|
http://www.sajadah.net/main/artikel.asp?ID=AR5240280689 Islam:
Antara
Barat, Timur dan Masyarakat Tribal (Indra
J. Piliang) Tulisan
Ulil Abshar Abdalla (Republika, 12/5) dan Eko Untung Handjatmeko
(Republika, 16/5) memperlihatkan sisi-sisi paling menarik dari
perkembangan Islam dewasa ini, terutama hubungannya dengan Barat (lebih
spesifik: USA). Ulil menayangkan
fragmen eksotis sejarah Islam, dengan menampilkan Madinah dan Cordova sebagai
obat penawar bagi racun pikiran yang banyak berkembang tentang Islam yang tak
bersahabat dengan Barat. Sedangkan Eko lebih pada tataran Islam universal,
tentang manusia Barat yang juga mahkluk Tuhan. Kedua artikel itu sekaligus mewakili
kehebohan yang melanda sebagian ummat Islam tentang fenomena Islam Liberal.
Tetapi,
kesimpulan Ulil tentang Islam Mardova sungguh menggelisahkan, terkesan cuma
simplifikasi atas dua role model dunia Islam, masing-masing dari dua
zaman yang berbeda. Sedangkan usaha Eko menambahkannya, tak terlepas dari apa
yang memang sudah banyak ditemukan dalam nilai dan ajaran Islam sendiri sebagai
bagian dari ummat yang berada dalam semesta alam, di tengah kekuasaan Allah SWT
dan kepemilikan-Nya atas alam semesta dan segala isinya. Kelemahan
argumen Ulil lebih karena sedikitnya elaborasi atas konsepsi Islam Mardova itu,
juga pijakannya atas apa yang disebut dengan Barat. Barat seakan identik dengan
USA, terutama atas petikan Ulil dari tulisan Thomas Friedman. Ulil lagi-lagi
menggunakan kalimat Friedman, untuk masalah yang sebetulnya bisa diselami
sendiri oleh Ulil, yaitu mendatangi Pesantren Darun Najah di Ulujami, tempat
yang kebetulan sepupu saya pernah juga mondok disana. Melihat keseluruhan benang
pikiran santri Darun Najah saja, dari pernyataan satu santri saja, tidak cukup
bisa menghubungkan kondisi psikologis, sekaligus sosio-kultural yang menyebabkan
konstruksi pikiran itu terbentuk dalam diri si santri. Begitupun,
seperti yang dikatakan Muhammad Arkoun, Barat bukan hanya USA yang rasionalis,
sekuler, liberal. Barat juga berarti kelompok masyarakat sosialis, marxis,
bahkan kelompok masyarakat hippies yang hidup berkelana dari kota ke kota dengan
menaiki kereta. Barat juga berarti sekte-sekte dalam masing-masing agama,
termasuk sekte David Koresh, atau Kluk-Kluk Khan. Begitupun Barat juga berarti
Spanyol dan Portugal yang pernah membagi dunia menjadi dua atas izin Paus di
Vatikan. Kini Barat itu juga termasuk Israel, terbukti dari mainnya mereka ke
zona UEFA-Liga Champion. Sedangkan Barat yang ada di dunia Islam adalah Turki.
Dalam
episode Perang Salib, medan pertempuran utama terletak di Konstantinopel. Inilah
daerah perbenturan Islam-Kristen dalam masa paling buruk dalam sejarah
agama-agama itu, karena kedua agama berperang demi Tuhan. Baru kemudian, dalam
abad-abad lebih ke belakang, batas terjauh penyebaran Islam di Barat adalah
Cordova. Kurang lengkapnya
pembahasan Islamolog Barat terhadap Islam dalam penulisan di media-media Barat
kontemporer adalah ketika jarang menghubungkan sejarah hubungan Islam dengan
Barat dari sejarah kedua agama ini, yaitu fase Holy War.
Ini
fase terbusuk dalam sejarah hubungan antar agama, Kristen dan Islam khususnya,
karena juga mengendap dalam kepala orang-orang Islam, ustad-ustad di kampung,
terutama yang belum tersentuh dengan pemikiran moderen tentang Islam, karena
kelangkaan buku-buku. Ini fase yang harus dicoba dikompromikan dengan sejarah
antar agama, lalu pantas diselamatkan untuk kepentingan masa sekarang dan masa
depan dengan mengaitkannya juga dengan kesukaan bangsa-bangsa Barat untuk
menggelar perang. Islam Liberal
sebagai fenomena perkotaan, harus lebih proaktif lagi untuk membiasakan
tangan-tangannya menyentuh lumpur-lumpur dalam sawah-sawah petani muslim yang
hidup dengan pikiran lama. Filsafat waktu mengajarkan kepada kita bahwa waktu
berjalan lambat di pelosok pedesaan-pedusunan, sebaliknya berjalan cepat di
perkotaan, apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi-transportasi. Ada jarak
sebetulnya yang terbentang bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, antara pikiran
komunitas muslim di perkotaan dan pedesaan. Mana yang lebih dekat ke model Islam
ideal, wallahu �alam. Kegemaran
bangsa-bangsa Barat untuk berperang, bisa dilihat dalam setengah abad lalu, baik
dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sekaligus ancaman Perang Dunia III
selama era Perang Dingin. Islam waktu itu, baru masuk dalam dunia yang terjajah,
terbagi-bagi dibawah kekuasaan berbagai negara Eropa/Barat. Bahkan sampai era
terakhir, ketika Irak berperang melawan Iran, dimana dua negara Barat, USA dan
Sovyet, juga berada di belakang keduanya. Gagalnya
perkawinan antara Islam-Barat dalam metode Mardova saya kira juga terjadi di
komunitas non muslim. Amerika Latin bisa menjadi contoh, bagaimana rapuhnya
kebudayaan agama-agama non muslim dalam konteks memacu modernitas. Siapa yang
bunuh-bunuhan disana, kalau bukan sesama agama juga? Amerika Latin, jauh lebih
dekat ke versi Baratnya USA, baik dari segi teritorial, maupun sistem
ekonomi-politik, tetapi gagal mengadopsi sistem masyarakat moderen USA.
Orang
juga jarang melihat perang Inggris melawan Argentina sebagai bukti bahwa satu
agama juga bisa saling menundukkan, membunuh, karena memang kampanye teror-anti
teror belum seluas sekarang. Atau peranan gereja Protestan dan Khatolik dalam
perang antara Inggris melawan Irlandia, sebagaimana sudah banyak ditulis dalam
journal-journal yang mengkhususnya diri pada konflik. Kalau Perang
Inggris-Argentina dapat kita sebut sebagai perang antara Dunia Pertama melawan
Dunia Kedua, kini yang terjadi adalah upaya mempertemukan antara Dunia Ketiga
yang mayoritas dunia Islam � juga dunia Kong Hu Chu dan Shinto sebagai agama Ras
Kuning yang juga digambarkan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The
Clash of Civilization-- ada di dalamnya, dengan Dunia Pertama dan Dunia
Kedua yang mayoritas beragama Kristen-Khatolik. �Terpilih�-nya Osama bin Laden
sebagai musuh nomor satu Amerika-Inggris, sekaligus menutupi banyak kekerasan
politik, kudeta militer dan kehancuran ekonomi di Dunia Kedua yang notabene
mayoritas bukan negara-negara Muslim. Islam
dan Timur
Pada
prinsipnya, kenapa Islam Indonesia lebih akomodatif dengan Timur disebabkan
karena Islam masuk ke Indonesia lewat jalur Timur. Kenapa Islam Indonesia juga
alergi terhadap Barat, karena Barat-lah pelaku-pelaku kolonialisme yang usianya
bahkan belum sampai satu abad, dan tidak dianggap sebagai satu kesalahan
kolektif Barat terhadap Islam Indonesia. Ketika Barat adalah semata-mata hanya
USA, Barat yang ada dan dekat dengan Timur mesti ditambahkan dalam daftar. Kita
juga mesti mencatat perkembangan tradisi Islam di Sovyet. Kita baru tahu, ada
banyak mesjid indah dan tua di Sovyet. Konon, ketika Soekarno ke Moscow, dia
bertanya pada pejabat setempat: "Koq pintu mesjid dikunci?" Ketika Soekarno
pulang, pintu mesjid dibuka, dan jadilah Soekarno sebagai simbol orang Islam
Indonesia yang masih tetap punya nama sampai sekarang di kalangan generasi tua
Muslim. Sebagaimana halnya dengan Soeharto yang membangun sebuah mesjid di
Sarajevo, Bosnia, sebagai peninggalan pimpinan Islam Indonesia di negara
lain. Sedangkan
kaitannya dengan kebudayaan lain, kita juga mesti melihat Islam di Timur. Islam
juga ada di China, yang banyak dianut suku Han. Konon legenda Wong Fei Hung di
China terkait erat dengan heroisme suku Han yang muslim ini. Cuma, ketika Fei
Hung menjadi mitos perjuangan nasionalisme China, menghadapi Barat dan Jepang,
unsur kemuslimannya hapus. Sama hapusnya unsur kemusliman pejuang-pejuang Islam
di daerah, dalam fase sejarah Indonesia yang lebih kuat unsur etnis dan
agamanya, ketimbang nasionalismenya. Fase Imam Bonjol, Diponegoro, Si
Singamangaraja, atau Pattimura, dalam melihat �sejarah apa adanya� belum dalam
rangkaian gerakan kebangsaan. Kalaupun dikaitkan dengan kebangsaan, letaknya ada
dalam fase nasionalisme etnis atau nasionalisme religius. Dalam saling rebutan atas Malaka dan
Maluku, misalnya, pada prinsipnya juga terkait dengan perbedaan dalam agama
negara-negara Eropa/Barat yang bersaing itu. Muslim
China, dan India, juga yang membawa Islam ke Indonesia, terutama yang
berakulturasi menjadi kelompok Islam Tradisional (yang kini banyak di barisan
Islam Liberal itu), sebagai �Islam dari Gujarat� menurut sejarah. Buya HAMKA
kabarnya pernah membantah argumen ini dengan mengatakan Islam langsung dibawa ke
Indonesia sejak abad ke-7 M sampai sekitar abad ke-9 M, artinya ketika Islam
masih dalam fase Khalifah Yang Empat. Islam, dengan demikian, masih bersifat
puritan, belum tercampur dengan budaya China atau India, ketika memasuki
daerah-daerah pesisir Indonesia. Tapi tesis ini juga dibantah, karena orang
Islam Arab generasi Khalifah Yang Empat tak begitu dikenal sebagai manusia
perahu, atau pedagang antar samudera raya, selain kafilah-kafilah yang juga
saling bersaing atas nama tribalisme Arab (Al Qur�an dan Hadist Nabi juga sering
menyinggung nama-nama suku, teristimewa suku Quraisy. Gerakan pemisahan diri
satu suku di Irak, untuk membentuk negara sendiri dan banyak dibantu
negara-negara Barat, bisa juga dilihat dalam konteks ini). Ketika Islam sampai
di Cordova, lewat ritual pembakaran perahu di dekat bukit Jabal Tarik itu, juga
membutuhkan waktu lama. Kelemahannya, sering ummat Islam mensimplifikasi
penaklukan Cordova sebagai bagian dari jihad, tanpa melihat konteks Islam masa
itu yang merupakan kekuatan imperium nomor wahid di muka bumi. Muslim
China juga yang membangun sebuah mesjid tua, berusia lebih dari dua abad lebih,
di Kebun Jeruk, Jl. Gajah Mada, yang tiap malam Jum'at digunakan
oleh kelompok-kelompok Islam untuk tirakatan. Mesjid yang sudah dirombak
itu didirikan oleh Kapten China bernama Tamien Dosol Seeng (Tchoa) pada tahun
1786. Sama halnya dengan keberadaan komunitas muslim di Rusia yang mungkin
�unik� bagi orang Indonesia, komunitas China Muslim Indonesia yang memiliki
mesjid khusus di daerah Kota, dibawah pimpinan Yunus Yahya, mungkin sama
�unik�-nya. Di Jl. Mangga Besar XIII Jakarta juga ada sebuah majelis taklim yang
didirikan oleh Anton Medan khusus untuk bekas narapidana muslim.
Makanya,
sungguh kurang tepat apabila Islam mengalami proses pribumisasi sekarang ini,
dengan upaya menutup diri di sejumlah daerah, karena bagaimanapun � sama halnya
dengan agama lain � Islam merupakan agama yang datang dari luar Indonesia. Islam
adalah agama penjelajah lintas daerah, negara, dan benua. Ironisnya, menurut
Denys Lombard, persoalan China muslim dan non muslim mengemuka ketika terjadi
propaganda Orde Baru bahwa China adalah negeri komunis, sehingga menimbulkan
kesulitan tersendiri kepada komunitas China Indonesia untuk masuk agama Islam.
Di era Soekarno, problema ini tidak begitu menonjol, bahkan lebih banyak
komunitas China yang memilih masuk agama Islam yang toleran ketimbang agama
lain. Pilihan komunitas China untuk masuk agama diluar Islam, juga diluar agama
leluhurnya � Kong Hu Chu � lebih disebabkan oleh sempitnya pilihan agar tidak
disebut sebagai komunis, sementara di sisi lain Islam memusuhi komunis terutama
di kalangan masyarakat awam akibat termakan propaganda pemerintah yang
mengidentikkan komunis dengan komunitas China. Jadilah komunitas China Indonesia
masuk ke agama lain, sebagian juga karena ingin agar pengurusan KTP tidak
mengalami kesulitan, karena ada item agama didalamnya, sementara agama resmi
Orde Baru dibatasi menjadi hanya lima agama. Singkatnya,
Islam tak hanya bersentuhan, dan dalam beberapa hal berbenturan dengan Barat,
tetapi sekaligus Timur. Islam justru mengalami masa kepompong di Timur, dibawah
tindasan rezim-rezim komunis, dengan dijauhkan dari mainframe politik.
Bukan hanya Islam yang mengalami penindasan struktural ini, tetapi juga
agama-agama lain, karena agama adalah racun bagi membentuk masyarakat komunis.
Sayang, komunitas Islam lantas menjadi korban, ketika Sovyet dan Yugoslavia
runtuh, padahal mereka tak bersalah apa-apa, seperti di Bosnia dan Chechnya.
Islam
Tribal
Dalam
era otonomi daerah sekarang saja, saya semakin bingung dalam menempatkan posisi
Islam. Sebagian diskusi lebih mengarah kepada penerapan Syariat Islam secara
kaffah. Sementara, kondisi sosiologis masyarakat Islam sendiri semakin tak hirau
kepada kemurnian ajaran Islam, terutama sejak otonomi daerah memberi peluang
kepada bangkitnya etnisitas. Etnisitas yang semacam ini, dalam sejumlah gejala
awal, bahkan dengan sedikit sekali menjadikan Islam sebagai rujukan, sekalipun
di sejumlah tempat Islam dijalankan secara parsial dengan mengenakan jilbab,
misalnya, tanpa melarang tayangan televisi yang sangat liberal itu.
Ambil
contoh sistem Nagari yang dihidupkan kembali di Sumatera Barat. Nagari merupakan
wilayah pemerintahan lokal yang lebih merupakan wilayah adat, ketimbang wilayah
agama. Lewat sistem matrilinial, masyarakat menjadi terbagi dalam kumpulan
keluarga batih sebatas halaman rumah untuk kedudukan seorang ayah, dengan
keluarga adat yang merupakan wilayah sistem matrilineal dengan pembagian
masyarakat menjadi urang sumando, urang pangka, niniak mamak, cerdik pandai,
alim-ulama, dan lain-lain. Ketika
nagari dihidupkan kembali, saya kira ini adalah fase kemenangan kaum adat,
seandainya �Perang Paderi� hadir di awal abad XXI ini. Belum lagi sistem nagari
ini lagi-lagi bukanlah bentuk pemerintahan adat yang sebenarnya, karena
bagaimanapun sistem budaya dan pemerintahan alam Minangkabau tidak mengenal
pemusatan kekuasaan. Bahkan, mungkin Minangkabau adalah termasuk salah satu
wilayah yang tak mengenal sistem kemiliteran, sebagaimana halnya dengan Swiss di
Eropa, tempat Muhammad Hatta melewati masa liburannya bersama Nasir Sutan
Pamuncak, dkk, sebelum ditangkap pemerintahan Belanda. Masyarakat
Madinah, kita sering lupa, juga dikenal sebagai masyarakat yang tidak mempunyai
militer, karena seorang muslim akan langsung menjadi militer ketika menghadapi
serangan (perlu dilacak lagi, apakah guru agama Islam yang kemudian menjadi
Panglima TNI, Jenderal Soedirman, menggunakan konsep ini ketika
mengkoordinasikan sistem pertahanan semesta dengan tumbuhnya berbagai laskar
rakyat, terutama Hisbullah, yang kemudian digunakan oleh kepentingan politik
elite menghabisi gerakan PKI. Soedirman dikenal dekat dengan Persatuan
Perjuangan Tan Malaka, dan Tan Malaka juga bekas guru mengaji yang cinta betul
terhadap Islam, sekalipun kemudian beralih menjadi seorang ideolog nasionalisme
kiri radikal). Menangnya kaum adat di Sumatera Barat sekarang, terlihat dari
pemberian gelar terhadap Gubernur Sutiyoso yang justru tak akrab dengan pedagang
kakilima yang sebagian besar berasal dari perantau Sumatera Barat. Atau
pemberian gelar serupa kepada Sultan Hamengku Buwono X yang sebenarnya �hak�
ayahnya, Sultan HB IX. Sedikit sekali hal ini dilihat secara kritis oleh
generasi intelektual dan ulama Minang sekarang. Begitu
juga sistem kaolotan yang hendak dihidupkan di daerah santri Banten. Ada yang
mengatakan, "jaro (kepala desa sekarang) adalah titisan atau keturunan dari
jaro-jaro sebelumnya". Bagaimana sistem kejaroan ini bersinggungan dengan Islam?
Bukankah ketika Islam masuk ke Banten, justru sistem kejaroan ini banyak
terhapuskan dengan hidupnya banyak pesantren yang dikelola kalangan Muslim
lintas daerah, termasuk murid-murid yang belajar dari suku Bugis, Minang, Aceh
atau Madura? Lebih
luas lagi, baik sistem nagari atau kejaroan lebih merupakan manifestasi dari
sistem dinasti yang dikembangkan
Muawiyah, menggantikan sistem kekhalifahan yang tak mengenal hak pewarisan dalam
bidang-bidang pemerintahan. Dalam banyak hal, di sejumlah wilayah yang kuat
tradisi Islamnya, kini ada semacam usaha untuk menyematkan gelar-gelar adat yang
salah satunya berguna untuk mobilitas vertikal sebagai pimpinan politik paling
potensial. Di Sumatera Barat bernama Datuk, di Banten salah satunya bernama
Tubagus, di Riau Tan Sri (yang digunakan oleh raja-raja Melayu), di Sulawesi
Daeng dan Andi. Perkembangan
Islam, sekaligus perkawinannya dengan tribalisme semacam itu, nyaris luput dari
pantauan cendekiawan atau Islamolog Indonesia sendiri. Karena memang kebanyakan
yang menikmati gelar-gelar itu juga berasal dari kalangan akademisi, atau
setidaknya yang telah mendapatkan gelar akademis � dengan cara apapun � demi
kepentingan yang lebih besar. Penulis sendiri, ketika ditawari menyandang gelar
adat Datuk sebagai hadiah pernikahan, langsung menolaknya, karena sangat
mengerti sekali bahwa Datuk berurusan dengan kaum sepesukuan di daerah. Tapi
memang, gelar Datuk sudah semakin komersial � sama halnya dengan gelar akademis
lainnya � dan ironisnya digunakan di kota-kota besar, seperti Jakarta, padahal
tugas Datuk terhubung dengan persoalan keseharian kaum sepesukuan, misalnya
mendamaikan pertengkaran karena memperebutkan air sawah, atau ketika ada
anak-keponakan yang mencuri ikan larangan di sungai. Diaspora
Islam
Karena
memang sedang rajin berpikir atas konsep diaspora yang identik dengan Yahudi,
juga kombinasi yang digelar Max Weber tentang etika protestan sebagai dasar
ideologis kaum kolonis yang merantau ke Amerika, saya kira Islam Liberal tak
perlu malu-malu untuk mendeklarasikan konsepsi Diaspora Islam. Dalam tinjauan
singkat tadi, telah terlihat bahwa bangunan Islam bisa berdiri di ranah mana
saja, Barat, Timur, atau dalam komunitas tribal. Islam sekaligus bisa modernis,
tradisionalis, universal, nasional, dan lokal, dengan tetap menjadikan Etika
Islam sebagai sarana persinggungan, sekaligus mempertahankan Dienul Islam dalam
diri masing-masing pemeluknya. Saya
melihat Islam ke depan terhubung dengan konsep ini. Islamnya tetap, tetapi
disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah tempat ia hidup dan berkembang.
Paradoks, memang, sebagaimana manusia yang penuh dengan keparadoksan dan berada
di antara karakter iblis dan malaekat. Islamnya tetap, sekalipun ada di hutan
Amazon, atau di pegunungan Kaukakus, atau malah di Mentawai. Ketika dulu tentara
Gurkha dikirimkan ke Indonesia oleh Inggris, para saksi sejarah mengatakan bahwa
sebagian masuk menjadi tentara RI, ketika tentara RI sebagian besar adalah
muslim. Muslim Ghurka, dalam hal ini, lebih memilih berhenti menjadi tentara,
akibat ancaman Allah SWT atas muslim yang menumpahkan darah muslim lain. Kita
juga masih ingat dengan apa yang terjadi dalam salah satu fase sejarah India,
ketika tentara Hindu dan Islam saling berbunuhan, karena masalah penggunaan
lemak sapi untuk membersihkan moncong senjata. Bagi Muslim, lemak sapi
halal, sedangkan bagi ummat Hindu sapi adalah hewan suci yang boleh masuk kemana
saja. Dalam konteks ini, India akhirnya menempuh jalan kompromi, menempuh jalan
sebagai negara sekuler dan demokratis, sekalipun komunitas Hindu-Buda mayoritas
jumlahnya, dan sekaligus menyimpan potensi pergesekan antar agama yang meledak
akhir-akhir ini. Nasionalisme bisa selamat, atas kesamaan teologi agama-agama.
Sebaliknya, nasionalisme bisa berantakan, apabila dasar teologis berbeda.
Islam
sebagai diaspora, saya kira, adalah Islam yang bersahabat dengan ummat Islam
sendiri, sekaligus tidak ofensif terhadap ummat lain, sebagaimana Islam di
Mekkah, Islam di Mesir, atau Islam di Madinah di zaman Rasulullah SAW dan
sahabat. Islam tak hanya perlu dilihat dalam hubungannya dengan modernitas,
tetapi juga dengan irrasionalitas, karena Islam juga nyatanya menyebar ke
negeri-negeri di Afrika, termasuk ke Etiopia, Sudan, Nigeria, atau Afrika
Selatan, sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam. Menempatkan Islam dalam
berhubungan dengan satu entitas kebudayaan, atau satu konsep pemikiran saja,
adalah kesalahan yang tak mestinya terus berulang. Sebab, kalau Islam menghadap
ke Barat, akibatnya Timur, Selatan, dan Utara akan tertinggal, begitupun empat
mata angin diantaranya: Barat Laut, Timur Laut, Barat Daya dan Tenggara.
Islam
lokal, bagaimanapun, bagian dari diaspora Islam juga yang punya sejarah panjang
sendiri. Jangankan punya cita-cita ke Amerika, mungkin ke Mekkah saja bukan
cita-cita ummat Islam lokal, karena ada paham yang masih berkembang bahwa pergi
ke Mesjid Demak Tujuh Kali sama nilainya dengan pergi ke Mekkah. Pemahaman
parsial semacam ini, begitu banyak di Indonesia, dan memang luput dari kesadaran
kelompok-kelompok Islam di Indonesia, terutama setelah Islam memasuki arena
politik, dan meninggalkan arena kultural. Kalau memang Islam Liberal ingin
menempatkan diri sebagai satu komponen perubahan dari kalangan muda Islam,
mestinya arus pandangan lebih diperlebar dan diperdalam. Dengan demikian, Islam
Liberal bukan hanya menemukan padanannya dalam sejarah modernisme Barat, tetapi
sekaligus hadir di padang-padang pasir sebagai oase kebudayaan Islam, masuk ke
padang-padang rumput sebagai pohon-pohon tinggi yang makin memperindah sabana
dan semak belukar, juga turut berenang dalam komunitas Islam di tepi-tepi sungai
dan danau sebagai ikan-ikan duyung yang sensitif atas pencemaran air. Islam yang
sekaligus membumi, mentanah, dan mengair. Tidak semata-mata melangit, karena
pada dasarnya langit itu rendah, ada beberapa senti di atas rambut di
kepala. Indra
J. Piliang,
peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta.
Mantan aktifis organisasi mahasiswa Islam, intra dan ekstra Kampus, selama
menjadi mahasiswa UI. |

