|
Maaf Honey, Tak Ada Kata Lain Kecuali matanya memang buta, sungguh menakjubkan bahwa tidak terlihat ada kepak-kepak ketakutan, kepanikan, dan mungkin juga sedang berdoa ---ya Allah, ya Allah sudah sampai kiranya ajalku --- dari seekor ayam katek saat menyelamatkan jiwanya dari roda mobil yang dikemudikan seorang "dogus" masuk garasi. Kejadiannya cuma sekian detik tapi hasilnya sangat ekslusif! Betapa kesadaran itu timbul bahwa betapa tipisnya batas apa yang disebut orang sebagai hidup dan mati itu sangat benar adanya.Setiap penyair punya bahasa dalam
menyampaikan kesedihan, memandang segumpal makhluk Allah tergeletak
bergelimang darah plus usus, rempela dan hati terburai dan menyerengai menatap
matahari siang, rasa-rasanya lebih baik manusia tidak memiliki
bahasa apapun agar dia tidak bisa menyampaikan "kerusakan" yang telah ia
akibatkan kepada orang lain. Tapi bagaimanapun kesedihan diteriakan, toh nyawa
ayam tidak kembali. Lebih baik jika tindakan sembrono yang meminta korban
dari makhluk Allah tidak berdosa ini dimintakan ampun kepada Sang
Pemberi kehidupan melalui laku pemberian kuburan yang layak pada sang almarhum.
Tapi benarkah dunia dan kehidupan yang berputar diatasnya ini begitu sederhana?
Aku sangat meragukannya!
Disana, tak jauh dari genangan darah,
berdiri makhluk Allah lain dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya yang kemerahan
meratup menunjukan emosi. " Mama jahat" bisiknya pelan. Kutatap mata hitam,
bulat dan bening kemerahan itu dan menjawab dalam hati; " Sayang, aku juga
sedang berpikir yang sama".
Honey, aku tidak bisa menawarkan
pelukan karena tahu tidak akan berguna. Begitu pun aku tidak punya
kata-kata pelipur lara karena inti sari dari perpisahan ini hanyalah
kesedihan. Aku telah merenggut "sesuatu" yang menghiburkan, mendengarkan dan
mengingatkan seseorang akan miliknya yang paling berharga yang sekaligus
juga bisa ia jual dengan semurah-murahnya atas nama cinta.
Maka kami hanya duduk2 saja berdua di
teras dalam keheningan. Hati kami hanyut oleh cerita masing-masing dan
bangkai ayam masih tergeletak di sana. "Pernah dengar kalimat ---'Dan, Dialah
yang memperindah segala sesuatu yang dia ciptakan'---", tanyaku berusaha
memecah gelombang masing-masing dimana kami nyaman bersilancar
diatasnya. "Dan Dia juga yang akan
mengambil kembali", sahut si pemilik rambut bagus itu dengan tenang. Ia
masih berusaha menghindari tatapanku.
Tapi aku tahu bahwa penolakannya
bukanlah permusuhan tapi bukan pula persahabatan. Namun aku tidak bisa
membiarkan otot-otot kebahagiaan makhluk mulia ini menjadi kaku. Apa lagi yang
bisa diungkap selain permintaan maaf. "Maafkan mama. Mama memang ceroboh dan
jarang belajar dari pengalaman sederhana".
"Aku masih belum terhibur,"
lanjutnya menepiskan tanganku, "tapi maaf mama diterima."
Satu jam kemudian acara penguburan
selesai. Peluh bercucuran dari dahi petugas penguburan. Adiknya bergabung untuk
membuat atmosfir semakin kental. Betapa aku ingin mengusapnya dan merengkuh
mereka berdua ke dada bahwa aku juga merasakan kehilangan seperti yang mereka
rasakan. Dan sangat menyesal bahwa mama "dogus" ini telah membuat mereka
kehilangan salah satu ayam kesayangan. Namun aku sudah terlanjur meragukan bahwa
kehidupan ini tidak pernah sesederhana seperti tampaknya. Lebih baik
mereka "deal" dengan itu.
Serpong 16 Mei 2002
|

