Senin, 20 Mei 2002
Permainan Untuk Melenyapkan Alqaidah

Dalam satu bulan terakhir pemerintah AS membuat tiga
kejutan. Semuanya terkait dengan Tragedi 11 September.
Yang pertama adalah pengakuan Direktur FBI Robert
Mueller pada 19 April 2002 bahwa pihaknya belum
menemukan bukti apa pun menyangkut keterlibatan Usamah
bin Ladin dan Alqaidah dalam aksi ''Selasa Kelabu''.

Kedua, pernyataan resmi juru bicara Gedung Putih pada
Kamis (16/5). Menjawab pertanyaan anggota Kongres, Ari
Fleischer mengaku bahwa Presiden George W Bush telah
menerima informasi kemungkinan adanya pembajakan
pesawat dan serangan teror terhadap simbol-simbol
penting Amerika pada Agustus 2001. 

Yang ketiga adalah terungkapnya dokumen penting dan
rahasia dari National Security Presidential Directive
(NSPD). Dokumen itu, menurut hasil investigasi MSNBC,
berjudul A Game Plan to Remove Alqaidah from the Face
of the Earth atau Rencana Permainan Untuk Melenyapkan
Alqaidah dari Muka Bumi. Kabar ini muncul hampir
bersamaan dengan meledaknya berita pengakuan Gedung
Putih di media massa. 

Tiga peristiwa saling terkait itu menarik untuk
disimak. Selain mengejutkan, ketiganya boleh jadi
dapat menguak beberapa misteri di balik Tragedi WTC.
Informasi yang terkandung di dalamnya
sekurang-kurangnya bisa menjadi bahan pembuka wacana
alternatif dalam memahami makna perang antiterorisme
yang telanjur menyudutkan Alqaidah, Taliban, serta
gerakan-gerakan Islam lainnya.

Kesaksian Direktur FBI pada malam Commonwealth Club di
Kalifornia (Washington Post 30 April dan Rense.com 2
Mei) sungguh mengherankan. Betapa tidak, sebelumnya,
pemerintah AS --melalui pernyataan Presiden Bush,
Menhan Donald Rumsfeld, Menlu Colin Powell, dan
Direktur CIA George Tenet-- mengaku telah memiliki
segudang bukti keterlibatan Usamah dan Alqaidah. Ini
didukung oleh dokumen tebal (lebih dari 1.000 halaman)
yang menjadi bahan kampanye AS dan Inggris dalam
membentuk koalisi internasional untuk perang
antiterorisme. 

Kini --setelah ribuan pejuang Afghan syahid, puluhan
ribu warga sipil mati kelaparan bersama luluh
lantaknya rumah-rumah, masjid, rumah sakit, dan
fasilitas umum lainnya semisal bandara, jaringan
listrik dan telekomunikasi-- sekonyong-konyong muncul
pengakuan bahwa Usamah dan Alqaidah yang menjadi dasar
pemicu serangan tidak terbukti terkait aksi 11
September. 

Sugguh ironis, tanpa bukti yang kuat, AS dan sekutu
koalisi internasionalnya telah dengan ''gagah berani''
menvonis mati Usamah bin Ladin dan Alqaidah,
menggulingkan pemerintahan Taliban dan
menghancurleburkan negara Islam Afghanistan. Dan,
tanpa bukti pula, AS telah memasukkan Iran, Irak,
Libya, Yaman, Sudan ke dalam ''poros kejahatan''. 

Menurut Ari Fleischer --jubir Gedung Putih-- informasi
tentang adanya potensi pembajakan pesawat oleh
orang-orang Usamah muncul dari serangkaian kajian dan
analisis CIA selama musim panas, mulai Mei sampai
Juli. ''Presiden Bush diberitahu ringkasan informasi
itu pada Agustus 2001,'' kata Fleischer seperti
dikutip BBC. 

George Bush, menurut CNN, menerima laporan intelijen
itu di kediamannya di Crawford, Texas, pada 6 Agustus
2001. Laporan itu membahas kemungkinan adanya
pembajakan pesawat jet komersial AS oleh kelompok
Usamah bin Ladin.

Terbongkarnya ''briefing CIA'' pada 6 Agustus itu
telah memancing kecaman dan pertanyaan kritis dari
Kongres. Thomas A Daschle, pemimpin Senat Mayoritas
dari Partai Demokrat, bertanya, ''Mengapa perlu
delapan bulan pengakuan itu muncul? Mengapa pula
pemerintah dan intelijen AS gagal meredamnya?''

Anggota Kongres lainnya, Richard Gephard, seperti
dilaporkan New York Times, CNN, dan BBC, memandang
perlu bagi warga AS untuk mengetahui apa yang Presiden
Bush dan stafnya tahu dan kapan mereka mengetahuinya.

Suara kritis juga muncul dari senator Jo Lieberman dan
John McCain (Partai Republik). Keduanya mendesak
perlunya sebuah komisi investigasi khusus. Adalah
tidak bertanggung jawab, kata Lieberman, untuk
menunjuk dan menyalahkan seseorang atau pihak tertentu
tanpa dukungan semua fakta. ''Juga sama-sama tidak
bertanggung jawab untuk membiarkan jenis informasi ini
keluar terlambat tanpa pemberitahuan ke masyarakat.
Ini langkah sembrono dan menimbulkan pertanyaan baru,
membuka luka lama.''

Menanggapi serangan itu, Penasihat Keamanan Nasional
Condoleezza Rice mencoba menjawab. Dalam jumpa pers di
Gedung Putih, dia berusaha meluruskan bahwa yang
diterima adalah informasi umum, tidak spesifik
menyebut tempat dan waktunya. ''Tak ada informasi atau
peringatan tentang rencana penggunaan pembajakan
peswat sebagai rudal untuk serangan bunuh diri ke
World Trade Center dan Pentagon.'' 

Informasi itu sengaja tak diberikan ke publik untuk
menghindari kepanikan dan lumpuhnya sistem penerbangan
komersial. ''Kami khawatir pemberitahuan itu hanya
akan membunuh maskapai penerbangan kita,'' ucap Rice
seperti dikutip NBC News (17/5).

Ari Fleischer menambahkan berdasarkan informasi umum
itu pun pemerintah dan aparat intelijen telah
melakukan langkah-langkah. Antara lain pemberitahuan
ke FAA, dinas-dinas intelijen, Pentagon, dan sistem
pangamanan bandara.

Merasa tak cukup dengan penjelasan dari dua orang
kepercayaannya, Sabtu (18/5), Presiden George W Bush
muncul di depan umum untuk membela cara pemerintahnya
menangani peringatan terorisme sebelum serangan 11
September.

Di White House Rose Garden, Bush mengatakan kritik
Kongres yang mempertanyakan sikap lambannya itu
disebarkan oleh pihak-pihak yang menentangnya di
Kongres untuk tujuan dan motivasi politik. ''Bila saja
saya tahu musuh akan menggunakan pesawat untuk
membunuh pada pagi itu, maka saya akan berbuat apa
saja dengan kekuasaan di tangan untuk melindungi
rakyat Amerika,'' kata Bush dalam nada marah.

Lebih dari itu, kata Fleischer, tim interdep yang
dipimpin CIA-Pentagon telah merumuskan rencana
menyerang Usamah bin Ladin dan Alqaidah. ''Sebuah memo
ditulis untuk presiden dengan rencana tempur untuk
menyerang Usamah bin Ladin. Memo itu disetujui tim
presiden pada 4 September, namun tidak pernah dibaca
Mr Bush,'' tambahnya.

Tetapi, NBC News menulis, dokumen ''melenyapkan
Alqaidah'' itu selesai dirumuskan tim NSPD dan
disodorkan ke Presiden Bush dua hari sebelum aksi 11
September terjadi. Dalam dokumen itu tercantum sederet
reaksi yang hendak diluncurkan Gedung Putih, CIA, dan
Pentagon begitu aksi serangan muncul.

Setelah aksi terjadi, AS pertama-tama akan mengajak
negara lain untuk bekerjasama dalam kampanye,
pertukaran data intelijen, dan menggunakan
lembaga-lembaga penegak hukum untuk menjerat
orang-orang Alqaidah.

Berikutnya dirumuskan rencana membekukan aset-aset dan
rekening keuangan Alqaidah di seluruh dunia. Dokumen
NSPD juga telah memetakan sel-sel Alqaidah di 60
negara.

Dokumen yang kabarnya disusun oleh orang-orang
terdekat Bush --seperti Rice, Jaksa Agung John
Ashcroft, Menhan Donald Rumfeld, Menlu Colin Powell,
Menkeu Paul O'Neil, Direktur CIA George Tenet, dan
sejumlah pejabat senior lainnya-- juga eksplisit
menyebut rencana membujuk pemerintah Taliban untuk
menyerahkan Usamah. Jika tidak, maka operasi serangan
militer akan dilakukan untuk menggulingkan Taliban dan
menyeret orang-orang Alqaidah di mana saja. dedi
junaedi



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
LAUNCH - Your Yahoo! Music Experience
http://launch.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke