq. Mungkin saja tidak selalu demikian tapi setidaknya demikianlah yg banyak terjadi di bumi Persia yg juga melahirkan Rumi yang menghebohkan dunia sastra Barat moderen seperti sekarang ini. Proses renungan yg panjang, penahanan diri yg mutlak serta penyerahan diri secara total kepada sang Pencipta, mungkin adalah beberapa sebab mengapa seorang Sufi mampu melahirkan puisi-puisi yg mampu memikat para pembacanya atau bahkan mungkin menyeret mereka pada arus pemikiran baru dan tatanan dunia baru dalam bertindak. Dan saya hanya nokhtah kecil yang terpesona pada kelembutan dan pengekangan diri seorang pelaku tasawuf lalu memutuskan untuk membeli buku mungil ini. Setelah beberapa saat saya baca dan renungi lalu saya putuskan kembali bahwa bukan karena tasawufnya atau Sufinya lantas kemudian memutuskan untuk menuliskan review ini, melainkan (selain kangen tentu saja), karena membaca syair-syair cinta mereka, rasa-rasanya ingin ikut mencebur dan terseret kedalam kebeningan, ketakjuban, dan keterpesonaan mistis yang akan berakhir pada Sang Kekasih: Allah SWT. Tengok syair ini: " Aku mendengar dan terpikat; ruhku bergegas untuk merengkuh. dekapan penerimaan Cinta, Karena suara itu begitu manis ". Tidak seperti dua tokoh yg sangat menonjol dalam sejarah tasawuf, Ibn Arabi dari Andalusia danMaulana Jalaludin Rumi yg menyeru dari Konya Anatolia, sangat sedikit kisah hidup yg didapat dari SMS. Ia mempunyai seorang murid bernama Syek Ibrahim dan menulis dua risalah lagi yakni Haqqul-Yaqin dan Risala-i-Shadid. Walaupun begitu, Kebun Mawar Rahasia sudah melancong sampai ke daratan Eropa pada tahun 1770 dan menebar benih mawar-mawar akal budi, keyakinan, pengetahuan dan keimanan tanpa setitikpun tetes darah. Sangat mengherankan jika Islam dianggap sebagai agama perang dan permusuhan ketika seorang SMS melukiskan wajah sempurna Sang Kekasih melalui penggunaan simbolisme kefeminiman seorang perempuan. " Apa hakikat mata dan bibir? Sungguh pertanyaan yang memprovokasi. "Mari kita pikirkan" Katanya. " Tatapan-tatapan yg memikat hati dan memabukan cahaya dari mata-Nya. Hakikat wujud keluar dari bibir delima-Nya. Gumpalan-gumpalan hati terbakar oleh kerinduan mata-Nya, lalu pulih kembali oleh senyum di bibir-Nya". Aduh! Orang boleh saja terbakar api asmara atau tenggelam berpuluh-puluh kali dalam lautan cinta yang sama, membayangkan bahwa akan ada rengkuhan-Nya nan lembut dibelakang huru-hara, semua penderitaan tentunya akan lebur dalam niscaya. (Sebelum lebih jauh ada Note: Harap diingat bahwa ketika membaca karya seorang Sufi, walau mereka menggunakan simbol2 keindahan duniawi secara bebas bahkan pada titik tertentu cenderung vulgar, itu bukan berarti demikianlah adanya. Simbol2 mereka sangat mistis dan sarat makna, misal, mereka menggunakan ungkapan tidur untuk kontemplasi, parfum untuk berkah Ilahi bahkan pelukan dan ciuman sebagai pesona-pesona cinta Allah). Bagiku sebuah perselisihan tak bermakna. Apalagi antara sesama pemeluk Islam. Dalam ketidak tahuan toh saya bisa tertawa bahwa Al Quran di tulis dalam bahasa Arab kuno dan saya serahkan saja penafsirannya kepada yang bisa. Jika seorang lelaki itu dalam penciptaannya terhadap perempuan , boleh juga, asal dia mampu menyediakan dada lapang untuk menangis maupun tertawa. Ataukah ia mau berdiri sama tinggi atau duduk sama rendah dengan sesama rekan hawanya, lebih bagus, asal dia ingat bahwa langit dan bintang-bintang juga akan sirna pada suatu ketika. Yang jelas jika seorang SMS mampu mengatakan: "Kalaulah keragaman yg berubah menjadi kesatuan, dan kesatuan yang memasuki keragaman; misteri itu terpahami ketika manusia meninggalkan bagian itu dan menyatu dalam keseluruhan" sudah cukup bagiku. Begitupun ketika cinta berubah menjadi nestapa tidak perlulah pulau berubah jadi anak benua. Imajinasi melahirkan bayang-bayang, dunia tiada memiliki realitas sejati, beragam bentuk yang terlihat hanya hantu-hantu keindahan maka bertambah khusuk sajalah pada sang Mutlak. Seperti kata orang bijak, memang banyak angka, namun hanya satu yang terhitung, jadi tiada guna main politik sindir. Mari kita tertawakan saja akal dan kita hitung bintang, isya Allah, kita bisa sebijak Nashruddin Khoujah. Serpong 10 Mei 2002 Untuk mereka semua yang telah membuat hidupku sangat berharga untuk dilalui. |

