----- Original Message -----
From: Hayatun Nismah Rumzy

5.     Bundo Kanduang dan Dang Tuangku mangirap kateh langik
Kok bundo tengok-tengok caritonyo iyolah maniru carito Isa Bin Maryam apokah
kaba iko diilhami dek carito Nabi Musa tu? Ataukah urang Bulando nan mambuek
carito ko maremehkan urang Minang?
Sajak bundo mabaco carito iko iyolah tasirok darah kalau urang mamanggie
dengan sabutan Bundo Kanduang. Baa nanda-nanda rasonyo labiah rancak padusi
Minang disabuik dengan perempuan Minang dari pado Bundo Kanduang.

============

Assalamualaikum,

Dear Bun yang cantik,

Apa kabar dan bagaimana alek yang berlangsung di Pondok Indah kemarin? Sukses ya. Sebagai ungkapan rasa bersalah karena tidak bisa menemani Bun dalam alek tsb, nanda temanin saja dalam cerita "dongeng" Bundo Kanduang kali ini. Hehehe...Kalau yang dibelakang sana itu ngatain Nanda lagi sebagai si banyak lagak, tolong tekek kapalonyo ya, Bun.

Bun,  kalau kita membicarakan Datuak Perpatih nan Sabatang,  Datuak
Ketemanggungan,  Iskandar Zulkarnaen, Bundo Kanduang, Nan Tongga Magek Jabang, Malin Deman, Dan Tuangku atau Cindua Mato dll. kita bicara tentang sebuah dongeng, cerita rakyat, folklore atau apa lah namanya . Yang jelas kita tidak sedang membicarakan sebuah sejarah sebagai sebuah telaah yang bisa dibuktikan secara empiris.
 
Kemiripan cerita tidak hanya terjadi pada dongeng Bundo Kanduang-Dan Tuangku versus Siti Maryam- nabi Isa. Cerita legenda Kota Parapat sangat mirip dengan cerita Batu Manangih kepunyaan rakyat Minangkabau. Begitupun Cerita pendurhakaan Malin Kundang punya kesamaan dengan cerita rakyat Batak (nanda sudah lupa judulnya) . Legenda Jaka Tole yang mencabut tongkatnya dari tanah dan mengeluarkan air sampai memuncrati muka Dewi Ratnadi juga sangat mirip dengan kisah Nabi Musa.
 
Ada apa dengan semua ini, Bun?
 
Mungkin itu lah sebab mengapa seorang Antropolog Levi Strauss sangat gatal-gatal otaknya dalam membuat analisa mengapa sebuah kebudayaan yang terpisah jauh secara geografis atau kebudayaan bisa mempunyai cerita-cerita rakyat yang mirip satu sama lain. Dongeng rakyat bisa berisi tentang apa saja, mereka tidak terikat oleh hukum ketepatan atau kemungkinan kecuali bahwa dongeng2 itu cuma terikat  pada satu kesamaan: Bahasa. Dongeng2 itu eksis karena mereka harus di ceritakan. Dongeng itu ada because of it is a language of its own. Dan bahasa  menurut Strauss adalah  sebuah "reversible time. Dia bisa berulang-ulang dan setiap pengulangan melahirkan sesuatu yang baru namun secara prinsipil struktural, dongeng2 itu tidak pernah berubah. Ia selalu berlandaskan pada impian2 ideal kolektif manusia. Mungkin itu juga lah sebab mengapa legenda terjadinya gunung Tangkuban Perahu sangat mirip dengan legenda terjadinya Gunung Batok di Bromo.
 
Terakhir...
 
Bun, nanda jadi kepikiran nih..mungkin karena Bundo Kanduang tidak punya suami tapi bisa melahirkan Dan Tuangku lantas nenek moyang kita menggunakan adat istiadat dg sistem matrilineal. Kalau orang tidak punya ayah garis keturunan di tarik dari ibu kan? Sebuah struktur lain yang sangat menarik untuk di pikirkan.
 
Wassalam,
 
Evi
 
 
 

 

.
 
 
 
 





 

Kirim email ke