http://www.sajadah.net/main/artikel.asp?ID=AR5240280689

Islam:

Antara Barat, Timur dan Masyarakat Tribal

(Indra J. Piliang)

 

Tulisan Ulil Abshar Abdalla (Republika, 12/5) dan Eko Untung Handjatmeko (Republika, 16/5) memperlihatkan sisi-sisi paling menarik dari perkembangan Islam dewasa ini, terutama hubungannya dengan Barat (lebih spesifik: USA).  Ulil menayangkan fragmen eksotis sejarah Islam, dengan menampilkan Madinah dan Cordova sebagai obat penawar bagi racun pikiran yang banyak berkembang tentang Islam yang tak bersahabat dengan Barat. Sedangkan Eko lebih pada tataran Islam universal, tentang manusia Barat yang juga mahkluk Tuhan.  Kedua artikel itu sekaligus mewakili kehebohan yang melanda sebagian ummat Islam tentang fenomena Islam Liberal.

 

Tetapi, kesimpulan Ulil tentang Islam Mardova sungguh menggelisahkan, terkesan cuma simplifikasi atas dua role model dunia Islam, masing-masing dari dua zaman yang berbeda. Sedangkan usaha Eko menambahkannya, tak terlepas dari apa yang memang sudah banyak ditemukan dalam nilai dan ajaran Islam sendiri sebagai bagian dari ummat yang berada dalam semesta alam, di tengah kekuasaan Allah SWT dan kepemilikan-Nya atas alam semesta dan segala isinya.

 

Kelemahan argumen Ulil lebih karena sedikitnya elaborasi atas konsepsi Islam Mardova itu, juga pijakannya atas apa yang disebut dengan Barat. Barat seakan identik dengan USA, terutama atas petikan Ulil dari tulisan Thomas Friedman. Ulil lagi-lagi menggunakan kalimat Friedman, untuk masalah yang sebetulnya bisa diselami sendiri oleh Ulil, yaitu mendatangi Pesantren Darun Najah di Ulujami, tempat yang kebetulan sepupu saya pernah juga mondok disana. Melihat keseluruhan benang pikiran santri Darun Najah saja, dari pernyataan satu santri saja, tidak cukup bisa menghubungkan kondisi psikologis, sekaligus sosio-kultural yang menyebabkan konstruksi pikiran itu terbentuk dalam diri si santri.

 

Begitupun, seperti yang dikatakan Muhammad Arkoun, Barat bukan hanya USA yang rasionalis, sekuler, liberal. Barat juga berarti kelompok masyarakat sosialis, marxis, bahkan kelompok masyarakat hippies yang hidup berkelana dari kota ke kota dengan menaiki kereta. Barat juga berarti sekte-sekte dalam masing-masing agama, termasuk sekte David Koresh, atau Kluk-Kluk Khan. Begitupun Barat juga berarti Spanyol dan Portugal yang pernah membagi dunia menjadi dua atas izin Paus di Vatikan. Kini Barat itu juga termasuk Israel, terbukti dari mainnya mereka ke zona UEFA-Liga Champion. Sedangkan Barat yang ada di dunia Islam adalah Turki.

 

Dalam episode Perang Salib, medan pertempuran utama terletak di Konstantinopel. Inilah daerah perbenturan Islam-Kristen dalam masa paling buruk dalam sejarah agama-agama itu, karena kedua agama berperang demi Tuhan. Baru kemudian, dalam abad-abad lebih ke belakang, batas terjauh penyebaran Islam di Barat adalah Cordova.  Kurang lengkapnya pembahasan Islamolog Barat terhadap Islam dalam penulisan di media-media Barat kontemporer adalah ketika jarang menghubungkan sejarah hubungan Islam dengan Barat dari sejarah kedua agama ini, yaitu fase Holy War.

 

Ini fase terbusuk dalam sejarah hubungan antar agama, Kristen dan Islam khususnya, karena juga mengendap dalam kepala orang-orang Islam, ustad-ustad di kampung, terutama yang belum tersentuh dengan pemikiran moderen tentang Islam, karena kelangkaan buku-buku. Ini fase yang harus dicoba dikompromikan dengan sejarah antar agama, lalu pantas diselamatkan untuk kepentingan masa sekarang dan masa depan dengan mengaitkannya juga dengan kesukaan bangsa-bangsa Barat untuk menggelar perang.  Islam Liberal sebagai fenomena perkotaan, harus lebih proaktif lagi untuk membiasakan tangan-tangannya menyentuh lumpur-lumpur dalam sawah-sawah petani muslim yang hidup dengan pikiran lama. Filsafat waktu mengajarkan kepada kita bahwa waktu berjalan lambat di pelosok pedesaan-pedusunan, sebaliknya berjalan cepat di perkotaan, apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi-transportasi. Ada jarak sebetulnya yang terbentang bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, antara pikiran komunitas muslim di perkotaan dan pedesaan. Mana yang lebih dekat ke model Islam ideal, wallahu �alam.

 

Kegemaran bangsa-bangsa Barat untuk berperang, bisa dilihat dalam setengah abad lalu, baik dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sekaligus ancaman Perang Dunia III selama era Perang Dingin. Islam waktu itu, baru masuk dalam dunia yang terjajah, terbagi-bagi dibawah kekuasaan berbagai negara Eropa/Barat. Bahkan sampai era terakhir, ketika Irak berperang melawan Iran, dimana dua negara Barat, USA dan Sovyet, juga berada di belakang keduanya.

 

Gagalnya perkawinan antara Islam-Barat dalam metode Mardova saya kira juga terjadi di komunitas non muslim. Amerika Latin bisa menjadi contoh, bagaimana rapuhnya kebudayaan agama-agama non muslim dalam konteks memacu modernitas. Siapa yang bunuh-bunuhan disana, kalau bukan sesama agama juga? Amerika Latin, jauh lebih dekat ke versi Baratnya USA, baik dari segi teritorial, maupun sistem ekonomi-politik, tetapi gagal mengadopsi sistem masyarakat moderen USA.

 

Orang juga jarang melihat perang Inggris melawan Argentina sebagai bukti bahwa satu agama juga bisa saling menundukkan, membunuh, karena memang kampanye teror-anti teror belum seluas sekarang. Atau peranan gereja Protestan dan Khatolik dalam perang antara Inggris melawan Irlandia, sebagaimana sudah banyak ditulis dalam journal-journal yang mengkhususnya diri pada konflik. Kalau Perang Inggris-Argentina dapat kita sebut sebagai perang antara Dunia Pertama melawan Dunia Kedua, kini yang terjadi adalah upaya mempertemukan antara Dunia Ketiga yang mayoritas dunia Islam � juga dunia Kong Hu Chu dan Shinto sebagai agama Ras Kuning yang juga digambarkan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization-- ada di dalamnya, dengan Dunia Pertama dan Dunia Kedua yang mayoritas beragama Kristen-Khatolik. �Terpilih�-nya Osama bin Laden sebagai musuh nomor satu Amerika-Inggris, sekaligus menutupi banyak kekerasan politik, kudeta militer dan kehancuran ekonomi di Dunia Kedua yang notabene mayoritas bukan negara-negara Muslim.

 

 

Islam dan Timur

Pada prinsipnya, kenapa Islam Indonesia lebih akomodatif dengan Timur disebabkan karena Islam masuk ke Indonesia lewat jalur Timur. Kenapa Islam Indonesia juga alergi terhadap Barat, karena Barat-lah pelaku-pelaku kolonialisme yang usianya bahkan belum sampai satu abad, dan tidak dianggap sebagai satu kesalahan kolektif Barat terhadap Islam Indonesia. Ketika Barat adalah semata-mata hanya USA, Barat yang ada dan dekat dengan Timur mesti ditambahkan dalam daftar. Kita juga mesti mencatat perkembangan tradisi Islam di Sovyet. Kita baru tahu, ada banyak mesjid indah dan tua di Sovyet. Konon, ketika Soekarno ke Moscow, dia bertanya pada pejabat setempat: "Koq pintu mesjid dikunci?" Ketika Soekarno pulang, pintu mesjid dibuka, dan jadilah Soekarno sebagai simbol orang Islam Indonesia yang masih tetap punya nama sampai sekarang di kalangan generasi tua Muslim. Sebagaimana halnya dengan Soeharto yang membangun sebuah mesjid di Sarajevo, Bosnia, sebagai peninggalan pimpinan Islam Indonesia di negara lain.

 

Sedangkan kaitannya dengan kebudayaan lain, kita juga mesti melihat Islam di Timur. Islam juga ada di China, yang banyak dianut suku Han. Konon legenda Wong Fei Hung di China terkait erat dengan heroisme suku Han yang muslim ini. Cuma, ketika Fei Hung menjadi mitos perjuangan nasionalisme China, menghadapi Barat dan Jepang, unsur kemuslimannya hapus. Sama hapusnya unsur kemusliman pejuang-pejuang Islam di daerah, dalam fase sejarah Indonesia yang lebih kuat unsur etnis dan agamanya, ketimbang nasionalismenya. Fase Imam Bonjol, Diponegoro, Si Singamangaraja, atau Pattimura, dalam melihat �sejarah apa adanya� belum dalam rangkaian gerakan kebangsaan. Kalaupun dikaitkan dengan kebangsaan, letaknya ada dalam fase nasionalisme etnis atau nasionalisme religius.  Dalam saling rebutan atas Malaka dan Maluku, misalnya, pada prinsipnya juga terkait dengan perbedaan dalam agama negara-negara Eropa/Barat yang bersaing itu.

 

Muslim China, dan India, juga yang membawa Islam ke Indonesia, terutama yang berakulturasi menjadi kelompok Islam Tradisional (yang kini banyak di barisan Islam Liberal itu), sebagai �Islam dari Gujarat� menurut sejarah. Buya HAMKA kabarnya pernah membantah argumen ini dengan mengatakan Islam langsung dibawa ke Indonesia sejak abad ke-7 M sampai sekitar abad ke-9 M, artinya ketika Islam masih dalam fase Khalifah Yang Empat. Islam, dengan demikian, masih bersifat puritan, belum tercampur dengan budaya China atau India, ketika memasuki daerah-daerah pesisir Indonesia. Tapi tesis ini juga dibantah, karena orang Islam Arab generasi Khalifah Yang Empat tak begitu dikenal sebagai manusia perahu, atau pedagang antar samudera raya, selain kafilah-kafilah yang juga saling bersaing atas nama tribalisme Arab (Al Qur�an dan Hadist Nabi juga sering menyinggung nama-nama suku, teristimewa suku Quraisy. Gerakan pemisahan diri satu suku di Irak, untuk membentuk negara sendiri dan banyak dibantu negara-negara Barat, bisa juga dilihat dalam konteks ini). Ketika Islam sampai di Cordova, lewat ritual pembakaran perahu di dekat bukit Jabal Tarik itu, juga membutuhkan waktu lama. Kelemahannya, sering ummat Islam mensimplifikasi penaklukan Cordova sebagai bagian dari jihad, tanpa melihat konteks Islam masa itu yang merupakan kekuatan imperium nomor wahid di muka bumi.

 

Muslim China juga yang membangun sebuah mesjid tua, berusia lebih dari dua abad lebih, di Kebun Jeruk, Jl. Gajah Mada, yang tiap malam Jum'at digunakan oleh kelompok-kelompok Islam untuk tirakatan. Mesjid yang sudah dirombak itu didirikan oleh Kapten China bernama Tamien Dosol Seeng (Tchoa) pada tahun 1786. Sama halnya dengan keberadaan komunitas muslim di Rusia yang mungkin �unik� bagi orang Indonesia, komunitas China Muslim Indonesia yang memiliki mesjid khusus di daerah Kota, dibawah pimpinan Yunus Yahya, mungkin sama �unik�-nya. Di Jl. Mangga Besar XIII Jakarta juga ada sebuah majelis taklim yang didirikan oleh Anton Medan khusus untuk bekas narapidana muslim.

 

Makanya, sungguh kurang tepat apabila Islam mengalami proses pribumisasi sekarang ini, dengan upaya menutup diri di sejumlah daerah, karena bagaimanapun � sama halnya dengan agama lain � Islam merupakan agama yang datang dari luar Indonesia. Islam adalah agama penjelajah lintas daerah, negara, dan benua. Ironisnya, menurut Denys Lombard, persoalan China muslim dan non muslim mengemuka ketika terjadi propaganda Orde Baru bahwa China adalah negeri komunis, sehingga menimbulkan kesulitan tersendiri kepada komunitas China Indonesia untuk masuk agama Islam. Di era Soekarno, problema ini tidak begitu menonjol, bahkan lebih banyak komunitas China yang memilih masuk agama Islam yang toleran ketimbang agama lain. Pilihan komunitas China untuk masuk agama diluar Islam, juga diluar agama leluhurnya � Kong Hu Chu � lebih disebabkan oleh sempitnya pilihan agar tidak disebut sebagai komunis, sementara di sisi lain Islam memusuhi komunis terutama di kalangan masyarakat awam akibat termakan propaganda pemerintah yang mengidentikkan komunis dengan komunitas China. Jadilah komunitas China Indonesia masuk ke agama lain, sebagian juga karena ingin agar pengurusan KTP tidak mengalami kesulitan, karena ada item agama didalamnya, sementara agama resmi Orde Baru dibatasi menjadi hanya lima agama.  

 

Singkatnya, Islam tak hanya bersentuhan, dan dalam beberapa hal berbenturan dengan Barat, tetapi sekaligus Timur. Islam justru mengalami masa kepompong di Timur, dibawah tindasan rezim-rezim komunis, dengan dijauhkan dari mainframe politik. Bukan hanya Islam yang mengalami penindasan struktural ini, tetapi juga agama-agama lain, karena agama adalah racun bagi membentuk masyarakat komunis. Sayang, komunitas Islam lantas menjadi korban, ketika Sovyet dan Yugoslavia runtuh, padahal mereka tak bersalah apa-apa, seperti di Bosnia dan Chechnya.

 

 

 

Islam Tribal

 

Dalam era otonomi daerah sekarang saja, saya semakin bingung dalam menempatkan posisi Islam. Sebagian diskusi lebih mengarah kepada penerapan Syariat Islam secara kaffah. Sementara, kondisi sosiologis masyarakat Islam sendiri semakin tak hirau kepada kemurnian ajaran Islam, terutama sejak otonomi daerah memberi peluang kepada bangkitnya etnisitas. Etnisitas yang semacam ini, dalam sejumlah gejala awal, bahkan dengan sedikit sekali menjadikan Islam sebagai rujukan, sekalipun di sejumlah tempat Islam dijalankan secara parsial dengan mengenakan jilbab, misalnya, tanpa melarang tayangan televisi yang sangat liberal itu.

 

Ambil contoh sistem Nagari yang dihidupkan kembali di Sumatera Barat. Nagari merupakan wilayah pemerintahan lokal yang lebih merupakan wilayah adat, ketimbang wilayah agama. Lewat sistem matrilinial, masyarakat menjadi terbagi dalam kumpulan keluarga batih sebatas halaman rumah untuk kedudukan seorang ayah, dengan keluarga adat yang merupakan wilayah sistem matrilineal dengan pembagian masyarakat menjadi urang sumando, urang pangka, niniak mamak, cerdik pandai, alim-ulama, dan lain-lain.

 

Ketika nagari dihidupkan kembali, saya kira ini adalah fase kemenangan kaum adat, seandainya �Perang Paderi� hadir di awal abad XXI ini. Belum lagi sistem nagari ini lagi-lagi bukanlah bentuk pemerintahan adat yang sebenarnya, karena bagaimanapun sistem budaya dan pemerintahan alam Minangkabau tidak mengenal pemusatan kekuasaan. Bahkan, mungkin Minangkabau adalah termasuk salah satu wilayah yang tak mengenal sistem kemiliteran, sebagaimana halnya dengan Swiss di Eropa, tempat Muhammad Hatta melewati masa liburannya bersama Nasir Sutan Pamuncak, dkk, sebelum ditangkap pemerintahan Belanda. 

 

Masyarakat Madinah, kita sering lupa, juga dikenal sebagai masyarakat yang tidak mempunyai militer, karena seorang muslim akan langsung menjadi militer ketika menghadapi serangan (perlu dilacak lagi, apakah guru agama Islam yang kemudian menjadi Panglima TNI, Jenderal Soedirman, menggunakan konsep ini ketika mengkoordinasikan sistem pertahanan semesta dengan tumbuhnya berbagai laskar rakyat, terutama Hisbullah, yang kemudian digunakan oleh kepentingan politik elite menghabisi gerakan PKI. Soedirman dikenal dekat dengan Persatuan Perjuangan Tan Malaka, dan Tan Malaka juga bekas guru mengaji yang cinta betul terhadap Islam, sekalipun kemudian beralih menjadi seorang ideolog nasionalisme kiri radikal). Menangnya kaum adat di Sumatera Barat sekarang, terlihat dari pemberian gelar terhadap Gubernur Sutiyoso yang justru tak akrab dengan pedagang kakilima yang sebagian besar berasal dari perantau Sumatera Barat. Atau pemberian gelar serupa kepada Sultan Hamengku Buwono X yang sebenarnya �hak� ayahnya, Sultan HB IX. Sedikit sekali hal ini dilihat secara kritis oleh generasi intelektual dan ulama Minang sekarang.

 

Begitu juga sistem kaolotan yang hendak dihidupkan di daerah santri Banten. Ada yang mengatakan, "jaro (kepala desa sekarang) adalah titisan atau keturunan dari jaro-jaro sebelumnya". Bagaimana sistem kejaroan ini bersinggungan dengan Islam? Bukankah ketika Islam masuk ke Banten, justru sistem kejaroan ini banyak terhapuskan dengan hidupnya banyak pesantren yang dikelola kalangan Muslim lintas daerah, termasuk murid-murid yang belajar dari suku Bugis, Minang, Aceh atau Madura?

 

Lebih luas lagi, baik sistem nagari atau kejaroan lebih merupakan manifestasi dari sistem dinasti  yang dikembangkan Muawiyah, menggantikan sistem kekhalifahan yang tak mengenal hak pewarisan dalam bidang-bidang pemerintahan. Dalam banyak hal, di sejumlah wilayah yang kuat tradisi Islamnya, kini ada semacam usaha untuk menyematkan gelar-gelar adat yang salah satunya berguna untuk mobilitas vertikal sebagai pimpinan politik paling potensial. Di Sumatera Barat bernama Datuk, di Banten salah satunya bernama Tubagus, di Riau Tan Sri (yang digunakan oleh raja-raja Melayu), di Sulawesi Daeng dan Andi.

 

Perkembangan Islam, sekaligus perkawinannya dengan tribalisme semacam itu, nyaris luput dari pantauan cendekiawan atau Islamolog Indonesia sendiri. Karena memang kebanyakan yang menikmati gelar-gelar itu juga berasal dari kalangan akademisi, atau setidaknya yang telah mendapatkan gelar akademis � dengan cara apapun � demi kepentingan yang lebih besar. Penulis sendiri, ketika ditawari menyandang gelar adat Datuk sebagai hadiah pernikahan, langsung menolaknya, karena sangat mengerti sekali bahwa Datuk berurusan dengan kaum sepesukuan di daerah. Tapi memang, gelar Datuk sudah semakin komersial � sama halnya dengan gelar akademis lainnya � dan ironisnya digunakan di kota-kota besar, seperti Jakarta, padahal tugas Datuk terhubung dengan persoalan keseharian kaum sepesukuan, misalnya mendamaikan pertengkaran karena memperebutkan air sawah, atau ketika ada anak-keponakan yang mencuri ikan larangan di sungai.

 

 

Diaspora Islam

 

Karena memang sedang rajin berpikir atas konsep diaspora yang identik dengan Yahudi, juga kombinasi yang digelar Max Weber tentang etika protestan sebagai dasar ideologis kaum kolonis yang merantau ke Amerika, saya kira Islam Liberal tak perlu malu-malu untuk mendeklarasikan konsepsi Diaspora Islam. Dalam tinjauan singkat tadi, telah terlihat bahwa bangunan Islam bisa berdiri di ranah mana saja, Barat, Timur, atau dalam komunitas tribal. Islam sekaligus bisa modernis, tradisionalis, universal, nasional, dan lokal, dengan tetap menjadikan Etika Islam sebagai sarana persinggungan, sekaligus mempertahankan Dienul Islam dalam diri masing-masing pemeluknya.

 

Saya melihat Islam ke depan terhubung dengan konsep ini. Islamnya tetap, tetapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah tempat ia hidup dan berkembang. Paradoks, memang, sebagaimana manusia yang penuh dengan keparadoksan dan berada di antara karakter iblis dan malaekat. Islamnya tetap, sekalipun ada di hutan Amazon, atau di pegunungan Kaukakus, atau malah di Mentawai. Ketika dulu tentara Gurkha dikirimkan ke Indonesia oleh Inggris, para saksi sejarah mengatakan bahwa sebagian masuk menjadi tentara RI, ketika tentara RI sebagian besar adalah muslim. Muslim Ghurka, dalam hal ini, lebih memilih berhenti menjadi tentara, akibat ancaman Allah SWT atas muslim yang menumpahkan darah muslim lain. Kita juga masih ingat dengan apa yang terjadi dalam salah satu fase sejarah India, ketika tentara Hindu dan Islam saling berbunuhan, karena masalah penggunaan lemak sapi untuk membersihkan moncong senjata. Bagi Muslim, lemak sapi halal, sedangkan bagi ummat Hindu sapi adalah hewan suci yang boleh masuk kemana saja. Dalam konteks ini, India akhirnya menempuh jalan kompromi, menempuh jalan sebagai negara sekuler dan demokratis, sekalipun komunitas Hindu-Buda mayoritas jumlahnya, dan sekaligus menyimpan potensi pergesekan antar agama yang meledak akhir-akhir ini. Nasionalisme bisa selamat, atas kesamaan teologi agama-agama. Sebaliknya, nasionalisme bisa berantakan, apabila dasar teologis berbeda.

 

Islam sebagai diaspora, saya kira, adalah Islam yang bersahabat dengan ummat Islam sendiri, sekaligus tidak ofensif terhadap ummat lain, sebagaimana Islam di Mekkah, Islam di Mesir, atau Islam di Madinah di zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Islam tak hanya perlu dilihat dalam hubungannya dengan modernitas, tetapi juga dengan irrasionalitas, karena Islam juga nyatanya menyebar ke negeri-negeri di Afrika, termasuk ke Etiopia, Sudan, Nigeria, atau Afrika Selatan, sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam. Menempatkan Islam dalam berhubungan dengan satu entitas kebudayaan, atau satu konsep pemikiran saja, adalah kesalahan yang tak mestinya terus berulang. Sebab, kalau Islam menghadap ke Barat, akibatnya Timur, Selatan, dan Utara akan tertinggal, begitupun empat mata angin diantaranya: Barat Laut, Timur Laut, Barat Daya dan Tenggara.

 

Islam lokal, bagaimanapun, bagian dari diaspora Islam juga yang punya sejarah panjang sendiri. Jangankan punya cita-cita ke Amerika, mungkin ke Mekkah saja bukan cita-cita ummat Islam lokal, karena ada paham yang masih berkembang bahwa pergi ke Mesjid Demak Tujuh Kali sama nilainya dengan pergi ke Mekkah. Pemahaman parsial semacam ini, begitu banyak di Indonesia, dan memang luput dari kesadaran kelompok-kelompok Islam di Indonesia, terutama setelah Islam memasuki arena politik, dan meninggalkan arena kultural. Kalau memang Islam Liberal ingin menempatkan diri sebagai satu komponen perubahan dari kalangan muda Islam, mestinya arus pandangan lebih diperlebar dan diperdalam. Dengan demikian, Islam Liberal bukan hanya menemukan padanannya dalam sejarah modernisme Barat, tetapi sekaligus hadir di padang-padang pasir sebagai oase kebudayaan Islam, masuk ke padang-padang rumput sebagai pohon-pohon tinggi yang makin memperindah sabana dan semak belukar, juga turut berenang dalam komunitas Islam di tepi-tepi sungai dan danau sebagai ikan-ikan duyung yang sensitif atas pencemaran air. Islam yang sekaligus membumi, mentanah, dan mengair. Tidak semata-mata melangit, karena pada dasarnya langit itu rendah, ada beberapa senti di atas rambut di kepala. 

 

Indra J. Piliang, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta. Mantan aktifis organisasi mahasiswa Islam, intra dan ekstra Kampus, selama menjadi mahasiswa UI.

 

Kirim email ke